pemahaman rizki yang salah dan yang benar

di antara masyarakat kita masih banyak orang yang memegang keyakinan dan pemahaman yang salah tentang rizki sehingga bekerjanya tidak maksimal atau bekerja maksimal sampai melanggar hukum-hukum Islam. misalnya sebagai berikut:

  1. banyak orang memahami memperoleh rizki dari usahanya sendiri. jika orang itu bekerja keras kemudian menerima gaji, dia menganggap gaji itu dari usahanya. ini adalah pemahaman rizki yang salah. benarkan rizki itu datang atas usaha kita? kalau benar maka setiap orang yang bekerja pasti dapat uang, tapi faktanya orang yang bekerja belum tentu dapat uang. jadi sebab mendapatkan rizki bukan hanya berasal dari bekerja.
  2. pemahaman yang salah tentang ayat-ayat yang menjelaskan bahwa rizki datang tanpa usaha. mereka berkeyakinan bahwa rizki itu datang dari Alloh jadi manusia tidak perlu bekerja karena sudah diberikan oleh Alloh.
  3. ada juga beranggapan untuk mendapatkan rizki dari perbuatan-perbuatan yang haram seperti mencuri, berzina, berjualan miras, korupsi, menjual proyek pemerintah dan sebagainya. mereka melakukan demikian karena beranggapan rizki itu semua datangnya dari Alloh. Alloh itu maha baik jadi apapun yang Alloh berikan pasti baik apapun jalannya. kenyataannya ada bedanya antara rizki yang halal dan ada yang haram. buktinya pada yaumul hisab akan ditanyakan dari mana datangnya rizki yang dia dapatkan. dari jalan syar’i atau jalan maksiat. kalau jalan syar’i dia akan mendapatkan pahala sedangkan kalau dari jalan maksiat dia akan mendapatkan dosa.

pemahaman yang benar mengenai rizki adalah:

  • kita harus yakin bahwa rizki itu datangnya dari Alloh.
  • kita harus bertawakkal dan menjalankan sunnatullah-Nya.
  • berpegang teguh pada hukum syara’.
  • manusia harus terikat pada sebab kepemilikan benda, bukan sebab memperoleh rizki. sebab kepemilikan benda diatur dalam sistem ekonomi Islam. sistem ekonomi islam menjelaskan ada sebab kepemilikan yang syar’i dan ada yang tidak. yang syar’i antara lain bekerja, waris, hibah, infaq, shodaqoh, zakat, jizyah dan lain-lain. bekerja atau berusaha harus pada muamalah yang syar’i, akad yang syar’i dan pada benda yang halal. tidak boleh yang haram. begitu juga muamalah dan sebab kepemilikan yang lain. sebab perolehan rizki adalah kehendak Alloh di mana kehendak Alloh itu gaib, belum diketahui sebelum ia terjadi.
  • tidak menghalalkan segala cara untuk memperoleh rizki.
  • membuat kita tidak takut dengan keislaman dalam bekerja. misalkan berhijab di tempat kerja, menjauhi khalwat dan ikhtilath di tempat kerja selagi bisa.
  • berdoa di samping berikhtiar. juga berdoa semoga ditambahkan rizki dari jalan yang baik (halal, tayyib, syari’i), barokah, bertambah kebaikan.

yang dimaksud dengan merubah takdir adalah ALloh menguasai takdir.

bagaimana jika dalam berdagang dagangan kita habis duluan?

rizki itu datang dari Alloh. jadi manusia tidak berhak memaksa rizki jika dia telah bekerja keras dia akan mendapatkan rizki yang banyak.

Alloh memerintahkan kita untuk untuk menghitung rizki sehingga ketika kita menghitungnya, kita akan menyadari betapa banyaknya rizki yang telah Alloh berikan kepada kita seperti materi, umur, kesehatan, waktu, ilmu, akal, iman, bisa mengingat Alloh, bisa beribadah, bisa bertaqarrub kepada Alloh. jadi rizki itu bukan hanya materi tapi segala yang telah ALloh berikan kepada kita. semua itu tak terhitung nilainya dan banyaknya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *