more than you wish

“Selamat ulang tahun!”  seru Riska seraya menyodorkan sebuah kotak kado warna pink putih.

“Makasih, sayang.” Kata Johan, mereka saling tempel pipi kiri kanan.

“Buka dong! kita liat bareng-bareng.”

Johan membuka kadonya.Begitu di buka dua gelas kaca berkilauan di bawah matahari. Johan mengangkat gelas itu sejajar dengan matanya, gelas kaca itu bening, mahasiswa itu memutar gelasnya, baru terlihat maksudnya, tercetak nama dirinya bersama pacarnya “JOHAN & RISKA”

“Gimana?Bagus nggak?Tanya Riska penasaran.

“Bagus, gelas ini kayak gelas pernikahan” jawab Johan.

“Ah, kamu bisa aja.”

Mereka lalu makan cake dan minum dengan gelas hadiah itu, dalam nama mereka.

Malam minggu, johan sudah siap mengapeli Riska. Dia sudah memarkir motornya di depan kamar kos mahasiswi semester pertengahan itu. Begitu dia masuk dia keheranan.

“kenapa ada tangga di sini?”

Johan mendongak, di sana dia temukan kekasih nya dengan rambut pony, rambut diikat panjang, kaos hitam dan rok jins.

“Riska, ngapain kamu di situ?”

“Ayo naik, di sini seru lo”

“Ada-ada aja cewek ini.”

Johan menaiki tangga menuju ke atap, di sana Riska sudah menunggunya dengan senyuman. Johan merangkak mencari tempat duduk di sebelah cewek 19 tahun itu.

“Lihatlah!” tunjuk Riska

Johan menatap kubah berlian berkilauan di langit malam.Mereka berkedip bergantian, ada yang berdekatan, ada yang berjauhan. Titik-titik putih di antara selimut hitam yang membentang membuka hati akan tanda-tanda kehadiran-Nya.

“Gimana? Bagus nggak?”

“Waah….. gak bisa diungkap dengan kata-kata”

Puji Johan.

Johan menatap Riska, “ Baju kamu juga pas, kamu bagaikan langit malam dan kedua matamu adalah bintangnya”

“Gombal !”

“Mantra jones fail di sini, nih” komentar johan.

“apa?” Riska gak ngerti.

“Jones, mereka selalu berdua malam minggu minta hujan, kali ini biar sekali-kali kita yang menang.”

“Yoi.”

Riska turun ke genteng bawah agar bisa berbaring menatap bintang, johan ikutan turun agar bisa melakukan hal yang sama di sebelah kekasihnya itu, tapi, krak!”

“Ups, sory!Tangan johan terlalu menekan sehingga gentengnya pecah.

“Nggak papa”

Mereka berbaring bersebelahan berbantalkan kedua tangan.

“Suatu saat nanti aku akan membuatkan rumah buat kita berdua lalu atapnya akan kubuat rata biar kita bisa memandang bintang setiap malam” Janji Johan.

“So sweet….”

Hri minggu siang Johan jalan sendirian di pertokoan, dia masuk took aksesoris. Dia menelusuri rak melihat beragam pernak-pernik di sana, ada boneka, kalung, cincin, gelang, topi, syal, dan segala macam jam, arloji, kacamata tak ketinggalan.

“Sayang, ganti kamu mau ulang tahun, nih. Kamu mau minta apa?” Tanya johan sebelum berangkat.

“Aku mau boneka minion, yang mata satu pendek, inget ya?Minion mata satu pendek yang kacamata.Jangan lupa.”Balas Riska di telepon.

“Oke”

Johan menuju bagian boneka, di sana dia mencari-cari boneka dari film Despicable me itu, yang ada di sana sahun the sheep, masha, teddy bear, lumba-lumba, anna frozen, elsa frozen, minion juga ada tapi bermata dua itu kevin. Terus ada Winnie the pooh, tiger, rabbids dan lain-lain. Tapi tak ada minion yang mata satu.

Cowok berjaket kulit coklat itu segera menemui pelayan took.

“Mbak, boneka minion ada nggak?” tanyanya.

“Ada mas, sebentar.” Pelayan itu mencarikan.

Johan mengikuti di belakangnya.

Pelayan menuju tempat boneka yang dicari johan tadi, dengan medahnya dia bisa menemukan boneka kuning hitam itu, tapi sayang Johan sudah mencarinya dulu.

“Ini, mas”

“Yang matanya satu ada nggak, mbak?”

Pelayan itu mengingat-ngat.

“Sebentar mas ya? Saya periksa dulu, barang kali di belakang ada.”

Pelayan itu masuk ke belakang. Johan terus menunggu, saat menunggu ia melihat keluar, langit sudah menjadi gelap, padahal baru jam12.30 johan keluar toko.

Benar, langit sudah tebal. Gundukkan abu-abu itu sudah berkedib agak lama diiringi suara gemuruh yang menakutkan.

Johan melihat ke dalam.Ia menemukan pelayan yang tadi sudah keluar dengan membawa apa yang dia cari. Lelaki sagitarius itu menyadari sesuatu, sekarang dia harus membuat keputusan.

“Mas, ini bonekanya sudah ada.” Kata pelayan sambil mendekat.

“maaf mbak, nggak jadi!” ujar Johan cepat. Dia segera keluar.

Johan menaiki motornya menuju toko yang terletak 2 km dari toko aksesoris yang tadi.

“Pak, saya cari karpet yang warna ijo ada?” Tanya Johan.

“Ada, ukuran berapa?”

“4 x 3 meter”

Bapak penjual karpet itu memotongkan, Johan membayar harganya.Karpet itu digulung dan ditaruh di motornya.

“Sebelum hujan turun aku harus segera sampe!” ujarnya.

Cowok itu ngebut melintasi jarum air yang berjatuhan.Semoga masih sempat, harapnya.Perlahan harapannya terkabul.Gerimis makin jarang, langit makin cerah.Mendekati kos-kosan Riska malah panas.

“Loh?”

Riska keluar kamar.

“Udah datang? Kok Cepet?”

“Tadi ujan, makannya aku keburu-buru”

“Ujan?Ujan dari mana? Panas gini”

Johan juga bingung, hujannya sempit amat.

“Kamu udah temuin minionnya?”

Johan mikir.

“Apa itu? Kok kamu bawa karpet?”

Waktunya mengatakan kebenaran, kayaknya bakalan ada gunung meletus nih.

“Sayang, sebenernya aku tadi udah dapet bonekanya,tapi….”

“Apa?Kamu udah dapet tapi nggak mau? Kamu kenapa sih, sayang? Kamu jahat! Nggak perasaan! Aku Cuma minta dikit kamu udah dapet malah nggak mau. Lagian kamu kan yang nawarin mau ngasih hadiah? Dan karpet itu buat apa?” bentak riska.

“Itu buat cadangan kamu kalau hujan”

“Sekarang lagi panas! Gak butuh ujan! Aku gak butuh kayak gitu. Aku gak mau karpet itu! Kamu bawa sendiri, pokoknya kalo kamu gak bawain aku minionnya, kita gak boleh ketemu lagi!”Omel riska.

Dia balik masuk kamar kos lalu menguncinya.

“Riska, tunggu Riska!”Johan berbicara dari luar.

“Pergi!”

“Riska, ini buat kebaikan kamu.”

“Aku gak mau liat kamu lagi! Pokoknya pergi!”

Johan tak bisa apa-apa lagi, dia mendesah, panas ini merusak segalanya.Dan tadi kenapa mendung lagi?

Johan memikirkan karpetnya, tak mungkin dibawa lagi.Tapi Riska gak mau menerimannya. Johan melihat cewek sebelah kamar Riska keluar.Johan segera mendekatinya.

“Evi!” panggil Johan.

“Mas johan, kenapa?”

Johan mendekat.“ Aku boleh nitip karpetnya? Buat Riska. Tadi aku kasih dia gak mau, sekarang musim hujan dan genteng kamar dia kemarin pecah. Aku khawatir kalo karpetnya basah dan dijemur, dia bakal gak punya karpet buat tidur.”

“Oh. Gitu..oke lah mas”

Johan kembali ke motornya untuk mengambil karpetnya.Evi membantu mengangkat dan membawa ke dalam, Karpet itu ditaruh di pojokan sebelah lemari Evi.

“Makasih Evi”

“Sama-sama” Jawab Evi tersenyum.

Johan pergi.

Malamnya Riska mendengar suara gluduk-gluduk, tapi dia tidur, dia lelap lagi dalam alam mimpi sampai suara tetes-tetes terdengar, percikan mengenai wajahnya dan kulitnya merasa dingin basah, jantungnya  berdetak kencang. Otaknya langsung sadar walau matanya masih terpejam. Dia membuka mata, pupil matanya melebar mencari kotak di sebelah pintu, ia bangun meraih dan menekan saklar.

“Hei….!” Matanya melihat danau air sudah memakan seperempat karpet.

Cewek rambut panjang itu segera ke dapur mencari mangkok plastik.Dia bawa mangkok ke tempat tetesan air.Setelah itu dia bawa bantal dan selimut keluar.Dia kunci pintu kamarnya.

“Tok! Tok! Tok!”

“Vi… Evi.” panggil Riska.

Tiga kali ketukan Evi baru keluar dengan kaos hijau.

“Ada apa Ris? Malam-malam gini bangun?”Evi menguap.

“Aku numpang tidur di kamarmu ya?Malem ini aja.”

“Ng? oke deh.”

Riska masuk dan duduk di karpet Evi, Evi mengunci pintu.Guntur dan halilintar bersahutan diiringi serbuan huajn di atap.

“Di kamarmu kenapa?” Tanya evi.

“Kamarku bocor, nggak tau kenapa. Padahal dulu-dulu nggak gitu.”

“Ya udah besok biar diperiksa Pak Mang. Sekarang tidur yuk! Ngantuk.”

“Ehm” Riska menutupi mukanya dengan selimut membentuk gunung selimut.

Besok paginya Riska bilang ke itu kosnya.

“Ya udah, gak papa. Nanti biar pak Mang yang perbaiki. Kamu kuliah aja, jangan lupa karpet kamu kamu jemur biar kering!” nasehat ibu kos.

“Ya, Bu.”

Riska menjemur karpetnya di luar biar terkena sinar matahari langsung, biar cepet kering. Dengan dibantu Evi mereka menggantung karpet itu di palang bambu depan kamar Riska.

“Semoga hari ini cerah biar cepat kering nanti malam mau nonton film soalnya” harap Riska di kelas.

Pagi ini langit biru dan awan putih menghiasi jendela kampus.Riska dengan senang hati mendengar penjelasan dosen lalu mengerjakan tugas.

Pukul dua siang kuliahnya selesai.

“Gluduk,gluduk! Duar!” cahaya menyilaukan membuat seorang teman Riska berteriak menutup telinga. Riska terhenti di depan pintu kelas, harapannya luntur di hapus huajn.

“Kenapa? Kenapa harus hujan?” makinya kepada langit.

Gagal deh hari ini.Dengan hujan lebat gini karpetnya bakalan basah kuyup semua.Kamar kosnya dekat kampus sih.

Cewek itu gak bawa payung, dia harus nunggu sampai reda, jam empat baru dia bisa keluar kampus.Begitu sampai halaman kos-kosan, dia tahu dia beneran karpetnya basah kuyup semua.

“Sory Ris, aku juga barusan pulang, gak sempat ngangkat karpet kamu” kata Evi.

“gak papa” Riska masuk kamar melewati Evi.

Riska meletakkan tas dia ke kamar mandi untuk mandi, dia kembali berkalung handuk. Dia masuk kamar lagi buat ganti baju.

“Vi, aku nanti tidur di kamar mu lagi ya?” Pinta riska

Evi melirik kamarnya.

“Kayaknya lebih baik kamu di kamar kamu aja deh vi”

“Kenapa?Pacarmu mau tidur di dalem?”

“Nggaklah!”

“Apa kamu mau pulang? Ini masih senin, Vi.”

“Genteng kamar kamu udah diperbaiki sama pak Mang. Kamu liat gak ada yang basah, kan?”

“Iya Cuma bekas semalem aja.”

“Ya berarti bisa kamu tempati.”

“Aku gak punya karpet, vi!” tegas Riska.

“Sebenernya ada.”

Evi masuk kamar Riska mengikutinya. Evi menunjuk pojokan kamar di sebelah lemari Riska mengenalinya. Itu karpet yang di bawa Johan kemarin.

“Jadi… pake aja”

“Tapi….”

Pipi Riska mengembung.

“Aku udah nolak dia, masak aku terima? Gengsi dong! masak aku cabut omongan ku kemarin? Mau ditaruh di mana mukaku nanti.Kalau dia liat gimana?”

Evi menepuk bahu Riska” ayo kita beber!”

“Tapi…”

“Karpet itu buat kamu, bukan buat aku” bujuk Evi.

Karena sohibnya yang bicara Riska jadi nurut, Mereka menggotong karpet itu ke kamar Riska.

Disana mereka bentangkan karpet itu benar-benar pas antara pintu ke lemari, dinding utara sampai meja Riska, setelah itu, mereka duduk di atas alas baru itu.

:Sekarang kabari yayangmu, bilang terima kasih, maaf buat kemarin, pingin balik!” instruksi Evi

“Apa sih?” pipi Riska masih mengembung.

“Kamu kan punya pacar perhatian lo. Bagus kan? Pertahanin!”

“Ogah!”

“Apa yayangmu buat aku aja?” Tanya Evi.

“Apa maksudmu? Gak bakalan!”

Evi mengambil HP Riska, Riska merebutnya kembali, dia menelepon Johan.

“Johan?”Suara paling merdu di telinganya menyahut.

“Ya sayang”

“Ngg….” Riska malu dan bingung.” aku lagi make karpet dari kamu” Riska melirik Evi.

Evi mendorong seperti menggulirkan bola dengan kedua tangannya.

“Kemarin kamarku bocor, karpetku basah semua, jadi….”

“Jadi…”

“Jadi kamu tau? Sialan!” terdengar tawa johan di seberang.

“Jadi aku ke tempat kamu ya?” Tanya Johan.

Riska melirik Evi lagi, Evi mengangguk.

“Oke”

Johan langsung otw dan Riska menunggu harap untuk bertemu, membayangkan akan bersama cinta.

Originally posted 2015-01-03 13:19:00.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *