memisahkan antara hukum perbuatan dan hukum benda

Setelah pembahasan hukum islam dan prioritas dulu, kita tahu hukum islam itu ada lima, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, haram.

a. wajib, yaitu perbuatan yang harus dilakukan. kalau dilakukan kita akan mendapat pahala, tapi kalau dtinggalkan kita akan mendapat dosa. contohnya: sholat 5 waktu, puasa ramadlan dll.

b. sunnah, yaitu perbuatan yang dianjurkan dan sebaiknya dilakukan. perbuatan sunnah ini jalan hidup Nabi Muhammad SAW. perbuatan ini kalau dilakukan kita akan mendapat pahala tapi kalau ditinggalkan kita tidak dapat dosa. contohnya: sholat sunnah rawatib, sholat duha, sholat tahajud.

c. mubah, yaitu perbuatan yang boleh dilakukan. kalau dilakukan kita tidak dapat pahala. kalau ditinggalkan kita tidak mendapat dosa. contohnya merokok, mendengarkan musik, nonton film, main game, rekreasi. cuma nanti ada aktivitas terkait dengan yang lain.

d. makruh, yaitu larangan halus atau perbuatan yang sebaiknya dijauhi. kalau dilakukan tidak mendapat dosa tapi kalau ditinggalkan akan mendapat pahala. contohnya: menunda-nunda sholat, makan jengkol, bercerai dll.

e. haram, yaitu perbuatan yang dilarang keras. kalau dilakukan akan mendapat dosa tapi kalau ditinggalkan akan mendapat pahala. contohnya pacaran, free sex, pakai baju mini, nge-drugs dll.

Kemudian hukum benda itu ada 2:

1. Halal: benda itu boleh digunakan sesuai hukum syara’.

2. Haram: benda itu tidak tidak boleh digunakan.

Kita harus memisahkan dua hukum ini untuk mperjelaskan dalam mengambil hukum dan sikap. Gunanya agar kita bisa mengambil hukum yang benar. Kalau kita tidak memisahkannya atau kalau kita mencampuradukkannya kita akan terjebak pada pemikiran yang salah, kabur dan menggeneralisir. Contoh:

Uang hasil korupsi dan kejahatan itu haram atau halal?

Kalau kita mencampuradukkannya kita menjadi memutuskan bahwa uang hasil korupsi itu haram sebab korupsi itu haram. Kesimpulan ini salah sebab menggabungkan hukum perbuatan dan hukum perbuatan. Korupsi dan kejahatan itu haram. Maksiat itu haram. Tapi yang haram perbuatannya, bukan bendanya. Uang bagaimanapun halal sebab tidak ada dalil yang mengharamkannya. Kalau ad a yang mengharamkannya, berarti dia mengharamkan apa yang dihalalkan Alloh berarti dia telah melanggar hukum Alloh.

Permasalahan ini masalah yang sama dengan uang yang didapat dari hasil kejahatan. Misalnya penjual makanan di daerah lokalisasi pezina. Perbuatan berzina itu haram dan dosa. Pekerjaannya haram. Tapi uangnya tidak haram. Kalau haram nanti semua kena dosa. Penjualnya, keluarga penjual itu dan yang lain. Lalu aliran uang itu ke mana saja taka da yang tahu. Lalu aliran uang itu masuk pemerintah, pasar, bank, dan lain-lain. Uang haram dan halal jadi bercampur dan tak bisa dibedakan. Semua uang jadi haram.

Pemikiran yang salah selanjutnya profesi pemerintahan jadi haram sebab uangnya mengalir dari pajak, miras, perzinaan, riba dan lain-lain. Akibatnya orang-orang islam tak boleh masuk jadi PNS. Semua ini gara-gara pemikiran yang salah itu. Makanya harus dipisah.

Meskipun sekarang ada pemisahan ada hukum perbuatan dan hukum benda dan uang hasil kejahatan itu halal digunakan tetap lebih baik kita melakukan perbuatan yang halal, yaitu yang wajib, sunnah dan mubah. Kita lebih baik melakukan perbuatan yang syar’I, bekerja yang syar’I dan muamalah yang syar’I sebab di sana ada barokah. Dalam amal yang haram tidak ada barokah. Barokah adalah tambahan kebaikan berupa pahala, nikmat, ketenangan, kebahagiaan dan semua itu datang bersama ridha Alloh. Kalau tidak ada barokah tidak ada kebaikan dan ketenangan. Contohnya lihat aja orang yang kaya dari kejahatan. Meskipun kaya dan kelihatan bahagia, dia tidak tenang sebab takut ditangkap polisi, musuhnya banyak, bagaimana agar usahanya aman. Belum lagi di akhirat nanti dia gak bakalan lolos dari siksa Alloh. Ada kalanya juga nanti anaknya jadi nakal. Istrinya jadi matre, gila hormat dan belanja. Lalu istrinya bisa saja selingkuh. Penjahat pasti tidak rajin ibadah. Barokah mengundang semanngat ibadah. Gimana bisa ibadah kalo gak ada barokah. Males jadinya kan?

Barokah ini dari sisi nafsiyah. Secara fikih tetap terpisah antara hukum perbuatan dan hukum benda. Dengan begitu akan jelas hukum perbuatan yang akan kita lakukan. Contoh upload video itu mubah, tapi upload video porno itu haram sebab mengundang banyak orang untuk maksiat, nonton video tuh.

Jadi jelas ya? Hukum perbuatan dan hukum benda itu berbeda. Harus dipisah. Jangan dicampur baur.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *