menghadiri pernikahan Andhika

sabtu, 11 Oktober 2014 11.00 – 16.00 WIB
Andhika adalah seorang syabab malang. aku belum kenal sama sekali tapi aku dapat undangan dari ustadz Saiful. Ustadz Saiful juga belum kenal tapi beliau dapat undangan dari Zuan. jadi Zuan yang kenal. ini undangan berantai kayaknya. aku dapat undangan ini waktu rapat acara kharisma malam hari.
sabtu jam 11 aku pulang kerja. aku langsung menuju ustadz Saiful tapi jalan menuju rumahnya tertutup sebab ada mantenan tetangganya yang sampai memenuhi jalan. aku mau lewat jalan rumah mas Arif nanti muter menuju rumah ustadz Saiful. waktu aku lewat rumah mas Arif mas Arif ada di sana. aku berhenti. mas Arif bilang tempat kumpulnya pindah ke rumah dia. jadi otomatis sampai deh. alhamdulillah. aku tunggu sambil ngobrol.
pas ngobrol-ngobrol teman-teman yang lain datang. ada asmaul, Pak Amin, ustadz Saiful dan Zuan. Zuan membonceng Ust. Saiful. Asmaul sholat dulu. Pak Amin tanya mas Heri kok nggak ikut. aku bilang mas Heri karipen.apa tuh gak tau. Pak amin sms asy’ari. asy’ari gak ikut sebab gak tau. gak ada yang datang. ya udah tinggal tunggu asmaul lalu berangkat. agak lama nunggunya alumni mahasiswa itu datang dengan sepedanya. aku udah sholat duluan. kami lalu berangkat.
kami ke timur lewat Jl. bali, tlogo, kanigoro. Aku sama mas Arif ke SPBU kanigoro dulu isi bensin lalu nunggu pak Amin. Pak Amin jemput pak jun. Ust. Saiful sama Zuan nunggu kami di perempatan kanigoro. nunggu agak lama lalu berangkat lagi lewat kanigoro ke timur. pas mau ujung kanigoro Pak Jun isi bensin dulu lalu lanjut. kami lewat jabung, selopuro ke kesamben tempat diadakannya pernikahan Andhika.
kami sampai brongkos. USt. Saiful menyerahkan petanya ke pak Amin biar Pak Amin yang jadi penunjuk arah. Pak amin duluan masuk jalan ke utara terus ke barat terus ke timur. kayaknya nyasar nih. jalannya aspal berlubang-lubang. kesasar gak papa asal bareng2. hehehehe …
di timur sana ada papan penunjuk arah. arah tempat pernikahannya ke utara. lamat-lamat kedengaran sound lalu kelihatan mobil jejer-jejer. aku mengenali lagu itu. itu lagu maher zain “barokalloh”. aku memperhatikan lirik lagu itu.tunggu! itu liriknya doa untuk penikahan? ternyata gitu!

“Baraka Allahu Lakuma”

We’re here on this special day
Our hearts are full of pleasure
A day that brings the two of you
Close together
We’re gathered here to celebrate
A moment you’ll always treasure
We ask Allah to make your love
Last foreverLet’s raise our hands and make Du’a
Like the Prophet taught us
And with one voice
Let’s all say, say, say

بارك الله لكما وبارك عليكما
وجمع بينكما في خير
بارك الله لكما وبارك عليكما
وجمع بينكما في خير
Baraka Allahu Lakuma wa Baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fee khair.
Barakallah hu lakuma wa baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fii khair.

From now you’ll share all your chores
Through heart-ship to support each other
Together worshipping Allah
Seeking His pleasure

We pray that He will fill your life
With happiness and blessings
And grants your kids who make your home
Filled with laughter

Let’s raise our hands and make Dua
Like the Prophet taught us
And with one voice
Let’s all say, say, say

بارك الله لكما وبارك عليكما
وجمع بينكما في خير
Baraka Allahu Lakuma wa Baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fee khair.
Barakallah hu lakuma wa baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fii khair.

بارك الله
بارك الله لكم ولنا

الله بارك لهما
الله أدم حبهما
الله صلّي وسلّم على رسول الله

الله تب علينا
الله ارض عنا
الله اهد خطانا
على سنة نبينا

Let’s raise our hands and make Du’a
Like the Prophet taught us
And with one voice
Let’s all say, say, say

بارك الله لكما وبارك عليكما
Barakallahu Lakuma wa Baraka alikuma

kami parkir lalu melepas helm. naruh di motor. kami bareng-bareng salaman sama penerima tamu. kami masuk tenda. di barat utara ada anak-anak muda duduk di tempat yang dikelilingi satir. kami ke sana … melewati akhwat. tunggu! ini nggak syar’i kan? masak melewati akhwat? kami salaman dengan anak-anak muda itu, ngobrol. kami lalu ditunjuki tempat makan. oh iya makan dulu nih.
kami masuk ruangan di sebelah timur tempat satir itu. tempat makan itu dua pintu. satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. kami sudah jelas pilih yang pertama, pintu yang sebelah timur. di sana sudah ada banyak orang makan. menunya sudah terhidang. aku mengambil satu piring. piring itu sudah diisi keringan soto, yaitu daging, bawang dll. tinggal ambil nasi lalu antri ambil kuah. kami antri ke utara.
“ini kuah bakso, Ul. kuah soto di sana.” pak Amin nunjuk ke selatan.
untung asmaul yang ditegur, bukan aku. Alhamdulillah. ikut-ikutan ambil. seteah itu makan. orang-orang kalau makan selalu cepat sedangkan aku selalu lambat dan terakhir. makanya aku gak suka makan bareng orang lain. memalukan. aku makan lambat untuk menikmati makanan dan mengunyahnya sampai halus baru ditelan. bukan terburu-buru. biarin aja ketinggalan.
habis makan aku ambil kolak buah lalu aqua untuk mencuci mulut. aku keluar kembali ke tempat orang-orang. di pintu masuk ruang makan aku ketemu mahasiswa-mahasiswa BDM UM, termasuk febrian. salaman. salaman. aku lalu kumpul dengan rombonganku tadi.
acaranya lagi pengajian oleh undangan tuan rumah. horor. nyesek datengin acara kayak gini. aku gak mau mikirin pernikahan. aku main HP sendiri.
“heh, Yu! dengerin pengajiannya! jangan main HP mulu!” tegur Pak Amin.
aku gak peduli dengan omongan dia. aku gak mau mikirin pernikahn. pernikahanku masih jauh, mungkin di akhirat nanti aku baru mikirin nikah. untuk saat ini aku harus memikirkan diriku dulu sebab aku masih gak punya apa-apa, gak tahu apa-apa dan gak bisa apa-apa. aku harus banyak belajar.
aku masih belum bisa menikah sebab aku masih belum punya modal dan kemampuan mengurus keluarga. mengurus diriku sendiri aja belum bisa, apalagi ngurus anak orang, memimpin keluarga, membawa biduk keluarga ke masa depan. aku masih belum tahu visi dan misiku, masa depan dan jalanku. apa yang bisa kuatur untuk anak istriku nanti?
oleh karena itu aku tak mampu menikah. kata nabi kalau belum mampu menikah hendaknya berpuasa. kalau puasa makan minum aku belum bisa, tapi kalau puasa menahan diri aku usahakan. oleh karena itu aku gak mau memikirkan nikah. biarkan aku jadi forever alone dulu.
“saya itu mengundang kamu ke sini untuk memotivasi kamu.” kata Ust. Saiful.
aku gak butuh dimotivasi, ustadz. aku gak butuh itu. sudah jelas aku gak bakalan bisa nikah sebab aku gak punya akte kelahiran. aku gak punya motor untuk mengurus akter itu yang ruwet kesana kemari. aku gak punya uang, waktu dan kendaraan. bahkan aku terancam gak punya pekerjaan. inilah takdirku. mungkin nanti aku akan berzina aja untuk memenuhi hasrat cinta dan kerinduan pada wanita. itu lebih mudah. bayar beres. tapi dosanya na’udzubillah.
aku sempat-sempatkan nyatet tulisan di dekorasi pernikahan itu. tulisannya doa untuk pernikahan. aku catet di HP. baarokallohu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a baynakuma filkhoir. tentu di sana pakai huruf hijaiyah dong. aku ketik begini sebab gak punya tombol arab. aku makan agar-agar lagi. kenyang.
setelah selesai kami pulang. kami salaman dengan Andhika lalu penerima tamu. kami dapat oleh-oleh jajan sebungkus per orang. mewah banget. kami barengan ke selatan terus lurus. ini lebih dekat daripada tadi. kami cepat sampai ke jalan raya brongkos. kami mampir ke masjid pancasila untuk sholat ashar berjamaah. kayaknya udah waktunya. udah jam 3. setelah sholat kami pulang.
kayaknya ini nanti lewat selopuro lagi deh sebab kalau lewat utara ke wlingi jauh ke utara lalu nanti ke selatan lagi waktu ke kota. lebih dekat lewat selopuro. dugaanku bener. kami lewat jalan berliku-liku. sebenernya aku gak begitu suka jalur selopuro. jalurnya berliku-liku naik turun. waktu kecil aku pernah mabuk di jalur ini. beda dengan jalur wlingi itu mulus, lurus dan kota sedangkan selopuro ndeso.
semoga nggak mabuk. aku nguantuk. akhirnya selopuro terlewati dan talun menjelang. mulai sini jalannya mulus. jabung ke barat terus tembus kanigoro, tlogo sampai karang tengah dan plosokerep rumah mas Arif. kami sampai. istirahat dulu sebentar baru lanjutin misi. ngobrol sebentar lalu ambil tas. misiku selanjutnya: ke ustadz Rofik bayar MU dan al-wa’ie.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *