di balik map

perlahan pintu terkuak. seorang pria melebarkan pintu sedikit dan melihat ke dalam. ia memakai kemeja putih yang kusut dan celana hitam berikat pinggang dari kulit berwarna hitam. ia tak memakai dasi kerja dan rambutnya berantakan. engan telanjang kaki ia melangkah ke dalam.
dilihatnya wanita yang dicarinya. seorang wanita tengah tertidur pulas dengan berselimut kain yang cukup tebal dan nyaman untuk menghangatkan tidurnya di malam ini. wanita itu memakai gaun tidur berwarna pink berlengan panjang. kepalanya di taruhdi atas antal biru yang empuk. lelap ia tertidur.
si pria mendekati istrinya itu. ia menatap wanita berkulit putih berambut hitam kecoklatan yang dicintainya. wanita itu adalah sitrinya. pria itu mengecup keningnya. ia berlutut.
ia berucap,” Maafkan aku, Sheila atas perbuatanku tadi ketika kita makan malam bersama putra kita. aku sungguh-sungguh tak bermaksud melakukan itu. aku sedang pusing. pekerjaanku banyak sehingga aku tak bisa berpikir dengan tenang. banyak hal yang mengganggu pikiranku.”
pria itu menunduk.
” aku tahu masakanmu tadi sangat enak. gambar Andrew tadi sebenarnya sangat bagus dan kreatif. cuma aku tak bisa melihatnya dengan jelas. perasaanku sedang terbebani proyek besok.
aku sebenarnya menyadari selama ini kau selalu memimpikan kehidupan yang lebih baik. kau selalu berharap aku akan menjadi suami bagimu dan ayah bagi Andrew yang isa memembuatmu aman ketika bersamaku seperti yang kita ucapkan waktu menikah dulu.
dulu ketika muda aku selalu berusaha mencari pekerjaan yang bergaji tinggi dan memiliki tunjangan yang bagus sehingga kehidupan kita akan selalu aman tidak akan kekuarangan sesuatu apapun dan kelak kita akan membeli segala yang ita impikan. aku terus bekerja mencari perusahaan sampai aku menemukan perusahaan yang cocok. kemudian aku berusaha naik jabatan agar bisa menghidupimu dan keluarga kita lebih banyak. tapi, semakin tinggi posisiku, semakin banyak pekerjaanku dan kita semakin terpisah. aku jadi sering harus meninggalkan kalian berdua.”
” kuharap aku tidak menjadi romeo ketika membawa segalayang kau inginkanselama ini.. ketika kau sudah tak bisa kembali lagi dan di sana…”
” kau tahu aku sungguh-sungguh mencintaimu dengan seluruh isi hatimu.” pria itu makin merasa bersalah.mata wanita itu mulai terbuka. pelupuk matanya bergerak-bergerak. ia bangkit dari tidurnya. walau rasa kantuk masih tampak dari tepi garis matanya, ia tersenyum pada suaminya. ia mengulurkan kedua tangannya.
pria itu menyambut uluran tangan istrinya dan memeluknya. dada, jantung dan hati mereka bersatu saling merasakan perasaan satu sama lain. terasa begitu melegakan ketika merasakan hati orang yang dicintai.
” Tenanglah, Dani Sayang. aku mengerti apa yang membuatmu berbut demikian. kau pulang kerja dan masih punya banyak masalah dan butuh waktu untuk istirahat. aku juga minta maaf karena tadi berbuat salah dan menyakitimu.” Sheila menghibur Dani.
” sayang, sekarang aku benar-benar membutuhkan bantuanmu untuk menyelesaikan masalah keuangan dan masa depan kita, termasuk putra kta. is sudah 8 tahun dan tahun depan akan masuk kelas 4. guru-guru merencanakan biaya sekolah akan naik.” ucap Dani.
” tunggu sebentar, sayang. biar kuambilkan teh untukmu.”
Sheila bangkit menuju dapur. Dani dengan senang hati mengijinkan Sheila keluar. ia bahagia punya istri yang pengertian.
” baiklah. bantuan apa yang kau butuhkan untukmu? tanya Sheila setelah memberikan teh kepada Dani. Dani menyeruput the kemudian bertutur.
“ bagaimana menurutmu seandainya aku membuka usaha baru? Aku sudah bosan dengan gaji tinggi tapi tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Seolah kita hidup hanya untuk membayar kredit dan kebutuhan hidup terus naik. Padahal kita punya rencana masa depan kan?” dani menatap lekat-lekat mata Sheila.
“ Sebentar, sebentar! Kamu tidak bermaksud mengundurkan diri dari kerja kan?”
“ Aku tak tahu. Karena itu aku membutuhkan bantuanmu. Kita tidak mungkin hidup begini terus. Aku tak mau lagi menghabiskan 8 jam sehari sampai liburan pun hanya 2 minggu pertahun. Ketika nak kita libur, aku tak bisa menemani. Ketika putra kita ikut pertandingan, aku tak bisa mendukung. Bahkan ketika pulang, aku tak bisa sepenuhnya meluangkan waktu untuk bergembira bersama kalian. Aku tak mau lagi pusing karena pekerjaan yang membuatku bertengkar denganmu dan putra kita.
Aku ingin membuka usaha agar mandiri, menjadi bos dan penghasilan kita bisa naik. Kita bisa kaya dan tak perlu lagi pusing memikirkan kerjaan dan hidup menambal hutang.”
“ lalu, apakah harus sekarang…” Sheila menaruh tangannya di tangan Dani.
Dani mengangguk pelan.” Sayangnya Iya…”
Ia mengeluarkan surat tagihan rawat inap atas nama Bapak Suryo, ayah Dani. Nominalnya 13 Juta.
“ Ini? Ini ayahmu?” Sheila terkesiap. Dani mengiyakan.
“ Kenapa baru bilang sekarang?”
“ Aku tak ingin membuatmu sedih. Aku laki-laki. Aku harus menanggung semua ini sendirian.”
Sheila melihat tanggal perawatan di surat tagihan itu.
“ dan ini sudah 2 minggu. Jika tidak dibayar, ia harus dipulangkan. Ya Ampun Reno, kau tahu kan orangtuaku punya uang? Kita kan bisa minta tolong mereka agar bisa membayarkan uang rumah sakit itu. “
Sheila menatap ke arah lain.
“ Bisakah, sayang?” Dani mengulangi pertanyaannya.
Sheila menarik napas dalam-dalam,” kita tidak bisa secepat itu, Sayang. Kita tidak bisa kaya mendadak, apalagi untuk kesembuhan dalam satu- dua minggu. Kita butuh kesiapan sejak dulu untuk menghadapi kebutuhan mendadak seperti ini.”
“ Sial!”
Dani berdiri mondar-mandir memutar otak mencari cara agar bisa membayar tagihan. Di saat terdesak seperti inilah manusia baru menyadari kebutuhan uang tambahan.
Sheila bangkit menuju lemari perhiasan. Ia membuka lemari dan mengambil sekotak perhiasan logam mulia. Ia memegang sekotak penuh dan diserahkan pada Dani.
“ Sayang, Juallah ini!”
“ Jangan! Tidak! Tidak! Itu milikmu. Ini tanggungjawabku sebagai seorang anak kepada ayahnya.” Tolak dani.
“ Sayang, ayahmu sedang membutuhkan uang daripada aku. Sekarang biarkan kita tukarkan semua ini dengan kesembuhan ayahmu.”
“ Aku tak bisa menerima ini. Ini maharku waktu dulu menikah denganmu.”
“ Tapi ayahmu lebih penting.” Sheila bersikeras.
Dani tak kuasa menolak permintaan wanita tercantik yang paling dicintainya tersebut.
“ baiklah. Terimaksih. Pengorbananmu takkan kulupakan.” Dani memeluk Sheila. Di malam itu kehangatan cinta mampu menyatukan dua hati dan menyelesaikan masalah.
“ Sekarang kita ke rumah sakit!” Cetus Sheila tiba-tiba.
“ Apa?” dani kaget mendengar keputusan secepat kilat itu.
“ Sayang, kita harus segera menjenguk ayahmu. Apalagi sudah dua minggu. Ayahmu pasti sudah bingung tak melihat aku menjenguknya selama ini. Lagipula kau menyembunyikannya dariku agar aku tak tahu. Sekarang aku sudah tahu.”
“Baiklah.“
Mereka segera ganti baju untuk bersiap-siap ke rumah sakit. Dani memakai dasinya dan jasnya sedangkan Sheila memakai sweater ungu, jas dan rok selutut berwarna hitam. Tidak mewah tapi ringkas dan elegan.
Mereka segera mencari toko emas dan menjual sekotak perhiasan Sheila. Mereka segera mendapatkan uangnya dan langsung ke rumah sakit tempat ayah Dani dirawat.
Mereka menuju rumah sakit Budi Raharja. Begitu tiba mereka memarkir kendaraan mereka dan masuk ke loket dan naik ke lantai lima. Di ruang 503 Pak Surya di rawat.
“ Kamu duluan ke kamar 503. Aku akan melunasi pembayaran dulu. Nanti kamu kusul.” Kata Dani.
“ Tidak! Aku ikut!” tolak Sheila.
“ Sheila, sekarang kamu ingin ketemu ayah kan?”
“ Tapi Kamu?”
“ Sudahlah. Cuma membayar saja.” Dani mundur.
Sheila melepas tangan Dani,” baiklah.”
Dani melunasi pembayaran rumah sakit kemudian menuju kamar 503.
“ Ayah…” seru Sheila ketika melihat Bapak Suryo.
Dilihatnya lelaki tua gemuk lemah itu terpasangi selang dan infus di sana sini. Tubuhnya begitu lemah. Ia masih tak sadarkan diri. Kata dokter ia masih kritis. Ia perlu menjalani beberapa pemeriksaan.
“ Ia masih tidur, Sayang. Biarkan ia istirahat dulu.”
Sheila mendengarnya. Ia melepaskan pelukannya. Ia berganti memeluk Dani sambil tak mengalihkan pandangan kepada mertuanya tersebut.
“ makasih atas pertolonganmu tadi. Kalau tidak ada bantuanmu, aku tak tahu bagaimana harus menangani semua masalah ini. Mungkin aku harus merawat di rumah dengan sekedarnya.” Dani mencium kening Sheila.
“ Sheila mencoba tersenyum dalam pelukan Dani.
“ Dan terima kasih atas saranmu tadi. Sekarang aku sadar aku harus kaya untukmu, ayah dan Doni putra kita. Suatu saat kalungmu akan kukembalikan.” Ucap dani untuk yang terakhir.
“ Aku selalu mendukungmu.” Dukung Sheila.

Originally posted 2007-10-11 17:30:00.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *