kesalahan akibat menjadikan metode ilmiah sebagai metode berpikir

metode ilmiah telah sukses membawa bangsa eropa (barat) pada kemajuan sains dan budaya seperti renaissance, revolusi industri, zaman reformasi, penjelajahan lautan, penemuan-penemuan benua baru sehingga mereka menguasai dunia. mereka menjadi maju yang kemudian sayangnya menjadi menjajah negara-negara dan bangsa lain. negara-negara lain takluk akhirnya takluk dan tunduk. bangsa yang kalah akhirnya meniru segala budaya dan pemikiran bangsa penjajah. akhirnya bangsa barat dan jajahan mereka menggunakan metode ilmiah sebagai asas berpikir dalam memandang dunia dan memecahkan berbagai persoalan termasuk penelitian ilmu pengetahuan.

memang benar metode ilmiah jika diterapkan pada materi dia dapat menghasilkan penemuan yang benar, kesimpulan yang benar terhadap materi walaupun tidak mutlak. penyebutan metode ilmiah pun benar karena metodenya hanya satu, tetap, tidak berubah-ubah dan tidak bervariasi. namun menjadikan metode ilmiah sebagai asas berpikir dalam memandang segala hal seperti dunia, kehidupan, masyarakat, dunia dan sebagainya merupakan kesalahan. kesalahannya tidak hanya satu atau sedikit, tapi banyak dan melahirkan beragam kesalahan lain. kesalahan-kesalahan itu yang akan kita bahas dalam tulisan ini. tujuannya bukan untuk menentang atau menjatuhkan metode ilmiah sebagai jalan penelitian, tapi untuk menempatkannya di posisi yang tepat sehingga kesimpulan-kesimpulan yang diambil dalam penelitian ilmiah tepat. juga supaya cara pandang terhadap dunia menjadi benar. hal ini menyangkut pandangan hidup manusia.
langsung saja ini dia kesalahan-kesalahan menjadikan metode ilmiah sebagai asas berpikir:
1. inti dari metode ilmiah adalah percobaan dan pengamatan terhadap objek berupa materi di laboratorium. objek ditempatkan di kondisi yang tidak alami, terisolasi dari lingkungan luar. jadi dia berada dalam sistem tertutup. metode percobaan ini dapat diterapkan pada objek berupa materi dan dapat digunakan untuk penelelitian ilmu-ilmu alam seperti fisika dan kimia. namun metode ini tidak dapat diterapkan pada manusia dan masyarakat karena manusia dan masyarakat tidak dapat ditempatkan di laboratorium, diisolasi lalu diberikan perlakuan tertentu untuk diketahui langsung hasilnya.penelitian manusia dan masyarakat hanya dapat dilakukan melalui pengamatan langsung di lapangan yang alami, bukan percobaan di laboratorium. survey hanyalah usaha untuk mengetahui fakta, alasan, tujuan, dan detail pilihan dan pola perilaku manusia, bukan mengubah manusia dan masyarakat. selain itu manusia dan masyarakat saling berinteraksi sehingga saling mempengaruhi dan berubah-ubah. oleh karena itu metode ilmiah tidak bisa diterapkan pada analisis sosial kemasyarakatan seperti ekonomi, sosiologi dan politik.
2. jika metode ilmiah digunakan sebagai asas berpikir, maka hasilnya manusia akan mengingkari hal-hal yang bukan materi karena tidak dapat dibuktikan keberadaannya di laboratorium. manusia menjadi mengingkari keberadaan Tuhan, malaikat, jin, setan, akhirat, surga dan neraka. manusia pun menjadi menolak pentingnya agama. manusia menjadi menganut materialisme (pandangan bahwa yang ada di dunia ini hanya materi. selain materi, ditolak.). ini adalah kesalahan pada bidang filsafat ontologi.
3. pada tingkatan epistemologi, manusia jadi menolak keberadaan dan pentingnya agama sebagai sumber pengetahuan. agama disamakan dengan mitologi, takhayul, fantasi, khayalan dan kepercayaan yang dogmatis, irasional, subjektif. oleh karena itu para ilmuwan pengguna metode ilmiah menjadi memisahkan antara ilmu pengetahuan dan agama. hal ini disebut sekulerisme sains.
4. metode ilmiah menyamakan manusia dengan hewan. contohnya adalah penelitian psikologi dan pendidikan yang menggunakan tikus sebagai sampel dalam percobaan untuk pendidikan anak-anak.
5. metode ilmiah menyamakan manusia dengan sains. contohnya adalah persamaan-persamaan ekonomi yang menganggap manusia sekedar variabel. yang dimasukkan dalam persamaan hukum permintaan dan penawaran hanya harga dan jumlah barang yang diminta, padahal manusia memiliki perasaan, selera, budaya, pandangan hidup dan faktor-faktor itu mempengaruhi permintaan dan penawaran manusia terhadap barang atau jasa tertentu.
6. metode ilmiah pada bidang aksiologi melahirkan sikap materialisme, yaitu sikap hanya mementingkan materi saja. tujuan hidup manusia menjadi hanya mengumpulkan materi dan menikmati kesenangan materi saja. manusia pun menjadi hedonis (mencari kesenangan sebanyak-banyaknya dan menjauhi penderitaan). manusia pun menilai orang lain dari materi. orang yang kaya dan terpandang dimuliakan sedangkan orang miskin dan terpencil dihinakan. padahal harta dan kedudukan itu relatif. dia hanya sementara dalam kehidupan. kehidupan manusia naik dan turun. orang yang materialis mencari teman dan wanita yang kaya dan cantik. semua diukur dari penampilan, mereka menjadi sombong dan merendahkan orang lain.
7. jika metode ilmiah dijadikan asas berpikir maka akan menghapuskan banyak bidang ilmu pengetahuan yang lain padahal ilmu pengetahuan ada banyak. dengan metode ilmiah ilmu pengetahuan yang ada hanya ilmu alam seperti fisika, kimia, geografi dan sejenisnya yang eksperimental dan material. kenyataannya masih ada ilmu-ilmu lain seperti ekonomi, sosiologi, politik, hukum, bahasa, sejarah, antropologi dan sejenisnya.
8. dalam metode ilmiah berlaku relativitas kebenaran. artinya hasil penelitian yang sesuai dengan kenyataan dinilai benar selama belum ada penelitian lain yang membuktikan kesalahannya. nanti jika ditemukan penelitian yang lain yang membuktikan kesalahannya, hasil penelitian yang awal dianggap salah dan diganti yang baru. jika metode ilmiah dijadikan sebagai asas berpikir, maka hasil penelitiannya dijadikan pandangan hidup, maka manusia akan kehilangan keyakinan terhadap kebenaran mutlak. manusia menjadi menganut relativisme kebenaran. manusia akan kehilangan pegangan hidup jika begini. dia tidak yakin pada pandangan hidupnya karena suatu saat nanti bisa saja pandangan hidupnya salah dan akan terus berubah.
9. Para pemikir komunis, misalnya, mendapatkan pandangan mereka tentang kehidupan dan sistem masyarakat berdasarkan metode ilmiah. Mereka terjerumus ke dalam jurang kesalahan yang fatal. Kesalahan mereka sangat banyak dan ada dalam setiap pemikiran mereka, sebab mereka menganalogikan alam dan masyarakat dengan objek-objek material yang dapat diteliti di laboratorium.
Dengan demikian, mereka mengeluarkan sejumlah kesimpulan yang sangat salah. Untuk mengetahui kesalahan mereka dalam seluruh pemikirannya, cukuplah kita mengambil contoh dua pemikiran utama mereka. Kami akan menjelaskan kesalahan masing-masing gagasan tersebut dan akan menjelaskan bahwa sebab kesalahan mereka adalah menggunakan metode ilmiah. Para pemikir komunis memandang, bahwa alam merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dibagi-bagi, yang senantiasa mengalami perubahan secara kontinu. Perubahan tersebut akan berlangsung melalui kontradiksi-kontradiksi yang pasti ada pada berbagai benda dan peristiwa. Marilah kita mengambil konsep kontradiksi-kontradiksi (Dialectical Materialism) yang merupakan salah satu pemikiran mendasar mereka.
Kontradiksi-kontradiksi ini, seandainya benar ada pada benda-benda, sesungguhnya tidak terjadi pada seluruh benda, sebab ada sejumlah objek yang di dalamnya tidak dijumpai kontradiksi-kontradiksi. Di dalam tubuh makhluk hidup,
menurut mereka ada kontradiksi-kontradiksi, karena di dalamnya terdapat sel-sel hidup dan sel-sel mati. Padahal pada tubuh makhluk hidup sesungguhnya tidak ditemukan kontradiksi-kontradiksi. Apa yang dapat dilihat bahwa dalam tubuh
makhluk hidup ditemukan sel-sel mati dan sel-sel hidup, sebenarnya bukanlah kontradiksi-kontradiksi. Yang ada adalah segala sesuatu itu lahir dan mati, ada yang hancur dan ada yang muncul. Tidak berarti ini adalah kontradiksi-kontradiksi.
Semua itu merupakan akibat dari kuat dan lemahnya sel-sel, serta mampu dan tidaknya sel-sel tersebut mempertahankan diri. Ini bukanlah kontradiksikontradiksi. Lebih dari itu, pada objek-objek yang tidak hidup, ditemukan proses perusakan, tetapi tidak ada proses kelahiran kembali. Meskipun demikian kenyataannya, para pemikir komunis tetap mengatakan bahwa dalam segala sesuatu terdapat kontradiksi-kontradiksi. Seandainya pun kita menerima klaim mereka bahwa di dalam berbagai benda selalu ditemukan adanya kontradiksi-kontradiksi, maka proses semacam ini sesungguhnya tidak terjadi pada berbagai peristiwa yang ada. Contohnya adalah aktivitas jual-beli, sewa-menyewa, perkongsian, dan yang sejenisnya. Semua itu berlangsung tanpa adanya kontradiksi-kontradiksi. Demikian pula aktivitas ibadah, makan, minum, tidur. Seluruhnya berjalan tanpa melalui proses kontradiksi-kontradiksi. Walhasil, secara pasti, pada seluruh perkara di atas tidak ditemukan adanya kontradiksi-kontradiksi. Namun, karena mereka menempuh metode ilmiah, timbullah kesalahan dalam pandangan mereka, terutama menyangkut berbagai peristiwa. Di antara akibat kesalahan pandangan mereka adalah adanya keyakinan bahwa dalam seluruh peristiwa akan selalu ditemukan adanya kontradiksi-kontradiksi. Mereka sampai berasumsi bahwa kontradiksi-kontradiksi di Eropa akan terjadi secara pasti. Akan tetapi, pada kenyataannya, di Eropa tidak pernah terjadi kontradiksi-kontradiksi. Bangsa Eropa bahkan tenggelam dalam
sistem kapitalisme dan, sebaliknya, jauh dari sistem sosialisme.
Dengan demikian, faktor yang menjerumuskan mereka ke dalam jurang kesalahan adalah upaya mereka menempuh metode ilmiah dalam merespon atau memberikan penilaian terhadap berbagai perkara dan peristiwa.
Pemikiran mereka yang lain adalah menyangkut masyarakat. Menurut mereka, masyarakat terbentuk dari alam, pertumbuhan dan perkembangan penduduk, serta alat-alat produksi. Dengan demikian, kehidupan material di masyarakatlah pada akhirnya yang akan membatasi keadaan, pemikiran, ide-ide, serta situasi politik masyarakat. Kehidupan material, menurut mereka, dipengaruhi oleh cara masyarakat berproduksi. Oleh karena itu, cara masyarakat berproduksi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat. Pasalnya, alat-alat produsksi, manusia sebagai penggunanya, serta pengetahuan mereka tentang tatacara penggunaannya, seluruhnya akan melahirkan kekuatan sebuah masyarakat yang produktif. Kekuatan tersebut kemudian akan menyusun suatu aspek. Aspek ini biasa dibahasakan dengan perilaku manusia dalam merespon dan memperlakukan benda-benda yang ada di alam dan kekuatannya yang produktif.
Aspek lain adalah menyangkut hubungan antar sesama manusia ketika menjalankan proses produksi. Gagasan mereka tentang hubungan antar sesama manusia ini juga keliru. Alasannya, masyarakat itu sendiri di dalamnya terdiri dari
manusia berikut berbagai hubungan atau interaksi yang terjadi di antara mereka, tanpa memperhatikan alat-alat produksi; bahkan tanpa memperhatikan ada atau tidak adanya alat-alat produksi tersebut. Pasalnya, faktor yang mendorong terjadinya hubungan dan interaksi di antara mereka adalah adanya kemaslahatan atau kepentingan bersama. Kemaslahatan atau kepentingan bersama ini tidak ditentukan oleh alat-alat produksi, tetapi oleh berbagai pemikiran yang mereka emban, yaitu tentang bagaimana memenuhi berbagai kebutuhan yang ingin mereka penuhi.
Yang menyebabkan mereka terjerumus ke dalam kesalahan adalah karena mereka memandang masyarakat sebagaimana memandang benda-benda yang ada di laboratorium. Mereka berusaha meneliti berbagai unsur yang mereka lihat (pada benda-benda) dalam rangka menerapkan pandangan mereka (terhadap masyarakat). Mereka kemudian mulai menerapkan apa yang terjadi pada materi terhadap manusia dan interaksi di antara mereka. Akibatnya, mereka terjerumus ke dalam kesalahan. Pasalnya, manusia jelas berbeda dengan benda. Berbagai interaksi dan peristiwa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat tidak bisa tunduk pada rekayasa penelitian sebagaimana halnya materi yang ada di laboratorium.
Artinya, upaya mereka untuk melakukan rekayasa penelitian dan percobaan terhadap berbagai hubungan atau interaksi manusia dan berbagai peristiwa yang terjadi—sekaligus pengeluaran sejumlah kesimpulan—itulah yang mengakibatkan
mereka terjerumus ke dalam kesalahan. Jadi, kesalahan para pemikir sosialis hanya satu, yaitu menempuh metode ilmiah dalam membidik berbagai peristiwa dan interaksi yang terjadi di antara manusia. Kekeliruan semacam ini terjadi akibat
pemujaan mereka terhadap metode ilmiah yang sangat masyhur pada abad ke- 19. Karena demikian larut di dalam pemujaan metode ilmiah, mereka sampai menerapkannya pada segala sesuatu, sekaligus menjalankannya pada seluruh wacana atau pembahasan.
10. kesalahan psikologi mengenai naluri manusia. Karena menerapkan metode ilmiah pada manusia, mereka pun mengamati
berbagai perilaku manusia dan menghubungkannya dengan berbagai motifnya. Mereka sibuk meneliti dan mengamati berbagai perilaku manusia yang beranekaragam. Ini telah memalingkan mereka dari studi yang sebenarnya dan membuat
mereka menghasilkan berbagai kesimpulan yang keliru. Padahal andaikata mereka menempuh metode rasional —yakni dengan mentransfer penginderaan terhadap manusia dan perilakunya ke dalam otak, disertai dengan adanya informasi terdahulu yang digunakan untuk menafsirkan realitas manusia dan berbagai perilakunya tersebut— niscaya mereka akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda dengan kesimpulan yang telah mereka capai selama ini, kendati pun merupakan kesimpulan yang bersifat dugaan. Contohnya, mereka mengatakan bahwa naluri (gharizah, instinct) manusia itu banyak. Pada awalnya, mereka membatasinya dengan jumlah tertentu. Akan tetapi, ketika mereka menyaksikan berbagai perilaku lainnya, mereka lalu mengatakan bahwa naluri itu banyak dan tidak terbatas. Mereka mengatakan bahwa pada manusia terdapat naluri memiliki, naluri takut, naluri seksual, naluri berkelompok, dan naluri-naluri lainnya sebagaimana yang mereka katakan.
Kesimpulan semacam ini terjadi karena mereka tidak mampu membedakan naluri dengan penampakan dari naluri. Artinya, mereka tidak mampu membedakan naluri –sebagai daya kehidupan yang mendasar– dengan penampakan naluri. Daya kehidupan yang mendasar –atau naluri manusia– merupakan bagian integral dari hakikat manusia yang tidak mungkin diubah (dimodifikasi), dihapus, dan dibendung. Naluri-naluri tersebut mesti ada dengan berbagai penampakannya (mazhahir, manifestations). Realitas naluri ini berbeda dengan penampakan dari naluri itu sendiri. Penampakan naluri bukan bagian integral dari hakikat manusia sehingga bisa diubah, dihapus, dan dibendung.
Sebagai contoh, di antara penampakan naluri mempertahankan diri (gharîzah albaqâ’, survival instinct) adalah sikap mementingkan diri sendiri dan sikap mementingkan orang lain. Adalah mungkin mengubah sikap mementingkan diri sendiri menjadi sikap mementingkan orang lain. Kita pun bahkan bisa menghapus dan membendung kedua penampakan tersebut. Contoh lain adalah kecenderungan terhadap seorang wanita disertai syahwat dan kecenderungan untuk menyayangi ibu. Keduanya merupakan penampakan dari naluri melestarikan keturunan (species instinct). Naluri manusia untuk melestarikan keturunan tidak mungkin diubah, dihapus, dan dibendung. Yang mungkin adalah mengubah, menghapus dan membendung berbagai penampakannya. Misalkan, di antara penampakan naluri ini adalah kecenderungan kepada wanita dengan syahwat. Begitu juga kecenderungan untuk menyayangi ibu, saudara perempuan, dan anak perempuan. Adalah
mungkin mengubah kecenderungan kepada wanita yang disertai syahwat dengan kecenderungan menyayangi ibu. Artinya, rasa sayang kepada ibu akan bisa menggantikan kecenderungan kepada wanita yang disertai nafsu seksual, sebagaimana dimungkinkan mengganti sikap mementingkan diri sendiri dengan sikap mementingkan orang lain. Sering terjadi, rasa sayang terhadap ibu mengalihkan seseorang dari kecenderungan terhadap istrinya, bahkan dari pernikahan dan hasrat seksualnya. Sebaliknya, sering pula terjadi, hasrat seksual kepada isteri memalingkan seorang laki-laki dari rasa sayang kepada ibunya. Jadi, penampakan mana saja dari naluri melestarikan keturunan akan bisa menggantikan penampakan yang lain. Demikian juga satu penampakan bisa diubah menjadi penampakan yang lain. Walhasil, penampakan dari suatu naluri bisa diubah, bahkan bisa dibendung dan dihapus. Ini dikarenakan naluri merupakan bagian integral dari hakikat manusia, sedangkan penampakan dari naluri itu bukan bagian integral dari hakikat manusia.
Dari penjelasan di atas maka terbukti bahwa para ahli psikologi telah melakukan kesalahan dalam memahami naluri manusia. Mereka awalnya membatasi naluri-naluri tersebut, tetapi kemudian tidak lagi membatasinya.
Sebenarnya, naluri yang ada manusia hanya terdiri dari tiga jenis naluri saja, yaitu :
(1) naluri mempertahankan diri
(2) naluri melestarikan jenis
(3) naluri beragama atau pensakralan.

Manusia senantiasa berusaha untuk mempertahankan eksistensi dirinya.Oleh karena itu, manusia mempunyai keinginan untuk memiliki sesuatu, memiliki rasa takut, terdorong untuk melakukan sesuatu, mempunyai hasrat untuk berkelompok, dan sejumlah perbuatan lainnya dalam rangka mempertahankan eksistensi dirinya. Dengan demikian, rasa takut, kecenderungan untuk memiliki sesuatu, keberanian, dan yang sejenisnya bukanlah naluri itu sendiri, melainkan
hanya penampakan-penampakan dari satu naluri, yaitu naluri untuk mempertahankan diri.
Demikian pula kecenderungan terhadap wanita karena nafsu seksual atau rasa sayang, kecenderungan untuk menyelamatkan orang yang tenggelam, kecenderungan untuk menolong orang yang sangat membutuhkan, dan yang lainnya. Semua itu bukanlah naluri itu sendiri, melainkan hanya penampakanpenampakan dari satu naluri, yaitu naluri untuk melestarikan jenis. Naluri ini bukanlah naluri seksual sebab hubungan seks kadang-kadang bisa terjadi antara manusia dan hewan. Hanya saja, kecenderungan yang alami adalah dari manusia kepada manusia lain atau dari hewan terhadap hewan lain.
Sebaliknya, kecenderungan seksual manusia terhadap hewan, misalnya, adalah suatu penyimpangan (abnormal), bukan sesuatu yang alami. Kecenderungan semacam ini tidak mungkin terjadi secara alami, melainkan terjadi karena penyimpangan. Naluri merupakan kecenderungan yang bersifat alami. Begitu juga kecenderungan laki-laki kepada sesama laki-laki, adalah suatu penyimpangan, bukan sesuatu yang alami. Kecenderungan semacam ini juga tidak mungkin
terjadi secara alami, melainkan terjadi karena penyimpangan.
Dengan demikian, kecenderungan seksual kepada wanita, kecenderungan untuk menyayangi ibu, dan kecenderungan untuk menyayangi anak perempuan, semuanya termasuk penampakan dari naluri untuk melestarikan jenis. Sebaliknya,
kecenderungan seksual dari manusia terhadap hewan atau dari laki-laki kepada sesama laki-laki bukan merupakan kecenderungan yang alami, melainkan merupakan penyimpangan dari naluri. Walhasil, naluri yang sebenarnya adalah
naluri untuk melestarikan jenis, bukan naluri seksual. Tujuannya adalah demi kelestarian jenis manusia, bukan demi kelestarian jenis hewan.
Demikian pula kecenderungan untuk beribadah kepada Tuhan, untuk mengagungkan para pahlawan, dan untuk menghormati orang-orang kuat. Semua itu merupakan penampakan dari satu naluri, yaitu naluri beragama atau pensakralan.
Semua naluri di atas ada pada manusia karena pada diri manusia terdapat perasaan alamiah ingin mempertahankan eksistensi dirinya dan ingin agar keberadaannya senantiasa kekal. Ketika manusia menghadapi segala sesuatu
yang mengancam kelestariannya, pada dirinya akan segera muncul perasaan yang sesuai dengan jenis ancaman tersebut, seperti : perasaan takut, ingin melaksanakan sesuatu aktivitas, sikap kikir, atau ingin memberikan sesuatu,
perasaan ingin menyendiri atau ingin berkelompok, dan sebagainya sesuai dengan pandangannya. Oleh karena itu, pada dirinya akan terwujud perasaan yang akan mendorongnya untuk melakukan suatu perilaku, sehingga akan terlihat
padanya penampakan-penampakan berupa perilaku yang muncul dari perasaan ingin mempertahankan diri. Pada diri manusia juga terdapat perasaan untuk mempertahankan jenis manusia, karena punahnya manusia akan mengancam kelestariannya. Artinya, setiap ada sesuatu yang mengancam kelestarian jenisnya, akan timbullah perasaan dalam dirinya secara alami sesuai dengan ancaman tersebut. Melihat wanita cantik akan membangkitkan syahwat pada diri seorang laki-laki. Melihat ibu akan membangkitkan perasaan sayang terhadapnya. Melihat anak-anak akan membangkitkan perasaan kasih sayang. Semua itu akan menimbulkan adanya perasaan yang mendorongnya untuk melakukan suatu perilaku sehingga akan tampak padanya penampakan berupa perilaku yang kadang-kadang tepat dan kadang-kadang tidak tepat. Begitu juga kelemahannya dalam memuaskan perasaan ingin mempertahankan diri dan jenisnya. Keadaan seperti ini akan membangkitkan perasaan-perasaan yang lain, yaitu berserah diri dan tunduk kepada sesuatu yang menurut perasaannya berhak ditaati dan diikuti perintahnya. Oleh karena itu, ada manusia yang berserah diri hanya kepada Tuhan, ada yang memuji pemimpin bangsanya, dan ada pula yang mengagungkan orang-orang kuat. Semua itu muncul dari perasaan akan kelemahan yang alami pada dirinya. Dengan demikian, asal-usul berbagai naluri adalah perasaan untuk mempertahankan diri, mempertahankan jenisnya, serta perasaan akan kelemahan yang alami. Dari perasaan-perasaan semacam ini, lahirlah berbagai perilaku yang merupakan penampakan dari ketiga naluri yang alami itu. Seluruh penampakan darinya dapat dikembalikan pada ketiga naluri tersebut. Walhasil, naluri manusia hanya terdiri dari ketiga jenis naluri ini, tidak ada selain itu.
Dapat ditambahkan, bahwa pada dasarnya manusia mempunyai sebuah daya kehidupan . Dalam daya kehidupan ini terdapat berbagai perasaan alamiah yang mendorong manusia untuk memuaskannya. Dorongan tersebut berbentuk perasaan atau penginderaan yang senantiasa menuntut adanya pemuasan. Di antaranya ada yang menuntut pemuasan secara pasti. Artinya, jika dorongan ini tidak dipuaskan, manusia bisa mengalami kematian, sebab pemuasan dorongan ini berkaitan
dengan eksistensi dari daya kehidupan itu sendiri. Ada juga dorongan yang tidak menuntut pemuasan secara pasti. Artinya, jika dorongan ini tidak dipuaskan, manusia hanya akan menderita kegelisahan, tetapi tidak sampai menimbulkan
kematian. Hal ini karena dorongan ini hanya berkaitan dengan berbagai kebutuhan dari daya kehidupan, tidak secara langsung berkaitan dengan eksistensi dari daya kehidupan itu sendiri.
Dengan demikian, daya kehidupan manusia ada dua macam :
(1) Yang menuntut pemuasan secara pasti. Inilah yang disebut dengan kebutuhankeutuhan fisik. Wujudnya adalah adanya
rasa lapar, dahaga, dan ingin buang hajat.
(2) Yang tidak menuntut pemuasan secara pasti. Inilah yang disebut dengan naluri-naluri. Naluri ini, sebagaimana telah dijelaskan, hanya ada tiga macam, yaitu:
a. naluri mempertahankan diri;
b. naluri melestarikan jenis;
c. naluri beragama atau pensakralan. Inilah pendapat yang benar tentang naluri dan tentang manusia.

semua kesalahan di atas hanya sebagian dari kesalahan metode ilmiah sebagai asas berpikir, bukan keseluruhan. masih ada yang lain yang belum disebutkan karena belum ditemukan. namun mengetahui sebagian saja tapi fatal seharusnya sudah cukup menjadi alasan bagi kita untuk tidak menjadikan metode ilmiah sebagai asas berpikir. oleh karena itu marilah kita tempatkan metode-metode ilmiah itu pada tempatnya yang tepat sehingga kesimpulan yang dihasilkan menjadi benar. metode rasional dijadikan sebagai asas berpikir sebab dapat dipergunakan pada penelitian segala hal, sedangkan metode ilmiah digunakan pada penelitian ilmu alam karena dia hanya bisa dipergunakan pada penelitian materi. dengan begitu penelitian ilmu pengetahuan manusia akan dapat mencapai kebenaran lebih baik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *