perayaan tahun baru 2007

Pre >

Aku pergi kerumah Novi sore-sore untuk menanyakan rencananya merayakan tahun baru. Aku duduk di depan rumahnya menunggu dia  keluar. Lama-lama kutunggu dia tidak keluar juga. Aku terus membaca sampai selesai lama sekali.

Seorang ibu lewat. Dia melihatku, kemudian mengajakku masuk kerumahnya sementara menunggu Novi. Aku menolaknya dengan mengatakan Novi ada.ibu itu melangkah ke rumah Novi. Ia mengajakku dan mengetuk pintu. Pintu terbuka Novi muncul.

Pre condition >

Aku masuk kedalam dan meletakkan tas, lalu berbicara dengan Novi sedang nonton TV. Lalu aku menggeluarkan barang-barangku.

Aku cerita tentang rencanaku dulu dengan temn-teman. Tampaknya Novi setuju, tapi Ia mengusulkan persiapan dulu. Berngkatnya nanti saja. Lalu Ia mengajakku bermain computer dulu.

Ia mengatakan computer dan menyetel winamp dan mencari foto Meri sebuah rencana menyatukan foto-foto Meri dan dimasukkan ke binder. Ia mencetak foto-foto gabungan itu.

Melihat iti aku jadi terbesit rencana, aku segera meminta Novi mencoret foto Dewi dan Toni. Novi menyanggupinya, aku mengukur ukuran foto dan dia mengtur dan mencetaknya.

Setelah itu kami selesai. Barang-barangku kutitipkan kepada Novi. Novo memasukkan jas hujan dan uang kedalam tasku. Aku memasukkan binder berisi foto itu, buku tulis, uang, pensil, dan sebagainya. Setelah selesai persiapan kami berangkat.

Walking >

Aku dan Novi berjalan kaki keselatan melewati mayang kara, stadion, perempatan keselatan kemudian ketimur. Jalan-jalan sungguh penuh kendaraan yang berjajaran memenuhi jalan. Polantas sibuk mengatur mereka. Aku dan Novi cepat menyeberangi mereka dan naik ke trotoar. Kami melewati warzone dan SMAMI. Sempat aku bayar hutang kepada mbak penjaga wartel. Terus kami melanjutkan perjalanan menuju tempat teman-teman.

Aku dan Novi menyeberang-menyeberrang ke RS Budi Rahayu dan memesuki yang kecil di dalam. Kami melewati jalan itu dan tiba di gang keselatan, kemudian kami mencari rumah berpagar hijau. Kami menemukannya dan masuk.

Friendlook >

Kami melangkah masuk. Di sana ada Adit, Lukman, Aris, Rengga, Candra dan Rezza, sementara Heny di belakang sedang memasak, kami segera duduk dan istirahat.

Teman-teman bermain band dengan lagu-lagu peterpan. Tinngal aku yang kosong tak tahu apa yang akan kulakukan. Aku mondar-mandir menunggu waktu.

Teman-teman asik ngobrol membicarakan banyak hal. Dari band, sadam, ikan yang hangus, sampai majalah dan TV. Aku asik saja baca hidayatullah 5 eksemplar sampai melirik dan memandangi Andri dan Rima yang berpacaran. Berlalu bersama malam.

Perjalanan >

Beberapa waktu kemudian teman-teman telah siap. Mereka keluar bersama-sama dan berjalan melewati gang. Heny telah mengunci pintu,jadi kami tidak perlu khawatir soal barang-barang kami. Kami lalu berjalan.

Kami turun kejalan bersama sepeda-sepeda motor para kawula muda juga turun meramaikan kota dimalam hari. Mereka juga menuju tujuan yang sama.

Kami bersembilan berjalan menyeberang jalan dan menyeberang ke barat tanpa henti. Walaupun banyak kendaraan, kami tetap jalan santai di jalan aspal agak menengah. Pengendara lain memarkir sepeda motornya di jalan memenuhi tepian jalan. Lebih penuh dari PKL. Kami tetap berjalan.

Tiba-tiba Novi menarikku menyeberang kea rah lain. Ia menyeberang ke utara melewati kendaraan-kendaraan yang berdesakan dijalan itu.  Aku terpaksa mengikutinya ke utara walaupun ada perasaan tak enak.

“Nop,kenapa kita ke utara?” tanyaku

“jalan itu ramai,akan sulit melewatinya,” jawab Novi.

“tapi teman-teman?”

Novi tak mau menjawab, aku jadi tambah binggung.

Berikutnya kami lewat Jl. Semeru. Tak disangka ternyata jalan itu begitu ramai dan sempit. Aku dan Novi berjalan di sela-sela kendaraan yang nyaris tak bergerak. Tapi suara gas mereka memekakkan telingga. Aku dan Novi berjalan dalam kegelapan meliuk-liuk di antara rumah, orang, pohon, gelap, sepeda motor dan trotoar. Kami naik turun trotoar, aspal, melompati ban, hamper melangkahi orang-orang yang tidur, kami terus kebarat menuju alun-alun.

Hingga kami tiba ditepi timur laut alun-alun. Aku cukup senang kami telah sampai di cahaya lampu, melewati kegelapan kamiberjalan ke selatan danmenyeberang. Melewati took-toko di tepi jalan. Kami sampai dan masuk.

Aku dan Novi segera mencari tempat yang cocok untuk menonton kembang api. Kami berjalan tak teratur kebangunan, tiang bendera, aspal, rerumputan lalu berbelok keselatan. Menjauhi lampu. Kami menemukannya kamipun duduk dan menanti kembang api

Detik-detik kembang api >

Aku dan Novi duduk sambil menunggu. Kami bercerita macam-macam. Meri, Gundam, Teroris, Bom, Sadam, Gusdur dan lain-lain. Begitu banyak yang kami bicarakan, kadang tertawa kadang diam. Mengalun bersama cerita, mengalir bersama waktu. Waktupun memperjalankan kami membawa kami pada saatnya.

Waktunya tiba, semua orang berdiri, mereka meniup terompet berseling-seling yang di jalan mengegas sepeda motornya keras-keras.

Tak beberapa lama kemudian sebuah tulisan muncul. SELAMAT TAHUN BARU 2007, berwarna merah terbakar. Melemparkan bunga-bunga api ke udara. Satu-persatu huruf itu terbakar berwarna merah. Kemudian yang lain sampai habis.

Kembang api bermunculan. Dari belakangnya memenuhi langit barat. Kembang api itu berwarna-warni, Merah, Kuning, Oranye, Hijau, Biru, Unggu, Putih. Mereka terbang bersusul-susulan, kemudian meledak di angkasa. Mempesonakan sejuta insan yang memandangnya dari bumi.

Ia meledak, terserak, menyebarkan rona warna  yang indah bagi manusia. Warna cerahnya member impian dan harapan tentang kehidupan bagi umat manusia yang memandangnya. Berhias langit malam.

Perubahan kembamg api itu mulai menyurut. Tenangannya menurun, cahayanya berkurang perlahan-lahan dari horizon. Ia mulai redup. Mulai padam dan tenggelam.

Semua orang terdiam menanti matahari itu. Bunga yang begitu indah. Mereka berpandangan, bertanya. Apakah begini? Mereka menanti lagi untuk sesuatu.

Dan sesuatu yang agung itu munculah sebuah kembang api besar dan melesat dari utara ke ujung atas.

“Blem…….sssssstt……Dor !

Kembang api yang habit dan agung meledak di angkasa. Aku terpana melihat keindahan itu. Aku tak bias menyembunyikan kekagumanku. Aku berusaha cuek tapi Ia menarikku dengan keindahan bunga langit itu.

Bunga langit itu melesat dan mekar dengan cepat. Kelopaknya mengembang dan menghilang. Bunga lain cepat menyusulnya dan mekar., lalu yang lain mekar, mekar lagi mekar lagi. Saling menyusul. Memperhatikan rona indahnya bunga matahari itu.

Aku terdiam terpesona. Dan berfikir

Aku menjadi sedih karena akhir keindahan itu. Lalu aku menunduk. Orang-orang mulai beranjak pergi meninggalkan alun-alun. Aku mulai sadar, Novi menggajakku pergi,

Kami duduk di bawah tiang bendera dan berbicara

“ Sekarang sudah 2007,”

“ Ya.”

Kami masih diam. Menunggu, setelah agak sepi, kami pulang.

The ending >

Kami berjalan di trotoar Jl. Semeru, Jl. Merapi. Lalu menyeberang Jl. Anjasmoro ke timur. Semua telah berakhir.2006. sekarang sudah berubah 2007. Aku melangkah dengan rasa menyesal. Mengapa berubah?

Kami melewati stadion ketika terjadi 2x tabrakan sepeda motor. Aku tak memperdulikannya. Kami terus saja berjalan pulang. Terus melangkah.

Akhirnya kami tiba dirumah Novi. Sepeda pederal abu-abu berdiri di sana. Kami masuk.

Transform

Kami duduk di ruang tengah Novi duduk di sofa barat, aku di timur. Dan Ary diselatan. Kami nonton TV bersama ayah Novi. Kemudian kami saling bercerita. Ary tadi dating pukul 08.30 lalu internetan. Lalu nonton kembang api dan pulang, jadi kami tidak saling bertemu.

Ayah Novi menyuruh kami makan, awalnya kami menolak, tapi lama-lama kami malu-malu mau. Aku dan Ary berjalan kebelakang, menyusul Novi yang memasak mie.

Kami makan mie itu. Setelah itu nonton TV sambil ngobrol. Ada saja yang dibicarakan. Acara TVnya pun beragam.

Jam menunjukan pukul 02.30 pagi. Aku setengah mengantuk nonton TV bareng Ary. Novi sudah ketiduran duluan. Aku ngriyip-ngriyip dan beralih agar bias tidur serrrrr……

Sriwing……..sriwing…..

Aku samar-samar mendengar sesuatu. Aku membuka mata dan memandang teman-teman. Mereka sudah bangun dan sedang nonton TV. Sudah pukul 04.30. kami saling tertawa dan ngobrol lagi. Ada berita dan film kartun, tapi kami lebih memilih nonton Ultraman Dyna. Setelah selesai itu kami bersiap-siap.

Aku dan Ary bersiap-siap pulang. Hari telah bersinar. Kami harus bangun. Peralihan mala mini telah berakhir.

Kami berdua keluar dan mengambil sepeda. Novi menanyakan rencana kami. Ary berencana pulang dan tidur. Novi berencana tidur, nanti akan beli buku di loakan. Aku berencana…….ke kumah Dewi. Aku inggin mengucapkan selamat tahun baru. Mereka tercegang mereka mengatakan itu sia-sia. Aku tak peduli. Kami berangkat.

www. Bible believers.org

www. Templar history.com

08125200794

Hari pertama tahun baru 2007

Aku berangkat pagi ini dengan tekat Dewi. Aku inggin menggucapkan selamat tahun baru walau ini terdengar bodoh. Konyol, sia-sia. Dan percuma. Aku tak peduli, ini urusan hatiku.

Awalnya aku ketimur bersama Ary lewat tlogo, tapi Ia berhenti dan pulang ke rumah. Aku ke timur agak jauh dan belok ke utara. Itu adalah jalan pintas kegarum. Panjang dan melelahkan. Ini ujian jiwa.

Aku segera memedal dan melaju bersepeda. Terus ke utara. Terusssss……jauh. Jauh sekali tanpa henti. Menanjak, desa, rumah, sawah. Desa, rumah, sawah. Begitu terus. Berulang-ulang jauh.

Aku begitu kelelahan dan mencoba mundur, tapi tak bias. Aku harus maju. Jalan ini begitu panjang dan jauh.

Menanjak terrus, lalu membelok kanan, kiri, kanan, kiri, naik turun, begitu jauh. Jauuuuh……sekali. Aku terengah-engah menanjaki itu semua. Berharap segera sampai. Kupandang lelah kea rah jauh tampak sepasang rel.

Aku segera menyeberanginya, lurus ke perempatan, dan belok ke barat sedikit. Mandi dulu di masjid jami’ kec. Garum. Terus kulanjutkan perjuangan ini. Ke utara, timur, utara, menanjak. Rumah-rumah melintas.

Dengan / tanjakan, aku tiba di sawah dan beberapa meter di sana  rumah Dewi berada. Tinggal beberapa langkah. Aku lekas berdiri di depan pintu dan tunggu gerbang dibuka. Begitu juga pintu rumah, sewaktu aku melangkah, sebuah sosok gadis berkaos putih dan berrok kuning muncul Ia sedang menyapu. Itu Dewi.

Secara reflek aku cepat menaiki sepedaku dan lari

“ duh, ropot !”

Aku berani beberapa meter dari sana. Mengamati, semoga Dewi cepat pergi. Kok waktu tak diinginkan dia datang.

Sesaat kemudian seseorang datang. Mungkin ibu atau ayah Dewi. Ia melihatku aku langsung tancap gas dan kembali kuamati lagi Dewi sedang membuang sampah.

Aku jadi binggung konfliknya kok jadi begini aku menunggu di depan, lalu di samping rumah, tempat dekat yang tidak terduga. Disamping terus aku pindah ke depan. Aku harus menyelesaikan ini.kalau tidak ini akan jadi bebanku selamanya. Tapi dadaku terasa berat dan sesak. Kakiku gemetaran. Aku jadi tidak berani.

Tapi aku harus melakukannya, akhirnya terpaksa ku ambil sebuah ke[utusan. Aku maju membawa sepedaku ke depan gerbang lalu ku keluarkan jurus pentajustu. Lalu ku ucapkan dalam hati, “selamat tahun baru untukmu Dewi mega puspita”. Lalu aku cepat cabut dan pergi.

Aku merasa gagal. Harus remidi tahun depan (208/ atau malah tahun baru hijriah 1428). Ada 5 kompetensi dasar yang harus di penuhi.

      1. Dengan tenang ke depan gerbang

 

 

      1. Berdiri 10 cm dari gerbang

 

 

      1. Dengan sigapmenggeluarkan pentajustse

 

 

      1. Katakana dengan bersuara,”selamat tahun baru untukmu Dewi mega puspita”

 

 

      1. Pergi dengan santai

 

 

Tz >

      • Aku ke masjid syuhada haji tidur. s/d jam 10 terus cari makan Rp 2000,00-

 

 

      • Ke arrohman/pll. s/d. 10.30 makan tidur

 

 

      • 00 s/d zhuhur, pulang beli Annidat Tarbawi

 

 

      • Di rumah makan , stel lagu, menulis.

 

 

      • Malam aku ke mbak Anis ( konspirasi). Terus setelah isya. Menyelesaikan cerita internetan dulu, uplood Dewi. Sukses Allhamdullilah.

 

 

 

Originally posted 2007-01-02 04:40:00.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *