penyebar buletin

“Yudi, besok kamu sholat jum’at kan?”tanya ustadz Ahmad.

“ya ustad.”

“kamu nyebar al-islam ya? Di masjid agung kota Patria. Nanti ditemani Mas Supri.”Perintah ustadz Ahmad.

Yudi langsung terbayang videoklip nidji berjudul “dosakah aku”. Di sana tokoh utamanya dilempari batu, sandal, kaca apa saja oleh orang-orang. Gimana nanti kalo terjadi beneran? Rasulullah dulu juga dilempari batu oleh bani thaif sampai giginya pecah. Aduh! Nggak deh.

“nggak dulu deh ustadz.”

“lo kenapa?”

“nanti kalo ditolak orang gimana? Jangan-jangan dikejar massa terus dihajar gimana?”

“nggak, nggak Yud. Kamu ini takut amat to!”tukas Hadi.

Yudi hanya diam. Dalam hati dia ingin berontak, nolak, gak mau. Tapi nggak mungkin bicara. Hadi selalu melawannya dan membabat habis kata-katanya. Bukannya bantuin malah nyebelin.

“iya deh.”Dalam hati tidak. Pokoknya gak mau! Harus kabur!

Sebelum sholat jumat para syabab berkumpul di rumah Mukhlis. Di sana Mukhlis membagikan Al-islam kepada setiap syabab. Setiap syabab mendapat satu bundel berisi sekitar 40 – 60 lembar buletin Al-islam. Setelah itu mereka menyebar ke masjid masing-masing. Yudi mendapat al-islam berangkat ke masjid agung.

Di masjid cowok itu deg-degan. Jadi nggak ya? Nanti gimana kalo diliat orang? Terus kalo ditolak gimana? Kalo dihajar massa gimana? Tulisan Al-islam kan provokatif?

Aduh, harusnya tadi nggak datang. Harusnya nggak diambil. Sekarang gimana? Udah kadung dapat. Apa ditaruh terus ditinggal aja? Tapi nanti kelihatan mas Supri gimana?

Khutbah selesai. Takmir mengumandangkan iqomat. Imam memimpin orang sholat berjamaah. Pertama takbir. Lalu rukuk dan gerakan seterusnya. Yudi deg-degan terus memikirkan apa yang akan dihadapi nanti,memikirkan alternatif-alternatif tindakan. Dia membuat pilihan-pilihan, startegi cadangan, kata-kata yang diucapkan jika ditanyai nanti. Hasilnya tiba-tiba sampai salam.

Setelah berdoa dia nunggu dulu. Dia melihat mas Supri berlokasi di mana. Ternyata mas Supri berlokasi di gerbang utara. Ada dua gerbang di masjid agung. Yudi melesat ke selatan kabur meninggalkan al-islam di dalam masjid.

“slamet! Slamet!”ujarnya. Meskipun begitu hatinya tahu dia talah melakukan hal yang salah. Habis gimana lagi. Nggak berani menghadapi orang sih. Nanti pada waktunya kalo udah siap ngadepin orang baru aku mau.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *