Jilbabmu

“Arin, temanmu sudah menunggu !” seorang ibu memanggil purinya agar cepat – cepat karena temannya sudah menjemput.
“ Iya, Ma !” jawab putrinya. Siswi itu segera mengancingkan jilbabnya sambil mlihat dirinya di cermin dan memakai bedak. Ia segera menyambar tas dan bergegas keluar.
“Arin berangkat dulu ya Ma?” Ia menyala ibunya dan mencium tangan ibunya, lalu ayahnya “Assalamu’alaikum.”
“Waalaikum salam. Jangan lupa sarapan di sekolah.” Pesan ibunya.
Siswi itu mengangguk tersenyum dan keluar menemui temannya yang sudah menjemputnya itu. Temannya tersenyum duduk di atas sepeda motornya.
“Udah, Rin ?” tanya temannya.
“Udah. Ayo.” balas siswi itu.
Arin, siswi itu, adalah siswi sebuah sekolah SMA Negeri. Ia sekolah kelas3 jurusan IPA. Ia sering berangkat bersama temannya yang sering memboncengnya. Walaupun berneda jenis, mereka tetap akrab dan dekat di sekolah.
Mereka sering berangkat bersama dan melakukan banyak hal bersama. Mengerjakan tugas bersama, ke kantin bersama, pulang pergi bersama, ke mana – mana bersama. Bahkan dudukpun sebangku.
Pukul 06.50 mereka tiba di sekolah. Arin turun dari sepeda motor dan berjalan ke tempat parkir menemani temannya. Sementara temannya itu memarkir sepeda motornya dan menemani Arin. Mereka kemudian ke kelas bersama – sama.
“Pagi, Arin.” sapa seorang siswa laki – laki pada Arin. Ia tersenyum.
“Pagi.” Balas Arin. Ia membalas tersenyum. Siswa laki – laki itu tersenyum, tapi ketika melihat teman dekat Arin, senyumnya langsung pudar. Hatinya langsung kusut dan keras. Ia hanya memandang sebelah mata dengan lirikan acuh tak acuh dengan bumbu sinis. Ia pun pergi.
Arin yang menangkap suasana itu bertanya,”kenapa sih dia? Fin, kamu mengerti dia?”
“Tidak, Cemburu kali.” Jawab temannya heran.
Mereka masih heran tapi tak menggubrisnya. Mereka melanjutkan perjalanan ke kelas dan meletakkan tas di meja. Mereka lalu duduk bersama dan mengerjakan tugas rumah bersama.
Tak lama kemudian teman sebangku Arin yang sama – sama siswi datang. Ia bernama Vida dan ia merupakan sahabat karib Arin. Ia menemui Arin dan mulai bicara.
“Arin, kamu ada apa sih sama Hadi?” tanyanya.
“Dia kenapa?” tanya Arin kembali.
“Dia bilang kamu menjadi sombong dan tak mau berbicara lagi sama dia.” Terang Vida.
“Ha ?” Arin kaget ia tak mengerti. Ia menoleh pada Alfin. Alfin menggeleng – gelengkan kepala ikut tak mengerti. Mereka bertiga pun jadi sama – sama bingung. Bel istirahat berbunyi. Anak – anak keluar. Arin tetap duduk bersama Alfin mengerjakan matematika sedangkan Vida telah duduk bersama Ramon. Mereka berdua sedang asyik berdua ketika Hari datang menemui mereka.
“Arin aku mau bicara sama kamu.” ujarnya.
“ Apa?” tanya Arin. Hadi menoleh pada Alfin. Ia beringsut sebentar.
“Aku tak mau Alfin mendengarnya. Nanti sepulang sekolah kita berdua saja.” ucap Hadi.
“Kenapa? Di sini kan ada Alfin.” Arin tak mengerti.
“Ayolah, Hadi. Kita kan teman. Masak kau tak mau cerita sama temanmu.” goda Alfin.
Hadi tersenyum sebentar padanya kemudian sekejap memasang muka kusut dan melangkah pergi dengan keras dan cepat. Arin dan Alfin hanya bisa memandangnya makin curiga.
Sepulang sekolah Arin lupa dengan kata – kata Hadi. Ia dengan riangnya pulang bersama Alfin melupakan Hadi yang telah menunggu di luar kelas. Hadi hanya merengut kesal dan mendongkol.
“Kau harus ingat satu hal, Rin.” bisiknya.
Esoknya, teror Hadi makin tak menyenangkan pada Arin. Ia banyak mengirimkan surat – surat ancaman pada Arin. Selain itu ia juga sering mencegat Arin dan Alfin ketika berjalan bersama. Ia makin banyak mengirimkan kata – kata pedas ke telinga Arin.
“Belaguk, sombong, munafik. Begitu kata – kata yang ditulis Hadi. Arin sebenarnya bingung, kesal, kaget, marah dengan kelakuan Hadi. Tapi karena ia seorang muslimah, dengan sabar diterimanya surat – surat dan kata – kata Hadi.
Sebaliknya bagi Alfin ia malah menduga Hadi adalah saingannya yang mengamuk karena kalah mendapatkan Arin. Ia kalah dan mau protes tapi karena tak punya kesempatan ia jadi mengamuk dan rasa protesnya diwujudkan lewat olokan – oloka pedas dalam surat – surat dan ocehannya.
Memang dilihat dari kualitas. Hadi sangat tidak berkualitas. Ia berambut hitam dan berkulit coklat gelap. Ia berbadan kurus memanggul tas yang berat berisi buku – buku khayalannya. Ia selalu berangkat sekolah naik sepeda dan hanya memiliki uang saku yang sedikit sehingga tak sempat menjamu teman – temannya. Dikelas ia pun sering tak punya buku sehingga suka meminjam buku teman – temannya. Daftar tugasnya kosog dan daftar nilainya sering merah.
Alfin makin merenung makin mengerti persoalannya.Hadi tak layak tapi nekat merebut Arin. Ia kalah tapi tak terima. Ia menjadi kecewa dan menuduh Arin macam-macam.
Lama-kelamaan, karena sudah tak sabar lagi, karena kesabarannya sudah habis, Arin segera menemui Hadi.
“Had, Kenapa kau lakukan semua ini? Aku minta kau hentikan semua ini.” ucapnya tegas.
“Kenapa kau suka kan?” ucap Hadi berbalik.
“Kau sudah menghabisi kesabaranku. Aku minta kau berhenti atau Alfin akan turun tangan.” tegas Arin lagi.
“Betul. Alfin nanti sepulang sekolah. Kita berbicara berdua. Selama ini kau tak pernah menggubrisku dan sekarang memintaku.memang bisa?” Ejek Hadi.
“Baiklah nanti kita ketemu.” Ucap Arin. Ia pun menatap tak suka pada Hadi. Hadi hanya memandangnya enteng.
Sepulang sekolah merekapun bertemu. Arin segera menghujani Hadi dengan pertanyaan pedas.
“Hadi. Aku minta kau menghentikan semua terormu itu. Tak lucu.. “ kata Arin.
“Sebelum itu, aku punya satu permintaan untukmu.” Jawab Hadi.
“Apa itu?” tanya Arin dengan pandangan mata tajam.
“Aku minta kau putuskan Alfin”.tukas Hadi tegas. Ia duduk di meja.
“Tak mungkin.” Balas Arin seketika.
Hadi yang melihat kekerasan di hati Arin melunak.
“Arin, kenapa kau dekat Alfin?” tanya Hadi.
“Kenapa kau cemburu ya? Cara salah setelah kalah, Had.
“Bukan itu, Rin.” potong Hadi.
“Apa?” tanya Arin galak. Ia masih marah.
“Siapa kau, Rin?” tanya Hadi Arin jadi makin bingung.
“Aku ya kau.”
“Izinkan aku cerita, Rin.”pinta Hadi. Ia beralih ke meja yang berada di pinggir dan bersandar ke tembok.
“Silahkan.” Arin menukas cepat.
“Rin, aku melakukan ini bukan karena cemburu. Aku tak cinta kamu dan tak patah hati karnamu. Kau memang cantik tapi aku tak memujamu. Akusudah punya pacar idaman lain.”
“Terus?” tanya Arin menyelidik.
“Aku melakukan ini karena aku sayang kamu, eh bukan. Aku tak mau kau celaka, Rin. Aku mengerti perasaan remaja muda yang mudah terbawa cinta dan keinginan bahagia. Tapi kau berbeda, Rin.”
“Maksudnya.” kening Arin berkerut.
“Kau siswi, Rin. Temanku. Dan satu hal. Kau muslimah, Rin. Kau jangan terlalu dekat dengan laki – laki seperti khalwat. Kau harus menjaga jarak. Pacaran itu tidak sah dalam agama kita. Kau jangan mendekatinya. Aku tak mau kau terbawa gelora arus budaya modern kasihan kau dan jilbabmu.”
“Apa?” tanya Arin mengulang yang terakhir tidak terdengar jelas.
“Jilbabmu, Rin. Ia bukan cuma kain yang melingkari kepala. Ia bukan cuma menutup aurat. Ia juga membimbing, hati dan membina jiwa. Ia adalah sahabat muslimah yang selalu setia menemani tiap muslimah. Ia identitas dan selalu memotivasi muslimah agar tetap berislam.
Ini kata – kata terakhir ini bagai sungaibening yang mengalir di hati Arin. Mengalir mengisi lekuk – lekuk hati yang telah mengeras dan membasahi pohon – pohon perasaan yang kering dan kembali segar.
Arin terdiam sampai tak bisa berkata – kata. Ia tercengang cukup lama memikirkan kata – kata Hadi. Ia tak memikirkannyatapi kata – kata itu begitu saja memasuki hati dan pikirannya tanpa bisa dicegah. Ia pun berdiri kaku.
“Dulu kita dan teman – teman bisa bicara, Rin. Tapi sekarang frekwensi bicaramu dengan teman – teman turun dan dengan aku nyaris tak pernah. Sekarang aku tak akan menulis surat apapun lagi padamu. Aku tak aakn menuduhmu lagi. Semua terserah padamu. Hadi berkata pelan dan menatap Arin.
Arin tak sempat berpikir apa – apa. Alfin muncul dan merangkul Arin. Ia memandang Arin membawanya pergi. Ia menoleh pada Hadi lalau kembali memapah Arin pergi meninggalkan Hadi tetapberada di dalam sendirian.
Hadi bergumam sebentar,” Dulu dia Rohis.”

Originally posted 2007-09-17 17:29:00.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *