first meeting with katalist

semua sudah kumpul. pembawa acara maju ke depan ruangan mengambil mic dan mulai berbicara.
“selamat datang semua di forum katalis, komunitas sastra ‘katakan dan tuliskan’!”
pembawa acara memulai acara dengan formalitas seperti salam, doa lalu ke acara inti, yaitu perkenalan forum penulis. yang menjadi pembicara maju. pembicara itu memperkenalkan dirinya. beliau bernama Pak Andy. beliau tinggi, botak, berkacamata, berkumis dan jenggot hitam lebat pendek. Pak Andy adalah seorang redaktur dan wartawan senior. beliau di sini sebagai pendiri forum dan komunitas penulis “katalis”. forum “katalis” sudah berdiri selama 3 tahun didirikan oleh beliau bersama beberapa rekannya. mereka adalah seorang wartawan, penulis senior dan guru-guru bahasa indonesia dari beberapa sekolah di Kota Patria. selama 3 tahun itu mereka telah mendidik banyak murid calon penulis dan melahirkan beberapa karya seperti antologi puisi, cerpen, skenario bahkan sebagian sudah masuk TV lokal Kota patria untuk menjadi FTV. saat ini forum katalis sudah memasuki angkatan keempat dan ini adalah waktu perekrutannya, penerimaan anggota baru.

yang hadir dalam acara ini sebanyak sekitar lima puluh orang terdiri dari SMP, SMA, mahasiswa dan beberapa orang dewasa. laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu ruangan sekretariat “katalis” di dekat perpustakaan nasional. mereka semua memperhatikan pembicara yang sudah sering siaran di radio Kota Patria tersebut.
salah satu peserta baru itu cewek SMP bernama Sulistya. dia masih memakai seragam sekolah dengan badge kuning. Sulistya berwajah mirip Maudy ayunda dengan rambut sebahu. dia duduk menopang dagu dengan tangan kirinya.
“sudah dari dulu aku ingin ikutan forum nulis kayak gini. Alhamdulillah bisa ketemu! sekarang aku bisa ketemu dan tanya-tanya sama mereka. aku ingin nunjukin karyaku pada mereka.” batinnya.
pidato perkenalan Pak Andy selesai. pembawa acara itu memberikan instruksi kepada para peserta,” sekarang silakan tuliskan nama anda di selembar kertas. tuliskan nama, asal dan apa alasan anda dalam menulis. apa alasan anda mengikuti forum penulis ini!”
tanpa pikir panjang Sulistya mengeluarkan pulpen dan buku tulis dari dalam tas pinggar coklat besarnya. dia buka dan siap menulis. di situ mikir-mikir dulu. tapi hal itu tak berlangsung lama. sudah dari dulu dia suka menulis. sejak SD dia suka membaca dan menulis walau tidak dikirim ke mana-mana. semua dia simpan di buku-buku di kamarnya sampai dua kardus. cewek itu terus menulis.
“sebentar! pegal nih!” cewek itu menggerak-gerakkan pergeralangan tangannya. sesekali dia menoleh sekeliling.
orang-orang lagi menulis. ada yang berbisik, berbicara sendiri. ada yang pinjam polpen, bahkan ada yang pinjam kertas. gak bawa kertas ya? lalu gimana jadi penulis?
Sulistya meneruskan menulisnya. beberapa menit kemudian waktu habis. semua kertas dikumpulkan. pembawa acara mengacak urutan kertas-kertas itu lalu memanggil nama-nama itu. yang dipanggil harus maju ke depan membacakan apa yang dia tulis. Sulitya mendengar apa yang mereka katakan.
dari mendengar itu Sulistya tahu ternyata niat orang-orang dalam menulis itu bermacam-macam. ada yang ingin terkenal, masuk majalah, diwawancarai di TV-TV, masuk berita. ada yang ingin namanya ditulis di buku-buku di toko buku. ada yang ingin kaya bisa keluar negeri. ada yang jujur sekali: ingin dapet duit. dia malu-malu mengatakannya, tapi Pak Andy tak menyalahkannya. ada yang ingin dapat royalti. ada yang tugas kerja. kayak ini buat orang dewasa jadi PNS itu. mereka menulis sebab tugas kerja. gak papa sih. di sini bukan fiksi doang. artikel dan makalah juga dibahas. ada yang ingin berbagi ilmu dan informasi. pasti ini anak non fiksi, calon ilmuwan. ada yang ingin membuat karya yang bermanfaat. ini anak sosial. ada yang ingin berdakwah lewat lewat pena. wow! ada anak ustadz di sini. dilihat yang bilang gitu anak jilbaber. pantes aja. Sulistya jadi berdebar-debar menunggu gilirannya. dia pingin cepat-cepat maju dan menyampaikan isi hatinya, niatnya datang ke sini.
kesempatan itu akhirnya tiba. pembawa acara memanggil,” Sulistya!”
cewek itu maju memanggul tasnya. dia ke depan menerima kertasnya. dia berdiri ke tengah.
“ehm..”
pembawa acara menyodorkan mic.
“Eh? pakai mic?” Sulistya agak gugup sebab suaranya bakalan besar. ya udah dia coba aja.
“perkenalkan. nama saya Sulistya. saya berasal dari SMP Aryapati.” mulai Sulistya.
“motivasi saya dalam menulis adalah karena saya suka menulis. saya suka menulis karena dengan menulis saya bisa mengeluarkan pikiran dan perasaan saya. dengan menulis saya bisa mengungkapkan khayalan, harapan, cerita dan dunia yang saya inginkan. dengan menulis juga saya belajar menyampaikan pendapat saya tentang suatu hal. dengan menulis saya bisa mengeluarkan perasaan sehingga tidak jadi beban pikiran. misalnya kalau waktu marah daripada mengamuk-ngamuk lebih baik ditulis saja di selembar kertas. nanti perasaan akan tenang sendiri. menulis juga bisa jadi obat ketika bosan, misalnya kalo lagi sendirian menunggu sesuatu. menulis bisa mengikat ilmu yang kita miliki biar tidak lupa. kita bisa meraciknya dengan cara kita dehingga jadi tulisan yang kreatif. dengan menulis kita berbagi pengetahuan, informasi, berita, cerita dan inspirasi bagi orang lain. siapa tahu tulisan kita jadi motivasi bagi diri kita dan orang lain? jadi menulis benar-benar hal yang bermanfaat. menulis meninggalkan jejak kita, yang memedakan kita dari masa prasejarah ke masa sejarah.” kata Sulitya mengutip kata-kata Afifah Afra.
“jadi demikian motivasi saya. terima kasih atas perhatiannya.” Sulistya menutup penjelasannya. dia mengembalikan mic-nya kembali ke tempat duduknya. di sana seorang cewek sudah menunggunya dengan senyum. cewek itu duduk di sebelah bangkunya. mereka berkenalan lalu ngobrol.
acara berjalan selama dua jam lebih. setelah itu ditutup. sebelum ditutup pembawa acara memberi tugas agar para peserta membawa karya tulisan mereka pada pertemuan mendatang di hari, waktu dan tempat yang sama. karya boleh artikel, puisi, cerpen dan lain-lain. nanti akan dikomentari dan didiskusikan bersama.
Sulistya pulang bersama peserta yang lain. ini masih permulaan.