shortcut persamaan garis lurus

Citra malah asyik membaca buku “kartun fisika” saat teman-temannya sibuk mengerjakan 20 soal-soal matematika bab persamaan garis lurus. Susi yang duduk di seberangnya meminta contekan.

“Cit, nomor empat apa?” bisik Susi tapi Citra tak mendengar.

“Cit, nomor empat!” bisik Susi lebih keras tapi Citra tetap tak berubah.

Susi tak tahan lagi melihat apa yang dilakukan cewek rambut pendek  seperti jenita janet itu. Dia melihat Citra bukannya ngerjain malah baca buku lain berujar,” Cit, kok kamu nggak ngerjain sih? Baca apa itu?”

Suara itu ternyata overloud sampai semua orang mendengarnya termasuk Pak Surip yang lagi jalan keliling dan pas ada di belakang Susi. Citra mendengarnya sendiri jadi kaget. Ia menoleh pada Susi dan menemukan pak Surip di sana dengan muka murka.

“Citra! Kamu tidak mengerjakan tugas? Sudah merasa pinter ya? Mentang-mentang kemarin sudah menerangkan pelajaran jadi sekarang kamu merasa boleh tidak mengerjakan tugas? Gitu, ha?”

“tapi, pak..”

“maju! Kamu harus dihukum!” bentak Pak Surip.

Citra terpaksa maju.  Bersamaan saat maju dia melirik pada Susi dengan tatapan benci, marah, sebel.

“awas kau!” ancamnya.

“ini sebagai pelajaran biar selalu disiplin, memperhatikan pelajaran dan mengerjakan tugas. Tidak ada hak istimewa buat yang pintar. Semua sama!” ujar Pak Surip. Beliau mengambil buku paket, buku tulis dan buku yang dibaca Citra.

Citra harus berdiri di pojok depan kelas dengan satu kaki. Diliatin anak-anak lagi. Malunya minta ampun. Apalagi kadang anak kelas lain lewat jalan. Mereka jadi bias liat Citra dihukum. Bias-bisa diketawain nih. Hukuman itu berlanjut sampai akhir pelajaran matematika jam istirahat.

Ketika bel istirahat baru Citra boleh kembali. Dia dibolehkan istirahat bersama yang lain. Hal yang pertama ditujunya bukan perpus atau kantin seperti biasanya tapi Susi. Mau dikasih pelajaran anak itu. Cewek rambut poni dan diikat seperti Shania JKT48 itu ia temukan lagi jalan di koridor ke kantin bareng Laika dan Sera. Citra cepat-cepat menyusul Susi dari belakang.

“Hei, Sus! Apa maksud kamu tadi? Apa maumu?”  bentak Citra.

“aku nggak sengaja, Cit! sori! Aku nggak tau kalo ternyata ada Pak Surip dan suaraku kedengeran ke semua. Aku Cuma mau Tanya soal nomer empat jawabnya apa. Itu aja.” Jawab Susi.

“bisik-bisik aja kan bisa? Nggak usah keras-keras gitu!”

“udah. Aku udah panggil bolak-balik tapi kamu nggak denger jadi aku tinggiin suaraku ternyata kekencengen.”

“tapi….” Citra mau bersuara lagi cepat-cepat dilerai oleh Laika dan Sera.

“udah! Udah! Ukhti jangan berantem. Malu diliatin sama orang lain. Kalian bukan cewek harimau kan?” kata Laika mencoba melerai. Citra dan Susi agak menjauh. Citra masih dengan marahnya dan Susi dengan rasa bersalahnya. Laika dan Sera cepat-cepat memisahkan mereka. Sera membawa Susi ke kantin sedangkan laika membawa Citra ke tempat yang lain.

“Ukhti, maafin Susi, ya? Dia nggak sengaja. Dia sudah cerita sama ana. Katanya itu beneran. Dia nggak sengaja dan dia merasa bersalah.”

“tapi aku masih sebel sama dia! Dia bikin aku malu dan dihukum di depan kelas diliatin semua orang. Diliatin anak yang lewat lagi!”

“ya, itu hikmahnya biar memperhatikan pelajaran. Yang penting sekarang tolong maafkanlah Susi, ukhti. Dia kan teman ukhti. Teman kita juga. Teman yang baik memaafkan kesalahan temannya. Apalagi sesame muslim kita juga bersaudara. Alloh memerintahkan kita agar saling memaafkan.”

“ya udah! Sekarang gimana? Buku paket, tulis dan buku yang aku baca tadi disita Pak Surip. Dia harus ambilin semua baru aku maafin.”

“ya sudah ana usahakan. Nanti tolong maafin dia ya? Nanti ana usahakan agar dia maafin ukhti karena sudah marah sama dia.”

Setelah itu laika pergi. Citra butuh mendinginkan kepalanya yang lagi panas begini. Saat mangkel gini biasanya dia pergi ke lapangan voly di pojok sekolah. Dia bawa bola tenis di tas lalu ke sana. Di sana dia melemparkan bola tenis ke dinding tembok yang tinggi mengelilingi lapangan voly. Bola itu memantul lalu dia tangkap lagi. Begitu seterusnya seperti main baseball. Permainan itu ternyata membawa keasyikan baginya hingga melupakan masalahnya. Baru bel masuk memanggilnya kembali ke kelas.

“Cit, Sori! Aku Cuma bias bawain buku paket dan buku tulis. Bukunya yang tadi masih dibawa Pak Surip. Katanya nanti kamu ambil sepulang sekolah.” Kata Susi menyerahkan buku Citra.

Citra melirik pada Laika. Muslimah itu mengangguk. Citra pun menerimanya.

“ya udah. Gak papa.”ujar Citra walau masih ada sebelnya.

“sori, nih, Cit. apa kamu tadi beneran nggak ngerjain?” Tanya Susi.

Citra tak mau berdebat. Lebih baik ia tunjukin langsung buktinya. Ia buka buku tulisnya dan ia tunjukkan semua. Semua yang ada di situ terkejut. 20 soal selesai semua dan benar semua dengan cara pengerjaan yang rapid an jelas. Nilai 100.

“wooo!” cowok-cowok pun melihatnya seperti santapan empuk. Mereka berebut mau pinjam tapi Citra cepat-cepat menghindari mereka. Fifi si ketua kelas mencegah mereka.

” cepat selesai dan bener? Kok bisa? Gimana caranya?” tannya Susi.

“oke. Gini caranya.”

Citra membuka soalnya. Dia melihat soal nomor 1 – 5 soalnya sama hanya beda angka.

“gini. Ini soal nomer 1 sampai 5. Kita lihat nomer empat yang kamu tanyain tadi.”Citra menunjuk soalnya.” Sebuah garis lurus menyinggung kedua sumbu di (4,0) dan (0,2). Berapa fungsinya? Gimana kalian ngitungnya?” Tanya Citra.

“biasanya pakai gradient dulu terus rumus fungsinya. Itu juga yang kamu ajarin dulu.” Sahut Fifi.

“ kelamaan!” ujar Citra.

“tapi itu yang kamu ajarin dulu!” bantah Fifi diikuti yang lain.

“maksudku ada cara yang cepet. Gini. Fungsinya 2x + 4y = 8. Angka titik potong dengan x ini jadi koefisien y. angka titik potong dengan y jadi koefisien x. lalu dua angka itu dikalikan. Selesai.”

Biar lebih jelas Citra menulis sendiri di kertas buku tulisnya. (4,0) dan (0,2). 4 jadi koefisien y jadi 4y. 2 jadi koefisien x. jadi 2x 4 x 4 = 8. Jadi fungsinya 2x +4y = 8.

“oh, ternyata ada yang singkat kayak gitu ya?” seloroh cowok di dekat Fifi.

“jauh-jauh deh!”

Selain itu diketahui gradient lalu disuruh mencari fungsi. Soal kayak gini gampang. Tinggal masukin rumus y –y1 = m(x – x1). Citra udah bosen jadi melewatkannya gitu aja. Dia pindah ke soal nomer 11.

“kalian pasti bias nomer 6 – 10. Jadi aku nggak terangin. Sekarang yang nomer 11 dan seterusnya. Ini soal garis sejajar. Diketahui garis  F sejajar dengan garis G. garis F memepunyai fungsi 5x + 6y = 45. Garis G melewati titik koordinat 8,10. Berapa persamaan garis G?”

“berapa?” Tanya Susi dan Fifi.

“hitung!” perintah Citra,

“sekarang? Kita gak punya waktu untuk ngerjain , Cit!”

“biasanya kalian gimana?” Tanya Citra.

“ngitung gradient pake rumus –a/b dulu terus masukin ke titik koordinat itu pake rumus yang kamu terangin tadi.” Jawab Faris. Akhirnya dari cowok ada suaranya.

“itu betul tapi ada yang lebih cepet lagi.”

“gimana?” Tanya mereka?”

“ 5x + 6y = 100!”

“kok bisa? Cepat sekali!” Faris pun tak percaya.

“bias. Sebab kalau garis sejajar koefisien x dan y tetap.”

“terus angka 100-nya?”

“dari 5×8 + 6×10 = 100.”sahut Citra. 5 dan 6 koefisien 5x dan 6y 8 dan 10 dari koordinat titik yang dilewati tadi. Mereka pun tak percaya ternyata jawabannya sedekat itu di depan mata mereka seakan-akan mereka memburu tikus ke gang penuh preman padahal tikusnya di kaki mereka sendiri.

Fifi melihat soal-soal itu bersama Susi. Yang 12 sampai 15 sama-sma sejajar. Yang beda nomer 16,17,18. Soal itu garis tegak lurus.

“kalo yang ini gimana?” Tanya Fifi dan Susi.

“angkanya sama juga ya?” celetuk didon, cowok gemuk pendek berkulit cerah. Anak itu seperti anak pramuka di film “up”.

“bukan. Beda tau!” sahut Citra membaca soalnya.” Ada garis P dengan persamaan 4x + 8y = 16. Garis P tegak lurus Q. garis Q melewati titik (10,5). Berapa persamaan garis Q?”

Anak-anak gak menyahut lagi. Kini mereka serius dengerin Citra.

“kalau tegak lurus kedua koefisiennya ditukar tempat dan salah satu tandanya berubah. Contohnya kalau garis ini 4x + 8y ditukar jadi 8x – 4y. terus koordinat titik itu dimasukkan. 8×10 – 5×4 = 60. 8x – 4y = 60.”

“jadi persamaannya 8x – 4y = 60?” simpul Faris.

Citra tercenung. Bisa saja -8x + 4y. tapi itu berarti ada dua garis. Masak sih? Citra coba hitung -8×10 + 4×5 = -60. Beda. -8x+4y = -60.

“Cit?” Tanya Susi.

“I,iya bener.” Sahut Citra. Dia berpikir membalik dulu -8x + 4y = -60 kalau tandanya dibalik semua jadi 8x – 4y =60.

“kamu kenapa?” Tanya Susi dan Fifi.

“nggak. Nggak papa. Cuma mikirin yang terakhir itu.”

“sekarang yang terakhir soal pertidaksamaan daerah itu.” Kata Citra.

“hei, Bu Indar sudah masuk. Waktunya BK.” Kata Siska. Ternyata Bu Indar sudah di meja guru memperhatikan Citra menerangkan matematika.

“nggak papa. Lanjutin aja dulu.” Kata Bu Indar.

“ya. Yang terakhir ini.” Citra berusaha mencari intinya biar cepet-cepet selesai.

“ini intinya kalau tanda petidaksamaannya >, maka arsir yang kanan garis persamaan. Tapi kalau tandanya lebih kecil, <, arsir sebelah kiri. Kayak gini.”

Citra membuat garis lurus melewati (0,-3) dan (3,0) lalu dia mengarsir titik (0,0) seluruhnya sampai garis funsgi itu kalau tandanya dia mengarsir yang sekitar (4,0) ke kanan seluruhnya. Untuk itu dia menggambar dua grafik.

“terus cara gambarnya grafiknya gimana?” Tanya Siska.

“urusan kamu! Sekarang perhatiin pelajaran!” ujar Citra balik ke bangkunya. Anak-anak lain ikut bubar ke bangku masing-masing mengikuti ratunya. Gurunya juga sudah menunggu. Siap untuk mengajar.