APAKAH HIDUP ITU SEPERTI AIR MENGALIR?

//www.youtube.com/get_player

Jangan Biarkan Hidup Seperti Air Mengalir

ARTIKEL FILSAFAT OLEH SYARIF YUNUS/http://filsafat.kompasiana.com

OPINI | 14 September 2013 | 20:00 Dibaca: 1848   Komentar: 5   4

Banyak orang berprinsip “Biarkan HIDUP seperti air yang mengalir”. Itu, ungkapan tidak tepat. Ungkapan yang “tidak punya energi”. Terlalu pasrah dan menafikkan ikhtiar. Mengapa tidak tepat? Hidup adalah anugerah Allah SWT dan setiap kita memiliki potensi untuk “mengarahkan” hidup ke arah yang lebih baik, maslahat dunia lalu akhirat.
 Air Mengalir
Membiarkan hidup bak “air mengalir” terlalu pasrah. Air mengalir ke tempat yang rendah. Pasrah, tak mau berbuat apa-apa. Air yang mengalir juga terlalu senang “dihalangi” bebatuan berkali-kali, tak mampu mengambil hikmah. Agak sulit untuk maju bila hidup bak air mengalir. Just follower, bukan creator. Kurang ambisi. Hanya sekedar hidup, tanpa rencana dan arah ke depan yang jelas.
“Hidup seperti air yang mengalir” sering dijadikan dalih untuk menyerah terhadap keadaan. Kesulitan dianggap tak ada obatnya. Terlena pada kesusahan sesaat. Terlena pada masalah. Bahkan merasa tidak mungkin mengerjakan dua tiga pekerjaan dalam satu waktu. Keadaan dianggap menjadi biang kerok. Kita sering bilang “gak punya waktu buat nulis; gak punya laptop susah; ada acara lain, jadi gak bisa datang; saya ikut aja apa yang diputuskan, dan semacamnya”. Kita punya banyak aktivitas, tapi di saat yang sama sering menyalahkan keadaan itu. “Hidup seperti air mengalir” intinya mengajarkan kita untuk melakukan pembenaran terhadap keadaan kita sendiri. Dan akhirnya, “kalah sebelum bertanding”. Tak punya obsesi, tak punya visi ke depan.
Jadi, jangan lagi kita “hidup seperti air mengalir”. Hiduplah dengan visi dan obsesi karena ia menjadi “bunga” hidup kita. Hidap butuh sikap, butuh tekad. Selagi di jalan yang sudah benar, hadapi setiap masalah. Lalu, gunakan kreativitas kita untuk memacu dan menyesuaikan sikap dan tindakan kita. Sesuatu yang baik dan positif dalam hidup kita adalah kita yang menciptakannya, bukan mengikuti apa yang ada. Jika perlu, kita ubah saja “air yang mengalir ke arah yang lebih tinggi atau kita lawan arus air itu”. Bukankah jalan hidup kita dapat kita kendalikan sendiri, itulah ikhtiar. Ingat, kita tidak bisa mengubah takdir dari-Nya, tapi kita bisa mengubah nasib kita. Untuk mengalirkan air ke tempat yang lebih tinggi atau melawan arus air, kita butuh energi dan motivasi yang lebih kuat dari sekarang.
Jangan meratapi keadaan. Jangan berkeluh-kesah. Jangan pula mudah terpengaruh. Hari ini dan esok kita butuh sikap dan tujuan yang jelas. Bagaimana kita bersikap atas suatu hal dan mau ke mana kita? Kita punya potensi yang luar biasa dari Allah SWT, tinggal kita mampu atau tidak mengoptimalkannya.
Energi dan motivasi yang besar pasti mampu mencetak kita menjadi pribadi yang kuat. Dan pribadi yang kuat adalah modal kita menjadi lebih baik di hari ini, juga esook. Bahkan lebih dari itu, energi dan motivasi besar kita juga dapat menggerakkan kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Di situlah terjadi keberkahan dan kemuliaan.
Maka sekarang, katakanlah “kita tak ingin membiarkan hidup seperti air yang mengalir”, tapi “kita akan mengubah arus air ke tempat yang seharusnya ia mengalir”. Kita yang mengkreasikan air itu menjadi indah dan bermakna. Kita juga yang harus memilih dan mengendalikannya …. Siap laksanakan !!

Originally posted 2015-01-14 09:12:00.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *