kenapa suka matematika?

“assalamu alaikum!” sapaan dari pintu depan memanggil Citra.

“wa alaikum salam.” Balas Citra sambil membuka pintu. Terlihat Laika berdiri ditemani Siti, Farah, Della dan Yuni Sofia.

Mereka masuk bersama ke ruang tamu Citra. Rencananya mereka mau belajar bersama mengerjakan PR matematika. Citra jagonya matematika sedangkan mereka nggak bisa. Jadi kalau belajar bareng nanti bisa diajarin kalo gak ngerti. Bisa saling bantulah.

Mereka buka buku lalu mengerjakan bareng-bareng. Tak lupa disediakan cemilan snack dan es oleh Citra. Di tengah belajar Laika tanya,” ukhti, kamar mandi di mana ya?”
“di belakang. Ayo ikut!” ajak Citra.

“aku ikut juga!” Siti dan Della ikut-ikutan.

Mereka mengikuti Citra jalan di sepanjang lorong lalu berhenti di depan pintu biru. Citra membukakan pintunya. Laika masuk duluan. Setelah itu pintu ditutup mereka menunggu. Sambil nunggu mereka lihat-lihat sekitar.

“kamar kamu mana, Cit?” Tanya Siti.

“itu.” Citra menunjukkannya.

Mereka ke sana masuk kamar berpintu coklat. Begitu mereka melihat kamar itu dicat kuning di keempat sisinya. Ada meja belajar dan kursi. Ada ranjang sprei kuning. Di dindingnya terpajang poster-poster bergambar Galileo, Phytagoras, Plato, Euclid tak lupa Khawarizmi yang jadi inspirasi nama belakang Citra. Selain itu ada table-tabel, diagram, rumus dan sebagainya.

“wow! Jadi kayak gini kamar kamu, Cit? pantesan jadi pinter matematika!” ujar mereka terpesona.

“aku nggak pinter-pinter amat kok. Biasa aja. Masih banyak yang jauh lebih pinter daripada aku.” Sahut Citra tersipu malu.

“kok kamu bisa pinter gitu apa sih rahasianya?” Tanya Della.

“aku nggak pinter-pinter juga. Aku cuma suka matematika. Itu aja.” Bantah Citra.

“kenapa kamu suka matematika? Padahal pelajarannya susah amat gitu. Ngitung-ngitung bikin stress, pusing, mabok. PR-nya banyak dan gurunya killer gitu.”

“sebenernya aku suka karena kata-kata kutipan ilmuwan-ilmuwan itu, yang foto-fotonya aku pajang itu.” Citra menunjuk pada poster-poster di dindingnya satu persatu.” Kata Galileo matematika adalah ratu dan abdi ilmu pengetahuan. Matematika adalah bahasa universal ilmu pengetahuan. Kata Phytagoras yang kita belajar kemarin, segalanya adalah bilangan. Artinya kalau kita perhatikan sungguh-sungguh dalam segala hal ada bilangan. Entah kita mengukur berat sesuatu, panjang, waktu, suhu di mana-mana ada bilangan. Dalam musik juga ada aturan panjang senarnya untuk membuat nada tertentu. Phytagoras sudah mengukurnya pada biola. Kata Plato Tuhan adalah ahli geometri sebab membuat banyak bentuk. Euclid sudah membuat rumusan semua bentuk geometri yang kita pelajari seperti persegi, persegi panjang, segitiga sampai bentuk tiga dimensi seperti kubus, balok, limas, prisma dan lain-lain.”

“sebenarnya bukan segala sesuatu adalah bilangan, tapi Alloh sudah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran atau ketentuan tertentu.” Kata Laika muncul di pintu.

“oh,ya? Kata-kata di mana itu?” Tanya Citra.

“ di Al-qur’an surat al-furqan ayat 2. Baca aja. Tapi ukhti nggak papa belajar matematika. Justru bagus. Langka ada yang suka matematika.” Jawab Laika.

“terus-terus apalagi yang bikin kamu suka matematika?” Tanya Della lagi.

“ada banyak. Dengerin ya? Dalam matematika sebenarnya gak Cuma ada pelajaran yang sulit-sulit doing. Dalam matematika itu sebenarnya ada hiburannya. Ada keajaiaban-keajaibannya, mainan-mainan hiburan, tebak-tebakan, seni lukisan-lukisan matematis dan macam-macam.”

Tak menunggu reaksi mereka Citra menunjukkan keajaiban-keajaiban perkalian 11, perkalian 8, perkalian 9, perulangan 1, perkalian 14257, perkalian 3367, perkalian 76923 dan lain-lain. Semua ia tulis di internet. Sumbernya bemacam-macam. Ada yang dari internet dan ada yang dari buku lain. Bahkan ada yang ia buat sendiri. Semua takjub.

“uhkti, tau nggak dalam al-qur’an juga ada lo. kalo ukhti pperhatiin Al-qur’an di sana juga ada keajaiban yang nggak mungkin manusia bisa buat.” imbuh Laika.

“oh, ya? kayak gimana?”

“di al-qur’an kata “haya” yang berarti hidup sama banyak dengan kata “maut” yang berarti mati. kata “malaikat” sama banyaknya dengan kata “setan”. sama-sama 88 kata. terus masih banyak kata lain.”

“gimana carinya?” tanya Citra.

“ukhti bisa buktikan dengan cek satu persatu. tapi biar gapang ada buku yang jelasin itu. judulnya ‘membumikan Al-qur’an’ karya Quraish Shihab.” jawab Laika.

“oke. kapan-kapan aku cari deh.”

Setelah puas dengan keajaiban Citra menunjukkan permainan dan teka-teki hiburan matematika seperti titik-titik yang membentuk barisan segitiga, barisan persegi, barisan persegi panjang. Lalu ada barisan bilangan ganjil dan genap yang ternyata simetris. Ada teka-teki geometri seperti menebak banyak segitiga dalam segitiga besar, menebak persegi, lalu permainan dan seni lukisan bagaimana membuat lingkaran dari garis-garis lurus yang saling memotong. Dia mengembangkan untuk membuat formula untuk membuat lukisan itu. Dia membuat spiral dari persegi, persegi panjang, dan bangun-bangun datar lain yang bersudut lain.

“wow…. Kayak gini ya?”

“matematikawan islam juga membuat seperti itu.” Tambah Laika.” Kalau kalian perhatikan motif di masjid di abad pertengahan di arab kalian bias menemukan motif garis segilima, segidelapan, ada kubah geodesic, kuasi apa itu ana lupa. Lalu ada bentuk persegi yang disebut ilmuwan roger penrose sebagai keajaiban islam, lalu ada kubah yang mirip bucminster fuller.”

“kamu tahu, Ik?” Tanya Citra terkejut.

“dikit, ukhti.”

“sebenernya matematika itu penting lo. Soalnya matematika itu dipake buat itungan apa-apa aja. Kita belanja pake uang juga ngitung harganya, bayarnya berapa kembaliannya berapa. Semua itu pake matematika kan? Orang kalo bikin bangunan, jembatan, juga pake itungan matematika. Terus di mana-mana ada angka berarti ada matematika kayak plat nomer, pulsa dan yang lain. Ada jam. Terus bikin laporan belanja Negara, laporan keuangan perusahaan, bayar pajak semua pake itungan matematika. Orang kalo kerja di bank juga pake itungan. Bisnis juga pake itungan. Itu juga matematika. Makanya mestinya kita semua bisa. Kalo gak bisa kita bakalan rugi ditipu orang. Kita juga jadi boros. Nanti kayak uang jajannya habis sebelum bulannya habis.”

“kalo itung-itungan belanja sih bisa, Cit? kayak gitu kan tiap hari kita pake. Bisalah. Nanti ada itungannya.”sela Della.”tapi itungan di sekolah tuh jauh banget. Gak dipake dalam kehidupan sehari-hari. Kayak pitagoras, persegi, segitiga. Garis sejajar. Kita setiap hari hidup gak pake itu juga masih bisa hidup kan? Buktinya orang-orang jaman dulu nggak belajar kayak sekarang masih bisa hidup.”

“ya iya sih. Tapi kalo gak ada matematika gak ada kebudayaan yang canggih. Gak ada teknologi bangunan, kendaraan, gadget, computer. Bahkan HP, computer TV semua teknologi canggih lahir dari penghitungan matematika ditambah fisika sama yang lain.” Tegas Citra.

Laika menengahi,“maksudnya ukhti. Kita wajib tahu matematika dasar aja kayak tambah-tambahan, kurang-kurangan, kali-kalian sama bagi-bagian aja. Kalo yang canggih dan sulit itu untuk insinyur dan ilmuwan aja sebab mereka yang membangun teknologi. Yang dipake orang umum yang pakai bilangan sederhana aja. Terus memang kesalahan kurikulum Negeri kita memaksakan pengetahuan yang tidak dipakai dalam kehidupan sehari-hari dalam pelajaran. Nggak Cuma matematika aja. Yang lain semua gitu. Agama, IPA, IPS, bahasa, PPKn gitu. Seharusnya kita diajarin nggak banyak-banyak. Cuma yang kita butuhin aja. Dengan gitu semua orang gak eneg sama matematika. Maaf ukhti ya? Kan kalo sesuatu dikasih terlalu banyak orang-orang jadi gak suka sama seperti orang sudah cukup satu piring diberi tiga piring. Sudah penuh. Kemudian ini juga masalah suka atau nggak suka. Kita harus menghargai orang lain sukanya beda. Nggak semua suka matematika. Ada yang suka bahasa inggris, bahasa Indonesia, bahasa jawa, lukisan, music, sepakbola. Biar mereka beda-beda. Matematika yang tingkat tinggi dan sulit itu buat yang suka dan pinter aja. Yang nggak suka dan nggak bisa nggak usah dipaksa. Guru seharusnya tidak memaksa murid ikut pelajaran yang nggak dia suka, dia nggak bisa dan dia nggak bakat. Kalo gak suka matematika gak usah ikut. Ikut yang dia suka aja. Dalam pendidikan islam gitu. Semua anak bebas ikut pilih pelajaran yang dia suka. Dia gak wajib ikut pelajaran yang dia gak suka. Kalo gak suka gak usah ikut.”

“wah, enak tuh! Mau dong!” ujar Siti dan Della.

“makanya ayo bantu bikin pendidikan yang islam.” Ujar Laika.

“eh, aku tadi belum selesai. Aku tambahin dikit ya? Satu alasan terakhir kenapa aku suka matematika adalah karena rumusnya dikit. Aku sebenernya gak kuat kalo disuruh hafalan banyak.” Kata Citra.

“rumus satu buku itu kamu bilang sedikit?” Della terbelalak.

“iya. Teorinya kan sebenarnya dikit lalu soalnya yang banyak. Sebenernya kalo kalian mau kreatif dan otak-atik rumus-rumus matematika itu intinya dikit lalu diotak-atik bias jadi banyak. Kayak rumus phytagoras itu. Sebenernya rumusnya Cuma satu, a^2 + b^2 = c^2. Itu aja. Sekali kalian tahu dan bias otak-atik yang lain jadi gampang deh.”

“sebenernya aku gak suka dan gak bias hafalan data yang banyak kayak bahasa inggris, sejarah, ekonomi, geografi. Aku nggak kuat hafalan kayak gitu. Jadi tolong jangan puja aku anggap aku jago segalanya. Aku Cuma suka matematika dan aku harap bias bantu kalian.”

Ini pertama kalinya mereka mendengar pengakuan kelemahan dari sosok yang mereka anggap jenius selama ini. Ternyata Citra sama seperti mereka. Dia cewek biasa-biasa aja. Cuma dia punya hobi dan minat yang beda. Dia hobi matematika.

“ya udah. Gak papa. Nanti kita juga bias saling bantu. Yuni sofia jago bahasa inggris. Siti jago bahasa jawa. Sama yang lain.”

“hei, kalian ngapain aja? Jadi ke kamar mandi nggak? Kok lama amat?” Tanya Farah di depan pintu kamar.

“oh, iya lupa.”

Siti dan Della buruan ke kamar mandi.

“hei, kalian ngapain aja? Jadi ke kamar mandi nggak? Kok lama amat?” Tanya Farah di depan pintu kamar.

“oh, iya lupa.”

Siti dan Della buruan ke kamar mandi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *