MENGHAPUS JEJAKMU

Teater sudah usai, tirai perlahan-lahan diturunkan menutup panggung. Orang-orang berangsur-angsur bangkit meninggalkan kursi penonton, tinggal Jefri sendiri.

Pemuda itu termenung, hatinya tersadar

“Ini cahaya!” batinnya.

“Ini pertanda dari Tuhan datang kepadaku, aku harus menyambutnya!”

Jefri bangkit pergi meninggalkan gedung ia berjalan sambil memikirkan pesan dari teater.

Kisah teater itu bercerita tentang playboy yang bertobat. Jefri bukan playboy, tapi dia sama-sama harus bertobat.

Aku harus mencari pekerjaan yang lebih baik yang halal dan sah.

Aku harus menghentikan proyek yang sekarang.

Padahal sebentar lagi proyek assassin-nya selesai. Tinggal satu titik pemicu proyeknya akan berhasil, targetnya akan mati. Dia akan mendapat bayaran jutaan. “Tapi cahaya ini tak boleh dia biarkan,” tegasnya.

Orang-orang yang akan membantunya sudah menunggu. Mereka empat orang pria berjaket kulit hitam kemerahan, mereka memanggul pedang di tiap punggung mereka.

“Aku harus bicara pada mereka!” tegas Jefri Safrudin seraya menemui mereka.

Jefri melangkah menyapa mereka

“Hai bro!!!” mereka saling tepuk telapak tangan.

“Hai…gimana kabar lo?”

“Oke-oke aja, PS-an sambil dengerin musik bikin enjoy banget.”

“Hahahahaha…bisa aja lo!!!”

Mereka tertawa bersama.

“Yuk!!!” ajak salah satu dari mereka yang berambut kuning.

Ketiga pemuda menyahut melangkahkan kaki. Jefri diam.

“Kenapa, Jef?” tanya pemuda yang mengajak, namanya Sai.

“Nggak…kayaknya aku nggak bisa, sory,” Jefri urung

“Kenapa? Lo kan pemimpinnya? ini tinggal sedikit lagi.”

“Sory, aku nggak mau lagi jalanin proyek ini lagi. Aku mau keluar dari dunia hitam, aku mau pergi.”

“Tunggu….tunggu! Lo kenapa Jef ?” Noi ikut bicara. Dia yang bergaris dipundak jaketnya.

“Nggak pa..pa. Aku mau pergi.” Jefri berbalik meninggalkan mereka.

“Jef, tunggu!!!” Noi yang dekat dengan Jefri menahan.

“Sudah…mungkin dia lagi BT, kita kerjain sendiri, kita ambil sendiri uangnya.” ajak Rai mengelak.

“Kau dengar yang dia bilang tadi? Dia mau keluar dari dunia hitam. Dia bisa bocorin kita ke polisi!” bentak Noi

“Apa??? Gawat!!!” Rai, dan Lon, cowok terakhir terkejut.

“Makanya kita harus menghentikannya, lagian bos bakalan membunuh kita semua kalau ada yang keluar.” ujar Noi.

“Jef tunggu!!! Noi mengejar Jefri.

Begitu dekat dengan Jefri dia melompati, Jefri menghadangnya. Teman-teman mengikuti Noi tiba di belakang Jefri. Jefri merasa terkepung.

“Jef kembali. Jef kalau nggak mereka bakal membunuh kita. Orang-orang bakal tahu ada proyek kita, kalau kita nggak tuntasin dan beresin!” pinta Noi.

“Beresin aja sendiri.” tukas jefri.

“Lo yang pegang kuncinya, Jef “

“Kalau aku nggak mau ?”

“Ayolah Jef!!!”

“Jef,” Rai ikut bicara diikuti yang lain.

Jefri tetap tak mau mereka saling berdebat pembicaraan memanas hingga Noi tak tahan lagi.

“Jef aku akan membawamu walau harus memaksa.”

“Silahkan.” Jefri enteng menyilahkan.

“Sory, Jef ini demi kebaikan lo!!!”

Noi mencabut pedang menyabet Jefri, Jefri melompat teman-teman yang lain juga ikut mencabut pedang, mereka menyabet Jefri, Jefri melompat berlari menjauh.

Teman-teman mengejarnya. Cahaya lampu-lampu jauh berkilau di bilah pedang ke-empat pemuda pengejar Jefri, Noi , Rai, Lon dan Sai terus berkelebat.

Gang buntu. Jefri terhenti melihat tembok menjulang setinggi 20 meter di depannya dia harus bertarung. Dia berbalik pikiranya mempersiapkan diri. Ia mengeluarkan senjatanya, yaitu dua pisau yang terhubung oleh rantai dia memegang satu ujung rantai dan memutar satu ujung pisau berantai.

“Maaf teman-teman”

Ia menyambit pisau berantai itu, maka kini pisau berantai melawan 4 pedang. Pisau itu berputar seperti baling-baling. Pedang Noi berhasil menahan pisau, tapi pisau itu berputar hingga menggores pipinya. Terjadi sambit-sambitan lagi dan pedang berayun dalam kilatan cahaya yang jauh dan tak bisa bangkit. Jefri tergores bahunya, darah mengalir dari garis goresan itu.

Jefri melompat merebut pedang Rai dan menusuknya di dada. Rai terhenti roboh. Jefri menyambit pedang ke Sai. Sai tertusuk di perut. Dia jatuh berlutut.

“Kau menghabisi teman-teman kita, Jef! Ku bunuh kau!!!“ raung Noi.

Noi menembus Jefri dengan beringas sampai Jefri kewalahan. Tangannya penuh darah goresan. Noi terus maju mendesak Jefri ke tembok. Jefri menjejak tembok melompat tinggi. Noi menyerang maju. Jefri mendarat di atas Noi menusukkan pedang lurus ke tulang selangka Noi. Noi terhenti. Mulutnya memutahkan darah. Bahaya memuncratkan darah. Ia roboh tergeletak tanpa nyawa.

“ Maaf, teman-teman.” Jefri melangkahkan kaki pergi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *