cewek ideal

“Ayo, No!” ajak Ega.

” duluan aja. nanti aku susul.” sahut Reno.

seusai pelajaran selesai Reno mengeluarkan binder dari tasnya. dia membuka binder itu. di sana ada kertas kecil bergambar kartun berupsa seorang cewek bermata besar. cewek itu mengacungkan dua jari berbentuk huruf V. cewek itu berponi dan rambutnya panjang sampai punggung. cewek itu memakai kaos lengan panjang warna putih dirangkap rompi warna pink. cewek itu duduk memakai celana panjang warna biru sampai kakinya. di sebelah cewek itu ada kata-kata:

I’ll always love you

I love you always forever

near and far

closer together everywhere

I will be with you everything

background cewek itu adalah pelangi dan warna pink.

“semoga aku kelak akan menemukanmu, putri hatiku, wanita pujaan hatiku.” harap Reno. dia kemudian melihat jam. sudah waktunya sholat kemudian latihan jurnalistik.

di ruang jurnalistik Reno iseng-iseng buka komputer. dia melihat-lihat gambar-gambar di sana, barangkali ada yang lucu-lucu, pemandangan yang bagus, wallpaper dan sebagainya. dia menemukan lebih. di sana ada wallpaper anime seperti one piece, inuyasha, detective conan, samurai X. ada juga foto artis-artis jepang, indonesia, karakter game, artis holywood. tak ketinggalan foto-foto SMA Satria beserta aktivitas siswa-siswanya.

tanpa sengaja Reno menemukan foto cewek yang dia kenal.

“Meta? kenapa fotonya ada di sini?”

Meta nama lengkapnya Meta Rika Permadi. dia adalah ketua kelas 10-A. dia cantik, pintar, kaya, gaul. dia asalnya dari SMP Aryapati, sekolah yang sama dengan Reno. Reno pernah melihatnya di buku alumni.

Meta di foto itu memakai kaos lengan pendek warna oranye. di belakangnya adalah Kharisma dan Karin. Kharisma memakai jaket putih dan Karin memakai jaket hitam. waktu itu adalah pagi-pagi ketika acara bersih-bersih kelas menjelang dies natalis sekolah. Reno menemukan foto lain Meta. ada foto Meta waktu MOS. cewek itu masih memakai seragam olahraga SMP Aryapati warna putih hijau. rambutnya diikat dan dia berkeringat membuatnya tambah menarik. ada lagi foto waktu dia membaca puisi di kelas dengan seragam pramuka dan berkacamata.

“siapa yang dapat foto ini?” pikir Reno bertanya-tanya.

“kamu suka foto ini?” Ega muncul di belakang Reno.

“Eh, Ega. nggak kok.”

“kalau suka ambil aja!” celetuk Ega.

“kamu yang ngambil?” tanya Reno.

“yoi.”

“oke.”

di rumah Reno membuka buku alumninya lagi untuk mencari tahu lebih banyak tentang Meta.

kelas 9D nomor absen 16.

Nama: Meta Rika Permadi

TTL: Patria, 15 Oktober

Alamat: Jl. randu C – 10, blok Wonorejo

No. Telp: xxxx – xxxxxx

“apakah Meta adalah tipe cewek idealku?” pikir reno

menurut kartun itu, cewek idaman Reno adalah cewek yang kalem, lembut, perhatian. cewek itu cewek yang serius dan tidak suka main-main. cewek itu bajunya tertutup seperti lengan panjang dan celana panjang. jadi yang tank top dan hot pant minggir. fisik cewek itu adalah berponi, rambut panjang hitam lurus, wajah putih cantik, bertubuh kurus, langsing, tinggi sedang.

kalau Meta, Meta itu cewek yang bisa seperti itu juga. secara fisik emang oke sih. lagian dia punya banyak nilai plus-plus. udah cantik, pinter, kaya, terkenal, gaul lagi. kayak-kayak dia itu superstar di sekolah. baru masuk belum satu semester di sekolah tapi penggemar, kenalan dan teman-temannya udah hampir satu sekolah. groupnya juga keren-keren seperti Kharisma dan Karin. Kharisma anak guru seni cantik dan pintar menggambar. Karin agak tomboy. trio mereka kemana-mana selalu bersama. mereka akrab dengan teman-teman sekelas, seangkatan beda kelas bahkan dengan senior-senior.

Emang gak salah dia terkenal. dulu kelas 9D di SMP Aryapati juga kelas elite. hanya yang paling pintar yang masuk di sana. jadi di sana langganan juara. sekarang hampir semua siswa 9D dan SMP Aryapati masuk SMA Satria. kelas ini adalah kelas juara. Niki, Ega, Vega, Tria dan Shelly juga dulunya 9D.

Meta dulu yang bikin lagu yel-yel waktu dies natalis. Reno masih ingat sedikit lirik yel-yel waktu itu. liriknya diambil dari lagu project pop

Man tareman-tareman !

Karawang-karawan !

Yang disirini, yang disarana, dimana-mana

Mo cabut dulu, entar dulu, gile aje lu, aje gile lu

Dengerin dulu sebuah lagu kamu harus setuju

Don’t be shy,ih malu-malu, kayak scooby doo be doo

Siapa gak mau senyum, siap-siap ta’ cium

Siapa gak mau senyum, siap-siap ta’ cium

U… Benci aku

U… Sebel aku

U… Keki aku

U… BENCI!!!

“apakah Meta adalah cewek yang tepat? yang seperti di gambar itu? apakah dia cewek idealku? aku harus mencobanya.”

di kelas Reno memperhatikan Meta mencari keunikan cewek itu. apa ya yang menarik dan unik dari ketua kelas itu?

oke sih dia punya semua nilai plus itu. tapi itu justru bikin Meta nggak keliatan matching dengan dirinya. Meta itu superstar sedangkan dirinya bukan siapa-siapa.

“apakah mungkin seorang biasa menjadi pacar seorang superstar?” pikir reno mengingat lagu lain dari band yang sama itu.

cewek anggota paskibraka itu duduk di sana, hanya tiga bangku di belakangnya di seberang deret, tapi jauhnya seperti langit dan bumi. cewek itu ngobrol biasa dengan teman-temannya tapi kayak beda kelas. dia di langit sedangkan Reno di dasar lautan. Meta kaya sedangkan Reno miskin. Meta gaul sedangkan Reno kuper. apa bisa Reno mengikuti gaya hidup Meta? nanti kalo Meta minta diajak makan bareng di kafe atau resto mewah gimana? atau dia minta hadiah? boneka beruang bisa aja kecil dan imut tapi harganya? Reno sendiri gak pernah beli nasi di kantin. soalnya uang sakunya gak cukup, apalagi buat beliin makan cewek dan dirinya di tempat-tempat borju gitu. terus nanti kalo Meta minta diajak main ke tempat rekreasi gimana? kayak mall, ke gunung, ke pantai, ke air terjun. uang mana lagi buat itu?

How how how berat di ongkos

Cintaku berat di ongkos

Duit cukup modal cinta ala sinetron India

Tinggal nyanyi dan menari langsung jadi kekasihnya

 

“ah, entahlah. aku sebaiknya nggak mikir sejauh itu dulu. mungkin sebaiknya aku ngajak ngobrol dulu sama dia. yang penting bicara dulu. aku harus memeriksa apa dia sama dengan karakter kokorohime-ku.” putus Reno.

Reno menunggu kesempatan untuk bisa berbicara dengan Meta. hanya berdua. soalnya nggak boleh ada yang tau. teman-teman jurnalistiknya nggak boleh tau. mereka bisa ember. Kharisma dan Karin juga nggak boleh tau. bisa malu-maluin kalo tau. untuk itu butuh waktu sendiri. mereka bertiga harus dipisahin biar tersisa Meta doang. waktu pulang mungkin waktunya.

sepulang sekolah ternyata Meta terus dikawal kedua temannya itu ditambah Shelly. mereka latihan ke ruang paskibraka.

“hoi, Latihan!” tegur Ivan.

“iye iye.” Reno berbalik mengikuti cowok berkacamata itu.

latihan jurnalistik selesai jam 3. Reno pulang lewat lapangan sekolah. dia melihat Meta masih berdiri di tengah lapangan bersama yang lain. reno berniat menungguinya tapi laper sudah memegang perutnya membuatnya harus segera pulang.

besoknya ternyata sama. beberapa hari terus begitu membuat Reno tak bisa lagi menggunakan cara yang sama. dia harus pakai cara lain.

“aku harus ke rumahnya!”

maka reno segera buka buku alumni lagi.

“Distrik Randu itu di mana ya? aku tahu blok Wonorejo, tapi aku tahunya distrik Jati. kalau Distrik Randu? aku harus tanya seseorang.”

Reno mencoba tanya ke Ivan. sore-sore cowok itu bersepeda ke rumah kariakturis jurnalistik itu.

“hai, Van.” sapa Reno di halaman rumah Ivan.

“tumben mampir. ada apa? Ayo masuk.”

“oke.”

Reno masuk dan melepaskan tasnya. Ivan duduk di depannya.

“ada apa?”

“van, kamu tau nggak rumahnya Meta?”

“rumahnya Meta? tau.”

“di mana?”

“Jl. randu C-10. Distrik Randu.”

“distrik Randu itu di mana? aku tahu blok Wonorejo dan blok Jati, tapi nggak tau distrik itu.”

“kamu jalan dari jalan utama blok pahlawan. itu lo yang lurus dari pasar kartini ke timur terus ikuti terus sampai lurus. nanti akan sampai di distrik jati.”

“iya aku tahu jalan itu.” sahut Reno.

“ikuti terus jalan itu. nanti kamu akan ketemu pasar. sebelum pasar akan ada gang ke utara yang ada gapuranya. itu jL. Randu C. rumahnya nomor 10. kamu bisa lihat atau orang-orang di sana.”

“oke. makasih.”

“kamu mau apa ke sana?”

“nggak apa-apa.”

“kamu ingat besok ulangan dan banyak PR?” tanya Ivan.

“eh, iya ding. besok ulangan dan banyak PR ya? harus belajar nih.”

rencana malam itu jadi batal. sebagai gantinya malam ini belajar bersama Ivan. untung reno bawa bindernya jadi bisa ngerjain PR di rumah Ivan.

bagaimanapun Reno harus terus belajar tiap malam, jadi dia nggak bisa sembarangan hari ke rumah Meta. rumah Meta yang segitu jauh butuh waktu lama. kalau berangkat sore sampai rumahnya malam, terus gimana belajarnya? atau kalau mau belajar bersama pulangnya akan jauh malam. butuh waktu lama dari Wonorejo ke blok Sekar tempat tinggalnya. kesempatannya jadi cuma satu hari, hari minggu. bahkan malam minggu aja juga nggak sempat.

minggu pagi dengan alasan bersepeda santai dan olahraga Reno berangkat menemui cewek metropolitan itu. dia mengayuh sepeda di jalanan yang semakin mendaki disengat sinar matahari yang makin tinggi. badannya sudah berkeringat namun dia tak peduli. nanti rencananya dia akan mencari mushola atau masjid lalu numpang mandi di sana terus sekalian dandan jadi keringetnya akan terhapus.

sekitar empat puluh menit dia sampai dia melihat pasar di kejauhan. arinya dia sudah dekat. dia juga menemukan mushola di dekatnya. dia belok untuk membersihkan keringat dulu baru dia melanjutkan perjalanan. dia mencari gang yang ada gapuranya. begitu ketemu dia periksa nama jalannya. JL. Randu C. beneran ini jalannya. reno masuk.

Reno menengok kiri kanan jalan. rumah-rumah di situ sudah dipasangi nomor. ada C-1, C-2, C-3, C-4, ih rumah teroris. kayaknya nyimpen bom tuh. reno terus hingga sampai rumah C-10. itu dia rumahnya. rumah dengan pagar teralis besi putih. kelihatan ada dua mobil di dalamnya. dua-duanya avanza. satu hitam satu krem. gerbangnya ditutup. di sebelah halaman ada toko elektronik yang terhubung dengan halaman itu. mungkin yang punya toko itu orang tua Meta. Reno berhenti di depan toko.

“permisi.” salam reno.

“ya.” seorang ibu menoleh pada Reno.

“Bu, di sini rumahnya apa Meta, ya?” tanya reno.

“ya. sampeyan siapanya ya?”

“saya teman sekolahnya. kami satu kelas. Meta apa ada ya, Bu?”

“Meta barusan keluar lo, Nak.”

“ke mana ya, Bu?”

“ke sekolah buat latihan paskibraka.”

“Aduh! lupa aku! dia juga latihan hari minggu! tau gini aku nggak usah ke sini tadi.” batin Reno.

“Ada pesan, Nak?” tanya ibu itu.

“tidak, Bu. terimakasih. permisi.”

reno ingin cepat-cepat pergi dari sini. dia cepat mengayuh sepeda keluar gang balik ke pusat kota tempat tinggalnya. hancur deh harapan hari ini. misi gagal.

“jadi udah gak ada celah ya? di sibuk terus tiap hari. apa dia gak butuh istirahat? dia selalu ada yang ngerubungin kayak semut aja. dia juga selalu gerak kayak gak capek aja.” bayangin gitu Reno capek sendiri apalagi bener-bener melakukannya.

keesokan harinya reno memandang Meta dengan tatapan tegas. keputusan harus diambil hari ini. hari ini harus ketemu, harus ngomong walau sekedar kenalan. dia harus tarik Meta menjauhkannya dari kedua bodyguard-nya itu. udah gak bisa ditunda-tunda lagi. nanti keburu Meta diambil orang lain, apalagi kakak-kakak senior. mereka kan tiap hari bersamanya? mustahil mereka nggak tertarik padanya la wong mereka akrab gitu.

pokoknya nanti harus berusaha. apapun hasilnya akan ia terima. toh ini cuma permulaan, bukan nembak jadian buat jadi pacar. yang penting bisa berusaha. kalau gak berbuat gak akan ada hasilnya dan gak bakalan ada kepastian.

“tapi nanti ngomong apa?”

reno bingung ngomong apa soalnya dia gak pernah ngomong sama cewek. dia gak punya bahan atau becandaan apa. dia harus cari bantuan. Hesti. mungkin cewek itu bisa bantu. jam istirahat Reno mencari cewek dengan rambut diikat di belakang itu di kantin.

“Hesti, kamu bisa bantu aku nggak?” tanya reno.

“bantu apa?”

“aku mau ngomong sama cewek tapi aku gak tau cara mulainya. cara mulainya gimana, ya?”

“siapa? siapa?” tanya Hesti penasaran. insting jurnalistik cewek ini aktif.

“nggak penting siapa dia.”elak reno.

“Ayo kasih tau!” bujuk Hesti.

“bukan siapa-siapa.”

“kalo kamu nggak kasih tau aku nggak mau bantu.” ujar hesti bersilang tangan di dada.

“kok gitu?”

“terserah!”

terpaksa deh reno menyebutkan namanya: Meta.

“ketua kelas? yang sekretaris OSIS dan anggota paski itu?” Hesti tekejut.

“Ssst! jangan keras-keras! nanti yang lain tau.”

Hesti berusaha menahan tawa. setelah tenang baru dia ngasih tips.

“kalo ngomong sama cewek itu jangan pernah langsung to the point! jangan langsung bilang kamu suka sama dia soalnya dia kan belum kenal sama kamu.” tips pertama Hesti.

“siapa bilang aku suka sama dia?” bantah Reno.

“udah deh. lanjut. kalo ketemu dia tanyain keseharian dia, hobinya, sekolahnya, ekskul, lagu favorit, makanan favorit, tempat favorit, tempat hangout yang keren gitu. ” tips kedua Hesti.

“kalau dia nanya ada perlu apa aku harus jawab apa?”

“ya bikin alasan apa aja asal masuk akal. mungkin pinjam catatan, tanya pelajaran, PR, ulangan, nanya tempat buat hangout. kalian cowok-cowok kan pinter bikin modus kok malah nanya aku?”

“aku bener-bener nggak ngerti gituan.”

“makanya jangan selalu di perpus terus. sekali-kali ngongkrong sama teman-teman biar tahu yang kekinian.” omel Hesti.

“udah, deh! lanjut aja!”

“ya udah. kasih perhatian terus. tiap ketemu sapa dia, tanya kabar, kasih hadiah, tulis surat selipin di tas dia, ketik sms, telepon tanya kondisi dia.”

“oh, gitu. berapa lama?”

“sampai dia ngasih tanda kalo dia juga suka sama kamu.”

“tandanya gimana?”

“mungkin dia bales surat kamu, sms atau yang lain. banyak. terserah dia.”

“oke.”

bel memanggil keduanya untuk segera balik kelas untuk pelajaran selanjutnya.

selesai pelajaran Reno tinggal di kelas menunggu Meta selesai dan keluar. begitu cewek itu keluar dia mengikuti keluar tapi dengan jarak agak jauh biar gak ketahuan mereka. trio itu di depan dan Shelly di belakang mereka. mereka jalan ke ruang paskibraka.

ruang paskibraka berjajar dengan ruang OSIS, ruang PMR dan pencinta alam. keempatnya berdempetan dalam satu blok. ruang paskibraka nomor dua dari timur sedangkan yang paling timur ruang OSIS. keempat cewek itu masuk ruangan paskibraka. Reno mengendap-endap ke sebelah barat ruang pencinta alam.

“aku harus bisa! aku harus maju! aku cuma perlu kesana, bilang aku mencari Meta. aku mau pinjam buku catatan, tanya PR atau ulangan besok. kalau dia kasih aku akan maju tapi kalau dia nolak aku akan mundur. itu aja!” bisik Reno mengungkapkan rencananya. dia menoleh pada pintu ruang paskibraka, tapi pintu itu tiba-tiba terbuka.

anak-anak paskibraka keluar bergerombol ke halaman. mereka membentuk lingkaran. seorang kakak kelas keluar membawa Meta ke tengah lingkaran. mereka bersorak-sorai. kakak kelas itu berlutut sambil memgang kedua tangan Meta seraya berkata,”Meta sudah lama kita saling kenal. hari ini aku akan mengungkapkan perasaanku sama kamu. kamu mau nggak jadi pacarku?”

Meta malu-malu. dia menutup mulut berusaha menahan tawa, tawa bahagia, terkejut, bingung atau gimana ya? teman-teman di sekitarnya bertepuk tangan dan bersorak,”terima! terima! terima!”

di antara mereka terlihat juga Kharisma, Karin dan Shelly. mereka juga bertepuk tangan. melihat ketiga temannya, Meta akhirnya mengangguk juga.

kakak kelas itu melihat Meta,”kamu terima?’ dia tak percaya,”yeaah…!”

si kakak kelas melambaikan tangan kepada teman-temannya. mereka membalas. mereka berdua kemudian pergi berdua sementara teman-teman lain balik ke ruang paskibraka.

Reno melihat itu hanya bisa diam mematung. mau maju sudah gak ada harapan. mau mundur tapi dia sudah sejauh ini. lama-lama dia sadar dia gak bisa apa-apa lagi. lebih baik pergi. dia mau pulang lewat kantin. di kantin dia melihat Hesti sedang minum es teh.

“Hesti, kok kamu di sini?”

“ya, lagi males latihan. bosen setiap hari ke sana terus.” jawabnya sekenanya.

“kamu gimana?” tanya Hesti balik.

“dia udah jadian sama yang lain. kakak kelas.” jawab Reno.

“oh…”Hesti turut bersedih.”duduklah!”

Hesti mesenin teh hangat buat Reno.

“kamu yang sabar ya? mungkin bukan dia yang terbaik buat kamu. mungkin ada orang lain yang lebih baik dan tepat. kamu tinggal cari yang lain. suatu saat kamu akan menemukannya. pasti.” hibur Hesti.

“makasih.”

mereka menghabiskan teh bersama.

Originally posted 2005-11-25 11:09:00.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *