menentukan tujuan hidup berdasarkan hobi

seorang gadis rmaja menatap cermin. dia sedang kebingungan. ujian sekolah makin dekat. PR-nya masih banyak yang belum dikerjakan. ada undangan hangout di kafe yang lagi trending tapi mahal. ada tas bagus yang ia ingin beli tapi uangnya tinggal sedikit. lalu ada temannya yang sakit tapi temannya yang lain sedang sirik sama si sakit itu. lalu sebentar lagi UNAS. teman-temannya sudah menentukan mau melanjutkan sekolah ke mana, sedangkan ia belum. apa dia akan ikut teman-temannya atau ia akan menentukan sendiri, tapi mau ke mana?

“sebenarnya apa yang harus aku lakukan?” tanyanya sendiri.

“sebenarnya aku harus bagaimana dalam hidupku?”

“sebenarnya untuk apa aku hidup?”

“sebenarnya aku mau ke mau ke mana dalam hidup ini?”

lebih dalam lagi.

“aku seharusnya menjadi siapa?”

gadis remaja ini sedang mencari jati dirinya. dia bingung menentukan langkah ke mana dalam hidup ini.

bagi orang yang hidup normal mereka tidak akan menanyakan pertanyaan berikut, tapi bagi sedikit orang mereka akan bertanya,” siapakah sebenarnya aku ini?”

hanya orang amnesia dan yang kehilangan identitas dan jati diri yang menanyakan pertanyaan terakhir. kalau orang normal bertanya seperti ini tandanya dia sudah gila atau kehilangan akal. setidaknya kehilangan pegangan hidup, saat segala sesuatu yang dipercaya selama ini ternyata salah, palsu, sesat atau hancur dan runtuh menjadi puing-puing. saat dia baru saja dikhianati semuanya tak berarti lagi.

pertanyaan gadis remaja di atas sebenarnya sederhana. khusus pada masalah melanjutkan sekolah ada panduan sederhana. misalnya mau melanjutkan ke mana, langkah berikutnya biasanya adalah SMP/ MTs, SMA/ SMK/ MA kemudian perguruan tinggi lalu bekerja. tujuan akhirnya adalah cita-citanya. jati dirinya adalah cita-cita. sebenarnya sederhana seperti itu. dia memang belum mencapai cita-citanya, tapi dia sudah di jalannya. kalau dia sudah menemukan cita-citanya, dia sudah melangkah menuju cita-citanya. tanpa mengetahui cita-cita, mustahil akan bisa mencapainya.

sekarang, mundur selangkah. bagaimana menentukan cita-cita?

cita-cita bagi remaja tidak seperti anak-anak. anak-anak umumnya bercita-cita menjadi profesi seperti pilot, polisi, dokter dsb. remaja yang sudah mulai berpikir kompleks kehilangan cita-cita seperti itu. kebanyakan mereka tidak bisa berpikir jauh menjangkau cita-cita hingga menemukan langkah praktisnya. maka ada satu saran.

menentukan cita-cita berdasarkan hobi. misalkan ada seorang cowok hobinya otak-atik mesin. maka dia bisa melanjutkan sekolah ke SMK jurusan mesin atau otomotif. dia akan bisa karena dia suka. dia akan bertahan karena memiliki passion. passion itu yang akan bisa membuat dia menanjak hingga berprestasi. perasaan suka akan membuat dia menikmati pekerjaan, sekolah dan pelajarannya. prestasi itu akan menjadi kelebihannya.

setelah lulus dia bisa melamar kerja di bengkel, baik perusahaan besar, bengkel kenalannya, keluarganya sendiri atau teman-temannya. atau dia bisa buka bengkel sendiri kalau sudah punya modal. saat dia bekerja di bengkel maka langkah besar menuju cita-citanya sudah terwujud. tujuannya memiliki bengkel sendiri. setelah punya dan bertahan, dia bisa buka cabang. awalnya punya  bengkel jadi dua, tiga, empat dan seterusnya. lalu bisa kerja sama dengan perusahaan otomotif, baik motor maupun mobil. lalu buka dealer. jalannya masih panjang hingga setara dengan daihatsu, toyota, honda, mitsubishi, ford. wow. kelas dunia.

jadi idenya sederhana. gali hobi kita. terus tekuni. terus pelajari. kesukaan kita padanya akan membuat kita betah terus mempelajarinya. seiring waktu pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kita akan bertambah. hobi itu akan menjadi kelebihan kita. asah terus kelebihan itu, maka dia akan menjadi nilai plus kita.

selanjutnya kita mengarahkan hidup kita mengikuti hobi itu. misalnya yang suka menggambar, seing ikut lomba menggambar, melukis. di rumah sering latihan. memang butuh modal. terus di SMA bisa ikut jurusan IPS. waktu kuliah ikut jurusan seni. setelah lulus untuk langkah awal bisa melamar di bagian desain, periklanan. atau fotografi. sekarang seni itu luas. di rumah tetap latihan. buat promosi bisa dijual online lewat sosmed. atau kontak dengan galeri. atau melatih menggambar anak-anak, ikut kegiatan seni masyarakat. misalnya ikut menggambar waktu tujuh belasan, waktu festival kota, provinsi bahkan nasional.

hobi itulah cita-cita kita. hobi itulah jati diri kita. ini masih salah satu cara menentukan pandangan hidup, tujuan dan jalan hidup. masih ada cara lain, tapi pembahasan kali ini satu ini saja.

bagaimana menurut kamu?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *