Virus itu Namanya Pacaran

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:595.3pt 841.9pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Virus itu Mendera Mereka 
Mengerjakan pekerjaan rumah bukan hal yang menyenangkan. Sekalipun aku seorang perempuan tetapi untuk urusan menyapu dan memasak aku menyerah. Aku benci dengan itu semua. Orangtua sering berkata bahwa sebagai perempuan aku harus mumpuni dalam urusan rumah. Kenapa harus perempuan? Kenapa bukan laki-laki saja? Oh iya, aku lupa. Karena laki-laki itu  pemimpin rumah tangga kan? Aku kadang merasa iri dengan sepupu-sepupuku. Hanya karena mereka laki-laki lantas tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah.
Liburanku mungkin tidak menyenangkan, tapi ada ‘sesuatu’yang aku dapatkan, dimana sesuatu itu aku renungkan. Oh bukan. Aku pikirkan tepatnya. Jauhnya jarak Sragen dan tempat kuliahku Malang tentu saja membuat aku jarang bertemu dan berkumpul dengan family dirumah, terutama para sepupuku, yang kebanyakan cowok. Nggak heran kalau setelah pulkam seperti ini aku banyak menghabiskan waktuku bersama adik dan kakak sepupu. Sejak kecil aku biasa bermain dan bercanda tawa dengan mereka. Tapi kali ini,,, rasanya ada yang berbeda. Dan aku merasakan itu teramat dalam..
Sepupuku yang rata-rata menginjak usia remaja selalu membahas cinta. Tentu saja ini membuat aku merasa kehilangan mereka. Cinta. Hidup akan terasa hampa tanpanya.Buat para remaja topik itu gak pernah ada habisnya. Entah cinta yang diartikan seperti apa. Tetap saja bicara tentang cinta mampu membangkitkan semangat hidup. Beneran!! Bahkan sepupuku yang alim dan rajin ngajipun juga senang kalau bahas cinta. Ya memang sama saja, namanya juga manusia, yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Pasti dia juga butuh cinta dan dicintai. Karena perasaan itu sudah wajar dan alami kan? Justru aneh juga kalau orang gak kenal cinta. Tapi yang buat aku keecewa, dia! Sepupuku! Mewujudkan rasa cinta dan kasmarannya lewat KEGIATAN PACARAN. Pacaran yang antara cowok dan cewek saling suka, terus mengikat janji bahkan sok sehidup semati itu kan??
“AKU KAN PACARAN SECARA ISLAM”
What?? Pacaran islami? Itu gosip atau fakta? Bener atau memang hanya sebagai upaya melegalkan kegiatan pacaran yang memang orang-orang Islam sendiri yang banyak melakukannya? Mengislamkan pacaran? Tentu saja itu tidak ada. Sekalipun ada  anak-anak masjid, rajin sholat, rajin ngaji berpacaran,  lantas kegiatan pacaran mereka disebut pacaran islami. Jika mereka berbuat maksiat tetap saja itu dosa. Islam sendiri tidak mengenal pacaran jadi mengapa harus ada istilah pacaran islami? Intinya ingin islam tapi ingin pacaran juga? Nggak lucu kalau orang Islam pacaran lantas menghalalkannya dengan dalih ‘islami’. Banyak diantara kita, orang islam itu sendiri ‘mengasal-asalkan’. Yah seperti itu, “tentu saja pacaran itu halal, asalkan niatnya baik, tentu saja pacaran itu baik asalkan….dan asalkan”. Menurutku itu sama saja dengan menghalalkan judi asalkan didasari niat baik. Kita tau kalau daging babi itu haram kan? Selain itu kita juga gak pernah denger daging babi islami, hanya gara-gara disembelih dengan nama Allah. Iya kan?
 Seharusnya kita sebagai orang Islam baik remaja maupun pemuda yang mempunyai posisi penting dalam proses regenerasi suatu masyarakat dan bangsa bisa mencerminkan keberhasilan teersebut melalui kualitas pribadi yang bermoral kuat. Bukan malahan membungkus kemaksiatan dengan embel-embel Islam.
Generasi muda juga mempunyai potensi yang sangat dahsyat apabila dimanfaatkan untuk kepentingan dan keperluan. Bukankan sudah sewajarnya jika remaja, pemuda perlu dipersiapkan untuk menjadi individu-individu yang mempunyai keunggulan dan mengetahui siapa dirinya sehingga bisa berjuang untuk kemajuan umat manusia. Akan tetapi, kenyataannya yang ada sekarang pemuda yang penuh potensi itu justru didera permasalahan akibat sistem kehidupan masyarakat dengan ideologi menyimpang. Sebagai umat Islam sendiri kita terseret pada kehidupan yang jauh dari tuntutan Allah karena selalu mengejar kesenangan semu.
Istilah pacaranpun menjadi trend bagi generasi muda yang sedang terombang-ambing secara ideologis akibat banyaknya arus pemikiran yang mempengaruhi permasalahan mereka. Akidah Islam yang dianut sebagian dari kita mengharuskan keterikatan dengan hukum Syara’ pada setiap aspek kehidupan tapi pada kenyataannya, disaat yang sama kita juga hidup dalam masyarakat dengan akidah memisahkan agama dari kehidupan.  
Lantas, bagaimana dengan sepak terjang para pemuda yang terlanjur menganggap kegiatan pacarnnya sebagai pacaran islami? Tentu saja siapapun yang melakukan kemaksiatan jelas dosa sebagai ganjarannya. Jadi intinya pacaran islami itu tidak ada. Tapi kenapa istilah itu bisa muncul? Bisa jadi karena kita para pemuda memang punya semangat keislaman yang kuat akan tetapi pengetahuannya kurang.
Pada akhirnya, di sinilah perlunya ilmu untuk mengendalikan cinta supaya nggak tersalurkan dengan salah.  Setiap orang boleh mencintai dan dicintai. Itu hak kita. Tapi, bukan berarti kemudian menghalalkan segala cara, seperti pacaran. Kita tahu pacaran itu bertentangan dengan Islam, kalau kita mengaku seorang muslim kenapa harus melakukan tradisi yang bukan berasal dari Islam? Kita harus percaya, cinta itu bisa dikendalikan. Yang nggak bisa mungkin dihilangkan. Itu semua memang urusan hati. Jadi  tergantung pada hati kita sejauh mana bisa menahan hawa nafsu yang bergejolak. Kita perlu tahu Islam gak pernah mengekang umatnya. Kalaupun ada aturan yang mungkin buat kita merasa dibatasi, itu adalah cara Islam untuk menyelamatkan umatnya. Ya, itulah resiko kita memilih Islam. Pilihan yang terbaik untuk kita.
Kembali pada masalah cinta. Bila memang kita tetap nekat ingin berkasih sayang dengan pujaan hati pilihan, ya sudah jelas, menikah saja. Kalau memang belum siap artinya jangan mencoba mendekati kekasih pujaan hati dengan cara pacaran. Karena pacaran adalah gerbang menuju perzinaan. Kita sesama muslim harus saling mengingatkan untuk tetap ber’amar ma’ruf nahi munkar.
Wiwin Juliyanti/ S1 Akt/2011
Departemen Pendataan Litbang
Komeko. HMI Univ Negeri Malang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *