belajar dulu baru ngeblog

Makan malam  sudah selesai. Piring-piring sudah dibereskan dan dicuci. Sekarang waktunya belajar ngeblog. Ayah sudah janji akan mengajari Wika cara menggunakan blog pemberiannya tersebut. Wika membawa netbooknya ke ruang tengah.
Bu Indah melihat Wika membawa netbook bertanya,” mau apa itu?”
“ mau belajar ngeblog. Ayah mau ngajarin.” Jawab Wika.
“ apa kamu lupa? Sekarang waktunya belajar. Besok kamu harus sekolah.”
“Tapi ini sebentar aja.” Pinta Wika.
“nggak bisa. Kamu harus belajar disiplin. Harus bisa menghargai dan mengatur waktu.” Tolak Bu Indah.
“Ayah.” Wika minta bantuan.
“belajar dulu, Ka.”
“yaah….!”
Dengan berat hati plus kecewa cewek itu membawa kembali netbooknya ke kamar. Dia mengambili buku pelajaran untuk besok. Dia baca-bac sampai mengerjakan soal. Biasnaya dia belajar selama 1 – 2 jam. Pukul sembilan dia selesai. Dia keluar menemui ibunya.
“Bu, gimana? Boleh kan?” tanya Wika.
“sekarang kamu harus tidur. Nggak boleh tidur kemalaman besok kurang tidur bangun kesiangan terus terlambat sekolah atau ngantuk di sekolah gimana?”
“nggak bakalan kok! Aku setel jam beker deh. Aku set alarm di Hpku.”
“nggak bisa.”
“iiih … nyebelin amat sih! Tadi nyuruh belajar! Sekarang udah belajar nyuruh tidur! Kapan sempatnya?” omel Wika sambil melangkah pergi.
Dia membereskan buku-bukunya dam ia masukkan ke dalam tas. Tak lupa ia sholat isya baru tidur di kamar bercat biru muda.ia berbaring menatap langit-langit membayangkan rupa winterwing, blog barunya. Gimana cara makenya ya?  Jadi pingin tahu. Pingin cepet-cepet besok, tapi jangan-jangan nanti dilarang Ibu. Terus dtunda-tunda. Gak boleh lagi. Gak boleh lagi sampai gak pernah. Bisa gawat itu. Bisa lupa nanti. Makin dipikirin makin ruwet. Cewek itu bolak-balik menhdapa ke atas, kanan, kiri, tengkurap, telentang sampai mendekati tengah malam. Setelah lupa semua baru ia bisa nyenyak.
“yah, nanti sore ajarin ngbelognya ya? Kita lanjutin yang kemarin.” Pinta Wika pada waktu sarapan.
“ya, akan Ayah usahakan.” Sahut pak Irwan.
“Wika, kamu nggak boleh mikirin hiburan terus. Kau harus ingat sekolahmu.” Tegur Bu Indah.
“iya,iya,Bu.” Ujar Wika mulai kesal. Cewek itu melanjutkan makannya.
“hari ini aku harus dapetin caranya nulis di blog. Udah banyak cerita yang mau aku tulis. Termasuk Ibu yang nyebelin. Yang ngelarang-larang.” Tekad Wika.
Sepulang sekolah cewek kelas 2 SMP itu nungguin ayahnya sambil baca novel “perahu kertas” tulisan Dee. Lumayan buat membunuh waktu daripada mati jantungan karena gak sabar nungguin. Ayah biasanya pulang jam dua. Selisih satu jam dari jam pulang Wika. Satu jam bisa dilewati dengan cepat kalau konsentrasi, kecuali kalau sebentar-sebentar melirik jam.
“sepuluh menit lagi.” Ujarnya.
“lima menit lagi.” Tunggunya kemudian.
“sekarang! Mana? Kok belum muncul-muncul juga.” Wika mengintip pintu depan. Ayahnya belum kelihatan. Wika meneruskan membaca lagi.
“lima menit. Ayah udah telat, tapi masih kuampuni.”
“sepuluh menit. Lima menit lagi gak nongol juga pasti ada apa-apa.”
Sampai tiga puluh menit. Kesabaran Wika udah bener-bener habis. Dia sms ayahnya.
“ayah kemana? Kok belum pulang? Ayah lupa ya sama janji ayah? Katanya mau ngajarin aku?” smsnya. Kirim.
HP cross warna hitam merahnya menyanyikan reff lagu Shonichi JKT48. Wika membukanya.
“maaf, Wik. Ayah lagi lembur. Gak bisa pulang sekarang. Nanti malam baru pulang. Ayah usahakan waktu makan malam ayah sudah sampai rumah.”
“tapi kalau jam segitu ibu pasti melarang lagi.”
“kalo gitu besok aja.”
“gak bisa gitu dong! Ayah sudah janji.” Sms Wika. Setelah itu tak ada balasan.
“semua ini gara-gara ibu! Coba ibu nggak ngelarang kemarin pasti sekarang gak kayak gini!” ujarnya marah. Cewek itu keluar mencari Ibunya. Bu Indah lagi menyetrika baju di ruang tengah.
“Bu…!”panggil Wika keras-keras.
“kenapa, Wik? Kok teriak-teriak gitu!”
“lihat,nih! Gara-gara ibu ngelarang belajar kemarin sekarang aku jad gak bisa belajar ngeblog.”
“maksud kamu apa?”
“ibu kemarin ngelarang Wika belajar ngeblog kan? Jadi aku sama ayah mau belajar hari ini tapi tib-tiba ayah lembur. Coba aja ibu nggak ngelarang pasti aku sudah bisa dan tetep bisa ngeblog biarpun ayah lembur!”
“maksud kamu, kamu marahin Ibu gitu? Kamu nyalahin ibu? Ibu kan nyuruh kamu belajar demi kebaikan kamu, Wika!”
“tapi Ibu udah bikin rencanaku berantakan!” seru Wika.
Cewek itu berbalik kembali ke kamar.
“Wika, dengerin Ibu dulu, Wika! Wika! Kembali!” panggil Bu Indah.
Wika tak peduli. Ia mengunci pintu membanting dirinya ke ranjang tdiru melupakan segalanya.
Maghrib pintu kamar Wika diketuk,”tok! Tok! Tok!”
“Wika, bangun! Waktunya makan malam. Jangan lupa sholat maghrib juga!” panggil Bu Indah.
Mata Wika terbuka dalam kegelapan kamar. Begitu ia sadar semua ingatannya kembali termasuk perasaan itu, kekesalannya pada Ibunya. Semua itu membuatnya malas bangun. Buat apa? Lebih baik diam di kamar aja.
Bu Indah, Jefri, Afif dan Metrika sudah berkumpul di meja makan. Pak Irwan pun sudah kembali dari kantor dan barusan dari mushola terdekat. Semua makanan sudah ada tinggal menunggu putri pertamanya. Mereka memandangi kamar berpintu coklat itu. Tetap tak bergerak.
“wika! Ayo makan!” panggil Pak Irwan.
“mbak! Ayo makan!”panggil Afif dan Metrika juga.
“coba kamu ke sana, Fif!” suruh Pak Irwan.
“ya.” Sahut anak ketiga kelas 4 SD itu.
“mbak, ayo makan! Dipanggil ayah tuh!” panggil Afif keras-keras di depan kamar Wika, tapi pintu tetap tertutup.
Afif mengulangi sampai empat kali. Baru setelah itu dia yakin kakaknya nggak mempan. Ia kembali ke ruang makan.
“Wika kenapa sih?” tanya Pak Irwan.
“mungkin dia masih marah soal tadi?” tebak Jefri.
“soal apa?” tanya Pak Irwan.
“itu.”Jefri melirik Bu Indah.
“dia masih marah soal yang tadi?”mata Bu Indah membelalak.
“apa sih, Dik?” tanya pak Irwan gak mengerti.
Bu Indah pun menceritakan kejadian tadi sore di mana Wika marah-marah pada beliau.
“benar-benar anak itu! Ya sudah Dik, biar aku saja yang bicara sama anak itu. Barangkali dia nanti mau mendengarkan.”
“ya sudah, mas.”
Pak Irwan mendatangi kamar Wika. Beliau mengetuk pintu dan memanggil Wika.
“Wika, ini ayah. Ada masalah apa? Ayo kita bicarakan baik-baik. Kita cari solusinya bersama.”
Mendengar suara ayahnya, Wika baru mau membuka pintu,”ayah,kita ngobrol di dalam aja ya?”
Pak Irwan mengangguk.
Setelah di dalam baru Wika mau bicara.
“ aku lagi sebel sama Ibu. Kemarin nyuruh belajar baru boleh ngeblog. Setelah belajar ternyata tetep nggak boleh. Jadinya rencana kita tertunda hari ini. Hari ini juga tertunda gara-gara ayah lembur. Nanti pasti nggak boleh gara-gara disuruh belajar. Terus setelah belajar disuruh tidur. Kalau kayak gini terus kapan kita bisa belajar ngeblog? Kapan ayah bakalan ngajarin aku?” curhat Wika.
“Wika, kamu harus ngerti. Ibumu nelakuin itu demi kebaikan kamu. Demi sekolah kamu. Demi masa depan kamu. Ibu nggk kamu jadi dapat nilai jelek apalagi kalau kamu tiba-tiba ujian dan nggak sempat ujian. Kamu pasti remidi kan? Itu yang ibu kamu nggak mau terjadi. Makanya Ibu nyuruh kamu belajar dan tidur tepat waktu. Itu biar kamu cukup istirahat. Kalau kamu cukup belajar dan istirahat sekolahmu bakalan semangat dan berprestasi juga.” Terang Pak Irwan.
Wika menunduk melirik ke arah lain.
“makanya itu kamu harus nurut kata ibu. Kamu harus ngerti kenapa ibu kamu nyuruh kamu begitu.”
“tapi gara-gara ibu rencana kita berantakan. Kalau aku nurut kata ibu, terus rencana kita gimana?” tanya Wika.
“kan bisa sore?”
“tapi kan ayah lembur?”
“kan nggak setiap hari?”
“gimana kalo nanti ayah ada tugas lagi? Atau aku yang ada tugas kelompok atau haus ikut ekskul? Atau nanti ada janji sama teman gimana?” tanya Wika bertubi-tubi.
“ayah, aku ingin cepat-cepat tahu cara menggunakan blog seperti kata ayah mumpung masih ada semangat. Sebab semakin lama nanti semangatku makin turun kalau gak dipenuhi gini.  Aku nggak seneng nunda-nunda. Apa yang aku harus lakukan sekarang ya aku harus lakukan sekarang. Aku nggak mau dihalangi siapapun. Lagian ini juga demi ayah juga. Sayang kalau hadiah pemberian ayah sia-sia nggak dimanfaatkan begitu aja.”
“ya sudah nanti ayah akan bicarakan sama ibu. Sekarang makan malam dulu ya?” pesan ayah.”oh, iya. Jangan lupa! Sholat maghrib dulu.”
Wika melukis senyum di bibirnya seraya mengacungkan jempol. Pak Irwan keluar dari kamar Wika. Wika menjalankan kewajiban agamanya baru bergabung dengan yang lain. Mereka pas sudah selesai makan.
“ngapain aja sih kamu?” gerutu Jefri.
“biarin! Urusin aja urusanmu sendiri!”
Jefri dan adik-adiknya ke dapur mencuci piring. Tinggal Wika, Bu Indah dan pak Irwan sendiri.
“gimana? Ada apa tadi?” tanya Bu Indah.
Wika menyiikut ayahnya. Ayahnya balik menyikutnya jadi sikut-sikutnya.
“ayo bicara aja!”
Wika mendesah mengatur kata-katanya,” Bu, aku minta waktu sedikit aja ya buat belajar ngeblog?”
“kapan?”
“setelah belajar gimana?” usul Wika.
“ itu kan waktunya kamu tidur? Kamu harus istirahat biar besok nggak capek, Wika!” jawab Bu Indah.
“sekali aja. Besok nggak lagi deh. Besok aku akan belajar ngeblognya sore. Pas jam mainku. Jadi belajar dan tidurnya nggak terganggu.”
“ kenapa kamu sampai segitu ngototnya belajar ngeblog, Wika? Ada apa dengan blog itu?”
“karena dengan ngeblog aku bisa nulis diary, apapun yang aku mau. Aku juga bisa belajar nulis. Terus belajar komputer juga. Cita-citaku kan jadi penulis? Kata ayah ini bisa jadi sarana belajar nulis.”
“bener?”
“bener!”tegas Wika.”apalagi ini kan hadiah pemberian dari ayah. Sayang sekali kalau dibiarkan begitu aja nggak digunakan. Itu namanya menyia-nyiakan. Kasihan ayah yang sudah susah-susah bikin.” Pinta Wika.
“terus nanti sekolahmu gimana?”
“aku akan tetep belajar. Aku akan istirahat cukup. Aku nggak bakalan melanggar aturan dari Ibu. Aku janji aku bakalan jaga prestasi dan nilai sekolahku. Aku nggak bakalan dapat nilai jelek.” Janji Wika.
“bu, justru kalau nggak dibolehin nilaiku bisa turun.”
“kenapa?”
“sebab pikiranku jadi ke sana terus. Aku mikirin blog itu terus sampai gak bisa mikirin sekolah. Gitu lo Bu. Kan ibu tau sendiri aku orangnya kalau suka sesuatu akan berusaha dapetin dan mikirin itu sampai dapet.”
Pak Irwan mulai bicara,”kasihan Wika, Dik. Dari kemarin dia nungguin terus sampai hari ini sampai hampir boikot makan malam gitu. Kalau diterusin kayak gimana jadinya? Kita kan sama-sama ta Wika itu gimana?”
“ya sudah. Ibu ijinkan, tapi malam ini aja. Sebab disiplin harus dipertahankan. Itu kunci sukses.”
“baik,Bu. Makasih.” Wika memeluk ibunya.
“yah, kita nanti bisa belajar ngeblog! Ayah ajarin ya?” ujar Wika.
“oke.”
Maka Wika pun menjadi semangat belajar. Ia cepat-cepat membaca dan mengerjakan PR. Bukannya nggak konsentrasi belajar tapi justru hadiah setelah belajar itu yang membuat dia semangat. Maka dalam waktu 1 jam kurang 10 menit ia cepat selesai.
“Ayo yah!”
Mereka pun duduk berdampingan di meja ruang makan. Nggak ada apa-apa di situ. Di situ juga tenang sebab ruang tengah dipakai nonton TV. Bu Indah, Jefri, Afif dan Metrika ngumpul di ruang tengah sedangkan Wika dan ayahnya di ruang makan belajar.
“oke begini ya? Kalo mau nulis di blog, caranya pertama kunjungi alamat blogmu.”
Laptop Wika sudah menyala membuka google chrome. Wika mengetik winterwing2008.wordpress.com di address bar. Enter. Halaman itu berbackground putih dengan header hijau.
“ ini di kanan sini ada menu meta. Di bawahnya ada tulisan ‘login’. Klik!” kata pak Irwan.
Mereka berpindah ke halaman login winterwing. Ada dua kotak isian di sana. Mereka diminta mengisi username dan password.
“username sama passwordnya apa?” tanya Wika.
“nama lengkapmu sama tipe Hpmu.”
“masak?”
“coba aja.”
Wika mengetik namanya di sana lalu tipe Hpnya, cross sekian sekian. Enter. Mereka tiba di halaman dashboard.
“ nah, terus begini.”
Pak Irwan mengarahkan mouse ke kiri. Di sana ada menu “tulisan”. Ketika menu itu disorot dengan mouse, muncul menu lagi. Pak irwan mengklik  yang menu “tambah baru”. Google chrome memuat halaman yang diklik.
“nah, ini halaman posting. Kamu bisa macam-macam di sini.”
Pak Irwan selanjutnya mengajari cara menulis judul, konten, membuat kategori, tag, memilih keduanya. Beliau pun membuat contohnya hanya dengan kata-kata singkat: “selamat datang di blogku. Ini posting pertama dari winterwing. Salam kenal.” Beliau mengatur kategori “blog” lalu menekan tombol enter. WordPress mengolah masukan itu dan menampilkan ulang halaman dalam bentuk jadi.
“sekarang kita lihat.” Pak Irwan mengklik tulisan judul blog: winterwing. Mereka tiba di homepage. Di sana terlihat judul dan isi tulisan singkat tersebut di atas posting surat ulang tahun yang kemarin.
“bener! Nambah!”
“kalo kamu mau edit atau hapus caranya gini.”
Pak Irwan mengklik judul posting salam kenal itu. Mreka tiba di halaman permalink, halaman yang berisi khusus satu posting tertentu.  Pak Irwan mengarahkan mouse ke bawah sampai di bawah konten posting.
“ ini di bawah posting ada tulisan kecil ‘edit’. Klik.”
Mereka kembali ke halaman tempat menulis posting tadi.
“nah, kalo kamu mau ganti atau edit, kampus bisa hapus atau menambahi di sini. Sebagian atau semua juga boleh. Kamu bisa ganti kategori atau tagnya juga bisa. Kalau sudah nanti klik ini. ‘perbarui’.” Terang Pak Irwan.
“kalau hapus gimana?”
“ ini. Kamu klik ini di samping ‘terbitkan’ ada ‘kirim ke tong sampah’. Klik aja. Kapanpun kamu merasa tulisanmu kurang pas kamu bisa edit atau hapus.”
“ooh.. gitu. Aku coba deh.”
“ya sudah ayah tinggal dulu ya. Nanti kalau sudah selesai tutup! Jangan lupa tidur! Jangan sampai besok kesiangan!”
“oke, yah. Makasih.” Kata Wika sambil tersenyum.
Ayah pergi meninggalkan Wika sedangkan Wika terus menulis mencoba-coba lagi berulang-ulang sampai akhirnya dia benar-benar bisa. Gampang kok. Praktis. Sebentar juga dia bisa. Setelah yakin bisa dia tutup halaman blog dan browsernya termasuk mematikan netbooknya. Ia pun kembali ke kamar untuk  tidur. Mimpi indah, Wika.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *