sang wakil

SANG WAKIL

Semua mata terfokus pada pengumuman di papan pengumuman. Laki-laki dan perempuan berjajar membaca pengumuman itu. isinya :

Untuk memperingati HUT Sekolah akan diadakan lomba apresiasi seni. Setiap kelas harus menunjukkan wakilnya. Pemenang utama akan mendapatkan hadiah Door Prize.

”Kita ikut ya, Sob!” tanya Sobirin, padahal Sob namanya sendiri.

”Nggak tahu, Ketua kelas yang ngurus,” Hamdan cuek.

”Kita pasti juara satu!” ujar cewek yang langsung muncul diantara mereka.

Cewek itu bernama Deka. Dia adalah Ketua kelas XI IA5. Dia siswi cerdas, ceria dan aktif. Jabatannya selain ketua kelas juga wakil ketua OSIS.

“Ceilee….ketua, belum mulai lomba sudah bilang juara, “cela Hamdan.

“Ayo, semua masuk kelas. Aku kasih tahu dalam lomba kita akan menunjukkan apa,“ ajak Deka.

Hamdan dan Sobirin pun mengikuti Deka masuk ke kelas. Teman-teman yang lain ikut masuk. Mereka duduk di bangku masing-masing setelah semua berkumpul, baru Deka berbicara.

”Teman-teman, sekolah kita akan mengadakan lomba Apresiasi Seni buat HUT Sekolah. Setiap kelas wajib mengirimkan satu karya. Kelas kita mau menujukkkan apa?” usul Deka mencari saran. Memang pemimpin yang demokratis terbuka dengan usulan.

”Puisi.”

”Cerpen.”

”Tarian.”

”Band.”

”Lukisan.”

”Baik semua usulan kita tampung. Nah, aku punya usul, gimana kalau kelas kita menari semuanya.”

”Apaan, sih?” celetuk dari belakang.

”Begini, puisi, cerpen, band, lukisan memang bagus. Kita hargai itu, sayangnya karya itu karya satu orang. Sedangkan semua kelas kita kan keluarga. Jadi bakalan lebih asyik, adil dan kompak kalau seluruh kelas kita tampil.”

”Wah, bagus tuch, kita semua bisa terkenal,” Richard ikut setuju pertama.

”Tapi aku nggak bisa nari, terus ngatur gerakan 30 orang gimana?” tanya Sopyan.

”Nanti kita latihan,” motivasi Deka semangat.

”Kamu, gimana Dan?” tanya Sobirin disebelahnya. Mereka kan teman sebangku.

”Kita lihat aja dulu,” Hamdan mengacungkan tangan.

”Bagaimana model tariannya?” tanya Hamdan dari bangku paling belakang, tapi bukan yang mencela tadi. Pengaruh sistem rolling yang membuat cowok analistis itu duduk di kursi paling belakang.

”Koreografi nanti diatur teman kita, Reni. Dia ikut seni tari, jadi bisa membuat gerakan tarian.”

Tepuk tangan dan tatapan kagum tertuju pada Reni. Reni berdiri dan membungkukkan kepala tanda terima kasih. Dia malu-malu menerimanya.

”Baiklah kita sudahi sampai disini dulu. Pelajaran dilanjutkan, Bu Nina sudah datang.” Deka kembali ke tempat duduk. Bu Nina sudah berdiri di depan pintu. Bu Nina membuka buku dan menerangkan pelajaran PPKn. Pelajaran berlanjut.

Beberapa hari kemudian model tarian selesai dibuat oleh Reni. Dia memperagakannya dengan sungguh diiringi musik gabungan dari berbagai lagu. Teman-teman memperhatikannya. Lalu mereka mengulangi beberapa kali.

”Bisa, Dan?” Sobirin mencoba memutar-mutarkan pinggul di baris keempat disamping Hamdan.

”Bosan, Sob. Ini sich kayak anak kecil. Aku malu goyang pinggul ini. Apalagi goyang ngebor kayak Inul. Bisa muntah aku.”

”Jangan gitu dong, demi kelaslah kita ingin juara, kasihan Deka yang sudah usaha. Reni juga susah-susah nyusun tarian buat kita,” nasehat Sobirin.

”Aku keluar sajalah, besok kalau tarian aku nggak masuk.” putus Hamdan.

”Kalau kamu nggak ikut, anggotanya Cuma 29. Ganjil lho, Dan.”

”Aku nggak peduli”

Hamdan keluar dari barisan dengan gusar. Langusng menuju ke tempat parkir dan mengambil sepeda motornya. Beberapa saat kemudian dia sudah lenyap.

”Hamdan, tunggu Hamdan!” Deka memanggil Hamdan tapi sia-sia.

“Biar aku yang kejar” Puspita langusng naik motor mengejar Hamdan.

Deka tak bisa apa-apa. Dia lalu kembali ke teman-temannya.

“Baiklah kita lanjutkan latihan. Semoga Puspita kembali bersama Hamdan.”

Teman-teman lalu meneruskan latihan dua kali seminggu. Setiap hari Rabu dan Sabtu. Terus menerus mereka lakukan agar mereka menang, kecuali Hamdan dia tidak pernah hadir. Ini membuat berang teman-temannya.

”Hamdan kamu egois sekali sich, nggak pernah latihan!” cela Oskar.

”Dasar, ngapain sich keburu pulang, mau main apa?”.

”Mau masuk rumah sakit ya?”

”Ayolah, latihan demi teman-teman.” cewek yang lebih halus meminta Hamdan.

Hamdan mendengar itu semua dengan cuek. Tak peduli sama seklai. Setelah mereka selesai bicara, dia berbalik.

”Ini peringatan dari aku, jangan sampai kelas kita nggak menang. Kalau nggak kamu yang harus bayar Door Prize itu ke kelas.”

Hamdan ngeloyor aja,”Emang gue pikirin”. Dia mengambil tasnya dan keluar.

“Hamdan…..”, Sobirin memanggil tapi tak dihiraukan. Dia pun duduk kembali.

Waktu duduk itu dia mendengar curhat Deka kepada teman sebangkunya, Puspita. Puspita Setyaningsih adalah teman sebangku Deka sejak kelas 2 SMP. dia tenang dan kalem cuma nggak ada yang tahu banyak soal dia. dia juga tidak menjabat pengurus apa-apa di kelas maupun ekskul.

“Tolong Puspita apa yang harus aku lakukan?” aku sudah kasih tahu jadwal latihan, aku sudah memohon, aku sudah motivasi, tapi dia nggak mau.”

“Sudahlah, trenang dulu, Deka,” elus Puspita.

“kamu tahu, aku melakukan semua ini demi kelas kalau menang, kelas kita akan terkenal, percaya diri teman-teman akan naik, belajar mereka semangat dan nilai mereka bagus. kita sama-sama kan? kan kalu sendirian itu bisa membuat iri dan cemburu.”

Puspita terus mendengarkan kata-kata Deka.

”Puspita, tadi pagi Pak Seno meminta formulir dari kita, aku bingung mengatasinya. dibilang 30 tapi 1 tidak mau. dibilang 29 tapi ganjil masak pinjam anak kelas lain? ini tidak benar kan? Tolong Puspita. Aku tadi sudah minta izin satu hari dengan alasan tepat kamu bawa semuanya kan?”

”Ya, aku selalu bawakan semua buat kamu kamu tenang saja.”

”Syukurlah, terima kasih Puspita,”.

”Kalau begitu, biar aku yang membujuk Hamdan kembali ke kelas kita, karena dia tokoh terakhir kelas kita.”

”Terima kasih, Puspita. Deka mengusap air matanya,” senang seklai sahabatnya bisa membantu.

Pulang sekolah Puspita mempersiapkan mental dengan sebaik-baiknya. Karena urusan ini adalah urusan kelas dan dia sudah berjanji akan membawa Hamdan kembali, Puspita harus mengumpulkan kberanian dan keteguhannya. Biarlah ini jadi latihan dan belajarku tentang hubungan sosial.

Ting-tong. . . . loonceng di rumah Hamdan berbunyi.

Hamdan menguap berjalan ke ruang tamu. Dengan kaos oblong orange dan celana tiga perempat coklat dia melewati kursi-kursi dibukanya Rina.

Halo. .! Sapa Puspita tersenyum. Wajahnya putih tersenyummenyulikkan gigi ysng putih bersih dan kelembutan wanita surgawi.

”Eh. . Ya, halo. Silahkan masuk puspita”.

”Nggak mengganggu nih,” tanya Puspita.

”nggak papa kok, mari.”

Puspitapun masuk rumah Hamdan. hamdan menutup pintu dan dudukdi sebelah meja dengan Puspita.

”kok tahu rumahku di sini?.

”ya tahu doong, teman sendiri.

”Sebelumnyakan nggak da yang pernah ke sini.

”Aku tanya-tanya orang. Aku punya database semua informasi teman-teman”.

”Wah, hebat bener. Bisa tahu semua dong. tahu tanggal lahirku?

”20 Februari kan? Tebak puspita.

Tepat. ha. . ha.

”oh ya, Dan. Kenapa kamu nggak pernah ikut latihan? tanya puspita.

”kenapa kamu tanya gitu? balik Hamdan.

Habis kamu satu-satunya yang nggak ada. Dan kamu orang terakhir yang penting buat kelas kita.”

”Orang terakhir. Keluh Hamdan.

”Tolonglah Hamdan. katakan apa masalahmu.

”Aku sangat ingin membantumu.” pinta Puspita.

”Cewek ini… Baik banget” Batin Hamdan, kagum. Gak pernah dia sadari sebelumnya sebelumnya.

”Baiklah. Sebenarnya… Hamdan diam dulu agak malu mengatakannya Dia mengarahkan pandangan keluar.

”Aku malu goyang ngebor.”bisik Hamdan.

”itu, Dan? Cuma itu?” Puspita terkesiap.

“Mau bantu, nggak?” Hamdan bertanya keras.

“Eh, iya-iya.” Puspita malu-malu.

mereka diam. Hamdan mamandang ke luar jendela. Puspita menunduk malu.

”Ya udah. lalu kamu yang lain bagaimana? bisa nggak?”

“Ngg….dikit. aku agak-agak lupa. nggak pernah latihan sih.”

“Aku ajarin gimana?” usul Puspita

“e,e,e,diajarin….kamu?” Hamdan tak percaya.

“iya. aku bawa rekaman video latihannya” jawab Puspita.

“Gimana, ya?”

“Udah.” Puspita menarik Hamdan ke ruang tengah yang luas.

“Yang cowok mana sih? yang cewek juga mana? kok dia malah nantang aku.”

Hamdan bingung sendiri.

Puspita menyetel VCD dan TV. Dia berdirio tegak di tengah ruangan. Cewek berambut sepunggung dijepit gigi hijau itu memejamkan mata menghirup nafs dalam-dalam. Hamdan mengamati dari tepi ruangan.

“ayo”, ajak Puspita. Hamdan canggung ke ruang tengah.

Puspita mengangkat lengan kanannya dengan gemulai diikuti Hamdan. Llalu berputar. Tangan kiri sampai ke depan dada lalu mengepal turun meninju tanah diikuti kaki kiri berlutut. Musik mellow memelankan gerakan mereka sampai beberapa menit. Lalu musik bergantian dengan nada cepat. Mereka menari breakdance. Tetap dengan Puspita menjadi guru dan Hamdan mengikuti dengan canggung agak mulai relax.

Musik berganti lagu sms cinta,” Ogah aku yang ini.”

“Eh. . Eh, Hamdan, tunggu,” Puspita Mengejar.

“Katamu membantuku, tapi malah membuatku menari hal memalukan itu.

”Gini. kamu berdiri dulu deh. Aku tunjukin.”

Hmdan berhenti, dia berdiri menghadap Puspita.

“Kamu pernah ikutkan ada gerakan memutar pinggul. Perasaan kamu gimana?

”Biasa aja, itukanm buat kesehatan. oke aja.”Sambut Hamdan.

”Nah. Lakukan itu yu!.

”Kamu nggak malu ngelakuin itu?.

Puspita tercekat. Tubuhnya membeku. Dia tak bisa bergerak apa-apa. Mukanya memerah.

”Mukamu memerah, sebenarnya kamu malu ya? aku heran kenapa kamu, bangsamu mau melakukan hal melakukan begitu. tegur Ham

”Itu. . . itu….sebenarnya …. tapi aku harus lakukan demi kelas.”

”BKDI, Cheerleader, Mamaia, AFI, Indonesia Idol dan lain-lain. Cewek-cewek nari dengan berlenggok-lenggok sepertimerak, tak tahu malu.”

“Kamu ….. aku pergi,” Puspita tersinggung hampir menangis segera pergi. Dia keluar dari rumah Hamdan dan pulang. Hamdan tak sempat bereaksi melihat semua itu terjadi.

Esoknya Hamdan berjalan santai dari tempat parkir sepeda motor menuju kelas. Dia diam memikirkan hal kemarin. Mau ditolong malah nyakitin. Kepalanya teringat terus pada Puspita.

”Puspita, surat OSISnya sudah?” tanya Deka di depan Puspita berjalan duluan.

”Sudah”

”PR Matematika?”

”sudah”

”Jaket?”

”Oke.”

”Raket Tennis?”

”Ada,” Puspita memanggul semua itu dalam tasnya.

”gila! Buat apa semua itu?” batin Hamdan.

”Sibuk banget Deka itu sampai bawa jaket dan raket tennis, mau main sama siapa?”

”Dan kenapa selama ini Deka bisa mengerjakan PR sebanyak apapun walau dia terlibat acara OSIS sampai larut malam. Semua pekerjaannya selesai dengan benar. Nilai mereka sama terus. Soal PR terutama.

”Hamdan,” Puspita tersenyum menyapa Hamdan. Hamdan kaget ikut tersenyum.

”Tuh cewek udah lupa dosaku kemarin ya?”

Hamdan masuk kelas bergabung dengan teman-teman.

”Yang penting kamu sudah mengerti gerakan yang lain, kan?” tanya Puspita berdiri tegak disamping Hamdan di ruang tengah.

”Ya.”

”Ya sudah. Ayo kita latihan.” mereka lalu menari bersama bergaya Breakdance, musik berganti lalu mereka bersama melakukan tarian rancangan Reni yang memang digabung dengan senama pemanasan sehingga ada lucu-lucunya, five, six, seven, eight.

“Begini kalau kamu sudah bisa gaya personal, kamu harus ikut gabung bersama teman-teman.”

“Tapi goyang ngebor itu gimana? aku nggak bisa ngelakuin itu.”

“Nggak usah dipikirin, yang penting besok datang ke rumah Reni jam 3.”

“Tapi Puspita?”

“Nggak ada tapi-tapi. Kamu nggak mau kehilangan ini kan?” Puspita berkedip sebelah mata tersenyum nakal. Dia menunjukkan sebuah buku.

”Eh, dari mana kamu dapat itu?”

Tak ada jawaban karena Puspita sudah pergi.

Sorenya hamdan tiba walau dengan berat hati. Karena Puspita menyimpan sesuatu. Sesuatu yang bisa mengancamnya. Dia harus jaga sesuatu itu.

”Huuuuu……. datang juga.” sorak teman-teman melihat Hamdan datang memakai tas dan kaos.

”Udah ditunggu-tunggu lho,” ujar Oskar.

”Makasih ya, sudah datang.” Puspita muncul menyalami. Dia tersenyum manis.

”Thanks.” ucap Deka ketus. Hamdan tak peduli karena yang dipikirkannya Cuma satu, Puspita.

Mereka lalu berlatih. Ada yang semangat dan ada yang tidak. Ada yang jadi semangat ada yang malah BT.

”Kamu kelihatannya nggak senang, Deka,” tegur Puspita.

”Tuh Hamdan narinya nggak bener, BT aku.”

”Tapi kamu pingin dia balik khan?” bujuk Puspita.

”Tapi dia lemot. Pingin deh dia digenati danmcer sewaan. Biar lebih kompak.”

”Tapi nanti kita jadi harus bayarin orang, lagian nanti guru-guru tahu kalau ada anggota kita orang luar, kita bisa di-dis.”

”Tapi dia loyo, apalagi pada bagian yang paling hotnya. Nari joget itu, dia malah diam.”

“Kita akan atur itu, Deka. Jangan buat dia pergi lagi. Ini demi kita.”

”Iya deh.” Deka manut aja.

Keesokan harinya seragam kaos kelas sudah jadi. Kaos-kaos itu dibagikan kepada anak-anak. Mereka jelas senang sekali. Ada yang nggosipin kaos, ada yang ditimang-timang, ada yang nyium-nyium, emang bagus banget dan keren.

”yang bikin bukan emak lo.”

Para cowok langsung memakainya selama pelajaran berlangsung.

Deka datang ke bangku Hamdan,” Elo sudah dapat kaosnya. Elo harus latihan sungguh-sungguh awas kalo enggak.

Hamdan memandang deka, lalu kesampainya, Puspita menganggukkan kepala damai-damai. Ikuti aja. Nggak usah bikin ribut.

Dengan kaos kebanggaan berkibar di dada siswa-siswa kelas Indiana jelas makin antusias. Mereka berlatih dengan kompak dan semangat. Diselingi tawa dan musik mereka menari-nari di ruang tengah. Kadang sempat juga nari di halaman karena ruang tengah sedang dipakai kalau lelah mereka istirahat sambil menghabiskan jajanan Reni dan beli bakso 30 piring.

“Nah, gitu dong Dan, kumpul sama teman-teman, “ puji Sobirin salut.

”Iya, makasih, Sob. enak juga baksonya.”

”Ini ngomongin latihan kok malah bakso sih.”

”Habis enak sich.”

”Ini yang nafsu Gajah aku atau kamu sih?”

”Ha….ha….ha….”Hamdan tertawa diikuti teman-teman yang lain.

Hari H tiba, semua anak Indiana bersiap. Kelas lain sudah unjuk penampilan. Ada yang menyanyi, membawakan puisi, cerpen, lukisan dan atraksi lain. Satu-persatu kelas dipanggil untuk maju ke panggung. Perwakilan-perwakilan naik dan turun.

”Sudah siap?” tanya Puspita sewaktu kelas mereka berjalan ke rute.

”Oke.”

”Bagus relax aja.” Giliran mereka pun tiba.

”Duaar.”

Para cowok dan cewek berlari berbaris dari arah yang berlawanan. Barisan cowok muncul dari timur panggung dan cewek dari barat. Mereka berkumpul di tengah dan membentuk lingkaran.

Lagu pertama adalah ending Spongbob. Para cowok berbaris seperti ular melingkar ketengah ruangan dari arah timur. Lalu para cewek juga berbaris dari Barat. Mereka berputar melawan arah. Lalu musik diganti ending Pokemon. Para cewek berdiri ditengah lingkaran bergaya melihat tempat yang jauh dari kanan ke kiri. para cewek berjongkok disisi luar lingkaran.

Setelah itu mereka berbaris seperti pemanasan olahraga. Kepala kekiri dan kekanan. Lalu tangan di depan dada menutup dan membuka. Lalu mengangkat kaki kiri dan kanan berganti musik disco mengiringi mereka.

Barulah lagu sms cinta teman-teman berjoget goyang ngebor. Cuma Hamdan yang tidak. Tapi dia cuek melakukan yang lain. Untung posisinya di tengah, jadi tidak terlihat dari luar. Puspita telah mengatur semuanya.

Baru musik ”Play it a live” berdengung dancer yang sebenarnya muncul ke tengah, teman-teman menyingkir. dan keenam Dancer itu menarikan breakdance sungguh kompak dan semangat. Penari kelas Indiana, Yanti, Nia, Mustika dan lain-lain. Setelah itu lagu terakhir Nia berdiri ditopang dua temannya, yang juga didukung dua lain berdiri menurunkan gulungan kain bertuliskan “Happy Birthday SMA SATRIA”.

”Plok! Plok! Plok! ”

Semua penonton bertepuk tangan sambil berdiri memberikan penghormatan. Mereka terpesona, takjub dan kagum dengan atraksi satu kelas ini. Sulit dibayangkan bagaimana mengatur anak-anak sekelas dalam barisan seperti ini.

Guru-guru pun tak terkecuali. Mereka bertepuk tangan berdiri. Kemampuan memang nomor satu, tapi kekompakan itulah kemenangan. Tak salah jika pak Hadi sebagai kepala sekolah memberikan hadiah piala dan uang kepada kelas Indiana.

”Ini penghargaan atas prestasi, komitmen dan kekompakan kalian.” kata pak Hadi.

Deka tersenyum bangga lalu memberikan penghargaan kepada teman-teman.

”Ini bukan untuk saya saja. Ini untuk teman-teman Indiana! Ini milik kalian,” seru Deka.

Tepuk tangan membahana memenuhi udara lapangan halaman SMA SATRIA.

Selesai acara teman-teman berfoto-foto. Mereka bersama-sama berjajar berdiri dan duduk memegang Piala. Deka memfoto mereka satu kali. Lalu mereka meminta teman lain memfoto mereka. Dengan begitu ketua kelas. Deka bisaterfoto. Wali kelaspun ikut berfoto juga.

”Aku ke kelas dulu, ya teman-teman.” Puspita bilang pada teman-teman.

”Ya”

Puspita berjalan ke kelas untuk mengambil foto lagi. Dan membawa kamera sejak awal. Cuma ini dimaksudkan paling akhir. Dilangkahkan kakinya mendekati kelas.

”Kamu benar-benar hebat. Terima kasih” Puji sebuah sosok tubuh.

Kamu? Puspita kaget. tersenyum. Ternyata Hamdan.

”Ah, bukan aku kok. Deka yang hebat. Dia udah menyatukan kita.

”Di depan memang dia, tapi di belakang kamulah materinya.

”Apa maksudmu? Puspita tak mengerti.

”Kamu, kamu yang mengerjakan PRnya membawa tugas-tugasnya, mengatur jadwal harian, menjadi sekretarisnya, bahkan kamu yang menyimpan semua arsip informasi kelas kita.

”Itu tidak benar, Hamdan. Omongan dari mana itu? bentak Puspita halus.

”Shobirin mendengar Deka menangis padamu. Aku melihat kamu ingat membawakan jaket dan raket tenis Deka. Bahkan kamu ingat tanggal lahirku, padahal ayah dan ibuku sendiri tidak ingat. Puspita terdiam. Dia terlihat kesal. hembusan nafasnya berat dan dia melirik ke belakang.

“Ya sudah, apa yang kamu inginkan?” Puspita menyerah.

”Aku ingin mendampingimu, Puspita. Aku ingin kita hidup bersama. kepedihanmu, ketekunanmu, kebesaran hatimu. Itu sungguh-sungguh berharga.”

Puspita diam sejenak. Dia malu-malu. mukanya memerah tubuhnya tegang. Dia berbalik arah. ”Puspita?” Hamdan tak menyangka Puspita akan membelakanginya.

”Bnga kesukaanku mawar. Antarkan itu ke rumahku besok sore.”

”Apa?” Hamdan tak mengerti Puspita tersenyum.

”Terima kasih.” Hamdan mau memilih Puspita.

”Eits. jangan sentuh-sentuh,” goda Puspita, lalu berlari keluar kelas.

”Puspita, tunggu. . .

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *