berpikir emosional vs berpikir rasional

berpikir emosional adalah berpikir yang menggunakan perasaan. ciri-cirinya sebagai berikut:
– menggunakan suka/ tidak suka, cocok/ tidak cocok, enak/ tidak enak, suka/ tidak suka.
– menggunakan kata “pokoknya” dan sejenisnya.
– relatif
– labil.
– subjektif
– tidak pasti
– menyerang pribadi lawan, bukan argumennya.
– berbicara ke mana-mana. suka ganti-ganti topik.
– tidak konsisten.

berpikir rasional adalah berpikir yang menggunakan akal. ciri-cirinya:
– memiliki argumentasi.
– memiliki dasar
– memiliki bukti
– memiliki fakta
– mengandung kebenaran
– mengandung banyak informasi.

kedua cara berpikir di atas dapat diterapkan dalam diskusi, dialog atau debat. ketiga aktivitas tersebut boleh dilakukan asalkan tujuannya untuk mencari kebenaran, bukan mencari ketenaran, kemenangan atas lawan, kebanggaan, kehormatan atau ego semata. kebenaran kadang berada dalam di tengah-tengah di anatara beragam pendapat dengan kombinasi pemikiran. kebenaran kadangkala berada di salah satu pendapat antara dua atau lebih orang yang berdialog, diskusi atau debat.
kedua cara berpikir di atas dapat diterapkan menjadi etika debat seperti berikut:
1. mengedepankan ketaqwaan kepada Allah, berniata taqarrub mencari ridla-Nya dengan menjalankan perintah-Nya.
2. berniat memastika kebenaran, bukan karena ingin mengalahkan, memaksa atau menang.
3. tidak berniat mencari kebanggan, kedudukan, dukungan, ingin dilihat atau berselisih.
4. berniat memberikan nasehat kepada lawan.
5. memulai dengan hamdalah dan shalawat.
6. memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar diberi taufik terhadap perkara yang diridlai-Nya.
7. berdebat dengan metode yang baik, pandangan yang baik dan kondisi yang baik.
8. berbicara singkat, padat, menyeluruh dan fasih (sesuai dengan yang dimaksudkan).
9. harus sepakat dengan lawan debat mengenai dasar rujukan keduanya.
11. kalau berdebat dengan orang kafir, berdebat dalam aqidah saja dan rujukannya adalah akal.
12. kalau berdebat dengan muslim, berdebat boleh dalam masalah syariah dengan rujukan akal dan dalil nash.
13. orang kafir tidak boleh didebat dalam masalah syariah karena mereka tidak beriman terhadap aqidah Islam.
14. tidak mengeraskan suara, kecuali untuk didengar olehorang-orang di sekitarnya.
15. tidak boleh meremehkan lawan diskusi dan merendahkan persoalannya.
16. harus sabar atas penyimpangan lawan diskusi. maafkan kesalahan mereka.
17. tidak menghukumi kesalahan mereka dengan frontal, tapi dengan santun.
18. harus berusaha memikirkan dan memahami perkara yang disampaikan oleh lawan diskusi agar bisa membantah.
19. tidak boleh terburu-buru berpikir dan menjawab dengan emosi.
20. tidak cepat marah dan dapat mengendalikan diri.
21. menghadapkan wajah kepada lawan diskusi, bukan ke penonton.
22. tidak boleh memotong pembicaraan.
23. tidak boleh berdebat dengan rasa hebat atau ujub pada pendapatnya sendiri karena orang ujub tidak bisa menerima pendapat orang lain.
24. tidak boleh berdebat di tempat yang ditakutkan seperti ancaman penguasa, lawan diskusi dan sebagainya.
25. tidak boleh berdebat dengan orang yang tidak disukai.
26. tidak boleh mengulang-ulang pembicaraan.
27. tidak boleh berdebat denganorang yang meremehkan ilmu.
28. tidak boleh merasa rendah untuk menerima kebenaran ketika kebenaran itu telah muncul dari pihak lawan.
29. tidak boleh mengacaukan jawaban, yaitu memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan.
30. tidak mengingkari perkara-perkara penting sehingga menentangnya.
31. tidak boleh mengucapkan pernyataan umum lalu membantahnya dengan pernyataan khusus.

lebih lanjut berpikir emosional dan berpikir rasional tidak hanya soal dialog, diskusi atau debat tapi juga cara berpikir, mengambil keputusan dan menjalani hidup. perbedaan keduanya menentukan kehidupan manusia, masa depannya, sukses atau gagal, bahagia atau sengsara, iman atau kufur, benar atau salah, baik atau buruk dan lain-lain.
orang yang hidup hanya dengan berpikir emosional akan menjadi orang yang labil, terombang-ambing, tak punya tujuan hidup dan pendirian. dia mudah tertarik hal-hal baru tapi juga mudah terpancing emosinya. dia mudah marah, mudah sedih, mudah senang tapi labil. dia orang yang kaku, sempit pikirannya. dia bisa saja plin plan, tapi bisa juga keras kepala dan menolak nasehat orang lain-lain. yang penting dia mengikuti perasaan dan egonya saja.
perasaan tidak bisa dijadikan sebagai pedoman hidup karena dia berubah-ubah, tidak tetap, tidak tegas, tidak pasti, subjektif dan relatif, khususnya lagi individual. dia hanya berlaku pada satu orang. dia tidak bisa berlaku pada semua orang. dia tidak bisa menyatukan semua orang. oleh karena itu dia tidak bisa menjadi kebenaran universal walau semua orang memiliki perasaan. perasaan hanyalah reaksi naluri manusia atas hal-hal yang terjadi pada dirinya dan hal-hal di sekitarnya.
orang yang berpikir rasional adalah orang yang selalu berpikir dalam hidupnya. dia membangun hidupnya di atas suatu dasar pemikiran dan keyakinan tertentu lalu dia hidup menjalaninya. dia memiliki ilmu kemudian menerapkannya dalam hidupnya. dia tidak hanya berpikir dan berbicara tapi juga menata diri, kehidupannya, keluarganya dan orang-orang di sekitarnya. dia memiliki jalan hidup, pedoman hidup dan disiplin pribadi yang pasti sehingga membentuk integritas, nilai diri yang positif dan berkarakter.
masalah berpikir emosional dan berpikir rasional adalah masalah abadi dan universal semua orang tentang pertempuran antara kebenaran dan ego. banyak orang sebenarnya mengetahui kebenaran tapi tidak mau tunduk, berserah diri, mengikuti dan menjalaninya karena perasaan dan ego. misalnya malu, malas, sombong. dalam motivasi, manusia yang kalah pada perasaan dan ego melahirkan kegagalan, kemiskinan, kejahatan dan sebagainya. dalam agama kekalahan akal terhadap nafsu melahirkan kekufuran, kemaksiatan, sedikit amal, tidak mau bertaubat, dll.
berpikir rasional adalah kewajiban fundamental dan rasional manusia karena manusia memiliki akal karena manusia telah mendapatkan karunia dari penciptanya. manusia bertanggung jawab untuk menggunakannya dengan sebaik-baiknya. manusia harus mensyukurinya, menjaganya dengan sebaik-baiknya dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya di jalan yang benar. karena kelak manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala yang dilakukannya atas akalnya dan oleh akalnya. untuk apa akal digunakan? disia-siakan atau dimanfaatkan? di jalan yang benar atau salah?
oleh karena itu pengambilan keputusan yang tepat sangat penting bagi manusia.
hidup dengan hanya berpikir emosional adalah kesalahan karena berarti mengabaikan akal manusia. jika manusia hidup seperti itu sama saja hidupnya dengan hewan. hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan tubuh dan nafsu. dia bekerja dan bergaul tapi tujuannya untuk makan, bersenang-senang dan sex. dia bekerja, makan, tidur, BAK, BAB. hidup hanya untuk mengumpulkan harta kembalinya untuk mempertahankan hidupnya yang untuk makan, bersenang-senang dan nafsunya. dia pikir hidup hanya untuk kehidupan di dunia ini saja. dia sama sekali tak memikirkan tentang hakikat kehidupan di dunia, jatid dirinya dan nasibnya setelah mati. bahkan mati saja dia tidak memikirkannya padahal mati bisa saja begitu dekat dengan urat lehernya.
akal membuktikan manusia tidak sama dengan hewan. jadi hidupnya juga seharusnya tidak sama. akal bukan sekedar alat untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keinginan hawa nafsunya, tapi juga pengatur seluruh kehidupan manusia sepaya selalu berada di jalan yang benar.
berpikir rasional, menjalani hidup dengan selalu berpikir dan mengatur hidup tidak seharusnya menjadi beban tapi justru menjadi pembuka jalan bagi kebahagiaan manusia. karena bukankah dengan akal manusia sadar akan arti kehidupannya di dunia ini? dengan akal manusia mengenal logika, etika dan estetika? dengan akal manusia menikmati hidup, mengenal iptek, budaya dan selera yang membuat hidup manusia lebih baik.
hidup dengan berpikir rasional dan teratur sesuai dengan fitrah manusia. cara hidup seperti itu adalah wujud rasa syukur manusia atas karunia akalnya yang membuat hidupnya beradab. tentu manusia tidak ada yang mau kehilangan akalnya yang berakibat dia menjadi gila atau sama dengan hewan. rasa syukur sesuai dengan fitrah manusia dan jalan menuju kebahagiaan. setiap manusia juga pasti mendamba kebenaran dan ingin hidup menuju kebenaran dan kebaikan menuju kebahagiaan. jalannya dengan keputusan yang benar, tujuan yang benar dan jalan hidup yang benar.
sekarang tinggal caranya. caranya adalah pertama-pertama mencari pandangan hidup yang benar, yaitu pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, kehidupan dan manusia, beserta apa yang ada sebelumnya dan apa yang ada setelahnya juga antara semua ini. pemikiran ini adalah tentang asal-usul manusia, kehidupan dan alam semesta, jati dirinya dan tujuan akhirnya. pemikiran ini menyangkut tentang filsafat, agama, budaya, negara dan ideologi. tentang mencari kebenaran. kemudian mencari pedoman hidup berdasarkan kebenaran itu. lalu menerapkannya dalam kehidupannya. kemudian terus berlajar menimba ilmu untuk memperbaiki diri dalam kehidupan di jalan kebenaran demi tujuan akhir yang bahagia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *