rekreasi ke pantai pangi

28 Oktober 2003

Pagi ini aku berangkat ke sekolah untuk kegiatan pramuka. Kami mau rekreasi ke gua mbultuk dan pantai pangi. Aku ingin sekali melihat pantai itu. Aku persiapkan barang-barangku lalu kumasukkan dalam tas merah . aku pun berangkat ke SMPN 1 Blitar.
Di sekolah aku bertemu Esti, Hidayah, enggar, Deska, Zuzun, Viki, Erik, Wena dan lain-lain. Kami lalu duduk di tepi halaman depan sekolah. Kami menunggu mobil jemputan yang akan membawa kami ke gua mbultuk dan pantai pangi. Sekarang mbah Muji sedang membawa pickup tersebut kemari.


Sambil menunggu aku bersepedahan dulu. Aku mampir ke tok buku di depan SMA Muhammadiah. Aku lihat-lihat buku di sana. Lalu aku beli sebuah. Setelah itu aku kembali ke sekolah.
Beberapa menit kemudian pickup yang ditunggu datang. Kami segera menaruh barang-barang bekal kami di bak. Kami lalu naik. Sepeda kami sudah kami taruh di belakang. Jadi sudah aman. Sekarang kami berangkat.
Kami dari sekolah menuju JL. Veteran, Jl. Kenari sampai terminal patria. Lalu ke barat sampai Rembang. Lalu ke selatan sampai kademanagan. Setelah desa dawuhan, jalanan mulai menanjak, menurun dan berlku-liku bak ular gunung.
Kami terus begitu sepanjang perjalanan. Kami melihat gunung yang curma siap melongsori kami kapan saja dari dari sisi barat sedangkan jurang di sebelah timur kami siap memangsa kami atau melahap kami dari longsoran. Rumah-rumah sederhan kadang terlihat di berbagai sisi. Kami terus melewati mereka.
Beberapa siswi asyik ngobrol. Begitu pula siswa laki-laki baik kelas 2 maupun kelas 1. aku asyik menimati pemandangan. Diteduhi pohon-pohon dalam perjalanan pagi. Asyik sekali. Ini perjalanan langka. Ini pertama kalinya aku perjalanan begini. Jadi harus benar-benar dinikmati.
Kami pernah salah arah. Sopir segera memundurkan kendaraan. Kami kembali ke jalan semula lalu memilih jalan yang satunya. Kami pun terus menuju sasaran. Ternyata panjang juga jalan ini.
Pukul 09.30 kami tiba di gua. Kami turun dalam jalan yang tinggi menuju tempat parkir wisata. Ada banyak orang menjual perlengkapan pendakian. Kami sudah punya. Dan kami bawa. Sekarang kami turunkan dan kami pakai untuk masuk ke dalam gua.
Mbah Muji mengumpulkan kami lalu membritahu bahwa kami harus berpasngan membawa tongkat karena berbahaya kalau sendirian. Gua sangat gelap, tajam, berduri dan mempunyai air dalam. Kami harus berhati-hati. Kami mematuhinya. Kami turun ke sungai dan masuk ke dalam gua. Aku berpegangan dengan Viki, cowok kelas 1.
Benar-benar gelap. Dialiri air, disinari hanya cahaya senter, setelah melwati atap yang rendah, kami melihat keluasan gua bermulut sungai air tanah. Stalaktit memamerkan taringnya dan stalakmit mencuat di tanah. Kami kagum dengan pemandangan itu. Beberapa saat terdengar ada yang jatuh. Ternyata itu mbah Heri, ia memoto. Lalu Viki. Aku tak peduli. Wah kok berani ya? Kami masuk lebih dalam.
Kini ada gua lebih dalam yang atapnya rendah. Kami harus merangkak atau kepala kami akan terbentr atap gua yang keras dan tajam berduri. Waa..dug! aku kena. Di bawah kami harus merangkak di lumpur lagi. Iiih.. menjijikkan.
Setelah sampai di tempat tujuan yang ditetapkan Mbah Muji, kami berisitrahat. Kami berhenti karena kalau dilanjutkan dibawa lebih jauh nggak ada habisnya. Gua mbultuk ini panjang. Di depan masih ada lagi. Oleh karena itu kami harus berhenti. Kami berfoto-foto bersama setelah itu kembali keluar.
Jalan yang kami lalui dalam perjalanan keluar sama, hanya saja kali ini berlawanan arah dan tongkatku menunjukkan jalan dengan lebih kuat karena sekarang kami sudah tahu arahnya. Kalau tadi kan tidak. Aku berhati-hatai dengan atap rendah agar tak terbentur lagi. Dua kali cukup. Tak perlu lebih banyak. Kami berpsangan hingga tiba di luar. Tara..
Kami tiba di luar segera naik ke daratan dan duduk di tempat istirahat berbentuk cendawan besar dan dibawahnya terdapat tempat duduk melingkar. Kami makan bekal kami sambil berjemur karena basah kuyup. Aku makan roti. Lalu kami berfoto-foto. Tas perlengkapan diangkat dan pangi disusul.
Awalnya aku bersama teman-teman. Kami bersama-sama berjalan kaki. Kami melewati jembatan ke selatan beberapa ratus meter. Lalu belok ketimur melewati perkebunan kelapa di sebelah utara kami. Teman-temn terus maju sementara aku menunggu mbah Muji. Teman-teman terus menjauh. Setelah kurasa tak ada jawaban aku pun melanjutkan. Aku ke timur mengikuti jalan setapak. Lalu ke selatan. Di sini lebih mudah karena rindang diteduhi pohon-pohon dan di sebelahku ada sungi. Tapi aku tak boleh minum. Lalu aku melwati persawahan berbukit di kanan kiri. Di sana ada jembatan kecil. Aku memanggul tas dan sepatuku yang berat. Apa bekalku tadi?
Terus berjalan sendirian di tengah hari panas, berat capek dan haus. Aku berpikir tentang teman-teman. Mungkin mereka semua bersama sudah bermain air pantai dengan penuh perasan bahagia, sedangkan aku di sini berjalan sendirian penuh penderitaan. Pasti mereka semua sudah mencapai pantai. Sementara aku disini memanggul beban berat. Aku akan kesana! Aku akan menang! Aku pasti akan mencapai pantai!
Maka aku berjalan melintasi semak-semak/ilalang setinggi lutut. Kuterobos semua itu dengan penuh keyakinan. Kudengar gemuruh. Suara gemuruh itu? Gemuruh pantai! Pantai sudah dekat. Kukejar suara itu.
Lalu kutemukan 2 jalan menuju paantai. Ada yang ke timur mulus tapi panjang. Di sebelahnya ada jalan yang pendek tapi penuh semak-semak dan ujungnya tak jelas. Aku pilih yang barat. Maka kulaksanaka keputusanku. Melintasi semak yang bikin gatal. Jalan itu berujung turunan curam. Aku turun dengan pegangan pada pohon-pohon. Aku tiba di rumah penitipan kapal. Ada perahu besar tergantung di ruas utama atap rumah itu. Segera kutaruh tasku dan berlari penuh kebebasan ke air.
“Hore… pantai…”
senang sekali. Hatiku berbunga-bunga penuh kebahagiaan, kelegaan, dan kemanangan. Aku ingin segera mencebur ke air, tapi Mbah Muji melarang.
“ jangan masuk dulu. Tunggu temann-teman.”
Kutunggu dengan bediri tegak. Tak lama teman-teman muncul. Ternyata mereka muncul lama setelah memilih jalan timur yang panjang. Hore.. aku menang dong. Pertama.
Setelah semua berkumpul baru kami menceburkan diri ke air. Hore… yeah! Yes! Sip! Aku jilat air laut untuk mencoba rsanya. Yek! Asin. Lalu kami bermain sirat-iratan. Kami berbaring. Aku menikmati matahari menyengat memberikan sinar penuh harapan, kebehagiaan dan kemenangan ini. Anak-anak lain asyik bermain. Lalu Mbah Heri mencari kerang. Aku juga ikut mencari. Dengan kaki telanjang dibatu karang. Aku kena sedikit. Sakit! Lalu kami turun dari karang ke barat berfoto-foto di dinding barat.
Kami bermain sekali lagi. Aaahh………. Aku ingin keteduhan agar bisa berbaring di pantai dengan nyaman. Aku mendekati dan menjauhi ombak. Air susul-menyusul. Aku raup dan mandi untuk menghapus panas siang ini. Rsanya pliket. Aku ke tengah sampai paha. Bermain tanpa henti seolah kebahagiaan di pantai siang hari ini abadi. Tanpa akhir. Hahaha….
Lihat kebun kucing
Penuh dengan buaya
Ada yang merayap
Dan ada yang tiarap
Setiap harimau
Kusiram semut merah
Merah melatikus
Semuanya mampus
Lalu kulihat siswi putri mau shalat. Sudah zuhur? Mereka sudah rapi. Kami parak cowok berbaring dulu, baru berangkat mandi ke hilir sungai. Di sana airnya tawar. Kami pun ke sana untuk membersihkan diri dari pliketnya air laut dan pasir-pasir yang menempel di sekujur tubuh kami. Celana pramuka, termasuk rangkapan dalam dan jaket abu-abu kulepas untuk mebersihkan semua itu. Tanahnya berlumpur jadi waktu kupakai mandi, airnya semakin keruh. Mencuci pakaian dari pasir jeadi lebih sluti. Untungnya airnya mengalir ke laut jadi lebih mudah. Setelah mandi kami memkai pakaian itu lagi, berganti seragam pramuka lengkap.
Kami lalu berjalan ke barat untuk shalat. Kami wudlu di laut. Kan suci. Kami pinjam sajadah siswi putri. Setelah shlat kami upacara. Hari ini kegiatan pengenalan alam Pangi telah dilaksanakan dengan lancar. Kami berdoa dan pulang.
Aku bawa tas dan naik ke jalan timur. Sekarang bersama teman-teman. Senang deh bersama orang lain. P[ukul 14.30. kami menyusuri jalan yang tadi.. pake sepatu. Jalan terus… kami kemudian naik pickup hitam itu. Perjalanan ini mengantarkan kami dari dunia kebahagiaan menuju dunia nyata besok. Kami masih bisa bercanda walau sekarangcapek karena senang…..
Kami terus menimati pemandangan senja di mana matahri sudah memiringkan kepalanya dari bumi. Pukul 16.30 kami di kademangan. Senang juga walau ada sedikit gelisah karena aku belum shalat ashar. Satu persatu teman-teman turun karena jalur yang kami lalui dekat rumah mereka. Zuzun dan Hidayah sudah turun. Sekarang mobil terus merangsek udara ke SMP.
Terakhir pukul 17.30 kmi mendarat di SMPN 1. mobil pickup masuk sekolah sampai halaman. Kami pun turun membawa tas masing-masing. Aku dan teman-teman ke mushola. Aku shalat asar walau hari sudah gelap. Setelah itu aku mengambil sepeda dn pulang. Huahh…. Hari yang melelahkan dan menyenangkan. Hidupku sangat bahagia……..

Originally posted 2005-04-03 17:24:00.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *