bukan sekedar putri

Aku memandang langit jingga di atas atap istana dengan penuh penuh harap. Semoga masih ada yang ada yang bisa memenuhi tantanganku itu. Jika ada seorang putri yang bisa menjawab pertanyaanku aku akan menerima dia sebagai istriku dan menjadi ratu di kerajaan ini.

“Anakku Felix, apa yang sebenarnya kau inginkan?” Tanya Ibunda ratu di belakangku mengagetkanku.

“Kita sudah membahasanya, Ibunda Ratu. Saya mohon Ibunda Ratu menerimanya.” kataku.

“Dulu aku menerimanya karena kamu masih menolak sedikit, tapi sekarang sudah terlalu banyak, Anakku. Aku khawatir kamu benar-benar tidak akan menemukan apa yang kamu inginkan. Lebih baik kamu lepaskan keinginanmu itu, Nak. Demi kebaikanmu, Ayahmu dan kerajaan ini.”

“keinginanku ini demi kebaikan kita semua dan kerajaan ini, Ibunda Ratu.” kataku tegas.

“Baiklah kalau kau sudah bersikeras. Ayahmu ingin segera kamu meneruskan tahtanya dan menggantikannya supaya dia bisa beristirahat. Tak lupa Kami ingin segera melihat cucu Kami. Kamu sudah waktunya, Anakku.”

“Iya, Ibunda Ratu.” Kataku.

Keesokan harinya Ibunda Ratu membawakan beberapa putri dari kerajaan tetangga. Mereka disertai pula dengan raja dan ratu dari kerajaan mereka masing-masing. Aku menyambut mereka dengan senyuman hormat dan berjabat tangan.

“Saya Putri Magnolia dari Irlandia. Salam kenal.” Kata Putri pertama. Dia memakai gaun pesta mewah berwarna merah tua.

“Saya Putri Natasha dari Rumania.” Putri kedua memperkenalkan diri. Gaunnya biru tua.

“Saya Putri Mariana dari Yunani.” Putri ini mengenakan gaun kuning keemasan.

“Saya Pangeran Felix dari British.” Aku pun memperkenalkan diri.

Kami kemudian berdansa bergantian untuk saling mengenal masing-masing lebih dalam. Kami membicarakan beberapa hal seperti kondisi kerajaan kami, rakyat, perdagangan. Kami pun membicarakan hobi, kesukaan, keahlian dan beberapa hal kecil. Mereka lumayan pandai berdansa. Aku cukup senang dengan mereka.

Setelah berdansa kami menepi dari ruangan dansa. Lima pengawal kerajaan memasuki tengah ruangan. Empat pengawal memanggul karpet besar dan satu pengawal membawa gelas. Keempat pengawal membentangkan karpet besar kemudian pengawal terakhir meletakkan gelas di tengah. Setelah itu mereka keluar ruangan.

“Sekarang satu pertanyaan dari saya.” Aku memulai tantangan.” Putri yang bisa menjawab tantangan ini akan Saya terima sebagai istri saya. Pertanyaan saya adalah: bagaimana cara anda mengambil gelas di tengah karpet tanpa menginjak karpet?” tanyaku.

“Silakan berpikir dan menunggu di luar. Nanti saya panggil satu persatu. Saya beri anda waktu berpikir selama lima belas menit.”

Ketiga putri keluar bersama raja dan ratu mereka masing-masing. Aku tinggal menunggu dan berharap. Aku sebenarnya sudah tahu jawabannya, tapi apakah ada di antara mereka yang jawabannya sama denganku?

Mudah-mudahan ada. Jika ada dialah jodohku.

Lima belas menit berlalu. Aku memanggil mereka berurutan. Putri Magnolia yang pertama. Dia masuk dengan memandangku sambil tersenyum. Dia melangkah anggun terus menatapku. Matanya tak pernah lepas dariku, tak sekalipun memandang karpet atau gelas itu. Melirik pun tidak. Dia mendekat sampai hampir menyentuhku.

“Pangeran, buat apa kita memikirkan itu? Kita menikah atas dasar cinta kan?”

Saat itu juga aku tahu dia bukan putri yang tepat. Terlalu banyak tipe seperti itu.

Putri kedua masuk dengan diikuti satu prajuritnya. Putri berdiri di pinggir karpet. Ternyata prajuritnya yang mengambilkan sehingga dia tidak perlu masuk. Begitu dia menerima gelas dari prajuritnya, dia menyerahkannya kepadaku.

“saya tidak menginjak karpetnya kan , Pangeran?”

Boleh juga pikirku.

Putri ketiga masuk membawa tali laso. Dia melempar tali laso ke arah gelas dan masuk! Dia tinggal menarik gelas itu sudah sampai di dekatnya.

“Apakah saya diterima, pangeran?” Tanya Putri Mariana.

Putri Mariana ini cerdas, terampil dan beda. Boleh juga.

“Terima kasih atas jawaban putri-putri sekalian. Saya akan memberikan keputusan saya besok pagi. Sekarang silakan anda semua beristirahat. Saya telah menyediakan kamar bagi anda semua.” Kataku.

Pengawal mengantar mereka ke kamar mereka masing-masing dan aku pun ke kamarku. Berpikir. Aku menatap keluar jendela lagi. Bintang-bintang ini walau masih sama tapi posisinya sudah berbeda.

“Yang mana calon istriku yang sebenarnya?” tanyaku pada pasir-pasir langit itu.

“Anakku.” Ibunda Ratu masuk.

“Ya, Ibunda.”

“Bagaimana? Siapa yang akan kau pilih?” Tanya Ibunda Ratu.” Jangan katakan kalau kau tidak memilih satupun di antara mereka. Betapa memalukan kita kalau kau menolak lagi mereka. Negara-negara lain akan menganggapmu sebagai pangeran yang sombong dan mereka tidak akan menyukai kita. Hal ini bisa memperburuk hubungan kita dengan negara-negara lain.” Nasehat ibunda Ratu.

“Ibunda, sebenarnya yang saya inginkan adalah putri yang akan menjawab dengan cara menggulung karpetnya.”

Ibunda Ratu tertawa kecil.

“Anakku, pikiran orang berbeda-beda. Kau tak bisa mencari orang yang sama persis denganmu. Itulah kehidupanmu yang unik, Anakku. Justru sebaiknya kau terbuka dengan banyak pilihan dan jawaban banyak orang termasuk para putri itu.”

“Tapi, Ibunda …”

“Anakku, istirahatlah. Kau harus istirahat agar bisa berpikir jernih. Besok kau harus memilih satu di antara mereka.”

Ibunda Ratu hendak mendekati pintu.

“Anakku, ingatlah dirimu dan tujuanmu yang sebenarnya.” Nasehat terakhir Ibunda ratu.

Aku berbaring di kasur yang mewah warna putih, selimut tebal dan hangat, tirai putih dengan bordir emas di pinggirnya. Tali tirai pun keemasan, tapi kemewahan ini tak bisa membuatku tertidur.

Aku masih ingat para putri itu dan cara-cara mereka menjawab jawabanku selama ini. Pelayanku mencatatnya. Ada yang dengan merangkak agar kakinya tidak menyentuh karpet. Menggelikan. Ada yang dengan berjalan di atas dua kaki. Dia benar-benar putri yang kuat. Ada yang memukul dengan tongkat panjang. Ada yang dengan membentangkan tali karet menyeberangi karpet terus merentangkan karet sehingga begitu karet merenggang karet itu memukul gelas keluar karpet. Ada yang menembak gelas ke arah tepi. Ada yang memukul dengan bola seperti bilyar tapi tenaganya tidak cukup sehingga bola berhenti sebelum menyentuh gelas. Ada juga yang menggunting karpet jadi potongan-potongan baru mengambil karpet.

“Mereka semua cerdas. Tapi beda dengan jawabanku. Haruskah kuterima? Lalu yang mana? Apa aku harus mencari lagi di luar? Menerima ini atau kembali keputri-putri yang dulu?”

Otakku down menurunkan kesadaranku ke level mimpi. Keesokan harinya aku harus pergi. Aku titipkan pesan lewat pelayanku.

Pengawal kerajaan mengabarkan kepada para putri,”Kami memohon maaf bahwa sang pangeran tiba-tiba ada urusan penting sehingga tidak bisa hadir. Pangeran meminta maaf juga bahwa pangeran belum berkenan menerima jawaban dari tuan puri sekalian.”

“Apa? Bagaimana sih pangeran itu? Tidak menghargai tamu sama sekali.” Gerutu seorang raja tamu kesal.

“Ayah, jawabanku semalam benar kan?” Tanya putri Natasha kepada ayahnya.

Putri Mariana menggigit jari sendiri berpikir keras,” Apa yang salah?”

Maafkan aku para putri sekalian. Aku sudah memutuskan pilihanku. Aku harus mengejar pujaan hatiku itu sesegera mungkin sebelum terlambat. Jadwal pelayaran laut Inggris ke perancis sangat pagi.

“Putri yang menjawab memotong karpet itu Putri Sofia, Pangeran. Dia berasal dari konstantinopel, bizantium. Beberapa hari lagi dia akan menerima kedatangan pangeran dari Bavaria.” Jawab pelayan bagian arsip tadi.

Aku mengingat pakaian putri Sofia dulu. Dia memakai gaun biru putih cerah sedangkan aku putih polos. Dia dekat dengan kesukaanku.

“Aku adalah calon raja Inggris. Aku harus bisa mengatur rakyatku. Aku harus bisa menyejahterakan mereka dan menjaga kedamaian mereka. Aku harus bisa melindungi mereka dari setiap ancaman dan serangan musuh. Untuk itu aku harus mencari calon ratu yang mengerti urusan negara dan cerdas juga.” Kataku pada diriku sendiri.

“Aku harus menerima perbedaan tapi tak boleh terlalu jauh karena pernikahan diikat oleh visi dan misi yang sama. Tanpa pandangan yang sama keluarga akan hancur, apalagi kerajaanku.” Tambahku.

Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku dulu menolak dia? Sekarang aku jadi harus mengejar dia lagi. Ini sungguh memalukan. Melanggar etika dan kesopanan. Seorang lelaki ta seharusnya mencabut kata-katanya kembali, tapi apa boleh buat. Kalau tidak begini aku tidak akan mendapatkan dirinya.

Aku harus cepat. Matahari sudah mulai terbit. Pelabuhan mulai terlihat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *