tanggung jawab manusia terhadap akalnya

sebelum manusia lahir Alloh telah menanyai manusia tentang kesaksiannya bahwa Alloh adalah Tuhan mereka yang sebenarnya. hal ini diungkapkan dalam Al-qur’an surat Al-A’raf : 172.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al-A’raf : 172).


hal di atas membuktikan manusia pada dasarnya Islam. fitrah manusia pun Islam. hadist nabi pun menyatakan hal ini.

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

setelah lahir manusia mendapat pendidikan dari orang tuanya. akibatnya manusia dipengaruhi dari agama orang tuanya. kondisi orang tua dapat dibagi dua: orang tua muslim dan orang tua kafir, orang tua non islam. setiap anak menjadi beragama mengikuti kedua orang tuanya. mereka belajar dari orang tua seperti beragama, cara makan, cara mandi, sekolah dan lain-lain. jalan anak muslim dan kafir menjadi berbeda.

ketika remaja akal setiap manusia sempurna. di saat itu dia mulai berpikir tentang alam semesta, kehidupan dan manusia yang disebut uqdatul qubra. dapat juga dikatakan masa remaja masa mencari pandangan hidup dan jati diri. banyak anak remaja secara praktis mencari jati diri dengan menggali potensi diri dan cita-cita. hal ini tidak salah. tapi secara mendalam pandangan hidup ini adalah mengenai kebenaran dan agama. misalnya banyak kasus remaja dan generasi tidak setuju atau sependapat dengan ajaran agama dan budaya. mereka mempertanyakan. mereka menemukan keganjilan dan ketidakpuasan. mereka menjadi pindah-pindah. mereka mempelajari pengetahuan-pengetahuan yang lain seperti para filosof, para pencari agama, para pencari Tuhan.

pada masa kecil pun sebenarnya akal manusia telah bertanya-tanya misalnya siapa pencipta langit dan bumi, siapakah Tuhan, seperti apa wujud-Nya, dari mana asal-Nya dan lain-lain. agama-agama non islam memberikan jawaban kalau Tuhan itu seperti begini-begini. rupa-Nya begini dan sifat-Nya begini sedangkan islam memberikan ajaran bahwa Alloh itu berbeda dengan makhluk dan sifat-Nya maha sempurna. Alloh tidak diketahui rupa-Nya tapi diketahui ada-Nya. mayoritas manusia baik kafir maupun muslim menerima begitu saja tanpa berpikir. mereka mengikuti orang tua dan masyarakat. mereka cari aman karena takut berbeda dari keluarga dan masyarakat. bagi orang-orang non islam ajaran itu tidak masuk akal tapi diterima begitu saja.

dalam masyarakat muslim juga terdapat masalah yang agak sama. mereka menjadikan agama sebagai budaya, ritual dan rutinitas. mereka beruntung beriman kepada Alloh dan Islam tapi salahnya mereka hanya ikut-ikutan. Islam menjadi pelengkap hidup, sesuatu yang harus ada tapi bukan pandangan hidup. mereka mengikuti Islam karena orang tua dan masyarakat. bagi mereka Islam itu benar karena ego mereka, bukan karena pemikiran. coba ditanya, benarnya Islam di mana?

hanya orang yang berpikir yang bisa menjawabnya sebab masalah kebenaran adalah masalah pemikiran, bukan perasaan dan ikut-ikutan. iman yang ikut-ikutan, budaya, rutinitas dan tradisi itu tidak kuat. contohnya jika orang tua dan masyarakat mereka tidak islam bagaimana? apakah mereka akan menjadi kafir?

hal ini jelas terlihat dalam masyarakat yang berbeda agamanya berbeda. budayanya berbeda. kebenarannya menjadi lokal, dan sementara. selain itu orangtua dan masyarakat adalah fakta. dalam fakta begini, masyarakat tidak bisa dijadikan sumber kebenaran sebab buktinya banyak orang kafir. kebenaran itu universal, tidak tergantung tempat. agama orang tua dan pendidikan itu fakta masa lalu tapi tidak semuanya benar. orangtua dan masyarakat masih bisa salah. bukannya masyarakat Islam itu juga salah, tapi Islam karena budaya dan ikut-ikutan tanpa berpikir itu yang salah. sebab berpikir akan melahirkan kebenaran dan keyakinan sehingga iman menjadi kuat.

nah, di sinilah tanggungjawab manusia terhadap akalnya. manusia dikaruniai akal yang membuatnya mampu berpikir membedakan mana yang benar dan yang salah. orang-orang non muslim berkewajiban terhadap akalnya untuk berpikir dalam menilai kebenaran agamanya. dengan akalnya dia akan mampu menilai bahwa agama selain islam itu salah sebab mengajarkan Tuhan serupa dengan makhluk, khususnya manusia termasuk sifat-sifat-Nya. padahal Tuhan maha sempurna. lebih salah lagi kalau tidak percaya adanya Tuhan. dia juga berkewajiban mencari agama yang benar sampai ketemu. dengan usaha yang jujur, serius dan sungguh-sungguh dia akan menemukan kebenaran adalah Islam. seorang muslim juga wajib berpikir yaitu menguji agama islam. dia mencari dalil dan ajaran Islam sebenarnya. dia akan menemukan Islam yang benar berbeda dari budaya masyarakat muslim kontemporer. contohnya dalam budaya muslim menolak hari sial, jimat, ritual hari-hari tertentu, pacaran, riba, free sex, saham, bahkan demokrasi. semua itu tidak sesuai dengan Islam. kebenaran Islam tidak seperti itu. jadi tanggungjawab manusia terhadap akalnya adalah mencari kebenaran dan mengikutinya. bagi orang kafir kewajibannya adalah menguji agamanya, mencari agama yang benar ssampai ketemu dan mengikutinya. kewajiban seorang muslim adalah berpikir dalam beragama, mencari dalil, mempelajari islam sampai menemukan bahwa Islam benar-benar kebenaran baginya lalu ia mengikutinya.

akal adalah anugerah yang diberikan kepada manusia. bersama anugerah yang besar datang tanggungjawab yang besar. gunakan akalmu dengan sebaik-baiknya sesuai fungsi dan tanggungjawabnya.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *