HP

ide baru muncul. konsep cerita itu sudah disusun. ceritanya sudah selesai dan sudah ditulis. sekarang waktunya menghubungi Rino untuk mengetikkannya sekalian nanti buat diskusi dan nanyain pendapatnya. Wika menekan nomor HP Rino yang tersimpan di daftar kontaknya.

“Halo.” sapa Wika.

“halo.” suara perempuan?

“ini siapa ya?” tanya Wika.

“di sini Fila. maaf anda siapa?”

“saya Wika. Rino ada?”

malam minggu pertama setelah sekian lama nggak bertemu, Rino deg-degan campur senang. ada rasa takut juga. Wika baik-baik nggak ya? semoga mau diterima.

Rino bukan anak orang kaya. dia cuma punya sepeda. dia juga nggak punya HP. dia hanya pakai baju seadanya tapi dia sudah berusaha biar rapi. dia gak pakai pomade, gell, minyak rambut atau apapun. dia cuma sisiran rambut saja. dia kuatkan tekad masuk rumah di seberang jalan itu.

dia menyeberang jalan lalu memencet bel.

“Assalamu alaikum.” sapa Rino.

“wa alaikum salam.” balas Wika. dia membukakan pintu. ekspresinya datar. tanpa senyum atau semangat seperti kemarin-kemarin dulu. dia menatap agak muram, kaku beku.

Rino merasa ada geragat yang aneh. dia jadi merasa tak enak. dia duduk di sofa dulu baru Wika mengikuti. cewek itu tidak ikut duduk melainkan tetap berdiri bersandar dinding.

“ada masalah?” tanya Rino.

“siapa itu Fila?”

“udah ketahuan secepat ini?” batin Rino.

“jelasin! kenapa nomor HP-mu ada di dia?”

“bukan siapa-siapa. aku nggak kenal dia.”

“kamu udah bohong. aku nggak percaya sama kamu. aku udah nungguin kamu tapi kamu ternyata malah jalan sama cewek lain. aku nggak ingin ketemu kamu lagi.”

“Tapi …”

“aku rasa kita nggak usah ketemuan dulu. aku nggak ingin lihat kamu lagi. bisa untuk sementara atau seterusnya.”

Rino bangkit dari duduknya. dia melewati Wika membuka pintu. Wika menunduk mengabaikannya. Rino menaiki sepedanya lalu pergi.

“apa yang terjadi? kenapa jadi seperti ini? kenapa Wika tahu soal Fila? apa Fila menelpon Wika? tapi itu mustahil. aku sudah menghapus semua sms, riwayat telpon dan nomor kontak Wika dari HP Fila, tapi kenapa mereka bisa berhubungan?”

sial! malam minggu yang harusnya indah jadi pertemuan setelah sekian lama ternyata malah jadi bencana. dirinya terancam pisahan dengan satu-satunya yang dicintainya. harapan dan mimpi indahnya hangus menjadi abu di malam minggu.

“sekarang aku harus gimana? aku harus mengejar Wika atau lepasin? atau aku balik ke Fila? Fila sendiri masih mau apa nggak?”

Rino bertemu Fila lagi di skretariat jurnalistik. mereka walau beda kelas dan nggak ada hubungan lagi tapi masih satu ekskul. jadi masih ketemuan.

“Rino.” Fila akhirnya buka suara.

Rino menoleh pada cewek rambut pendek itu.

“kamu yakin kamu mau putus?”

“nggak.” jawab Rino akhirnya.

“kita balikan?” sahut Fila senang.

“kita introspeksi diri kita sendiri-sendiri dulu.”

“oh.”

“oh, ya kemarin ada yang nanyain kamu.” kata Fila.

“siapa?”

“namanya Wika.”

“oh,ya?” mata Rino membelalak.” dia tanya gimana?”

“dia nanya kamu ada apa nggak.”

“terus?”

“aku jawab nggak ada.”

“terus?”

“dia nutup telepon.”

“huff… untung aja.”

“untung gimana?”

“aku pinjam buku tugasnya tapi aku belum balikin. biasa, buat tugas kuliah.” jawab Rino bohong.

“ya udah. aku duluan ya? aku mau ke kantin dulu.”

“oke.”

Fila keluar duluan. Rino membereskan buku-bukunya lalu ikut keluar, tapi beda tujuan. dia berbelok menuju kafe yang lain. di sana banyak mahasiswa lagi makan-makan. Rino menghampiri salah satu dari mereka.

“Amar!” panggil Rino.

“yo! ada kabar apa bro.”

Rino duduk. dia memesan kopi. sambil nunggu pesanan dia ceritakan masalahnya ke sahabat karibnya ini. walau beda kelas dan jurusan tapi mereka sering bersama. bersama Amar Rino bisa percaya dan cerita.

“menurutmu aku harus gimana?”

“kamu ingin gimana?”

“aku ingin terus sama Wika.”

“ya udah. kejar!” tandas Amar.” cari dia. ceritain yang sebenarnya. ceritain kalo kamu beneran cinta sama dia. kasih bukti-buktinya.”

“tapi dia cuma ada bisa ditemui di rumah dan rumahnya sudah ditutup. orangtuanya sangat ketat. dia juga jarang pulang.”

“emang dia ke mana?”

“dia kuliah.”

“dia kuliah di mana?”

“di Inca, kota Cakrawala.”

“kejar ke sana!”

“Tapi …”

“serius nggak kamu masih mau sama dia …”

besoknya Rino sudah di kereta api menuju Kota Cakrawala di sebelah timur kota Patria sejauh 72 km. dia duduk di tepi melihat pemandangan luar jendela berupa sawah-sawah yang diterangi matahari putih. gak tahu kenapa tiba-tiba sudah sampai di sini.

“aku sudah gila. dan semoga aku bener. ” harapnya.

mahasiswa UNEKA itu turun di stasiun kota Cakrawala. dia naik bis menuju kampus INCA di daerah pusat kota. dua puluh menitan di tiba di kampus negeri kota itu, Institut Cahaya. kampus itu berdiri megah dengan gedung-gedung tinggi menjulang. kampus itu ramai di pagi hari ini dengan banyak orang lalu lalang dan kendaraan keluar masuk. ada yang jalan kaki, naik sepeda, motor, mobil, skateboard dan lain-lain.

Rino segera mencari gedung fakultas bahasa. dia tanya ke orang-orang tentang fakultas itu, letaknya, dan jadwal kuliahnya. dia tahu kelas Wika. sekarang tinggal mencari kelasnya. setelah ketemu di lantai tiga, dia menunggu kuliah selesai.

“kuliah kita sampai di sini dulu. kita lanjutkan minggu depan. jangan lupa kumpulkan tugasnya.” suara dosen mengakhiri kuliah.

anak-anak kelas bahasa keluar kelas. satu persatu mereka melewati pintu. Rino meneliti mereka satu persatu mencari sosok wajah yang dia kenal. merreka cowok, cowok, ceweok, cowok lagi. mereka asyik ngobrol sendiri. ada yang bercanda, menanyakan tugas, acara setelah ini dan lain-lain. yang cewek juga ada yang diam saja dengan lesu.

“Wika!” panggil Rino begitu mengenali cewek itu.

“Rino! apa yang kamu lakuin di sini? kenapa bisa ada di sini?” tanya Wika terkejut.

“aku mencari-cari kamu.”

“sampai ke sini?”

“iya.” Rino melihat sekeliling.” kita cari tempat yang sepi yuk! di taman mana gitu.”

Wika menunjukkan tempatnya. Rino mengikutinya. mereka menemukan bangku batu mengelilingi meja batu di bawah pohon yang rindang dikelilingi rerumputan hijau dan bunga-bunga.

“sekarang katakan kamu mau ngomong apa!”

“Wika, aku minta maaf sama aku. aku pingin kita tetep jalan terus seperti dulu. kita bisa temenan. kamu nulis posting dan aku yang ngetik. kita bisa ketemuan, diskusi kayak dulu bahkan lebih. aku ingin kita bisa jalan bareng bahkan melangkah lebih jauh samapa seperti yang aku katakan waktu kita ketemu dulu itu.”

“itu doang?”

“kamu tau kan kelanjutannya?”

“kamu bohong! dasar buaya! kau pikir kamu akan bisa nipu aku? aku tau semua cowok sama aja! pada buaya semuanya!”

“nggak semuanya kayak gitu. masih ada cowok yang setia biarpun nggak banyak.”

“kamu nggak termasuk yang itu.” ujar Wika seraya pergi meninggalkan Rino.

“Wika, dengerin aku dulu!” panggil Rino tapi Wika tak menggubris. cewek itu terus aja menjauh.

Rino memutuskan mengejarnya. ini memalukan. sama kayak di TV-TV dan sinetron, tapi harus dilakukannya kalau ingin mendapatkan cewek berbaju biru itu.

Rino berusaha mendahului Wika dan mecegatnya.

“bisa nggak kasih aku kesempatan ngomong?”

“kamu udah dapet!”

Rino mengeluarkan kaleng kotak dan memberikannya kepada Wika.

“apa ini?”

“liat aja isinya!”

Wika membukanya. dia menemukan kertas putih terlipat. dia balik dan lihat isinya. ternyata itu print out tulisannya, tulisan pertamanya. ada nama, alamat dan nomor HP-nya di sana. dia ambil lagi yang lain. ada foto-foto. itu foto-foto waktu mereka bersama di rumahnya. mereka selfie selfie di ruang tamu dengan macam-macam gaya.

“kamu masih nyimpen ini?”

“semuanya. aku masih simpan semuanya biar ingat kamu terus. aku juga bikin blog untuk ngungkapin perasaanku ke kamu biarpun kamu jauh. sama seperti kamu juga. di wordpress.”

“apa alamatnya?”

Rino menyebutkan alamatnya. Wika pergi ke wifi corner untuk membuktikannya. dia periksa di sana. ternyata benar-benar ada.

“terus kenapa kamu jalan sama cewek lain? siapa itu Fila? kenapa nomor HP-mu ada sama dia?”

“awalnya adalah saat mau UNAS. aku mau ketemu kamu tapi kamu bilang kamu gak boleh ketemu karena ayahmu melarang. ayahmu nyuruh fokus UNAS dulu.”

“ya, tapi terus?”

“abis UNAS aku ke rumah kamu, tapi ayah kamu bilang kamu mau fokus SNMPTN. kamu mau kuliah di tempat yang jauh. kamu mau ngekos di sini. nanti bakalan jarang pulang. aku gak bisa ngejar kamu ke sini. di sini kamu bakalan ketemu banyak cowok cakep, pintar dan kaya. kamu juga cantik. pasti banyak yang suka sama kamu.

aku pikir aku gak bisa dapetin kamu lagi. jadi aku berusaha lupain kamu. awalnya aku berusaha mengingat terus berharap suatu saat bisa ketemu lagi. tapi saat beberapa kali ke rumah kamu ortu kamu bilang gak ada aku jadi bener-bener putus harapan.

akhirnya aku ngambil kesempatan lain sama cewek lain. tapi biarpun sama dia aku tetep mikirin kamu karena aku cuma pingin setia sama kamu. dan pas dia ngasih aku HP buat bisa hubungan aku jadi ingat kamu. saat itu baru aku bisa sms dan telpon kamu. baru saat itu kita bisa ketemu.

setelah ketemu kamu aku putusin dia. aku balikin HP dan barang-barang pemberian dia juga.”

“makanya HPmu jadi dibawa dia.”

“ya.”

“terus kamu masih ada perasaan nggak sama dia?”

“selalu kamu. kamu yang pertama dan terakhir.”

mereka saling diam. memberikan waktu untuk menciptakan jarak untuk berpikir, merenung dan menghayati apa yang sebenarnya terjadi. saat ketenangan tercipta kebenaran akan terlihat. saat itu kedua hati akan mampu melihat tujuan masing-masing tanpa halangan apa saja.

“jadi gimana?” tanya Rino.

“aku pulang besok.”

“terus?”

“di stasiun jam 4.”

“maksudnya?”

“jadi cowok jangan bodoh-bodoh amat deh! tungguinlah!”

“makasih!” Rino tanpa sadar memeluk Wika. Wika kaget juga, tapi ia bisa memahaminya. ia juga sebenarnya menginginkan kehangatan ini.

mereka pulang bersama jalan bersama sampai waktu memisahkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *