masak di tengah posting

Wika meletakkan duduknya di kursi biru menghadap meja kayu berwarna coklat. Di meja itu netbook axioo birunya sudah terbuka. Ia menyalakannya, menunggu booting sampai wallpapernya terlihat. Di situ terpampang foto dirinya lagi tersenyum mengacungkan dua jari.

“sekarang waktunya posting.” Ujarnya sambil senyum-senyum sendiri.  Ia membuka google chrome. Ia kunjungi alamat blognya sendiri lalu login melalui menu sidebar yang ada tersedia di situ. Ia memasukkan username dan password lalu enter. Ia dibawa ke halaman dashboard winterwing. Ia mengklik submenu “tambah baru” dari menu “tulisan”.
Baru saja ia mau mengetik judul terdengar panggilan,”Wika!”
“apaan sih ini? Gangguin aja.”gerutunya.
“ya!” seru anak itu.
“Wika!” panggil ibunya lagi.
“Ya, bu! Ada apa?” tanya Wika lebih keras lagi. !”
“kalo dipanggil sini , To!” panggil ibunya lagi.  Wika mengeluarkan beban lewat napasnya, baru keluar menemui ibu kandungnya itu. Ia temukan Ibunya di dapur lagi masak.
“ada apa?”
“tolong belanja ke warung ya? Ini uangnya. Tolong beli mentimun, kacang panjang, kelapa, telur, kentang, sama sayur kulupan.”
“buat apa? Mau ada acara apa sih?”
“nanti malam mau munggahan. Itu lo selamatan menjelang puasa di mushola. Nanti maghrib dianter ke mushola. Ayah sama Jefri yang ikut selamatannya.”  Wika mengingat-ingat. Oh, iya sebentar lagi puasa. Berarti sebentar lagi gak bisa makan banyak-banyak lagi nih.
“ini tas sama uangnya ya?”
“nggak lama kok. Gak papa deh.” batin Wika.
Ia menerima tas, uang dan daftar belanjaan itu.  Cewek itu keluar jalan kaki sambil membawa tas keranjang warna kuning. Ia jalan kaki ke warung yang biasa tempat ibu belanja. Jaraknya tujuh rumah dari rumahnya utara jalan. Jadi gak perlu menyeberang jalan. Di sana ia beli semua yang ada di daftar. Ia menerima kembalian dan sayurnya baru pulang.  Wika ke dapur meletakkan belanjaan di meja sama uang kembaliannya di sebelah keranjang belanjaan. Setelah itu ia balik ke kamar pingin cepat-cepat ngelanjutin ngeblognya.
“Wika, bantuin ibu ya? Tolong kupas mentimunnya, lalu iris-iris. Setelah itu tolong cuci sayuran kulupannya. Terus potongi kacang-kacang panjangnya, kupas kentangnya, dirajang-rajang dan dimasak. Masak juga telurnya.” Perintah Bu Indah.
“hee… banyak banget?” seru cewek itu.
“iya. Habis sore ini semua harus selesai buat dianter ke mushola.”
“tapi …”
“tapi apa? Kamu kan belum waktunya belajar?”
“aku sibuk! Permisi!” Wika berbalik langsung masuk kamar menutup pintu dengan keras. Terdengar suara pintu dikunci.
“Wika! Tunggu! Balik ke sini! Wika!” panggil Bu Indah berulang kali tapi tak ada respon dari kamar sebelah barat dapur itu.  Bu indah mau datang langsung mengomeli anak itu tapi Pak Irwan menahannya.
“Biar ayah yang bicara sama anak itu.”  Wika merengut sendiri di kamarnya.
“apa-apaan itu tadi? Masak disuruh ngelakuin banyak amat ! aku kan sudah belanja harusnya udah dong! Aku udah ngorbanin waktu ngeblogku tadi tuh. Masak masih disuruh juga. Kalo aku ngerjain semua kapan waktuku untuk ngeblog? Nanti malam waktunya belajar. Kalo udah waktunya pasti disuruh belajar nggak boleh ngeblog lagi!”
“Wika.” Terdengar suara Pak Irwan diikuti ketukan di pintu.
“ya, ayah.” Sahutcewek rambut panjang itu.
“ayah boleh masuk? Ayah mau bicara sebentar.”  Wika membukakan pintu. Ayah masuk duduk di tepi kasur sedangkan Wika duduk di kursinya menghadap netbook. Ia membelokkan sedikit ke arah ayahnya.
“kamu lagi apa?” tanya Pak Irwan.
“lagi mau ngeblog. Mau nulis sekalian praktekin yang ayah ajarin biar nggak lupa.” Jawab Wika sambil mulai mengetik.
“jadi itu alasannya kenapa kamu nggak mau bantu Ibu?”
Wika menoleh pada ayahnya,”soalnya aku lagi latihan ngeblog. Kalo aku lagi ngelakuin sesuatu aku harus kerjain sampai selesai, baru aku bisa kerjain yang lain. Kan ayah sendiri yang bilang gitu dulu?”
“lebih penting mana, ngeblog apa bantu Ibu?”  Wika terhenti, mikir-mikir. Mana ya yang lebih penting? Tapi sekarang prioritasnya kerjain yang lebih dulu, tapi harus berbakti, tapi prinsip harus dipenuhi….????
“tapi aku harus selesaiin ini dulu, baru nanti mau bantu.”
“ ngeblog nanti kan bisa? Berkat itu harus dikirim nanti maghrib lo sebab isya mau dipakai selamatan.”  Wika bertopang dagu.
“Wika, ibumu menyayangimu dan mencintaimu. Dia selalu mendukungmu dan baik padamu. Dia yang membesarkanmu dari kecil sampai sekarang. Dia yang merawatmu dan membesarkanmu. Dia yang kasih kamu makan, baju waktu kamu kecil sampai sekarang. Apa-apa kamu masih minta ibu kan? Apa kamu ingat ibu juga yang nganter kamu sekolah sampai daftar SMP itu? Ibumu juga yang selalu ngambil raport kamu kan? Sekarang ibu kamu minta bantuan kamu masak kamu nggak mau bantu? Cuma pas bener-bener sibuk aja. Nanti kalo ibumu masih bisa lakuin sendiri dia juga lakuin sendiri. Masak kamu nggak tersentuh sama kondisi ibu kamu? Apa kamu nggak sayang sama ibu? Apa kamu lebih memilih blog daripada ibu kamu? Padahal blog kan Cuma beberapa hari ketemu sedangkan kamu sama ibu kamu sudah bertahun-tahun bahkan sejak kamu belum lahir ibu kamu sudah sangat baik sama kamu.”  Tak terasa air mata Wika menitik mengingat kebaikan-kebaikan ibunya.
“ tenang aja, nanti ayah akan bantu. Ayah akan suruh Jefri, Afif dan Metrika buat bantu juga biar nggak berat-berat.”
“oke. Aku akan bantu apapun yang harus aku lakukan. Demi ibu yang sudah baik selama ini. Maafin aku, yah, Bu.”
Wika pun keluar segera menemui ibunya. Ia langsung memeluk ibunya.
“Bu, aku minta maaf ya? Aku sudah jahat sama Ibu. Aku gak mau bantu ibu padahal ibu selama ini sudah baik sama aku.”  Bu Indah tercengang. Beliau melihat Pak Irwan. Pak Irwan tersenyum. Bu Indah mengerti mengelus rambut Wika.
“nggak apa-apa sayang. Ibu ngerti kok kamu juga punya hobi sendiri. Bagus kalau itu bantu buat cita-cita kamu dan produktif. Ibu Cuma butuh bantuan kamu sedikit kok.”
“nggak. Banyak juga gak papa kok. Wika rela kerjain semua demi Ibu, karena Wika sayang Ibu.”
Maka Wika mengambil wadah, pisau dan mentimun. Ia benar-benar mengupas dan menaruhnya di wadah itu. Dia mengiris-iris mentimun dan menaruhnya di piring lain. Dengan semangat ia mengupas dan mengiris semua mentimun sampai habis. Ayah mengambil kamera dan memotret Wika yang lagi semangat.
Ayah memanggil anak-anaknya yang lain untuk membantu. Metrika ditugasi memotong kacang-kacang panjang sebab tugas itu gampang. Ayah sendiri memasak nasi dan telur. Jefri dan Afif membersihkan wadah nasi berkat yang disebut marang. Wika mendapat tugas lagi mengupas kentang, tapi kali ini mengupas aja.
Soal mengiris kentang Ibu yang ambil alih sebab bentuknya harus kubus gak kayak mentimun. Ibu memasak sambal dan menggoreng itu. Dua anak kali-laki itu ditugasi juga memarut kelapa sampai habis untuk dibuat srondeng. Jadi satu keluarga itu benar-benar sibuk.
Sesekali mereka bercanda. Ada foto-fotonya juga.  Setelah semua masak, Bu Indah memasukkan kertas minyak sebagai alas marang. Pak Irwan memasukkan nasi sampai sekitar 60% tinggi marang. Wika dan Metrika memasukkan lauk ke dalam wadah lauk berbentuk lingkaran bersegmen dengan tempat bulat di tengah. Tempat bulat itu untuk telur. Yang lain untuk srondeng, kulupan, potongan kacang panjang, sambal goreng, mie juga.
“biasanya ada daging ayam.”komentar Wika.
“dagingmu aja kali.” Celetuk Jefri mengambil mie dari marang yang dipegang Wika.
“mas Jefri, ini! Baru dimasukin lo!”
“biarin!”
“sudah! Sudah! Masih ada yang lain.” Lerai Bu Indah.
Terpaksa Wika mengambil lagi. Kali ini dijaga ketat biar nggak dicuri si Tom Jefri ini. Wika menaruh tutup pada marang lalu wadahi dengan kantong plastik hitam pemberian ibunya. Mereka lalu menaruh enam marang itu ke lengser bundar dari besi. Selanjutnya Wika dan Metrika mengantar ke mushola. Wika bawa empat dan Metrika bawa dua. Di sana mereka diterima oleh ibu-ibu mushola. Mereka lalu pulang.
“selesai. Nggak nyangka banyak juga yang harus dilakuin buat selamatan gitu.”
“ iya. Bayangin aja kalo semua itu ibu lakuin sendiri, kapan selesainya?”  Wika jadi malu.
“Bu, kapan-kapan kalau Ibu butuh bantuan Wika, ibu bilang aja ya? Aku mau kok bantuin Ibu. Karena aku sayang ibu.”
“makasih, sayang.” Bu Indah mencium kening Wika.
“nah, sekarang kamu boleh ngeblog.” Kata Pak Irwan.
“hore! Ayo, Yah!”  Wika ke kamar bersama ayahnya. Ayahnya mengeluarkan kamera yang tadi beliau pakai untuk memotret. Beliau hubungkan dengan kabel data ke netbook Wika. Mereka copy ke netbook. Wika jadi dapat ide menulis posting tentang ceritanya membantu Ibu memasak nasi berkat. Dengan pengalaman yang masih tersimpan hangat dia bisa menulis dengan cepat.
“tambahi foto sekalian biar bagus.”
“Ya.”  Wika mengklik menu di atas kotak isi posting. Menunya “tambah media”. Dia pilih “unggah berkas”. Dia klik “pilih berkas”. Dia cari foto-fotonya dari drive HP ayah. Dia pilih-pilih sampai 15 foto lalu tekan enter. WordPress menguploadnya ke server dan menampilkannya di kotak dialog. Butuh waktu agak banyak sebab fotonya banyak dan berukuran  sedang. Setelah menunggu semua tampil di kotak dialog. Wika menekan enter. Foto-foto itu pun muncul di kotak konten posting. Cewek itu mengedit dan menata susunan foto-foto dan teksnya. Setelah itu dia mengatur kategori. Ia klik kategori “cerita”. Terakhir ia tekan “terbitkan.”
“selesai.”  Kedua putri dan ayah itu melihat hasilnya di halaman post dan homepage winterwing.
“bagus. Bagus. Nah, jadi ada hikmahnya kan bantu orang tua?”
“ya, ayah. Makasih.”
“sekarang ayah mau tinggal dulu. Ayah cabut kabel datanya.”  Pak Irwan me-reject drive data Hpnya. Beliau mencabut lalu pergi meninggalkan Wika bersenang-senang dengan blog baru itu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *