batasan dalam berpikir tentang Tuhan

dalam pembahasan yang lalu kita telah mengetahui pentingnya berpikir dalam beriman kepada Alloh. Berpikir dapat membuat manusia menemukan keberadaan Tuhan, yaitu Alloh. Dengan berpikir manusia menemukan kaidah dan aqidah yang benar yaitu Tuhan berbeda dengan makhluk. Jadi manusia bisa menemukan ajaran agama yang benar yaitu agama yang masuk akal, yaitu yang memenuhi kaidah di atas. Klau ajaran agama tidak masuk akal berarti dia salah. Dengan itu manusia bisa menilai dan membedakan mana agama yang benar dan mana yang salah.

Berpikir itu benar tapi tidak semua berpikir yang bebas itu benar. Perlu ada batasan agar proses berpikir yang dilakukan manusia tidak kebablasan sehingga ia tererumus pada atheisme dan materialisme, fanatik logika dan rasionalisme mutlak sebab rasionalisme mutlak itu salah sebab dia bisa mengingkari hal-hal yang gaib.

Harus kita sadari di dunia ini ada hal-hal gaib yang di luar jangkauan panca indra manusia jadi akal manusia tidak bisa berpikir ke sana. Proses berpikir ke sana tidak bisa dilakukan. Inilah batasan akal dan berpikir manusia. Hal-hal gaib ini seperti keberadaan Alloh (Tuhan), malaikat, jin, setan, akhirat, surga dan neraka. Keberadaan Alloh dan jin bisa diketahui dari akal tapi yang lain hanya bisa diketahui dari kabar dari alam gaib, yaitu Al-quran yang diturunkan dari Alloh.

Dalam hal-hal gaib di atas manusia tidak mengetahui wujudnya. Hal ini jelas. Akal manusia hanya mengira-ngira dari apa yang pernah dilihatnya misalnya Aloh itu seperti raja dan sayap malaikat itu seperti sayap burung. Perkiraan-perkiraan ini semuanya salah dan tidak sesuai kenyataan. Perkiraan-perkiraan ini hanya spekulasi, dugaan dan prasangka yang tak bisa dibuktikan, diuji dan dan dibantah. Jadi percuma ada atau tidk adanya. Daripada mengada-adakan dugaan kosong lebih dihilangkan saja perkiraan-perkiraan itu.

Dalam perkara-perkara gaib semacam ini akal manusia harus menyerah. Dia tidak bisa melangkah lebih jauh dengan mambayangkan rupa, sifat dan hakikat Alloh dan hal-hal gaib itu seperti ini dan itu. Dia tidak bisa mengklaim lalu membuat lukisan dan patung Alloh, malaikat, jin, setan, bahkan wajah Tuhan, nabi-nabi dan para dewa. Penyerahan ini tidak berarti belenggu terhadap kebebasan berpikir dan penindasan terhadap akal manusia. Justru penyerahan dan batasan ini adalah kaidah berpikir agar jalan proses berpikir manusia tetap benar dan masuk akal sehingga hasil yang keluar dari pemikirannya benar dan masuk akal. Faktanya jelas. Manusia tidak memiliki data dan informasi tentang hal-hal gaib itu. Manusia tidak pernah bertemu Tuhan, malaikat, jin dan setan. Manusia juga tak pernah pergi akhirat, surga dan neraka lalu hidup kembali ke dunia untuk menceritakan kenyataan setelah mati.

Manusia tidak pernah melihat hal-hal gaib itu. Manusia tidak pernah tahu wujud hal gaib tidak berarti hal-hal gaib itu diingkari karena tidak dapat dijangkau panca indra seperti perkataan orang-orang, bagaimana kami beriman kepada Alloh sedangkan kami tidak tahu wujud-Nya seperti apa?

  • kalau Tuhan itu ada, seperti apa wujudnya?

Tidak bisa seperti itu. Hal yang diperlukan dalam iman adalah meyakini bahwa Alloh itu ada dengan sifat-sifat yang sempurna. Itulah kaidah yang benar. Hal-hal gaib yang lain terbukti ada karena Al-quran mengatakan ada. Al-quran benar karena ia berasal dari Alloh. Pembuktiannya akan datang dalam pembahasan selanjutnya nanti.

Di dunia ini sungguh-sungguh ada hal-hal gaib dan dirasakan manusia walau tak bisa dijangkau panca indra. Contohnya nyawa, hati, akal dan kecerdasan manusia sendiri, termasuk ilmu pengetahuan dan wujud ide-ide moral dan filsafat. Semua itu tidak diketahui wujudnya tapi bisa dirasakan adanya dari pengaruhnya yaitu aktivitas manusia, pola perilaku manusia, pola budaya dan teknologi. Semua itu nyata dan semua orang percaya, lalu kenapa mereka tidak percaya adanya Alloh?

Bukti keberadaan Alloh lebih kuat daripada segala bukti yang lain. Bukti keberadaan Alloh adalah keberadaan alam semesta, kehidupan dan manusia. Bukan Alloh itu segala semua itu tapi Alloh menciptakan semua itu. Kalau tak ada Alloh tak ada alam semesta. Alam semesta dan kita semua ada berarti Alloh ada. Alloh menciptakan kita semua lalu memelihara seluruh alam dan memberi rizki kepada seluruh makhluk-Nya.

Perlu diketahui bahwa alam semesta ini tidak bisa berdiri sendiri. Dia membutuhkan pencipta untuk membuat dirinya ada. Alam semesta juga membutuhkan sang pengatur untuk membuat dan mengatur alam semesta dengan hukum alam. Pencipta dan pengatur ini adalah satu. Kalau dua nanti ada dua Tuhan dan mereka akan saling bertarung. Hancurlah seluruh Alam. Alam semesta tidak sempurna. Mereka tidak abadi. Hukum termodinamika mengatakan segala energi cenderung berubah menjadi kalor. Segala sistem cenderung menjadi kacau. Segala benda cenderung menjadi rusak seperti besi berkarat, oli rusak, dsb. Semuanya akan berakhir. Kalau semuanya berakhir semuanya pasti memiliki awal. Benda-benda di alam juga tidak sempurna. Manusia memiliki kelemahan dan kekurangan masing-masing. Segala makhluk hidup begitu. Materi pun begitu. Mereka memiliki batasan. Untuk hidup mereka membutuhkan sesuatu yang lain untuk memenuhi hidup mereka. Sesuatu yang lain ini adalah Tuhan, pencipta, pengatur dan pemelihara seluruh makhluk-Nya. Itulah bukti adanya Alloh.

Iman kepada adanya Alloh itulah yang dibutuhkan dalam iman, bukan mengetahui dzat-Nya Alloh. Akal manusia tak bisa menjangkaunya dan kenyataan batasan itu harus dinyatakan agar jelas dalam kaidah berpikir. Tujuannya jelas agar iman manusia kepada Alloh semakin kuat dan hasil pemikirannya menjadi benar. Tidak dibutuhkan mengetahui wujud Alloh sebab Dzat-Nya di atas langit ke tujuh sana yang mustahil dijangkau manusia. Sama seperti manusia meyakini adanya nyawa, akal dan hati manusia tanpa mengetahui bagaimana wujudnya sebab yang dibutuhkan hanya penggunaan hal-hal itu. Kenyataannya untuk menggunakan hal itu manusia tidak perlu tahu wujudnya tapi sifat dan cara penggunaannya. Manusia tidak tahu seperti apa itu nyawa tapi dia bisa hidup. Manusia tak tahu bagaimana hati itu tapi dia tetap bisa merasakan kasih sayang. Manusia tidak tahu seperti apa akal itu tapi dia bisa berpikir. Sama halnya manusia tidak pernah melihat listrik tapi tetap bisa menggunakannya untuk menyalakan lampu di rumahnya.

Orang-orang atheis telah benar dalam berpikir yaitu agama-agama itu kalau tidak benar, tidak memuaskan akal dan menenangkan hati maka ajaran agama itu salah. Mereka benar membangun pemikiran dari akal dan fakta. Tapi mereka salah ketika menjadikan fakta sebagai asas. Mereka menyatakan hanya materi yang ada. Mereka lalu menolak keberadaan hal gaib. Mereka lalu menolak agama dan menganggapnya hanya angan-angan dan omong ksong. Mereka bahkan mengingkari keberadaan hati dan nyawa padahal mereka sendiri merasakannya.

Para filosof dan pemikir barat yang atheis itu juga salah ketika menyamakan semua agama itu omong kosong tak masuk akal. Kebanyakan filosof atheis itu berlatar belakang kristen. Mereka menemukan keganjilan dalam ajaran agama kristen. Mereka tidak menemukan kepuasan dan jawaban yang masuk akal dan menenangkan hati dari para pemuka agama itu. Mereka lalu keluar lalu menjadi atheis. Mereka tidak ikut agama manapun. Seharusnya yang mereka lakukan adalah meneliti agama yang lain, termasuk Islam, tapi mereka tidak mempelajari Islam. Mereka pun terkungkung oleh pola pikir barat yang menganggap mereka paling mulia dan yang paling benar sehingga merendahkan masyarakat dan agama lain. Media-media dan masyarakat barat menjelek-jelekkan Islam. Para pemikir itu terpengaruh. Kalau krsiten yang puncak dari pandangan barat yang paling mulia saja salah apalagi yang lain, begitu pikir mereka.

Kalau sekiranya orang-orang atheis itu mau mempelajari Islam mereka akan tahu Islam itu mengajarkan tauhid. Islam mengajarkan Tuhan yang hakiki itu adalah Alloh. Alloh itu satu. Alloh tidak beranak dan tidak dilahirkan. Alloh berbeda dengan segala makhluk. Alloh memiliki sifat-sifat yang mulia yang disebut asmaul husna. Semua sifat asmaul husna itu menunjukkan sifat Alloh yang maha kuasa, maha besar, maha sempurna, tidak terbatas dan lain-lain. Semua sifat asmaul husna itu sesuai dengan fitrah, akal dan hati manusia yang membutuhkan pujaan yang sempurna, sesuatu tempat berdoa, minta tolong dan meminta perlindungan. Semua itu terdapat dalam Al-quran. Al-quran selalu sama di seluruh dunia. Al-quran juga selalu sama sepanjang zaman. Kaidah tentang berpikir tentang Alloh juga terdapat dalam hadist nabi Muhammad SAW. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya,Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah.(Hasan, Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah [1788]).

Ketika Imam Malik (wafat th. 179 H) rahimahullah ditanya tentang istiwa Allah, maka beliau menjawab:

.

Istiwa-nya Allah sudah diketahui maknanya, dan caranya tidak dapat dicapai nalar, dan beriman kepadanya wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bidah, dan aku tidak melihatmu kecuali da-lam kesesatan.

Kalau orang-orang pemikir atheis itu mempelajari Al-quran dan hadist mereka akan menemukan Islam mengajarkan kebaikan, kebersihan, kepedulian, persaudaraan, kasih sayang, perdamaian, perlindungan terhadap manusia dan lain-lain.

Batasan berpikir itu tidak untuk membelenggu kebebasan berpikir manusia. Batasan berpikir itu tidak untuk mendoktrin manusia agar tunduk pada agama tanpa berpikir lalu hanya ikut-ikutan. Batasan itu seharusnya tidak membuat manusia ragu dalam beriman kepada Alloh. Justru seharusnya batasan itu meneguhkan iman manusia. Batasan itu untuk memandu dalam berpikir manusia agar sampai hasil yang benar, yaitu iman kepada Alloh dan yakin pada kebenaran Islam. Manusia tidak bisa menjadi pemikir bebas mutlak tanpa kaidah berpikir. Kalau pikiran manusia dibebaskan berpikir mereka bisa membuat takhayul, mitos, khurafat, aliran sesat, pemuja setan dan lain-lain. Kalau manusia berpikir bebas tanpa kaidah dia bisa membuat sekte baru, berpikir liberal, kapitalisme, hedonisme dan lain-lain. Kalau manusia berpikir bebas mutlak dia malah akan menemukan kekacauan dalam berpikir. Kenyataannya para filosof yang pemikir itu membuat kaidah berpikir, yaitu filsafat, logika, matematika dan lain-lain. Jadi kenyataannya manusia membuat kaidah dan batasan berpikir.

Tinggal kenyataannya kaidah berpikir mana yang terbukti benar dan mana yang salah. Kaidah logika dan filsafat melahirkan atheisme, materialisme, sekulerisme, demokrasi, kapitalisme, sosialisme, komunisme, marxisme sehingga membuat perang, kekacauan dan kehancuran umat manusia dan alam sedangkan kaidah islam melahirkan peraturan hidup Islam hingga melahirkan kekhilafahan Islam yang bertahan selama 13 abad dalam perdamaian, kesejahteraan, kemajuan iptek, kesetaraan, perlindungan terhadap wanita, rendahnya kriminalitas dll.

Jadi demkian. Kaidah dan batasan akal itu demi kebenaran agar pemikiran manusia mencapai hasil yang benar. Cara berpikir yang benar didukung dengan hati yang meyakini adanya Tuhan dari fitrahnya akan sampai pada kesimpulan kebenaran Islam dan kekuatan Iman. Iman akan teguh dengan kaidah dan batasan itu. Batasan dan kaidah itu menunjukkan kelemahan akal manusia sehingga manusia itu mau tunduk dan berah diri kepada Alloh sehingga selanjutnya manusia mau memeluk masuk Islam dengan sukarela dan iman yang kuat.