sepeda motor impian Lilia

Lilia adalah seorang gadis pelajar SMP Aryapati. Lilia tinggal di sebuah rumah di pinggiran kota bersama kedua orang tuanya. Setiap hari Lilia berangkat sekolah jalan kaki menuju halte bus yang berada agak jauh dari rumahnya. Dari halte ia menaiki bus menuju sekolahnya.

Setiap hari Lilia melihat anak-anak lain berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor bersama teman-teman mereka. Anak-anak itu terlihat begitu senang bercanda dengan yang lainnya, mereka begitu bebas meliuk-liuk di antara kendaraan-kendaraan yang ramai di pagi hari.

Sepulang sekolah kadang-kadang anak-anak tidak langsung pulang, mereka masih asyik ngobrol dengan gerombolan mereka. Kadang mereka makan bareng di kafe, jalan-jalan di mall, nonton film di bioskop, mengerjakan tugas bersama di taman walau jadi lebih banyak ngobrol.

Kadang-kadang Lilia diajak juga, tapi dia selalu menolak.

“Maaf, aku harus segera mengejar bus untuk pulang. Aku nggak punya kendaraan sendiri.” Katanya.

Kadang-kadang ada teman yang mau membantu mengantarkan pula, tapi kadang juga mereka membolehkan Lilia pulang duluan. Lilia meneruskan perjalanan pulang tapi terus memikirkannya di jendela bus dia termenung.

Sesampainya di rumah dia segera sholat, makan kemudian beristirahat. Sore harinya Lilia melihat ibunya sedang menyeterika baju di ruang tengah. Dengan hati takut-takut Lilia mendekat.

“Ibu, boleh aku meminta sesuatu?” Tanya Lilia.

Ibu Lilia melihat putri semata wayangnya menghentikan seterikanya. Ia gulingkan seterika supaya tidak hangus.

“Ada apa sayang?”

“Ibu, boleh nggak aku minta supaya dibelikan sepeda motor?”

“Kenapa kamu minta sepeda motor?”

“Supaya aku bisa cepat sampai sekolah, nanti juga cepat sampai ke rumah. Terus nanti kalau ada perlu ke mana-mana bisa cepat sampai.” Jawab Lilia.

“Bukankah sudah ada bus yang setiap hari kamu naiki?”

“Aku capek jalan kaki terus tiap hari. Haltenya juga jauh.” Lilia mulai merengek.

“Lilia sayang, maaf ibu belum bisa kasih sekarang, kamu kan sudah tahu uang kita nggak banyak? Ayah juga nggak penghasilan besar. Penghasilan hanya cukup untuk makan. Masih untung kamu bisa sekolah. Ketahuilah nak sepeda motor itu harganya mahal. Nggak murah. Apalagi biaya  perawatannya. Dan lagi berkendara di jalan raya itu berbahaya lo. Nanti bisa kecelakaan. Kalau Lilia kecelakaan gimana? Kalau kendaraannya rusak gimana? Kan kita tidak punya uang untuk memperbaikinya? Yang lebih penting lagi, kenapa Lilia jadi pingin naik sepeda motor? Bukannya dari dulu sudah bisaa jalan kaki sama naik bus?”

“Soalnya teman-teman Lilia sudah banyak yang naik motor.” Jawab Lilia.

“Yang sabar ya sayang? Jangan mudah terpengaruh teman-temanmu. Percayalah kalau kamu punya jalan hidupmu sendiri. Kelak jalan hidupmu akan memberikan kekuatan bagimu.” Nasehat Ibu Lilia.

Lilia tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengerutkan dahi.

“Sudah dulu ya sayang Ibu mau melanjutkan seterika dulu. Kamu bisa nonton TV aja sana.” Kata Ibu Lilia.

Lilia ke ruang sebelah untuk nonton TV. Dia duduk di sofa kuning. Dengan malasnya gadis itu menekan remote. Pas acaranya sinetron remaja. Di sana digambarkan betapa kerennya para pelajar itu menaiki sepeda motor pria. Mereka berjaket hijau, merah, biru kuning dan sebagainya. Mereka saling beradu kecepatan di jalanan. Setelah itu ada iklan sepeda motor pula untuk wanita. Sepeda motor itu lebih ringan dan mudah, tidak perlu ganti gigi untuk meningkatkan kecepatan. Semua begitu praktis dan sporty. Cool !!!

“Haah…” Lilia hanya bisa mendesah.

Malamnya Lilia setelah belajar mendekati ayahnya. Ayahnya sedang membaca buku sendiri di teras sedangkan ibunya sedang menonton TV. Lilia mendekat perlahan.

“Yah, Ayah.” Panggil Lilia.

“Hm, kenapa, ya?” Tanya Ayah Lilia.

“Boleh nggak aku minta ayah beliin aku sepeda motor? Aku pingin naik sepeda motor yah.”

“Memangnya kenapa kok pingin naik sepeda motor? Bukannya naik bus sudah bisa?”

“Aku pingin ke mana-mana dengan cepat.  Bisa ke sekolah, ke rumah atau ke tempat-tempat yang lain kalau ada perlu.”

“Bukannya karena pingin main?” celetuk Ayah Lilia.

Lilia tertohok mendengar itu, seakan – akan ayahnya tahu isi hatinya.

“Lilia, bukankah tugas kamu adalah sekolah untuk belajar? Kalau sudah selesai ya pulang ke rumah. Nggak perlu main ke mana-mana lagi. Bisa bahaya kalau nggak hati-hati. Nanti kalau terjadi kenapa-kenapa gimana?”

“Aku bisa jaga diri kok!” kilah Lilia.

“Lilia, kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi. Kita harus selalu hati-hati. Juga jauhi bahaya. Ayah selalu bilang buat hati-hati.”

“Jadi gimana? Ayah bisa beliin aku sepeda motor? Seperti yang ada di TV itu lo yah? Mudah, praktis.” Tanya Lilia berusaha membujuk sekali lagi.

“Maaf, masih belum bisa walaupun mungkin nanti ayah ada uang, kamu sebaiknya berhati-hati dulu.”

“Ayah jahat!” ujar Lilia seraya berbalik meninggalkan ayahnya. Ayahnya tak sempat menahan hanya bisa menghela napas.

Lilia berlari masuk kamar. Dia kunci pintu. Dia berbaring memluk guling. Tanpa terasa air matanya mengalir. Ia perlahan terlelap jatuh tertidur.

Keesokan paginya Lilia berangkat ke sekolah dengan hati sendu. Seakan seluruh dunia menjadi kelabu gelap hendak hujan. Ia teringat kata-kata ayahnya tadi setelah sarapan saat hendak berangkat.

“Terimalah kejadian ini. Ini adalah yang terbaik buat kamu. Suatu saat nanti kamu akan mengerti kenapa.”

Anak-anak itu masih berkendara mendahului bis. Lilia hanya bisa menatap pemandangan itu dengan hati hampa.

“Kesenangan adalah masa itu. Kebahagiaan adalah disitu. Dan aku tak bisa meraihnya. Oh , betapa tragis nasibku.”

Bus berhenti di depan sekolah. Lilia turun dengan lesu. Ia turun begitu saja. Ia melewati lapangan sekolah tanpa melihat ke sana kemari menyapa teman-temannya. Saat disapa ia menyapa balik, tapi dengan senyum hambar. Setengah tersenyum sekilas dan cepat berpaling seakan-akan sekedar formalitas.

Beberapa hari masih tetap sama, hatinya masih terasa tertusuk duri saat melihat anak-anak itu. Apalagi mereka itu tetangganya sendiri satu sekolah, satu angkatan Cuma beda kelas. Hal yang sama terasa pada kedua orang tuanya. Keduanya terasa berjarak. Lilia menjadi agak menjauh, mengurung diri terus di kamar.

Beberapa hari kemudian kelas Lilia disuruh menggambar poster. Lilia berencana membeli kertas poster beserta alat-alat untuk melukis di took alat tulis yang terletak beberapa blok dari sekolahnya. Lilia membeli bersama teman-temannya.

Saat sampai di depan took alat tulis Lilia melihat seorang polisi muda menanyai seorang pelajar. Lilia mengamati anak itu, lalu terkejut ternyata ia mengenalinya. Anak itu adalah anak SMP yang setiap hari ia lihat di bus. Lilia mendekat.

“Adik bawa STNK?”

“Tidak, pak.”

“SIM juga nggak punya kan? KTP juga nggak punya. Kartu pelajar punya?”

“Nggak pak, hilang. Soalnya belum diurus.” Jawab anak itu.

“Bagaimana ini? SIM nggak punya, STNK nggak punya, KTP bahkan Kartu Pelajar nggak punya tapi sudah berani naik sepeda motor lagi. Nggak pakai helm, menerobos lalu lintas.”

“Biasanya nggak ada lo pak.”

“Jadi kalo nggak ada Polisi bisa melanggar begitu?”

Anak itu tak bisa menjawab.

“Adik ada nomor keluarga yang bisa dihubungi?” Tanya polisi tersebut.

“Ada.”

Anak itu mengeluarkan Hp-nya. Ia memeriksa daftar kontak. Ia menelepon orang tuanya. Polisi lalu berbicara dengan orang tuanya. Mereka berbicara sebentar lalu selesai.

“Adik saya tilang ya? Maaf motornya saya sita sebagai barang bukti.”

Anak itu terpaksa menurut.

“Adik sebenarnya mengendarai sepeda motor di bawah umur 17 tahun itu dilarang. Saat 17 tahun setiap warga Negara diwajibkan memiliki KTP, setelah membuat KTP kemudian SIM C. Saat itu baru boleh mengendarai sepeda motor. Kelengkapan helm, mematuhi peraturan lalu lintas.”

“Terus nanti kalau sekolah bagaimana?” Tanya anak itu.

“Kan bisa naik bus? Ada kan bus yang lewat daerah rumah adik?” sahut polisi.

Lilia tersadar mendengar penjelasan polisi. Ternyata mengendarai sepeda motor bagi pelajar SMP dan SMA sebelum mempunyai KTP dan SIM itu melanggar hukum. Yang benar adalah menggunakan bus, walau bisa juga naik ojek, kereta atau yang lain.

Lilia segera menuju halte bus terdekat. Teman-temannya bertanya, “Lia, kamu kenapa?”

“Maaf aku harus pulang dulu. Kalian beli dulu aja.” Jawab Lilia.

Begitu bus mendekat, Lilia segera melambaikan tangan. bus berhenti membuka pintunya. Lilia segera masuk dan duduk di kursi dekat pintu. Tak sabar rasanya ingin cepat pulang. Begitu dekat dengan halte tujuan ia segera membayar ongkos perjalanan. Ia turun, berlari hingga sampai rumah.

“Ayah, Ibu!” panggil Lilia terengah-engah.

“Kenapa lari-lari , Lia? Kamu sudah bukan anak kecil lagi lo.” Tegur Ibu Lilia.

Spontan Lilia memeluk Ibunya.

“Bu maafkan aku. Aku baru sadar ternyata aku yang salah. Ibu yang benar, mulai sekarang aku akan nurutin kata-kata ibu.”

“Sebentar, sebentar ada apa ? ceritain apa yang terjadi.”

Lilia menceritakan apa yang baru dilihatnya semuanya dengan cepat. Ibunya terus mendengarkan setelah itu Ibunya memberinya air putih untuk diminum. Setelah minum baru anak gadis itu lega.

“Ya sudah sekarang kamu sholat dulu, terus makan baru istirahat. Nanti malam kamu ceritakan sama Ayah.”

“Oke.”

Lilia pergi wudlu dengan hati senang, tenang dan mantap. Bukan hanya karena pertanyaannya terjawab, tapi juga karena yakin bahwa jalan hidupnya adalah yang benar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *