CURHAT KE ORTU? NO WAY!

Banyak orang, psikolog, sahabat  menyarankan remaja yang bermasalah untuk curhat kepada ortu. Siapa tahu ortu punya pikiran lain yang bisa kasih solusi. Alasannya ortu adalah orang yang paling deket sama remaja, sudah tahu rasanya remaja, sudah tahu rasanya hidup dan masalah-masalahnya. Mereka telah mengalami pahit mansinya dunia remaja, kerasnya dunia dewasa dan indahnya menemukan cinta sehingga mereka lebih bijaksana untuk menasehati kita.

Begitu banyak buku, artikel, diskusi, sms, email, serial, sinetron, program tv yang menyarankan tips pentingnya curhat ke ortu. Katanya semua masalah bisa selesai bila dibicarakan dan saling membuka pikiran untuk komunikasi sehingga timbul pikiran kreatif yang mungkin bisa menemukan jalan untuk menyelesaikan masalah. Diskusi itu sangat bermanfaat sekali. Minimal bisa mengurang beban pikiran dan hati.

Memang curhat, bercerita, mencurahkan isi hati adalah satu tahap pentinga dari penyelesaian masalah. Dengan mencurahkan isi hati. Perasaan, semua beban di hati akan berkurang sehingga pikiran dapat lebih berkonsentrasi kepada solusi daripada situasi dan kondisi. Pikiran jadi segar jalan pun lancar.

Untuk soal itu saya setuju dengan pentingnya curhat. Malah saya banyak menghasilkan banyak karya, artikel, cerita dengan mengcurahkan segala isi hati, perasaan dan pikiran ketika menghadapi masalah. Kreativitas muncul segera ketika mencurahklan masalah itu di kertas dan banyak muncul ide-ide. Jujur ini lebih baik daripada memendam di hati. Saya tahu banyak rasanya memendam masalah sendiri di hati dan tidak menceritakannya pada satu orang pun karena saya terus-menerus mengalaminya selam ini sampai sekarang seumur hidup. Saya tidak mempunyai sahabat yang bisa diajak berbagi cerita. Tidak ada seorang pun yang bersedia mendengarkan cerita saya dan orang tua yang mau memahami saya.

Bercerita ke ortu? Itu adalah larangan pertama psikologi saya. Keahlian dan hobi saya adalah memendam masalah dan menundanya. Nantinya kalau pun mendesak baru saya tulis di artikel atau pun cerita. Jika masalah itu sudah membesar, saya tinggal bunuh diri. Soal alasan tidak mau bercerita ke ortu? Itu adalah alasan sikap dan watak juga kondisi.

Orang tua saya adalah orang yang sibuk. Mereka kerja siang malam untuk hidup. Pikiran mereka sudah penuh dengan pekerjaan. Uang adalah satu-satunya topik mereka. Ketika pulang mereka berharap dapat beristirahat dengan tenang untuk mengistirahatkan pikiran dan mempersiapkan badan dan tenaga untuk besok pagi. Huuh.. capeknya.

Melihat meeka istirahat, saya jadi tak tega dan tak mau melibatkan mereka walau masalah itu sebenarnya sudah sebesar gunung, kecuali msalah uang. Kalau masalah uang itu sudah jadi kewajiban mereka dan bagian mereka. Mereka tahu saya belum bekerja, malah mereka melarang saya. Jadi saya selalu minta uang pada mereka.

Orang tahu saya hanya boleh tahu seputar keuangan dan kegiatan saya. Ada acara kemah minta uang, ada penelitian minta uang, minta uang buat rental, warnet. Pen habis minta uang. Cuma itu yang mereka tahu dan Cuma itu yang boleh mereka tahu. Itu adalah satu-satunya opik pembicaraan saya dan orang tua saya di rumah. Di luar itu, tak ada sama sekali.

Kamar saya berisi komputer rusak, meja belajar, lemari pakaian, lemari buku dan kasur. Persis kamar hacker yang sering ditampilkan di tv-tv.dengan itu saya mencoba mengapresiasikan diri lewat hacker. Saya gimana, saya siapa, dunia saya gimana, perjalanan hidup saya gimana. Jawabnya: saya hacker, filsuf, penulis. Saya pendiam dan punya impian yang besar sehingga menjadi orang imajinatif. Dunia saya adalah kamar saya, masjid, sawah dan warnet. Kamar adalah tempat saya mengimajinmasikan dunia saya. Saya bebas di sana. Tidak ada yang boleh melanggar privasi dan hukum milik saya di sana. Di kamar saya bekerja, makan, bersenang-senang dan tidur. Saya harap saya bekerja jadi programmer, jual beli proyek lewat transfer mail dan membayar lewat rekening digital. Makanana dipesan lewat telepon dan langsung dibayar. Semua dikendalikan dari dalam kamar.

Ngomong ke ortu? Itu menyeberang dunia. Ortu adalah dunia orang tua. Mereka kejam , keras, kasar, trak berperasaan dan suka menghina seenaknya.mereka tidak mengerti dunia anaka muda sekarang. Mereka kolot. Mereka memandang dunia dari sudut pandang yang berbeda sehingga mereka melarang-larang anak muda aktif dan menikmati masa muda mereka.kaum agama juga bilang begitu. Mereka tidak memahami saya.

Lalu saya mencoba mencari sahabat di sekolah. Tampaknya banyak sekali teman-teman yang bisa dijadikan sahabat tempat curhat. Saya mencoba bergaul dengan mereka dan berkenalan dengan mereka. Tapi tenyata tak bisa. Perbedaan kami terlalu nyata dan mencolok. Aku tak bisa melawak sedangkan mereka minta lelucon. Aku suka topik yang berat sedangkan mereka suka topik yang enteng-enteng saja. Sekian lama kusadari, dunia kami berbeda, pikran kami berbeda, tata cara berpakaian, cara makan, cara berjalan, kami berbeda hingga makanan kami berbeda. Lalu dengan berat hati kuputuskan kami berpisah.

Aku pun menemukan internet, orang asing yang mau menerima segala kata-kataku. Jarang sekali ada orang yang mau begini pada saya. Saya pikir bahkan mustahil ada orang yang sesabar ini mau mendengar saya. Saya pun cepat tertarik dan beralih ke dunia impian  saya dan lari dari dunia nyata. Dunia maya sangat menyenangkan.

Evil loves me better than angel hates me

Setan yang mencintai saya dan menemani sayalebih baik daripada malaikat yang membenci saya. Itu karena saya sudah sekian lama kesepian sehingga teman seburuk apapun akan kudekati. Cinta, persahabat, kesetian , saya sudah mengerti arti itu semua. Tapi malah saya yang tidak mendapat apa-apa.

Kata agamawan jangan berteman dengan setan karena akan membawa ke neraka. Tapi kalau begitu saya akan berteman dengan siapa? Apakah ada yang mau bersahabat dengan saya?

Vian , tapi kini kamu dingin sekali.

Winterwing. Winter and silent student. Itulah tag saya. Terjemahan bebasnya salju dan pelajar bisu. Mungkin arti harfiahnya tidak tepat tetapi kata-kata itulah yang nuansa dan perasaannya benar-benar menggambarkan emosi dan perasaan saya yang dingin, tenang, dalam tetapi memendam ranjau. Sahabat yang dinanti tak datang ke sini. Selamanya saya akan di sini.

Originally posted 2008-02-08 03:11:00.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *