beriman dengan akal dan hati

Naluri beragama adalah fitrah yang alami pada setiap manusia. Seluruh manusia merasakannya. Buktinya mayoritas penduduk dunia beragama dan sebagian mengakui adanya Tuhan alau beda-beda agama. Bahkan orang-orang pluralis dan sekuler pun percaya pada tuhan dan adanya agama. Orang-orang atheispun sebenarnya merasakannya tapi mereka mengingkarinya karena tidak mau tunduk pada aturan agama.

Pada waktu tadabbur alam dan memperhatikan alam manusia merasakan keberadaan Tuhan yang menciptakan dan mengatur seluruh alam. Dia pun menjadi bertanya-tanya, Tuhan itu seperti apa ya? Bagaimana rupa-Nya?

Hal ini sama seperti ketika manusia memikirkan tentang nyawa, hati dan akal manusia. Hati itu sebenarnya apa? Bagaimana bentuknya? Di mana letaknya?

Orang-orang berbeda pendapat dalam mendefisniskan dan menentukan letaknya karena mereka hanya menduga-duga. Mereka tidak tahu hakikat benda gaib. Kita pun sama. Tapi yang jelas kita semua merasakan keberadaan nyawa, hati dan akal itu termasuk Tuhan.

Kalau hal ini dibiarkan begitu saja, manusia akan mengkhayalkan Tuhan. Manusia akan menggambarkan Tuhan sesuai khayalan masing-masing lalu mengklaim gambarannya yang paling benar. Manusia berkhayal begitu karena mereka tidak tahu rupa Tuhan yang sebenarnya. Ia hanya membayangkan dari rupa orang-orang, hewan dan benda-benda yang pernah ia lihat. Jadi gambarannya terpengaruh budaya masyarakatnya. Misalnya untuk gambaran kebijaksanaan, pengetahuan Tuhan digambarkan tuhan itu berwajah tua, berkumis dan berjenggot. Untuk menggambarkan Tuhan maha kuasa dan maha perkasa digambarkan ia bertubuh kekar dan bersenjata tajam. Untuk menggambarkan keadilan Tuhan, digambarkan Tuhan itu memgang timbangan. Dari situ lahir Thor, zeus, Jupiter, Osiris, Isis, Anubis, amaterasu, trimurti dan lain-lain. Agama Kristen dulunya termasuk agama samawi yang tidak menggambarkan Tuhan. Gambaran Tuhan hanya terdapat dalam agama pagan budaya indo arya, tapi karena percampuran paganisme dan Kristen jadinya dia punya gambaran rupa Tuhan.

Begitulah jika manusia dibiarkan menggunakan perasaannya semata dalam beriman dan beragama. Ia membayangkan rupa Tuhan yang bermacam-macam sesuai imajinasinya. Meskipun gambaran Tuhan dalam agaa-agama pagan itu berbeda-beda tapi ada satu kesamaan besar di antara mereka, yaitu mereka berbentuk manusia, bersifat seperti manusia dan beraktifitas seperti manusia. Singkatnya mereka itu gambaran Tuhan yang manusiawi. Dewa-dewa itu contohnya. Manusia kemudian membuat cerita-cerita untuk menjelaskan dunia gaib seperti Lucifer, cupid, dan mitos-mitos lain. Manusia kemudian membuat patung untuk melambangkan Tuhan. Manusia menyembah patung itu. Manusia lalu membuat benda-benda keramat dari benda-benda yang sudah diberi doa. Contohnya salib dan bawang katanya bisa mengusir setan. Vampire dan drakula katanya takut pada salib dan bawang. Kemudian agama pagan memiliki hari sial, hari ritual khusus. Semua itu membuat ketakutan manusia. Semua takhayul itu membelenggu manusia dan membuat kemunduran manusia. Contohny lahir pendapat bumi itu rata. Siapapun yang ke tepinya akan jatuh ke jurang neraka dan dikelilingi monster. Orang-orang jadi takut penjelajahan keliling dunia. Ada lagi ritual hari raya nyepi. Kalau hari raya nyepi orang-orang hindu tidak boleh melakukan apapun bahkan tidak boleh menyalakan listrik. Umat islam dipaksa ikut untuk toleransi. Lalu kalau semua berhenti berapa banyak kerugian akibat penghentian aktivitas itu? Pemerintahan, pendidikan, perjalanan, bisnis, semua berhenti lalu bagaimana urusan Negara dan bagaimana kalau ada yang sakit darurat dan butuh pertolongan segera harus gimana? Apa harus menunggu besok? Apa dia harus terima mati hari ini?

Karena itu manusia tidak bisa dibiarkan sendiri menggunakan perasaannya sendiri dalam beragama setelah menemukan adanya Tuhan. Manusia tidak boleh menggunakan perasaannya sendiri dalam membayangkan rupa Tuhan, ibadah, ritual dan segala hal dalam agama. Pertama sekarang manusia tidak bisa menentukan semua itu sembarangan. Pada asalnya manusia jangan membayangkan rupa Tuhan dengan hal apapun. Jangan membuat bayangan aktivitas Tuhan, cerita tentang hakikat alam dan prosesnya, benda-benda keramat dan cara menyembah-Nya. Sebelum ke sana manusia harus berpikir dan menyadari satu hal: Tuhan berbeda dengan makhluk.

Prinsip inilah prinsip dasar setelah manusia menemukan adanya Tuhan. Manusia harus memisahkan antara Tuhan dengan makhluk, antara pencipta dan ciptaan-Nya. Tuhan itu sempurna dan tidak terbatas sedangkan makhluk itu tidak sempurna, cacat dan terbatas. Tuhan maha kuasa sedangkan makhluk apapun tidak. Manusia tidak boleh menyamakan Tuhan dengan makhluk. Manusia tidak boleh menggambarkan rupa, sifat dan aktivitas Tuhan seperti makhluk, khususnya manusia. Upaya menyamakan, menggambarkan dan mereka-reka cerita Tuhan seperti manusia itu merendahkan Tuhan sebab Tuhan yang maha sempurna jadi digambarkan memiliki kelemahan, memiliki musuh yang setara, membutuhkan bantuan manusia berupa doa, membutuhkan senjata dan sebagainya. Semua itu melemahkan tuhan padahal tuhan itu maha kuat, mahaperkasa, maha sempurna dan tak terbatas. Akal dan fitrah manusia akan menolak gambaran Tuhan yang mirip makhluk seperti itu. Tuhan tidak selemah itu. Tuhan harusnya maha kuasa, bukan lemah begitu.

Upaya menggambarkan Tuhan tidak bisa disebut berpikir sebab meskipun manusia memiliki informasi tentang adanya tuhan dan informasi tentang orang-orang dan sifat-sifat ketuhanan,tidak ada fakta yang bisa ditangkap panca indra manusia secara langsung. Yang ada di alam hanya tanda-tanda keberadaan tuhan berupa penciptaan, pengaturan, kekuatan, keindahan dan keagungan-Nya, bukan rupa-Nya. Kenyataannya manusia tidak pernah bertemu Tuhan, jadi bagaimana dia bisa memiliki gambaran seperti itu? Kalau hanya katanya apa penyampai pertama gambaran rupa Tuhan pernah bertemu Tuhan? Apakah Tuhan pernah meninggalkan jejak berupa foto-nya, lukisan-Nya atau patung-Nya?

Tuhan punya rupa sendiri dan manusia tidak tahu. Itu yang jelas benar. Tak perlu membayangkannya sebab nantinya kembali ke penyamaan Tuhan dengan makhluk di atas. Manusia tidak perlu tahu wajah Tuhan untuk meyakini dan menyembah-Nya. Manusia hanya perlu berpikir lalu yakin Tuhan maha mendengar doanya, Tuhan maha melihat kebaikan dan keburukannya, Tuhan memberi petunjuk jalan hidup manusia dalam agama. Semua itu tidak perlu gambaran rupa Tuhan. Contoh sederhananya kita bekerja di perusahaan superbesar. Kita hanya perlu tahu HRD, manajer lalu tugas kerja kita. Kita kerjakan tugas kerja kita lalu dapat gaji. Tidak harus tahu wajah pendiri perusahaan kita. Kalau kita tidak tahu kita tidak usah membayangkan pendiri perusahaan kita. Meskipun kita tahu ciri-cirinya dari orang-oranng tapi tampilan fisik bisa berbeda walau ciri-cirinya sama. Kalau kita membuat gambaran sendiri dan menyebarkannya ke orang-orang di tempat kerja bias-bisa kita dituduh membuat fitnah.

Jadi seperti itulah kita harus berpikir. Kita harus menjadikan pemisahan antara Tuhan dan makhluk sebagai asas dalam beragama. Hal ini bisa kita gunakan untuk menilai kebenaran agama yang selama ini kita anut. Kita harus berpikir menilai gama dan budaya yang selama ini dianut keluarga dan masyarakat kita dari asas ini. Kita tidak boleh beragama hanya karena ikut-ikutan keluarga, nenek moyang, masyarakat, teman, pacar, suami/ istri, bos atau pemerintah sekalipun. Kita memiliki akal kita sendiri. Kita menjalani hidup kita sendiri. Kalau kita salah kita akan merasakan akibatnya di kehidupan setelah mati. Kalau kita benar bisa jadi kita beruntung, tapi kalau salah? Tak ada jalan kembali dari kesalahan setelah mati. Dan kalau kita hanya ikut-ikutan apa kita yakin? Apa kita bisa menggantungkan hidup kita pada keyakinan orang lain?

Ingat, kalau kita salah kita tidak bisa melimpahkan kesalahan agama pada orang tua, teman, masyarakat, atau siapapun di hadapan Tuhan yang maha benar sebab kita memiliki akal. Tuhan menganugerahi kita akal untuk berpikir untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah. Kita harus gunakan akal itu. Kalau benar kita harus ikuti kalau salah kita harus tinggalkan walau dicerca keluarga, teman-teman bahkan masyarakat sekalipun. Kita tidak bolehmengikuti jalan yang salah. Jelas aturan itu.

Cara berpikir dalam memilih dan menilai agama yang kita anut selama ini adalah dengan mencari dalil, bukti, keterangan dan argumentasi. Kita bisa mencarinya dengan menggaliinformasi di buku-buku dan kitab suci. Kita bisa bertanya kepada pemuka agama. Kalau jawaban mereka memuaskan akal dan menenangkan hati sampai taka da yang mengganjal lagi berarti mereka benar dan kita yakin. Tapi kalau tidak berarti ajaran mereka salah dan kita tidak boleh mengikuti mereka. bisa jadi kita akan menemukan bahwa apa yang kita yakini benar selama ini ternyata salah. bisa jadi kebenaran berbeda dari anggapan kita selama ini. Kita juga bisa menilainya dari asas pemisahan Tuhan dan makhluk di atas.

Dalam penilaian agama yang dinilai akidahnya saja sebab akidah adalah asas, inti dan dasar agama. Akidah adalah penjelasan tentang ketuhanan seperti nama tuhan, sifat dan aktivitasnya lalu hakikat alam semesta,awal mula, tujuan dan akhir, termasuk tujuan hidup manusia dan ke mana manusia setelah mati. Itulah hakikat kehidupan.

Peraturan agama tidak harus ikut dinilai dan ditanyakan sebab peraturan agama mengikuti akidah. Kalau akidahnya benar maka peraturannya pasti benar tapi kalau akidahnya salah peraturannya pasti salah apapun itu sebab akidah yang menjadi asasnya. Kita tidak boleh menilai agama itu salah setelah menemukan akidahnya benar karena menilai peraturannya tidak sesuai hati atau selera kita.misalnya kita nilai peraturannya terlalu kejam, diskriminasi, terlalu mengekang dan sebagainya. Kalau seperti itu manusianya yang salah sebab mengikuti nafsu melawan peraturan yang telah ditetapkan Tuhan yang benar dalam agama yang benar. Akidah buktinya. Kalau sudah menemukan agama yang akidahnya benar maka dia meemukan agama yang benar. Selanjutnya di tidak boleh menilai agama yang benar itu sebagai agama yang salah sebab beranggapan peraturan agama itu tidak cocok dengan dirinya. Dalam hal itu manusia itu yang salah.

Jadi manusia itu benar-benar merasakan adanya tuhan. Perasaan adanya Tuhan itu fitrah dan alami pada manusia, tapi tidak berhenti begitu saja. Manusia harus berpikir tentang Tuhan bahwa Tuhan itu berbeda dari segala makhluk sehingga manusia tidak boleh menggambarkan dan menyamakan manusia dengan mahluk apapun. Selanjutnya ia dapat menilai agama yang benar dari pemikiran di atas. Agama yang memiliki gambaran,sifat dan cerita tentang Tuhan yang sama dengan makhluk, termasuk manusia adalah agama yang salah dan tidak masuk akal. Sebaliknya agama yang mengajarkan tuhan itu berbeda dari makhluk itulah agama yang benar. Manusia harus berpikir dan menilai dlam mengikuti agama yang selama ini dianutnya. Kalau agama itu benar maksudnya masuk akal, menenangkan hati dan sesuai asas di atas maka ia boleh bahkan wajib mengikutinya sampai akhir hayatnya apapun yang terjadi. Sedangkan jika ajaran agama itu tidak masuk akal seperti di atas maka agama itu harus ditinggalkan apapun yang terjadi. Dia harus mencari agama yang benar sampai ketemu lalu mengikutinya apapun yang terjadi walau kehormatan, harta, kedudukan dan nyawa taruhannya. Oleh karena itu setiap manusia harus berpikir dan mempelajari agama yang dianutnya agar dapat menilai dan berpikir tentang agamanya. Itulah jalan menuju kebenaran.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *