nama yang sama

Reno pergi main ke rumah Hadi. Hadi langsung mengajaknya ke kamarnya. Di kamar Hadi Reno melihat-lihat buku koleksinya. Ada buku-buku novel, ensiklopedi, buku pelajaran dan les. Salah satu yang menarik adalah novel.  Ada banyak novel yang dimiliki Hadi. Kebanyakan fantasi seperti harry potter, bartimaeus, Inkheart, Golden compass, Artemis Fowl dan lain-lain.

“ Apa ini, Di?” Tanya Reno. Ia mengambil sebuah novel bersampul hijau biru.
“ ini novel fantasi juga. Bagus kok. Liat aja!”

Reno membawa pulang novel itu. Di rumah dia membacanya segitu tekunnya sampe lupa yang lain. Lupa makan, lupa mandi apalagi lupa belajar. Semua demi nyelesaiin bacaan itu. Tak terasa sudah malam. Matanya sudah pedas. Dia tidur melewati bintang-bintang di langit luar yang berayun.

Paginya cowok itu melanjutkan baca novel itu lagi. Dia tiba di bab baru dan terkejut mendapati sebuah nama tokoh di novel itu.

“ Shelly cassanova!” jantungnya berdegup kencang. Dia tahu nama itu. Di sini. Di kelas ini.

Reno melirik ke belakangnya. Di sana di seberangnya tiga bangku ke belakangnya sebelah timur duduk seorang gadis. Gadis itu duduk sebangku dengan Meta.cewek itu bernama sama persis tokoh novelnya, Shelly Cassanova . Reno menatap mengaguminya. Shelly sedang serius mengerjakan latihan biologi. Berbeda dengan Reno yang asyik membaca novel. Shelly berpikir keras mencari dan menuliskan jawaban di buku tulis yang bersampul coklat. Tak dipedulikannya Meta, ketua kelas dan teman sebangkunya asik bercanda dengan teman-teman di depannya.

“ Jadi kau sebenarnya bidadari yang turun dari langit? Indah sekali. Aku senang sekali menemukan rahasiamu, Shelly. Kutemukan cinta dipalung hatimu. Izinkanlah aku untuk menyelami hatimu yang terdalam. Terangi jalanku tuk menggapai cintamu untuk kulabuhkan cintaku hanya untukmu.

Reno memandang lekat-lekat pada Shelly. Poninya, rambutnya diikat sebagian dan banyak yang terjuntai ke punggung. wajahnya cantik putih mulus. Shelly yang memakai seragam kemeja warna biru terihat romantis. Asyiknya kalau bisa jalan sama dia di taman SMA Satria berdua. So sweet……

Sampai siang Reno hanya bisa membayangkan Shelly. Jadi dia mendapatkan gambaran yang lengkap dalam membaca novelnya. Dia jadi menggabungkan dua cewek itu. Shelly dalam novelnya adalah Shelly teman sekelasnya sedangkan jalan hidup Shelly di kelasnya adalah pejuang seperti dalam novel. Seorang kesatria wanita seperti Jean D’arc.

“Aku harus bicara denganmu Shel, kamu cantik sekali”. Guman Reno di koridor kelas melihat sosok anggun itu pulang.

di sekretariat Jurnalistik Reno tanya sama Ivan,” Van, kamu tau rumahnya Shelly nggak?”
” tahu.”
” di mana?”
” Dia satu kompleks sama Meta tapi beda blok.”
” dia tetangganya Meta?”
” iya tapi masih agak jauh. dari gang rumah Meta ketemu sampai perempatan pasar  terus ke utara sampai melewati sawah-sawah. nanti ketemu perumahan di situ rumahnya.” jawab Ivan.
“rumahnya di perumahan itu?” tanya Reno.
“tepat satu rumah sebelum perumahan. rumahnya warna abu-abu tembok batako. ada banyak pohon dan tanaman di sana.”  jelas Ivan.
” makasih.”

Shelly berjalan bersama mereka, kadang dengan “Aku harus bicara dengan Hesti dulu.” Reno memalingkan badan berbelok menuju sekretariat jurnalistik tempat Hesti, Amin dan Ivan biasa berkumpul sepulang sekolah.

“Assalamu’alaikum,” salam Reno malam-malam di depan rumah Hesti.

Ia berdiri di teras rumah berlampu putih berlantai merah. Cahaya lampu dari dalam tembus ke luar sehingga ia bisa melihat kedalam kaca jendela rumah Hesti ditempeli stiker. Reno membaca stiker-stiker itu dan melihat Hesti membukakan pintu.

“Waalaikum salam” balas Hesti.
“Hai,” sapa Reno.

Hesti masuk diikuti Reno, mereka duduk di kursi kayu hitam panjang berbentuk L. Hesti duduk di ujung barat kursi sedangkan Reno di dekat siku-siku L kursi.

“Ada apa?” Tanya Rosa.
“Eh, Hesti kamu sudah baca novel ini belum?” Tanya Reno menunjukkan novelnya.
“ belum.”
“Gini. kamu tau nggak ada Shelly di kelas kita?”
“Ya, ada apa?”
“Aku rasa Shelly yang di kelas kita itu sama dengan Shelly di novel ini. Dia cantik sekali. Kayaknya baik dan jadi hero girl.” Cerita Reno berbinar-binar, tangannya bergetar saking senangnya.

“Hah?”
“coba lihat halaman 78.”

Hesti membukanya dan melihat dengan jelas. Di situ tertulis nama tokoh novel yang sama dengan teman sekelasnya.

“ kok bisa? Aku jadi pingin baca. Pinjam ya?”
“ bentar dulu. Aku juga belum selesai bacanya. Tapi aku jadi tertarik sama cewek itu.”
“ maksudmu …?”

Reno senyum-senyum sendiri memandang ke atas. Hesti jadi paham. Cowok ini jadi kesengsem berat sama  cewek. Falling in love … by novel, gak pernah liat.
Sampai penutupnya Hesti bertanya,”Oke, apa yang mau kamu lakukan?”.

“Aku mau bicara sama Shelly. Kalau bisa nembak dia. Aku jatuh cinta sama dia. Dia cantik banget. Dia sempurna banget. Shelly itu jadi perfect. Kayak kesatria cewek, juga kayak princess jaman dulu. Kalau aku mendapatkannya hidupku akan sempurna. Kami akan bersama.”

“Terus apa yang kau butuhkan dariku?” Tanya Hesti.
“Aku mau kau merancangkan topic pembicaraanku. Persiapannya besok ngomongin apa saja, urutannya dimana, cara ngomongnya dimana, dia suka apa.”
“O….gini. kamu kalau ngomong sama dia jangan langsung ke intinya. Buka topik dulu. Tanya kabar, sekolah. Yang enteng-enteng dulu terus kalau ngomong sama dia jangan serius-serius. Yang enteng dengan gitu dia bakalan nerima,” saran Rosa.

“Terus urutannya gimana.?”

“Gini. Pertama kamu nanya kabar, terus kamu bilang kamu baca novel itu. Disitu ada cerita tentang Shelly, menurut kamu Shelly itu  istimewa, tapi jangan it uterus. Ganti topic. Pelajaran, PR atau keluarga Shelly. Ayah, ibu, saudara dan lain-lain. Tanya juga hobi, ekstra, terus ngobrolin yang lain dikit. Baru bilang kamu kagum sama dia. Kamu bilang kalo ada novel yang namanya sama persis kayak dia. Dia pasti bakalan tertarik. jelasin dengan pelan dan lancar. Bikin daftar atau item. Kalau perlu pulpen dan kertas buat nulis. Tulis yang jelas dan jangan bohong. Jangan otak-atik biar pas. Dia yang tahu siapa dirinya. Kamu cuma kagum dan terpesona sama dia.”

“Kalau bilang cinta gimana?”
“Jangan bilang dulu. Itu pertemuan pertama. Jangan bilang cinta. Bilang kamu ingin kenalan lebih lanjut dan berteman lebih akrab. Setelah lama baru bilang cinta.”
“Kenapa gitu?”
“Karena biar Shelly liat kamu lebih jelas lagi, selain itu biar dia lebih yakin. Kalau dia udah yakin baru kamu tembak. Pedekate yang telaten bikin dia suka sama kamu bukan karena tokoh itu, tapi karena dia apa adanya. Kalo kamu bilang kamu suka sama dia karena mirip novel, dia gak bakalan terima. Cewek gak mau disamain sama siapapun, apalagi cuma tokoh fiksi khayalan.”
“Ya, udah terima kasih. Thanks aku pulang dulu ya, saran kamu bagus banget,” tutup Reno.
“sama-sama”

Reno keluar diikuti Hesti. Mereka bersalaman terus berpisah. Reno naik sepeda pulang sedangkan Hesti menutup pintu karena sudah larut malam.

Melalui sepanjang minggu Reno menyelesaikan membaca novel pinjaman itu. Dia makin cepat bacanya. Hari libur tahun baru tetap dia isi dengan baca novel itu sampai habis. Setelah itu dia bertekad datang ke rumah Shelly hari minggu.

Minggu pagi setelah tidur di rumah Ivan untuk perayaan tahun baru bersama Amin dan Ali, Reno melangkahkan kakinya di kayuh sepeda hitamnya. Ia memancal sepeda penuh semangat ke timur menuju rumah cewek tercinta. Sinar matahari menerangi mata, dada dan hatinya. Dadanya sesak karena sennag dan harapan. Seakan-akan bunga – bunga ditaburkan kepadanya  sepanjang jalan.

sepanjang perjalanan Reno makin tak sabar melihat wajah Shelly, baju dan roknya. Tersenyum di ruang tamu. Ia akan berbicara dengan Shelly, bertikar pikiran, berbicara dan mendengarkan tertawa dan bercanda.

Sambil mengayuh Reno berusaha melupakan jarak dan tenaga yangharus dia tempuh. Dia lebih suka membayangkan bagaimana nanti berbicara dengan Shelly. Ia berusaha mengingat rencana dari Hesti. Rencana yang sistematis bagaimana berbicara dengan Shelly. Ia memvisualisasikan rencananya.

“tok….tok….tok…..” ketuk Reno.
“Ya” terdengar suara dari dalam, suara gadis muda yang nyaring.
“Hai, Shel.”  Sapa Reno tersenyum
“Reno? Sama siapa kemari? Naik apa?” Tanya Shelly heran.
“Sendirian, naik sepeda.”
“Naik sepeda? Dari Patria pusat?, jauh banget. Ayo masuk!”

Shelly cepat mempersilahkan Reno masuk. Mereka duduk di sofa putih mengelilingi meja kaca bening.

“Ceritain, ada apa kamu kesini” mulai Shelly.

Reno mulai gugup karena berbeda dari scenario, tapi cepat beradaptasi.

“Ah, mampir, ingin tahu rumahmu. Itu aja, ternyata mewah dan besar.”
“Kamu terlalu memuji,” Shelly tersipu malu

Reno melihat sekeliling mencoba berani mengatakan kata kuncinya.

“Ayah ibumu kemana?” melenceng
“Ayah lagi keluar, ibu di belakang.” Sahut Shelly.
“O….. saudara-saudaramu?”
“Mereka lagi jalan-jalan, sebentar lagi pulang,” sahut Shelly
“Oh, ya kemarin apa ada PR?” Tanya Reno lagi cari bahan obrolan.

“Matematika, bu Ju nyuruh kita bikin grafik trigonometri, grafik cosinus atau cosinus, terus…”

Shelly mengambilkan buku matematika, mereka membahas pelajaran lebih jauh lagi, Trigonometri menjadi gelombang yang naik turun. Reno senang mereka bisa berbicara banyak. Tapi dalam hati ia kurang puas karena tujuan utama nya belum tersampaikan.

“Shel …”
“Ya?” Shelly menoleh.
“Sebenarnya aku mau ngomong sama kamu.” Reno berusaha kuat memberanikan diri memenuhkan hati.
“Apa?”
“Kamu itu istemewa, tahu nggak? Ada novel yang  cerita tentang kamu. Kamu tahu novel ini?” Tanya Reno mencocokkan pengetahuan dulu.

“Ngggg…..itu ?”
“Iya.”
“Tahu dikit.”
“Kemarin aku pinjam dari Hadi. Itu Hadi. Buku itu bagus sekali. Ceritanya tentang petualangan di masa perang. Ada romantisnya juga lo.” Mulai cerita Reno.
“Terus?”
“Nah, di novel itu ada nama kamu lo.”
“ masak sih?”
“ ini.” Reno membuka tas dan memberikan novelnya pada Shelly. dia bukakan juga pada halaman yang ada namanya Shelly. lengkap dengan nama belakangnya.

“Wow….” Shelly terpesona menutup mulutnya. Dia tertawa ke belakang melihat Reno. Dia tersenyum, rona merah menyembul dikedua pipinya.

khayalan indah itu sebentar lagi akan jadi kenyataan. Reno jadi tak sabar ingin bertemu bidadari itu. Rumah Shelly sudah terlihat di kejauhan. Jalan aspal yang mendaki sudah menyisir rumah-rumah ke belakang menggantinya dengan hamparan sawah yang luas membentang. Reno mengayuh sepedanya dengan hati yang makin besar. Tinggal sedikit lagi.

Rumah batako pertama terlewati. Reno yakin pasti bukan itu rumahnya. Rumah itu rongsokan berisi tumpukan sampah. Tak mungkin Shelly tinggal di situ. Reno melihat rumah kedua sebelah rumah.

Rumah itu disemen abu-abu dikelilingi tembok dan pagar tinggi. Temboknya batako diberi duri diatasnya. Pagarnya berterali duri. Berukir abstrak kubistis. Di tengah pagar pintu gerbang merah berdiri menghalangi gerbang itu berterali. Di sekitar depan rumah tumbuh pohon-pohon pisang. Ada pula pohon asem.

Dong. . . dong. . . dong. . . Reno mengetuk pintu gerbang pintu itu bergema. Pintu depan rumah tertutup. Kaca hitam tak merespon.

Dong. . . dong. . . dong. . . Reno mengulangi lagi. Tak ada balasan.

Reno mengulanginya sekali lagi. Harapan mulai menyusut. Muka menjadi keruh. Ini tak sesuai rencana. Ia mau pulang tapi sudah terlanjur sampai di sini.

Reno menyebrang duduk di kursi tambal ban. dia memandangi kediaman cewek yang baru dikenal itu.  Rumah yang besar dan asri. penuh tanaman dan bunga-bunga.

Tak ada kamera atau foto. Terpaksa untuk mendokumentasikan atau mengabadikannya Ia harus menggambar Ia mengeluarkan spidol merah dan buku fotokopian. Ia mengambar di halaman sampul belakang buku fotokopian yang tebal dari kertas buffalo.

Ketika menggambar itu seorang ibu keluar dari samping rumah. Dia membuka gerbang. Reno melihat itu jadi senang. ada tanda-tanda pertemuan. harapan akan terkabul.

“ Cari siapa, nak?“ Tanya ibu itu, ibunya Shelly.
“ Shelly, Bu. Apa ada?” Tanya Reno.
“ Shelly? Shelly lagi keluar.” Jawab ibu Siti.
“ Oh, kalau begitu titip salam saja, bu.”
“ Dari siapa?”
“ Reno.” Jawab Reno
“ Temannya Shelly?”
“ Iya.”
“ kelas berapa?”
“ Sepuluh A.”
“ Oh. Jadi satu kelas dengan Shelly?”
“ Iya.”

Reno diam sebentar. Tak enak lama-lama di sini, inginnya cepat-cepat pulang.

“ Ya sudah bu, saya pulang dulu.”
“Nggak masuk dulu?”
“Ndak, terimakasih.”

Reno mengambil sepedanya lalu mengayuh pulang. Bu Siti masuk rumah. Reno merenungkan hari ini, beserta anggapan kira-kira respon Shelly besok.

” Kira-kira besok Shelly balas apa ya? Apa bakalan marah?”

Pertanyaan itu tertelan oleh perjalanan Reno kembali ke kota Patria. bersama hati yang patah dan kecewa. tapi masih ada kesempatan di hari besok.

Originally posted 2006-01-03 20:47:00.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *