malin si maling cewek

Kelompok 2

Kelas XI.IA-5

Pemeran :

  • Malin : Aris Vario S
  • Mak Comblang : Anis Rohma
  • Astrid : Ermitaningrum
  • Sarah : Oktaviani I
  • Pak Haji Mizwar : M Fudlo’ilul H
  • Teman A : Wahyu Nurudin
  • Teman B : Venny Wida K
  • Peri Gaul : Lisa Pratiwi RM
  • Profesor : Wahyu Nurudin

Alkisah, di suatu desa nelayan di pesisir Sumatra, hiduplah seorang janda tua bersama anaknya. Mak Comblang, begitulah ia biasa dipanggil, setiap hari harus bekerja membanting tulang sebagai nelayan garam untuk menghidupi dirinya bersama anaknya yang beranjak dewasa, Malin.

Malin mengisi harinya layaknya remaja biasa. Keluar rumah untuk bermain bersama teman berandalnya, dan pulang hanya untuk makan dan tidur. Mak Comblang sampai putus asa menasehati anaknya yang semakin membandel.

Malin, selain orang yang malas, ia juga mempunyai hobby buruk yakni sering bergonta-ganti pacar. Tak terhitung berapa kali ia pernah pacaran. Tak heran, selain berwajah rupawan, ia juga memiliki aura seorang playboy sejati. Makanya, di kampung ini ia sering disebut Malin Si Maling Cewek ( musik masuk ).

Namun, kehidupannya berubah sejak hari ini…

Babak 1

(Pentas menggambarkan suasana di pos ronda. Teman A dan B bercengkerama dengan asyik)

Malin   (masuk) “Hei brow..” (mengulurkan tangan)

Teman A (menyambut uluran tangan) “Heii, my man !! Kenapa baru datang?!”

Teman B “Ah aku tahu, pasti terjebak macet. Ya kan Lin..”

Malin (tersenyum menanggapi guyonan teman-temannya) “ Jakarta lo kate !”

( Tertawa bersama-sama )

Teman A  “By the way, siapa berikutnya nih Lin”

Malin ( Pura-pura tak paham ) “Wah, tentang apa nih,”

Teman B ( Tak sabaran ) Halah, lagak lo Lin !! Biar aku aja yang jawab. Nih, temen kita yang satu ini baru dapat gebetan baru. Itu lho, anaknya Yu Krisdayanti si empunya toko baju depan pasar. Padahal nih ya, kemarin dia masih jalan sama Sasya, pekerja kantoran di radio OB itu. Apalagi, kemarin lusanya dia baru kencan sama Dewi, anaknya Pak Raja itu lho. Gilaa… ya mbok dikasih satu ke kita gitu lho Lin.. ( menepuk pundak Malin )

Teman A “Iya nih. Si Malin ini..eh, anaknya siapa tadi ?? Yu Krisdayanti ??!! Anaknya itu kalo nggak salah si… si.. siapa ya namanya… As.. Astrid !! Iya Astrid !! Bukannya dia sudah punya gebetan..!!”

Malin ( menegakkan kerah baju ) “Jangan bilang Malin kalo nggak bisa malingin cewek.. Hahaha…”

Seorang gadis berjilbab nampak dari kejauhan. Gank Malin menyadari hal itu dan mulai menggodanya. ( Musik masuk )

Teman A ( Bersiul ) “Hai cewek.. Cewek.. godain kita dong..”

Teman B “Assalamualaikum, Mbak…”

Malin ( menahan tangannya kepada kedua temannya ) “ Gua ajari gimana cara ngedapetin cewek..” ( Berdiri dan menghampiri si gadis ). “ Hai.. mau ke mushola ya.. mau abang temenin..?? ( memasang muka ramah )

Sarah ( Diam. Ketakutan. Menunduk dalam-dalam )

Malin “Kok diam aja sih ? Diam berarti iya lho..

Sarah ( Memalingkan muka dari pandangan Malin )

Malin “Kenapa sih ? Takut ya sama abang ? Kenapa takut.. Abang nggak nggigit kok.. Ngomong-ngomong, rumah kamu dimana ?? Abang boleh dong sekali-sekali main ke sana. Kebetulan, abang baru saja putus nih… ( mengitari si gadis dan menahan langkahnya )

Sarah ( Nampak semakin ketakutan, tapi berusaha untuk tak menyerah pada keadaan )

Malin ( Menatap lekat-lekat ) “Nama kamu Ayu ya ? Kayak wajahnya.. Atau… Manis ?!!! Ah jangan, kayak nama kucing tetangga saya dong.. Terus nama kamu siapa.. Kenalan yuk sama Bang Malin.. ( mulai meraih tangan si cewek ).

Sarah ( segera menepisnya ) “Maaf Bang. Saya sedang buru-buru. Nanti waktu dhuhurnya keburu habis.. ( mulai agak berani )

Malin ( Terdiam. Merasa harga dirinya tersinggung ) “ Halahhh !! Sok ngalim lu. Baru pake jilbab aja lagak lu kayak yang udah haji-haji gitu. Sana pergi ke mushola lu yang kagak ada gunanya itu. Mushola brengsek !! ( Kembali ke tempat teman-temannya )

Sarah ( Menggeram. Marah. Berbalik. Menatap Malin tanpa takut ) “ Hei Bang. Saya masih bisa mentolelir abang menghina saya. Tapi saya tidak suka dan SANGAT tersinggung kalau abang menghina agama saya. Saya yakin, kalau abang mengenal dengan baik hukum, abang pasti menyesali kata-kata abang itu !! ( melotot sebentar ) Wassalamualaikum..( berbalik dan pergi )

Teman A  “Berani juga lu !!” ( mengumpati si cewek yang makin menjauh )

Teman B “Balas saja Lin !!” ( memanas-manasi )

Malin ( Diam sejenak ). “Gila…gua jatuh cinta… ( menatap kepergian si cewek )

Teman A “Haa… Becanda ??!!!” ( kaget )

Teman B “Yaa..pasti becanda lah.. Iya kan Lin !! ( melempar pada Malin )

Malin ( tetap kagum. Tak menoleh sama sekali ) “Siapa sih tu cewek?”

Teman A “Lhah beneran ta ?? Lha Astrid mau dikemanain ?!!”

Malin ( diam. Masih belum menanggapi. Baru ketika Teman A menepuk pundaknya, ia tersadar ) “Hhh.. Astrid ?!! Buat elo aja.”( Kembali menatap kepergian si cewek )

Teman B “Haa.. serius buat gue ?!!” ( melotot kegirangan )

Teman A ( menjitak kepala temannya dengan keras ) Buat gue tau !! Dia tadi ngomongnya ke gue !!

Teman B ( balas menjitak ) “Buat gue !!”

Teman A ( balas menjitak ) Buat gue !! Gue ulangi ya, buat gue !!”

( Mereka berdua pada akhirnya justru terlibat perang jitak-jitakan )

Malin ( terganggu dengan ulah kedua temannya ) “ Hehh !! Bisa diam nggak sih !!?? Jadi terganggu nih suasana romantisnya !!”

Teman A&B ( Berpandangan ) “Maaf..” ( menunduk )

Malin ( Agak nggak enak juga ) “Ya sudah. Ada yang tau siapa cewek berjilbab tadi ?!!

Teman B ( berpikir sejenak ) “Hmm.. kalo nggak salah sih anaknya Pak Haji Mizwar. Namanya…. Sarah kalo nggak salah !!

Malin ( Tersenyum puas ) “Sarah ya… ( mengangguk-angguk misterius ). Pantas kok kayak Zazkia Adya Meccha, artis di pelem Kiamat Sudah Dekat itu…Ok Sarah, tunggu aja. Kamu akan jadi kekasih terakhirku..”

Rupanya Malin serius dengan ucapannya. Dia terkena virus ‘love at the first sight’ alias cinta pada pandangan pertama. Akibatnya ia melaksanakan PDKT habis-habisan. Melupakan kegentlean-nya yang biasanya ia terapkan, melupakan harga dirinya yang biasanya ia nomor satukan. Semua untuk Sarah. Apapun ia lakukan. ( Bersamaan itu musik masuk. Pantomim antara Sarah dengan Malin ).

Termasuk menahan diri terhadap Pak Haji Mizwar yang terang-terangan memusuhinya. ( Panomim, Pak Haji masuk ke panggung sembari mencincing sarung, mengayunkan sapu ke Malin yang berusaha menggoda putrinya ).

Namanya saja Malin. Apa yang ia lakukan pasti bakal menjadi buah bibir orang-orang sekampung. Termasuk perihal rasa cintanya terhadap Sarah. Rahasia umum itu sampai juga ke telinga Astrid yang notabene sangat mencintai Malin dan tak ingin kekasihnya itu direbut.

Malam itu…

Babak 2

( Di halaman depan rumah Malin. Malam begitu larut. Seseorang mengendap-endap mendekati pintu masuk. Seseorang itu rupanya Astrid )

Astrid ( Menggumam sekaligus menggeram ) “Sialan Si Malin. Matanya dipasang di mana sih ?!! Masa nggak bisa membedakan cewek cakep nan seksi kayak gini dengan cewek kampung macam dia ! Awas, liat aja ntar !! ( berkacak pinggang )

Malin Ok. ( Tiba-tiba muncul dari belakang Astrid). “Apanya yang musti dilihat ??”

Astrid ( Menoleh dan gugup )”Ehm.. ehm… O.. Oke. Liat aja. Kamu berdiri di situ dulu dan diam. Lihatlah. Here’s what I mean !! Jadikan aku yang kedua.. (mulai bernyanyi). Ketiga keempat kelima yang keenam dan ketujuh kedelapan kesembilan..” ( sambil berjoget-joget manja )

Malin “Haaa…. ( kebingungan ).. Wahh selamat !! You’re the next Indonesian Idol !!” ( menyalami Astrid ).

Astrid ( Menepis sebal ). “ Aku serius nih..!!” ( menggertak ).

Malin “Oh kirain mau ikut audisi..” ( Melebarkan senyum nakal ).

Astrid ( Tak tahan lagi ) “Malin….” ( bersiap-siap mengutuk ).

Malin “Iya honey…” ( semakin melebarkan senyum ).

Astrid ( Sudah tidak peduli lagi ). “Jadilah kodok !!”

Malin “Wah kali ini mau main harry potter-harry potteran ya… Itut..” ( Semakin menjadi ).

Astrid ( Melongo ) “Kok belum berubah ?? Apa gara-gara lagi nggak hujan ya ?? Jadi kodoknya belum mau ngorek..”

Malin “Sekarang mau nyanyi kodok ngorek ya..?? Yuk.. Kodok ngorek.. kodok ngor….REK ( kesulitan berbicara ). Ngo…reeeekk… piiiingg…gir..( langsung kaku. Tak bergerak ).

Astrid “Sialan, gua ditipu tu dukun !! ( Posisi membelakangi Malin ). Mana gua udah bayar mahal-ma.. ( berbalik dan langsung tertegun karena didapatinya Malin yang sudah mengeras ). Lin.. ngapain lu ?? Jangan becanda ah !! ( semakin bingung ketika tak ada reaksi dari Malin ). Lin..?? ( memegang Malin ). Ya ampun !! Ko jadi keras begini sih !?? ( menatap ke panggung. Kebingungan. ) CLINGGG !! Hahaha.. tapi boleh juga. Nggak ada bedanya. Dendam sudah terbalas. Hahaha… legaaa…legaa…. ( mengelus dada. Lalu berbalik menatap Malin ). Rasain lu. Ini akibatnya bermain-main dengan Astrid !! Daa… Yang enjoy ya Maz duduknya. Hohoho” ( berlalu meninggalkan panggung ).

( Terdiam beberapa jenak ).

Mak Comblang ( Berkacak pinggang. Kebingungan ) “Maliiiiinn…!!! Dasar anak nakal ! Tahu aja kalo mau disuruh ngerokin emaknya ! Kemana sih perginya tu anak !!?? ( membelakangi patung Malin. Menunggu beberapa saat. Menghentak-hentakkan kaki ke tanah. Tiba-tiba matanya menangkap sosok aneh di belakangnya. Menoleh ke belakang. Mengamati beberapa saat) Betewe, ini apa ya ?! (menyentuh Malin) Lhah, batu rupanya !! Waahhh, lumayan, bisa dijadikan luweng nih.. Hmmm… ternyata saya pintar juga..( tersenyum bangga ) Mak Comblang gitu lhoh.. Eh, malin ke mana ya ?? Jangan-jangan, dia malingin cewek lagi..?? Ah ya sudahlah. Nanti juga kapok sendiri kalo sudah nyambangin penjara.. ( pergi sambil menguap ).

Malam berganti dinginnya pagi. Seperti biasa pagi itu adalah saat yang sibuk bagi Mak Comblang. Ia terlambat bangun padahal harus mengikuti meeting Pe-En-Ge alias Persatuan Nelayan Garam Merdeka.. hehe.. nggak ada ‘em’nya ding. ( suara musik )

Mak Comblang ( Menggigit rotinya erat-erat sembari merapikan bajunya ) “Gila tadi malam saya begadang nonton pertandingannya Manchester United versus Arema. Hhh..jadi telat deh..”

( melewati batu Malin. Tiba-tiba Malin bersin. Mak Comblang yang sedang terburu-buru menoleh sejenak. Menatap ke asal suara. Celingukan. Ketika tak menemukan suatu keganjilan apapun, menetapkan kalo dia salah dengar. Kembali melangkahkan kaki. Namun terdengar suara bersin lagi. Mak Comblang menoleh. Asal suara tetap berasal dari sekitar batu Malin. Sedikit mendekat. Bingung. Menggaruk-garuk kepalanya.)

Mak Comblang “Aneh. Ono sworo ora ono wujude…” ( menggeleng-geleng kepala. Lalu sedikit penasaran dengan batu Malin ). “Hoey, ini batu kok mirip banget sama Malin ya ?? ( Berpikir ). Ahaaa… nanti kalo setelah saya pergi ada suara bersin maka kamu adalah Malin ya batu.. Hahaha.. ( berbalik dan pergi dengan gagahnya )

( Terdengar suara bersin. Mak Comblang langsung pucat pasi. Menoleh dengan gemetar ke arah patung Malin. Seakan tidak percaya, tapi rasa takut mulai menghantui )

Mak Comblang “Hmm..baik. Kalo setelah saya pergi ada suara bersin lagi maka batu itu adalah Malin. Tapi kalo tidak ada suara bersin, maka yang bersin tadi itu setan burik.. ( dengan sedikit ketakutan )

(Membalikkan badan. Ada suara bersin. Mak Comblang langsung menoleh. Seakan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Mulai mendekati batu Malin).

Mak Comblang ( Mengelus pipi batu perlahan dan tak percaya ) “Jadi kamu betul Malin anakku ?! Kok bisa jadi gini ya…?? ( berpikir, menempelkan telunjuknya pada dahi ) Haaa ??!! Apa jangan-jangan kayak di pelem Rumah Pondok Indah itu !! Malin dibunuh terus tubuhnya ditutupi semen !! Jadi batu gini dehh.. Haaa…???!! Apapun itu… Maliiiinnn… Maliiinnn anakku… Jangan tinggalin emak sendiri Maliiinn… setidaknya kalo mau pergi itu setelah emak dapat jodoh Maliiiinnn.. Maliiinnn anakkuuu…” ( menangis tersedu-sedu sembari meringkuk di tanah ).

( Suara musik. Muncul seorang peri gaul. Berjalan dengan santainya sembari menikmati alunan musik dari portable media player. Melewati Mak Comblang dengan cuek. Menghentikan langkah ketika sampai di ujung. Berjalan mundur sampai ke samping Mak Comblang. Menatapnya sejenak ).

Peri gaul ( menepuk pundak Mak Comblang dengan keras )

Mak Comblang Aduuuhhh ( mengerang kesakitan sekaligus kaget )

Peri gaul “Yo..yo..yo… what’s up man !! Ehh, madam..!! Ko sedih banget. Madam, gini ya saya bilangin. Hidup itu cuma sekali jadi gak usah dibuat susah…”

Mak Comblang ( melirik sebal ) “Siapa kamu ??!!” ( sewot karena ritualnya telah diganggu )

Peri Gaul “Yeee.. jangan salah. Gini-gini saya peri lho. Itu lho yang biasanya nampang di tipi-tipi itu. Ah punya tipi nggak situ ??!! Yah, maklum sih kalo nggak tau.. Oh ya dulu nama saya peri gossip. Tapi sekarang sih saya udah banting setir jadi VJ di MTV Global Room. Saya VJ Angel lengkapnya VJ Angela Rianti Carthwright. Tau nggak… Katrok banget deh kalo sampe nggak tahu saya..”

Mak Comblang ( Tersenyum kecut ) “Haa..haa..haa.. Garing banget tek kemripik puoll..!!”

Peri Gaul ( Mewek ) “Iihhh..awas lo kalo ngehina gue. Padahal gue tadi niatnya mau ngebantu elo. Eh elo malah kagak pecaya. Mana buat gue nangis pula.. Awas lo. Gua aduin sama babe gue, diceplok jadi sarapannya dia lo ntar !! Awas ya..!! Huuu…!! Babe..!!” ( Menangis meaung-raung sembari melangkah pergi ).

Mak Comblang ( Berlari menarik tu peri ) “Eh jangan. Saya percaya kok peri. Peri bisa nggak bantuin saya. Ini lho anak saya. Ko tiba-tiba jadi batu gini…” ( Menunjuk Malin )

Peri Gaul ( Memandang sekilas ) “Salah minum obat kali..”

Mak Comblang ( Sebal ) “Bilang aja kalo nggak bisa bantu !!”

Peri Gaul “Hehehe.. jangan donk Jeng.. Bentar ya..( mengelilingi batu Malin ). Hhmm.. pasti namanya Malin. Si Tukang Malingin Cewek itu kan..”

Mak Comblang “Iya. Kok tau ?!!” ( Takjub )

Peri Gaul “Iya donk. Lha wong dia buronan nomor satu Playboy Kabel Bersaudara.. Ya udah Jenk. Kayaknya saya bisa bantu Cuma ada syaratnya. Kalo mau sih saya bisa dalam 5 detik ngembaliin dia maybe. Tapi kalo nggak mau ya..”

Mak Comblang ( Menyisingkan lengan baju ) “Kalo nggak mau kenapa ?!”

Peri Gaul ( Bergerak mundur. Ketakutan..) “Ya..yaa… Kalo nggak mau..ya nggak apa-apa.. saya nggak maksa kok…”

Mak Comblang “Ya sudah kalo gitu cepat lakukan !”

Peri Gaul “Ok.. Sim.. sala.. sim.. sala.. bim..bim..” ( Tidak terjadi apa-apa ). “Lhah, kok nggak mempan ya ??! Hehee.. Tenang jenk. Saya tadi belum mengeluarkan kekuatan saya. Baik. Siiimm.. salaa.. siimm.. salaa.. biiimm…biimmm.. ( Tuing. Batu Malin mengeluarkan sesuatu ) “Ahh.. apaan tu jenk. Tolong donk ambilin..”

Mak Comblang ( Mengambil sesuatu yang keluar dari tangan Malin ) “Kertas. Isinya… Maaf. Anda belum..beruntung !! Hahaha.. Belum beruntung !! Anda belum beruntung !! ( mengejek kegirangan ).

Peri Gaul ( menggerutu sebal ) “Iihh.. kok malah seneng anaknya tetep jadi batu. Wooo.. ibu ediann.. “

Mak Comblang ( Teringat ) “Oo..iya.. Maliiinnn. Jangan terus jadi batu begini donk Liinn.. Meski kamu nakal, malas, bodoh, malu-maluin, boros, sukanya nyusahin orang tua aja, dan masih de-el-el.. Mak masih sayang sama kamu Liinn.. Bundo sayang ama Maliinn.. Makanya idup donk Liinn. ( Menoleh pada peri ) Hoey peri !! Tanggung jawab donk. Kalo mau bantu itu sampai tuntas. Jangan setengah-setengah !!

Peri Gaul “Yaa..yaa.. maap Bu. Ya sudah deh. Saya panggilin temen saya aja. Namanya Professor Agasha. Itu lho yang buatin kacamata, sepatu, skateboard mesin, sama lencananya Conan Edogawa. Tau nggak Bu. Ahh.. saya lupa Ibu nggak punya tipi dink. Jadi nggak tau serial detektif Conan..”

“Mak Comblang “Ngomong sekali lagi tak petani kamu!! Cepet panggil !!”

Peri Gaul “Iya..iya.. Bu. Serius amat. Bentar ya..( mengeluarkan HP ).

Mak Comblang “Wah peri gaul !” ( kagum )

Peri Gaul “Oo iya donk. ( memencet beberapa tombol ). Haloo.. Arigato gozaimasu. Inggih prof. Ini.. ada sedikit trouble gitu dehh. Iya.. Bisa kan prof.. Plis.. OK ?!! Apa ?! Ah iya deh. Nanti saya traktir di Es Mini. Iya.. Cepet ke sini ya prof.. ( menutup telfon ) Hmm.. bentar lagi nyampe. Nah tu dia..”

Profesor “Halo.. Ada apa sampai repot-repot menggangguku..”

Peri Gaul “Hohoho.. ini. Entah kenapa putra ibu ini bisa jadi seperti ini..”

Profesor ”Hmm..(mengamati sejenak). Saya pelajari diket baru menjawab yang ditanya okeyhh..”

Mak Comblang “Okeyh dari Tiongkok !!??”

Profesor “Whatever. Apalah itu namanya.. ( mulai nampak sibuk ). Nahh..buk. Mungkin dengan begini anakmu akan..( menaburkan sesuatu ke badan batu Malin )”

( Batu Malin itu nampak bergerak )

Peri Gaul ( Melonjak bersama Mak Comblang ) “Ahh.. bergerak ya Bu.. “ ( histeris berdua ).

( Namun Malin hanya bergerak sekali. Sehabis itu membatu lagi ).

Mak Comblang ( Mulai histeris ) “Lhoh Prof !! Anak saya kenapa jadi diam lagi. Professor. Anak saya kenapa ?? Gimana nih proff..?”

Professor “Waduuhh, gimana ya buk. Saya sendiri juga bingung. Ini kasus pertama yang gagal saya tangani. Jadii… ( Kriingg.. dering Hp berbunyi. Professor mengangkatnya ) Halo.. gimana jadi nggak..?? Iya.. OK. Saya akan segera terbang ke sana sekaligus ngreyen heli baru buatan saya. Iya. Sampai ketemu 2 menit lagi..( menutup telfon ). Baik Bu. Saya permisi dulu. Masih ada urusan nih,” ( berlalu begitu saja ).

Peri Gaul “Lhoh Prof.. Mau ke mana prof.. Wahh !! Gawat.. ( menatap Mak Comblang sembari tersenyum kaku ) Haha.. sampai jumpa..( berjalan kaku meninggalkan Mak Comblang. Namun segera ditarik Mak Comblang )

Mak Comblang “Mau ke mana kamu ?!!”

Peri Gaul “Saya ingat saya harus fitting kostum buat global room.. Permisi bu.. Waa.. kabuuurrrr..!!!”

Mak Comblang ( meratapi nasib. Menatap Malin. Berjalan ke arahnya. Diiringi musik ). “Hhh.. kasihan kamu Nak. Habis semasa hidup,kamu buat dosa terus, jadinya tidak ada yang bisa menolongmu… Hmm,, Malin. Allah memberikan wajah handsome kepadamu bukan untuk dipamer-pamerkan. Wajahmu itu sebenarnya adalah cobaan dari-Nya Nak. Ia ingin mengujimu. Gadis-gadis banyak yang suka padamu. Kau pacaran layaknya kau ganti baju. Kau berada dalam suatu kealpaan Nak. Kau tenggelam dalam arus cobaan. Mak tidak ingin kau begini terus Malin. Kalau ini memang jalan-Nya untuk membuatmu berubah.. Mak rela… Mak rela Malin.. Mak sayang padamu.. Sangat sayang. Kaulah harta Mak yang paling berharga. Kau segalanya bagi Mak.. Hanya engkau Maliiiinnn…” ( kembali meratap ).

( Datang Sarah dengan ayahnya )

Sarah “Assalamualaikum… Lhoh Buk. Ibu kenapa ?” ( Kaget )

Mak Comblang ( menoleh. Menatap Sarah sejenak ) “Siapa anak ini ??”

Sarah ( Awalnya tertegun. Kemudian tersenyum ). “Nama saya Sarah. Ini ayah saya Pak Haji Mizwar..”

Pak Haji ( Tersenyum ) “Assalamualaikum buk..”

Mak Comblang ( Tersenyum lelah ) “Waalaikumsalam. Ini Sarah ?? Malin sering bercerita lho…( teringat lagi. Raut muka menjadi sedih kembali ) Maliinn… ( mendesis sembari menatap Malin ).

Sarah “Ada apa ini Bu..??”

Mak Comblang “Ini memang di luar nalar Pak Haji, Sarah. Namun beginilah kenyataannya. Saya mendapati Malin pagi ini telah menjadi batu.. Entah kenapa. Saya sudah pasrah. Segala cara sudah saya tempuh. Tapi dia tetap tak berubah lagi..Hhh..”

Pak Haji “Boleh saya mencoba membantu Bu ??”

Mak Comblang “Tentu Pak Haji,”

Pak Haji ( mendekat dan membacakan beberapa ayat. Tangan menengadah ke atas. Ketika selesai dan mengusap muka nampak Malin bergerak kembali ).

Mak Comblang “Malin ??!! Maliiinnn..??? ( Mendekati Malin. Terdiam ) Dasar anak nakal !! ( Menepuk pundak Malin ) Sini.. Maliinn.. jangan bikin khawatir emakmu ini..!! Maliinn..”

Malin “Maafkan Malin Mak. Selama ini, Malin telah berbuat salah. Malin terlalu khilaf. Malin mempermainkan perasaan banyak wanita. Gara-garanya, Malin jadi begini. Ini semua salah Malin Mak..”

Astrid ( Tiba-tiba muncul ) “Tidak. Ini salah saya. Saya kesal padanya gara-gara dia mencampakkan saya begitu saja. Makanya saya menyihir dia. Akibatnya dia jadi batu. Maafkan saya.. Saya sangat menyesal..”

Malin “Sudahlah Astrid. Toh kau melakukannya karena kesalahanku juga..” ( Tersenyum sembari mencoba berdiri ) “Aduuuhh..pinggangku..!!!” ( memegangi pinggangnya )

Astrid & Mak C “Maliiinn, kamu tidak apa-apa ?!”

Sarah ( Mengeluarkan balsem dari sakunya ) “Ahh.. kebetulan aku ba.. ( balsem itu langsung direbut Astrid. Malin melihatnya )

Astrid “Pake ini saja Lin. Gimana..??” ( sembari mengoleskannya. Sarah bergerak ke sudut dengan rasa cemburu bercampur kecewa amat sangat. Musik mengiringi ).

Malin “Iya..sudah agak mendingan. Trims. ( berjalan mendekati Sarah. Astrid memonyongkan mulutnya tanda sebal ). “Saraahhh.. ( memanggil halus. Sarah menoleh ) Terimakasih ya. Atas segalanya. Sejak bertemu denganmu, entah kenapa hatiku merasa aman, ragaku terasa nyaman, jiwaku berasa tentram…”

Sarah ( Menunduk. Kali ini karena malu ). “Benarkah..”

Malin “Kali ini aku tidak merayu. Aku berkata apa-adanya. Sarah.. ( memanggil lembut sembari mendekat )

Sarah “Iya Bang…” ( menatap Malin malu-malu ).

Malin “Aku cinta kamu.. I love you.. Aku tresno marang sliramu.. Wo ai ni.. Ai shi teru.. “

Sarah ( Malu ) “Sarah…juga..” ( makin mendekat. Makin mendekat daaannn…)

Pak Haji “Ehm !” ( menepuk pundak Malin dari belakang ).

Malin “Lagi sibuk,” ( tak menoleh )

Pak Haji “Uhuk..uhuk..!!”

Malin “Apa si…( kaget sewaktu menoleh ). Eh, Pak Haji.. Maaf Pak. Saya tadi.. saya tadi cuma…”

Pak Haji ( Memasang tampang garang ) “Kalo mau begituan di belakang saja !” ( Malin dan Sarah bertatapan. Lalu tersenyum. Bergandengan tangan dan keluar panggung ). Maaf ya.. untuk dewasa.. ( berkata ke penonton ) Sudah, jangan manyun gitu.. jadi hilang cantiknya..” ( menghibur Astrid. Astrid tetap sebal )

Teman A “Lhoh Trid. Ngapain di sini ?? Join kita yuk.. Kita mau..”

Teman B “Dugeemmm..!!” ( diiringi musik ) Ayo ikut !”

Astrid “Ya udah deh. Urip sepisan ojo digawe soro. Iya to !!” ( pergi bersama teman A dan B )

( Panggung tinggal Pak Haji dan Mak Comblang saja. Saling berpandangan dan geleng-geleng kepala.

Pak Haji ( Maju ke tengah. Melebarkan sarungnyayang bertuliskan: End the’ sembari menggeleng-geleng kepala ). “Dasar anak muda”

selesai

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *