di pantai

Aku berdiri lagi. Di sisni. Di pantai pagi hari. Ombak bersahut- sahutan menyambut menyambar kakiku, merambat membawakan kerang-kerang dan pasir menelusup ke sela- sela jariku. Meninggalkannya di sana tanpa membawanya kembali. Angin yang berhembus di pagi ini sungguh dingin sekali

Aku mengenang kembali. Masa-masa indah waktu kecil aku ke pantai walau bukan pantai ini. Bermain ombak dan pasir bersama teman- teman sepanjang hari membuang energi mengukir memori untuk kebahagiaan. Masa kecil itu sungguh indah. Membuatku tak rela melepasnya. Mendorongku berusaha kembali merengkuhnya walau tak mungkin diraih.
Aku berdiri lagi. Di sini. Kini aku tak bisa lagi duduk dan bermain pasir. Bercampur mempermainkan air. Aku sudah memasuki usia dewasa. Tak bisa lagi bermain. Banyak hal yang harus kukerjakan. Banyak urusan yang harus kuselesaikan.
Namun itu tak membuatku berduka. Karena kebahagiaanku tetap ada. Kebahagiaan orang dewasa bukan karena bermain, tapi karena cinta, prestasi, persahabatan dan hikmah di balik musibah. Pekerjaan yang berat akan terasa bahagia jika hasilnya baik dan dilakukan untuk orang yang dicinta.
Ombak berdebur menghantam kesadaranku. Membawa kenangan masa kanak-kanakpergi dan takkan pernah kembali. Bisnisku menanti. Masa depanku memanggil. Walau kadang
kurindu masa lalu, tapi memperjuangkan masa depan lebih baik dan menyenangkan. Semua untuk mendukung kebahagiaan hakiki.

Mungkin suatu hari nanti aku akan ke sisni lagi. Ke panati lagi. Walau tak harus panatai ini. Namun esensinya tetap sama. Ombak yang berdebur bertalu-talu. Horizon langit dan bumidi mana aku bisa memandang ke segala arahtanpa halangan. Merenungkan kebesaran Tuhan dan dunia, peringatan perjalanan hidup ke seberang lautan, seberang usia, mengingat umurku yangmau tak mau akan menua. Saat itu aku akan bersama Dewiku, yang kucintai akan melalui laut bersama.
Laut ini, pantai ini menyimpan sejuta perasaan, pikiran dan pengalaman bersama rahasia yang tak mampu kutumpahkan hingga kulepaskan ke udara angin laut. Ombak-ombak mengangguk mengerti. Menyambut melambaikan tangannya tersenyum padaku. Kami mengerti. Kami menunggumu di sini.
Saat itulah aku akan merasa tenang. Aku pun melangkahkan kaki pergi meninggalkan pantai. Selamat tinggal, pantai. Moment ini akan selalu kuingat. Kelak kita akan bertemu lagi. Akan kupenuhi janjiku bahwa kita akan bersama bertiga. Aku, Kau dan Dewi. Kelak kita akan bertemu. Di duinia ini, di akhirat nanti.

Originally posted 2008-07-05 00:15:00.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *