memasukkan foto pada blog

“yah, ayah!” panggil Wika dari kamarnya.
Pak Irwan yang lagi nonton berita di ruang keluarga menyahut,”kenapa?”
“ini gimana?” Tanya Wika. Masih tetap di kamar.
“masalah apa?” Tanya Pak Irwan balik.
“blognya. Gimana pasang fotonya?” suara Wika.

Pak Irwan masuk ke kamar Wika melihat cewek itu terus menatap halaman posting blognya.
“kamu nggak belajar?” Tanya pak Irwan balik. Gak nyambung.
“udah. Sekarang nerusin belajar ngeblognya.” Jawab Wika.
Pak Irwan melihat layar notebook Wika. Putrinya sudah menulis diary beberapa paragraph. Sekarang waktunya menambah foto.
“gini. Cara menambah gambar, yaitu klik “tambahkan gambar” di atas kotak konten. Yang ini.” Pak Irwan menunjuk sebuah tombol.
Sebuah kotak dialog muncul. Di atasnya ada pilihan “dari computer”, “dari url”, dan “pustaka media”. Pak Irwan mengklik “dari computer”. Di bawahnya ada kotak isian dan tombol “browse”. Pak Irwan mengklik “browse”.
“fotonya kamu simpan di mana?” Tanya Pak Irwan.
Wika mencari di lokasi gambarnya. Beberapa kali klik gambar yang dimaksud ketemu. Di sana terlihat Wika berfoto bersama dua sahabatnya, Revina dan Silvia. Pak Irwan mengklik foto itu. Kotak dialog terisi dengan lokasi foto itu. Pak irwan menekan tombol “unggah.” Fotonya kemudian diproses. Terlihat sebatang garis. Sebuah garis lain berusaha memenuhi batang garis persegi panjang tersebut. Setelah penuh terlihat foto Wika beserta keterangan, dimensi, judul, deskripsi, url taut, perataan, ukuran dan tombol “simpan seluruh perubahan”. Di atasnya ada link “sisispkan ke dalam tulisan”. Pak Irwan mengklik link itu. Posting Wika sekarang diselipi foto.
“Eh, letaknya tidak di situ!” cegah Wika.
“bilang dulu tadi. Mau naruhnya di mana?” Tanya Pak Irwan kesal.
Wika menunjuk lokasi yang dia mau. Pak Irwan mengklik foto itu lalu menekan tombol ctrl dan X bersamaan. Gambar itu menghilang. Beliau mengklik lokasi yang ditunjuk Wika. Kursor berkedip di sana. Beliau menekan CTRL dan V bersamaan. Foto Wika muncul kembali.
“nah, udah?” Tanya Pak Irwan.
“udah.” Jawab WIka.
“ya udah cepetan dipublish. Terus tidur.”
“ntar dulu dong. Masih mau nulis-nulis lagi.”
“ya udah. Asal jangan sampai kemaleman lo.”
Wika melanjutkan ngeblognya. Pak Irwan menemani di sebelahnya.
“bisa berhenti sebentar, Wik?”
“kenapa, Yah?”
“ayah. Mau tunjukin sesuatu sebentar.”
“oke.” Wika mundur dari hadapan notebookya. Pak Irwan ganti maju.
“ada beberapa cara buat nambah gambar ke posting. Pertama upload kayak tadi. Kedua pake url.” Terang Pak Irwan.
Beliau menekan tombol “tambahkan gambar” lalu mengklik menu “dari url”. Beliau membuka tab baru dengan tanda “+” di browser. Beliau mengetik “kucing”. Muncul berbagai foto kucing.
“cara kedua ini kayak gini. Pilih gambar yang dimau. Klik. Maka kita akan sampai ke halaman internet yang membahas kucing.”
Mereka tiba di halaman pencinta kucing.
“klik kanan gambar, klik “copy image location”. Kemudian buka kotak dialog url tadi. Klik di kotak “url”. Tekan CTRL dan V bersamaan. Kayak gini.” Pak Irwan menekannya. url foto kucing diproses. Dia pun tampil di jendela dialog wordpress.
“kalau sudah enter saja cukup.”
Foto seekor kucing sekarang nampang di bawah tulisan yang Wika tambahi.
“kemudian cara terakhir cara ketiga. Cara ini dipake kalau misalnya kamu sudah punya gambar di wordpress. Misalnya kamu dulu pernah upload lalu pingin pake gambar itu lagi, maka caranya awalnya masih sama.”
Pak Irwan mengulangi langkah awal yang sama. Bedanya sekarang beliau mengklik “pustaka media”.
“nah, ini foto-foto yang pernah kita upload.” Tunjuk Pak Irwan.
“masih sedikit, ya?” komentarnya.
Beliau memilih di antara beberapa foto yang ada. Beliau mengklik foto bergambar pepohonan di dalam taman kota.
“kalau kita sudah pernah upload tinggal klik aja. Maka akan terbuka halaman keterangan tentang foto atau gambar itu. Klik “sisipkan ke dalam tulisan.” Maka gambar itu muncul di posting yang Wika tulis.
“jadi. Kayak gini. Paham?”
“eng…..
“makanya diperhatiin. Lain kali dicatet biar gak lupa.” Nasehat pak Irwan.
“oke deh. kapan-kapan aku catet.”
“praktekin ya? Ayah periksa besok.”
“he….” Wika kaget.
“makanya perhatiin.”
“tadi gimana tadi?” Tanya Wika minta diulangi.
Pak Irwan menghela napas. Jadi tadi diajarin gak diperhatiin ya? Atau emang gak cepet paham. Beliau jadi harus mengulangi cara-cara yang belliau ajarkan beberapa kali sampai cewek itu ngeh.
“Ayah tinggal dulu biar kamu coba ngerjain sendiri.”
Pak Irwan keluar kamar membiarkan Wika latihan berulang-ulang sampai paham.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *