sepuluh ribu

“Yang, udah belum ? “ Tanya Marissa sambil membedaki wajahnya yang putih dengan cepatnya.

“Sebentar.” Aku mengahbiskan the gelasku.

“Ya udah, aku…..” Marissa berdiri dengan  cepat tanpa sengaja menyenggol pelayan yang sedang lewat. Pelayan itu membawa nampan berisi teh hangat dalam gelas. Begitu disenggol gelas itu tumpah mengenai Marissa  dan jatuh.

“Pyar !”

“Eh, kamu apa apaan sih? Jalan pake mata dong? Mata kamu di mana? Makanya ati-ati dong? Lihat! Gaun bagus ku jadi basah nih… ayo ganti !” cerocos Marissa.

Cewek pelayan itu terdiam sampai Marissa selesai bicara.

“Maaf mbak nggak sengaja !” kata pelayan itu.

“Nggak sengaja!Nggak sengaja!”

Marissa menoleh padaku,” sayang aku ganti baju di kamar mandi, ya? Tolong kamu jagain aku! Jangan jauh-jauh!.

Aku menurut sambil melihat cewek pelayan itu memunguti pecahan gelasnya.

Aku terus menunggui marissa ganti baju. Saat itu aku mendengar manager memarahi pelayan itu.

Itu wajar sabagai sebagai bos dia merasa rugi kehilangan gelas, tapi yang berikutnya mengejutkan.

“Ini saya ganti rugi gelas itu pak. Saya bertanggung jawab atas gelas tadi.”

“Oke, tapi mau sampai kapan kamu mengganti terus begini?” Tanya bosnya. “Udah kembali kerja!”.

Tak berapa lama cewek itu muncul.Dia berjalan ke arah ku.Setelah dia dekat dia berkata pelan.

“mas, saya minta maaf atas baju mbaknya tadi. Ini sebagai tanda perminta maaf, saya berikan uang sebagai biaya laundry baju mbaknya.”

Pelayan itu mengulurkan selembar uang bergambar sultan Mahmud Badaruddin II.

“Apa dia gila atau bodoh? Rugi tiga kali kalo kayak gini?” pikirku.

“Jangan! Tak perlu! Kataku.

“Nggak papa, mas.” pelayan itu meletakkan uang itu di tanganku lalu tersenyum seraya pergi.

Marissa muncul dengan kaos kuning dan jins biru donker.

“ Ayo, Yang.” ujarnya.

Aku menyetir mobil dengan kepikiran cewek itu. Cewek itu akan rugi kalau terus-terusan gitu apa dia bodoh atau gila? Gak perlu sampai gitu, biasa aja kali.

“ Yang, besok kita shopping ke mana?” Tanya Marissa.

Aku tak memikirkannya.

“Yang?” panggil Marissa lagi.

“Sayang, kamu kok gak merhatiin sih?Sebel deh!” Marissa melipat tangan di depan dadanya.

“Kamu mikirin apa? Jangan-jangan kamu mulai suka sama dia! Awas kamu kalau mulai selingkuh ! Apalagi sama cewek jelek miskin gitu! Kamu itu harusnya bersyukur udah punya aku yang cantik, seksi, kaya. Kurangnya apa coba? Banyak lo yang ngejar aku tapi aku pilih kamu.”

“ Yang??”Panggil Marissa sekian kalinya.

“Udah nyampek, Yang” Kataku menghentikan sedan putih ini.

“Oke sayang ati-ati ya? Love you. “Salam Marissa sambil turun dari mobil.

Aku menyetir mobil sampe ke tempat yang agak jauh dari rumah Marissa lalu berhenti.

Aku berpikir terus tentang pelayan tadi.Harusnya nggak gitu. Dia gak perlu mengganti rugi dan bayar laundry Marissa. Yang salah Marissa berdiri gak liat-liat.Terus uang ini aku harus balikin. Aku segera kembali ke rumah makan itu.Aku parker mobilku, aku keluar terus aku temuin pelayan itu. Begitu di dalam aku cari-cari tapi gak ada. Aku temui petugas kasir rumah makan.

“Mbak, pelayan yang tadi mana ya?” tanyaku.

“Yang mana mas?” Tanya kasir.

“Yang tadi mecahin gelas.”

“Yang tadi sudah pulang mas.Dia shift sampai sore” jawab petugas kasir.

“Pelayan yang tadi itu namanya siapa mbak?”

“Namanya Indah, mas”

“Rumahnya di mana?”

“Di kos-kosan daerah deket sini mas.” Kasir itu lalu menjelaskan alamat detilnya.

“Dia kalo kerja biasanya naik apa, mbak?”

“Biasanya naik sepeda, mas”

Aku terhenyak. Jarak hampir satu kilo naik sepeda? Apa gak capek? berarti dia miskin sekali. Tapi gitu nantangin bayar ganti rugi.

“Makasih mbak.”

Aku segera menuju alamat yang ditunjuk kasir itu, si pelayan tadi namanya Indah.Sebenarnya dia gak terlalu cantik, Kulit dia coklat gelap, agak pendek dan agak gemuk.Bukan gendut tapi sedang. Beda jauh sama Marissa yang putih, bersih, langsing, tinggi, rambut lurus. Indah Cuma ponian dan rambut di jepit, gak lebih. Gak mungkin aku suka sama dia. Aku Cuma mengembalikan uang dia. Dia yang lebih butuh.

Beberapa meter kemudian kelihatan ada toko yang menjual peralatan listrik. Di sebelahnya itu kos-kosan Indah.Aku berhenti di depannya, aku liat gerbangnya masih belum di kunci, lampu-lampu kamarnya kelihatan menyala.

Aku turun dari mobil terus masuk, aku menuju kamar yang tengah dari tiga deretan, aku mengetuk pintu.

“Tok! Tok! Tok!”

Pintu di buka.

“Ya?” seorang cewek muncul.

“Permisi, mau Tanya, kamarnya Indah yang mana ya?”

“Oh, di belakang mas”

“Makasih..”

Aku pergi ke belakang lewat gang di sebelah, ketika aku lewat aku melihat karpet dijemur, biarin aja, aku mengetuk pintu.

“Tok! Tok! Tok!”

Keluar cewek, tapi bukan dari dalam, melaikan dari sebelah, mereka melihat aku terus masuk lagi.

“Ndah, Indah, ada yang nyari kamu” kedengeran suara mereka.

“Siapa?”

“Tauk tuh.”

Indah muncul dengan kaos hitam dan legging sewarna.

“Mas yang tadi.” Sapanya.

“Ya, saya kesini Cuma mau ngembaliin uang kamu saja.”

“Tidak perlu mas, itu tadi kesalahan saya dan saya harus tanggung jawab” tolak Indah bersi keras.

“Nggak, yang salah Marissa, kamu udah hati-hati dan liat ke depan, tapi Marissa tiba-tiba berdiri gak liat-liat. Dandan terus dia.” Kilah ku..

“Tapi…”

“Aku tau yang sebenarnya, ini pokoknya uang kamu aku kembaliin uang kamu saja.Kamu nggak salah jadi gak perlu tanggung jawab, justru dia yang harus tanggung jawab.Pokoknya kamu harus terima.”

Ganti aku yang maksa dia menerima uangnya kembali.

“Aku sebenernya heran sama kamu, kami ini, maaf ya, kan lagi dalam kondisi kurang mampu, kenapa mau rugi-rugi gitu? Kalau terus-terusan gini kamu gak akan sukses”

Indah menatapku tegas.“Tujuan utama saya bukan sukses, tapi bertanggung jawab atas segala yang saya lakukan, saya harus menjalankan kewajiban yang telah diberikan kepada saya apapun itu walau merugikan dan mengorbankan banyak harta dan hidup saya.”

Aku tercengang mendengarkannya.Baru kali ini aku mendengar itu dari mulut cewek jaman sekarang, aku jadi tertarik ngobrol sama dia, pingin tau, kok dia sampai mikir gitu gimana sih?

“Ini kamar kamu ya?” tanyaku.

“Iya mas”

“Boleh masuk nggak?”

“Maaf, mas karpetnya lagi di jemur”

“Jadi itu karpet kamu?”

“Iya”

“Terus kamu tidur di mana?”

“Tidur di kamar temen, nanti kalau sudah kering saya balik ke kamar saya.Terus kalau kamar temen lagi di cuci dia numpang ke kamar saya.” Jawab Indah.

“Kamu jadi nyuciin karpet-karpet di sini?”Simpul ku.

“Nggak, saya sama temen Cuma nyuci bareng, saling bantu biar kamar bersih.”

“Oh”

“Ya udah, saya mau pergi dulu.”Kataku berpamitan.

“Ya, makasih”

Aku teringat sesuatu.

“Nih, buat kamu juga.”Tanganku bergerak cepat ke tangan Indah.Dia melihat I Gusti Ngurah Rai di sini.

“Ini apa?”

“Ini buat gelas kamu tadi.” Kataku sembari berbalik.

“Tak perlu.” Indah menyusulku

“Kamu sudah tau kan? Kamu gak salah.” kataku melangkah pergi.

“Tapi gak segini juga.”

“Ingat! Rizki jangan ditolak, dan tanggung jawab kamu adalah menerimannya dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya.”

Indah terdiam, dia menelan ludah.

“udah ya, bye. Kapan-kapan kita ketemu lagi.”

Aku pergi begitu saja meninggalkan cewek itu.

Aku menyetir mobilku kembali ke rumah, di jalan aku berpikir, pilih Marissa apa Indah ya?

Marissa cantik, seksi tapi judesnya minta ampun.Indah tanggung jawab dan tegas tapi kurang cantik, aku juga pingin cantik dan baik kalo bisa.Apa aku jalanin dua-duanya, atau salah satu tapi yang mana?

Saat ini aku gak bisa jawab dulu. Biar waktu yang akan menjawab.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *