pandangan hidup

pandangan hidup adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, kehidupan dan manusia, beserta apa yang ada sebelum ketiganya ada, apa yang ada setelah ketiganya berakhir serta hubungan antara segala hal tersebut. pandangan hidup adalah sekumpulan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar mendasar tentang kehidupan. pertanyaan-pertanyaan itu meliputi:

1. dari mana alam semesta, kehidupan dan manusia berasal?

2. untuk apa alam semesta dan kehidupan ada? untuk apa manusia hidup?

3. adakah akhir dari alam semesta? kalau berakhir lalu bagaimana? kalau tidak berakhir bagaimana kelanjutannya? ke mana manusia setelah mati? adakah kehidupan setelah mati?

4. adakah hubungan antara kehidupan di sini dan kehidupan setelah mati? kalau ada apa hubungannya? bagaimana hubungannya?

tidak hanya jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, pandangan hidup juga menjelaskan tujuan spesifik manusia, seperti impian, cita-cita, rencana manusia, beserta jalan untuk mencapainya, rambu-rambunya, apa yang harus dilakukan, sebaiknya dilakukan, boleh dilakukan, sebaiknya tidak dilakukan juga apa yang tidak boleh dilakukan. hal ini menyangkut nilai-nilai yang diyakini manusia lalu menjadi standar dan pedoman hidupnya. dari situ dia mengatur perilakunya dan aktivitasnya sampai hal-hal yang berkaitan seperti materi, corak, pola aktivitas hingga sistem kehidupan pribadinya.termasuk pula, tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi masalah atau kondisi tertentu, dari pencegahan sampai penanganan. semua turunan dari pandangan hidup itu menjadi cara pandang terhadap dunia, kehidupan dan manusia. pandangan hidup itu menjadi persepsi, paradigma dan kerangka berpikir di mana setiap kali dia berpikir, pandangan hidup itu selalu mengatur agar proses berpikirnya terarah. hasilnya buah pemikiran, keputusan dan sikapnya pun menjadi tertata. kerangka berpikirnya menjadi sumber kepribadiannya. selanjutnya manusia mengatur pola perilaku, pola bekerja, bergaul dan berkeluarga berdasarkan pandangan hidupnya. dia terus menekuninya dan menjalaninya. ketika dia yakin kebenaran pandangan hidupnya dia pun menyebarkannya kepada orang-orang di sekitarnya.

pandangan hidup manusia dapat bersumber dari:

1. agama tertentu.

2. ideologi tertentu.

3. kepercayaan adat atau budaya tertentu.

pandangan hidup dapat dikelompokkan dari sederhana sampai kompleks.

1. pandangan hidup sederhana. pandangan ini hanya berupa nilai-nilai moral dan etika yang diikuti dalam menjalani kehidupan. seperti selalu berusaha bersikap jujur, disiplin, tepat waktu, menologong orang lain dan sebagainya.

2. pandangan hidup menengah. pandangan ini mencakup adanya keyakinan adanya Tuhan dan agama ritual tapi tidak mengatur kehidupan. agama-agama ritual saja termasuk di sini. agama-agama yang membolehkan sekulerisme berada di sini.

3. pandangan hidup kompleks. pandangan ini mencakup keyakinan tentang Tuhan, alam gaib beserta segala isinya, juga standar kehidupan dan peraturan kehidupan dunia. ideologi politik di sini. kebudayaan primitif termasuk di sini karena keyakinan mereka terhadap yang gaib begitu ketat dan kuat sampai mengatur kehidupan seperti chauvinisme, primodialisme, sukuisme fanatik dan sebagainya.

manusia memiliki pandangan hidup bersumber dari:

1. berpikir sendiri. cara ini dilakukan oleh para filosof, ilmuwan, peneliti agama dan pencari kebenaran. mereka bisa bermeditasi, berpikir sendiri atau mencari sendiri. kadang hasilnya benar dan kadang juga salah.

2. menerima dari orang lain seperti ajaran orang tua, masyarakat, guru sekolah, guru agama, guru budaya, pemimpin masyarakat, pemerintah dan sebagainya.

dari segi rasionalitasnya, pandangan hidup terbagi menjadi dua:

 1). pandangan hidup rasional, yaitu pandangan hidup yang masuk akal. pandangan ini masuk akal karena lahir dari akal manusia atau informasi yang dikandung pandangan hidup masuk akal, sesuai tabiat alam, manusia dan dunia. pandangan hidup rasional contohnya adalah pandangan hidup yang dibawa oleh ideologi-ideologi seperti kapitalisme, komunisme dan islam. tapi pandangan hidup yang rasional tidak selalu berarti dia benar. kebenaran hanya ada satu. jadi yang lain pasti salah.

2). pandangan hidup irasional, yaitu pandangan hidup yang tidak masuk akal. meskipun tidak masuk akal pandangan ini bertahan karena doktrin, sudah menjadi kebiasaan, budaya, dilakukan banyak orang dan dipaksakan. pandangan ini banyak dianut oleh agama-agama pagan. banyak agama-agama besar yang memiliki pandangan hidup yang tidak masuk akal, khususnya ajaran ketuhanan yang tidak masuk akal seperti satu sama dengan tiga, Tuhan sama dengan manusia, Tuhan ada banyak dan semua saling bertarung berebut kekuasaan, Tuhan yang tidak bisa menghidupkan yang mati, Tuhan yang beranak dan dilahirkan. pandangan-pandangan itu jelas tidak masuk akal tapi dipertahankan. oleh karena itu banyak pemikir ilmiah yang meninggalkan agama-agama ini.

dilihat dari jangkauannya pandangan hidup terbagi menjadi:

A. lokal. pandangan hidup ini meyakini bahwa tempat, kaum dan masyarakat tertentu yang berhak mengikuti pandangan hidup ini dan yang lain tidak. pandangan hidup ini juga meyakini masyarakat itulah yang terbaik, yang lain lebih rendah sehingga masyarakat penganutnya cenderung merendahkan masyarakat lain. bebas menjarah, menjajah dan  memperlakukan apa saja. pandangan ini contohnya sukuisme, nasionalisme, primordialisme, chauvinisme. pandangan ini juga mencakup agama yang berlaku khusus untuk masyarakat tertentu dan masyarakat lain tidak berhak mengikutiya. contohnya agama yahudi dan agama hindu india. agama kristen pun awalnya ditujukan hanya untuk bangsa israil.

B. universal. pandangan ini  berlaku untuk seluruh dunia dan penganutnya berniat menyebarkanya ke seluruh dunia. pandangan ini memandang semua manusia sama tanpa membedakan budaya, bangsa, bahasa dan tempat. contohnya ideologi kapitalisme, komunisme dan islam. sayangnya komunisme telah menyempit menjadi nasionalisme dan fasisme sehingga tidak lagi universal.

proses terbentuknya pandangan hidup adalah sebagai berikut:

Manusia merasakan bahwa dirinya ada, merasakan adanya kehidupan dalam dirinya, dan merasakan adanya alam semesta tempat dia hidup. Sejak bisa membedakan berbagai perkara dan benda, manusia mulai bertanya-tanya apakah sebelum keberadaan dirinya dan sebelum keberadaan ibunya, bapaknya, dan sebelum ibu-bapaknya sampai nenek moyangnya yang paling ujung, apakah sebelum itu semua ada sesuatu atau tidak? Dia bertanya-tanya apakah sebelum kehidupan yang ada pada dirinya atau manusia yang lain, ada sesuatu atau tidak?

Dia juga bertanya-tanya apakah alam semesta yang dilihatnya seperti bumi dan matahari, dan yang didengarnya seperti bintang-bintang, apakah sebelumnya ada sesuatu atau tidak? Dengan kata lain, apakah itu semua bersifat azali, yakni telah ada sejak zaman azali, atau sebelumnya ada sesuatu yang azali?

Kemudian manusia pun senantiasa bertanya-tanya tentang ketiga hal tadi, apakah setelahnya ada sesuatu atau tidak? Apakah ketiga hal tersebut bersifat abadi yang akan tetap seperti itu dan tidak akan lenyap, ataukah tidak abadi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seringkali datang pada benak manusia. Apabila umur manusia makin bertambah, ertanyaan tersebut akan semakin bertambah.

Terbentuklah pada dirinya sebuah problem besar yang pemecahannya selalu dia usahakan. Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya adalah suatu studi tentang fakta, yaitu merupakan pemindahan fakta melalui panca indera ke dalam otak. Manusia tadi terus mengindera fakta tersebut, tetapi informasi yang ada pada dirinya tidak cukup untuk memecahkan problem besar tersebut. Ketika dia makin dewasa maka informasinya pun semakin bertambah. Dia berulang kali berusaha menafsirkan fakta tersebut dengan perantaraan informasi yang ada pada dirinya. Jika dia mampu menafsirkannya dengan penafsiran yang pasti, maka pertanyaanpertanyaan tersebut tidak muncul lagi, karena pada saat itu dia telah memecahkan problem besar tersebut. Jika penafsirannya tidak pasti, dia akan tetap bertanyatanya. Terkadang dia bisa memecahkan problem besar itu untuk sementara waktu, tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut kembali muncul. Maka tahulah dia bahwa sebenarnya dia belum memecahkan problem besar tersebut. Begitulah secara alamiah dia akan terus melanjutkan mata rantai pertanyaan-pertanyaan tersebut hingga dia memperoleh jawaban yang dibenarkan oleh fitrahnya, yakni yang sesuai dengan daya kehidupan yang ada pada dirinya, atau sesuai dengan perasaannya (al-‘âthifah). Pada saat itu, dia akan merasa yakin bahwa dirinya telah mampu memecahkan problem besar dengan jawaban yang pasti dan berhentilah pertanyaan-pertanyaan itu. Jika problem besar tersebut tidak bisa dipecahkannya, maka pertanyaan-pertanyaan itu akan tetap datang silih berganti dan akan terus membuatnya gelisah. Problem besar terus ada pada dirinya. Dia akan terus merasa gelisah dan khawatir mengenai masa depannya, sampai dia memperoleh suatu pemecahan, baik pemecahan itu benar maupun salah, selama dia merasa tenteram dengan pemecahan itu.

Inilah proses berpikir tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan yang merupakan proses berpikir yang alami dan wajib dilakukan, serta mesti ada pada setiap manusia. Ini dikarenakan keberadaan manusia mengharuskan adanya proses berpikir tersebut, sebab penginderaannya terhadap ketiga hal tersebut terus terjadi. Penginderaan ini akan mendorongnya untuk berusaha mencapai suatu pemikiran. Proses berpikir tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan

tidak bisa dipisahkan dari keberadaan manusia. Sebab, hanya dengan mengindera ketiga hal itu, yang pasti adanya, manusia dituntut mempunyai informasi-informasi yang berkaitan dengan penginderaan itu pada dirinya, atau dituntut berusaha untuk mencari informasi-informasi dari orang lain, atau dituntut berusaha untuk mencari pemecahan dari orang lain. Manusia akan senantiasa berusaha memecahkan problem besar tersebut dengan dorongan dari dalam

dirinya sendiri. Pemecahan problem besar akan senantiasa menuntut manusia secara terus-menerus untuk mencari pemecahan tersebut.

Hanya saja meski manusia dipastikan bertanya-tanya dan dipastikan melakukan berbagai usaha secara terus menerus untuk mencari jawabannya, yakni untuk mencapai pemecahan problem besar, ternyata mereka berbeda-beda dalam memenuhi tuntutan yang terus-menerus tersebut. Di antara mereka ada yang menghindari pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada yang terus-menerus mencari jawabannya. Ketika manusia masih kecil dan belum baligh, biasanya mereka menerima jawabannya dari orang tua mereka. Mereka sebenarnya dilahirkan dengan tidak mempunyai pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tetapi sejak ia mampu membedakan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, mulailah muncul pertanyaan-pertanyaan itu. Kemudian orang tua mereka biasanya memberikan jawabannya. Dan karena percaya kepada orang tuanya atau orang yang menangani urusannya, biasanya manusia menerima jawaban-jawabannya dan merasa tenteram dengannya, karena mereka telah percaya kepada orang-orang tersebut. Tatkala telah baligh, yakni mencapai usia dewasa, mayoritas di antara mereka terus berpegang pada jawaban yang telah mereka terima sejak kecil.Sebagian kecil mencoba mengulangi lagi pertanyaan-pertanyaan tersebut karena merasa tidak tenteram dengan jawaban yang telah diterimanya waktu kecil. Karena itu, mereka akan kembali mempertimbangkan jawaban-jawaban dari problem besar tersebut, dan berusaha menjawabnya sendiri.

Jadi berpikir tentang pemecahan problem besar, yaitu berpikir tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, adalah hal yang mesti ada bagi setiap manusia. Hanya saja di antara manusia ada yang mampu memecahkannya sendiri dan ada yang menerima pemecahannya dari orang lain. Jika problem besar tersebut telah terpecahkan –bagaimana pun juga pemecahannya– maka pemecahan tersebut baik dengan jalan menerima dari orang lain atau dengan jalan memecahkannya sendiri, jika sesuai dengan fitrah manusia dan dia telah merasa tenteram dengannya, maka dia akan merasa puas dan merasakan kebahagiaan. Jika tidak sesuai dengan fitrah manusia, maka dia tidak akan merasa tenteram dengan pemecahannya, dan pertanyaan-pertanyaan itu akan terus mengejar-ngejar dan menggelisahkannya, meskipun dia tidak bisa

mengungkapkannya dengan cara apa pun. Karena itu manusia harus berpikir tentang pemecahan problem besar dengan pemecahan yang sesuai fitrahnya.

Memang benar berpikir tentang pemecahan problem besar merupakan sesuatu yang alami dan pasti. Tetapi pemikiran tersebut terkadang benar, terkadang salah, dan terkadang lari dari pemikiran itu sendiri. Walau bagaimanapun, ia tetap merupakan proses berpikir yang berjalan sesuai dengan metode rasional. Orang-orang yang menyifati manusia, alam semesta, dan kehidupan sebagai materi, serta mengalihkan topik menjadi pembahasan materi, berarti melarikan diri dari berpikir tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan menuju berpikir tentang materi. Pemikiran ini, sebagai upaya untuk lari dari proses berpikir yang alami dan pasti, telah menjerumuskan mereka menuju suatu penyakit dalam berpikir. Sebab, materi tunduk pada laboratorium, sedangkan manusia, alam semesta, dan kehidupan tidak. Pertanyaan-pertanyaan yang hadir membutuhkan proses berpikir secara rasional, sedangkan mereka beralih pada proses berpikir secara ilmiah. Karena itu, mustahil mereka bisa sampai pada pemecahan yang sahih. Inilah yang membuat

mereka menghasilkan pemecahan yang keliru. Mereka memang mampu memecahkan problem besar, tetapi dengan pemecahan yang salah dan tidak sesuai dengan fitrah manusia. Dengan demikian, pemecahan tersebut tetap merupakan pemecahan bagi individu, bukan pemecahan bagi suatu bangsa dan umat. Akibatnya bangsa dan umat tersebut tetap belum memecahkan problem besar dengan pemecahan yang sesuai dengan fitrah manusia. Berbagai pertanyaan terus membayang-bayangi manusia bahkan seringkali membayangbayangi manusia yang puas dengan pemecahan tersebut.

Adapun orang-orang yang memandang bahwa problem besar tersebut bersifat individual, serta tidak memandang bahwa problem itu berkaitan dengan suatu bangsa sebagai bangsa, tidak juga memandangnya sebagai problem umat sebagai umat, dan menganggap tidak ada peranannya dalam urusan kehidupan, maka mereka sebenarnya telah lari dari pemecahan problem besar. Mereka tak mempedulikan keadaan individu, bangsa, dan umat. Karena itu problem besar tersebut terus saja mengejar-ngejar individu, bangsa dan umat, dan senantisa menggelisahkan individu-individu dan kelompok-kelompok. Semuanya hidup dalam ketenteraman semu terhadap pemecahan problem besar. Karena pada hakikatnya problem besar tersebut tetap dibiarkan tanpa pemecahan. Keresahan jiwa dan fitrah terus mendominasi individu, bangsa, dan umat.

Sesungguhnya, dalam pemecahan problem besar terdapat dua aspek.

Pertama, aspek akal, yaitu aspek yang berkaitan akal, berkaitan dengan proses berpikir yang sedang berlangsung. Kedua, aspek yang berkaitan dengan daya kehidupan yang ada pada manusia, yaitu berkaitan dengan sesuatu yang menuntut pemuasan. Jadi proses berpikir yang ada haruslah bisa sampai pada pemuasan daya kehidupan tersebut. Sedangkan pemuasan daya kehidupan dengan pemikiran, haruslah diperoleh melalui proses berpikir, yaitu harus diperoleh melalui proses pemindahan fakta ke dalam otak melalui panca indera. Apabila pemuasan tersebut diperoleh melalui fantasi dan asumsi, atau tidak melalui sesuatu yang bisa diindera, maka ketenteraman pasti tidak akan terwujud. Begitu juga pemecahan problem besar juga tak akan didapatkan. Apabila pemikiran tersebut tidak menghasilkan pemuasan, yaitu tidak sesuai dengan fitrah manusia, berarti ia hanya hanya menjadi asumsi atau penginderaan semata. Hal ini tidak akan menghasilkan pemecahan yang menenteramkan jiwa dan tak akan mewujudkan pemuasan daya kehidupan.

Agar pemecahan tersebut merupakan pemecahan yang benar bagi problem besar yang ada, ia harus merupakan hasil proses berpikir dengan metode rasional, harus memuaskan daya kehidupan, dan juga harus bersifat pasti, dalam arti tidak meninggalkan peluang untuk kembali munculnya pertanyaan-pertanyaan. Dengan demikian, barulah akan diperoleh pemecahan yang benar dan ketenteraman yang permanen terhadap pemecahan tersebut. Karena itu berpikir tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan, termasuk jenis berpikir yang paling penting. Yaitu berpikir tentang pemecahan problem besar, dengan pemecahan yang sesuai dengan fitrah (yakni bisa mewujudkan pemuasan daya kehidupan) dan dengan pemecahan yang bersifat pasti yang akan menghalangi munculnya kembali pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Memang benar, bahwa usaha yang muncul dari daya kehidupan untuk memuaskan sesuatu yang menuntut pemuasan, terkadang bisa menunjukkan jawaban terhadap problem besar. Sebab, perasaan lemah dan membutuhkan suatu kekuatan yang akan menolongnya, akan menimbulkan pemecahan problem besar tersebut dan akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan.

Hanya saja cara seperti itu adalah cara yang tidak aman akibatnya. Juga tidak bisa menghasilkan pengokohan pandangan hidup bila dibiarkan sendiri. Sebab naluri beragama terkadang bisa memunculkan fantasi dan asumsi di dalam otak yang tidak berhubungan dengan kebenaran sedikit pun. Fantasi dan asumsi tersebut meskipun bisa memuaskan daya kehidupan, tetapi bisa menimbulkan pemuasan yang menyimpang, seperti penyembahan patung. Atau bisa menimbulkan pemuasan yang salah, seperti pensakralan para wali. Karena itu, daya kehidupan tidak bisa dibiarkan sendiri untuk memecahkan problem besar dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Yang harus dilakukan ialah menjalankan proses berpikir tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan untuk bisa menjawab pertanyaanpertanyaan. Hanya saja jawaban tersebut haruslah sesuai dengan fitrah. Artinya jawaban itu harus dapat memuaskan daya kehidupan, dan harus bersifat pasti yang tidak dimasuki suatu keraguan. Jika pemecahan tersebut telah diperoleh melalui proses berpikir yang sesuai dengan fitrah, berarti saat itu telah terdapat pemecahan yang memenuhi akal dengan kepuasan, dan memenuhi hati dengan ketenteraman.

pada akhirnya manusia harus mencari pandangan hidup yang benar demi hatinya sendiri, akalnya sendiri, kehidupannya sendiri supaya dia dapat menjalani hidup dengan tenang, tenteram dan bahagia. yang lebih penting lagi adalah manusia harus mencari pandangan hidup yang benar supaya dia mengetahui kebenaran yang sebenarnya tentang dunia, supaya dia mengetahui kebenaran dan kenyataan dunia, supaya hidupnya tidak sia-sia. betapa meruginya hidup manusia jika dia ternyata mengikuti pandangan hidup yang salah. di dunia ini pasti ada yang namanya kebenaran karena manusia hanya hidup di dsatu dunia, satu sistem hukum alam, satu sistem yang menjelaskan segala fakta. oleh karena itu pasti hanya ada satu kebenaran dan kenyataan dunia dan pasca kehidupan dunia.

petunjuk mengenai pandangan hidup yang benar ada tiga:

1. masuk akal. memiliki penjelasan rasional dan argumentasi/ penjelasan logis.

2. memuaskan hati. dengan artian mampu memenuhi kebutuhan fitrah dan naluri manusia seperti tempat berdoa dan berharap, melindungi harga diri manusia tanpa mengumbarnya dan memenuhi hasrat cinta, kepedulian dan kebaikan antar manusia.

3. pasti. tidak ada keraguan di dalamnya.

sebagai tambahan pandangan hidup yang benar bersifat:

1. universal. berlaku di segala tempat di seluruh dunia.

2. abadi. dia berlaku sepanjang masa dari zaman lampau sampai akhir.

3. mengajarkan kebaikan. pandangan ini mengajarkan untuk berbuat baik pada orang lain, tidak menjajah, merampas dan menjarah barang milik orang lain.

3. keadilan. memperlakukan semua orang manusia sama, tidak mengunggulkan satu orang, golongan, suku atau bangsa tertentu di atas bangsa yang lain.

sifat-sifat di atas dapat dijadikan panduan untuk mencari pandangan hidup yang benar. pandangan hidup yang benar sama saja dengan kebenaran dunia. ini adalah tugas semua orang. ini juga merupakan tujuan dari ilmu pengetahuan, apapun bidangnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *