antara ketaatan dan kebebasan

ni masalah dari dulu antara aku dengan jamaah tempat aku ngaji, HT. aku dari dulu belum bisa taat sepenuhnya dengan islam dan HT. aku belum bisa menjadi soleh. aku belum menjadi islam kaffah. hatiku belum sehati dengan islam. pikiranku juga belum sepikiran dengan islam. aku belum mau.

aku masih ingin bebas. aku masih ingin melakukan apa yang aku mau. aku masih ingin menjalani hidup seperti yang aku inginkan. aku punya tujuan, gambaran dan keinginan yang ingin kuraih. aku ingin santai tenang. aku ingin bebas dan bahagia. menurutku aku akan bahagia jika aku bisa mendapatkan dan boleh melakukan apa yang aku inginkan.

kalau keinginanku itu dihukumi aku gak mau taat dengan islam, lalu akidahku dihukumi kafir ya sudahlah. itu berarti benar-benar aku tidak bisa dengan islam. itu masalah besarku. aku nanti jadi kafir masuk neraka selamanya. aduh gimana ini? kalau sampai masuk neraka selamanya aku gak bakalan selamat.

oleh karena itu aku harus di islam, tapi aku harus menguatkan dengan islam. kalau tidak aku bisa tidak tenang dan bahagia dengan islam. aku bisa kafir nanti. makanya itu aku harus memperdalam islam. aku harus mempelajari pandangan hidup islam. aku harus menemukan pandangan hidup dan menjadi dewasa dalam islam. aku harus menemukan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan dalam islam.

tapi selama ini aku tidak menemukan itu dalam islam. aku terus-menerus hidup dalam ketakutan, rasa bersalah, ancaman, tekanan, tuntutan, perintah dalam islam. aku terus saja disuruh-suruh dan ditindas. aku hidup dalam kesedihan dan tekanan. dirundung galau terus.

aku ingin bahagia. untuk itu aku harus keluar dari tekanan dan penindasan itu. aku harus lepas dari ketakutan, kesedihan, dan penindasan itu menuju kebebasan. sebab dalam kebebasan ada kemajuan, kebangkitan, kesuksesan, persahabatan, pertemanan dan cinta. dalam kebebasan ada kemananan, ketenangan, kelapangan dan ketenangan. itulah yang kurasakan.

nah, masalahnya kebebasan tidak ada dalam islam. liberalisme itu produk barat yang harus ditolak. dalam islam segala hal diatur dalam hukum syara’. menurut ushul fikih hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum syara’. manusia jadi tidak boleh berbuat semaunya. manusia harus terikat. manusia harus jadi budak yang menuruti semua kata tuannya. aku tidak mau begitu sebab aku menderita ditindas oleh Tuanku.

makanya aku belum bisa taat. tapi islam itu kebenaran. kalau begitu kebenaran itu menyakitkanku. kebenaran tidak membawa kebahagiaan bagiku. kalau begitu apa aku akan bisa bahagia? bahagia dalam kesalahan jelas tidak bisa bahagia sepenuhnya. tapi kebenaran juga menindasku tidak membuatku bahagia. aku jadi gak yakin pada kebenaran dan kebahagiaan. keduanya bertentangan bagiku.

kebahagiaan adalah masalah hati bagiku. menurutku aku akan bahagia jika aku bisa memenuhi keinginan hatiku. saat itu aku akan merasa tenang, senang, lega, puas dan bahagia. tapi sepertinya Alloh tidak. menurut islam bahagia adalah menuruti perintah Alloh. kebahagiaan dalam islam adalah ridha Alloh. berarti kehendak ALloh yang harus dituruti. lalu hatiku harus dibawa ke mana? apa hatiku harus ditiadakan? untuk apa Alloh menciptakan hati kalau tidak booleh bahagia dan dipenuhi?

ada dua hal agar perbuatan diterima dalam islam:

a. cara perbuatannya harus syar’i.

b. niatnya harus untuk Alloh.

kalau caranya harus syar’i insya Alloh aku mau. aku akan berusaha agar cara yang kutempuh syar’i. sebab bagaimana mungkin aku tenang dan bahagia kalau aku melakukan sesuatu yang salah. kata mas Arif hal ini cukup. lalu amal itu niatnya harus untuk Alloh sebab nanti akan dicatat sebagai amal untuk Alloh. itu bukti cinta kepada Alloh. untuk ini insya Alloh aku bisa. sebab amal itu bukan buat aku. aku nggak butuh itu. itu untuk Alloh saja. jelas saja. tidak ada manfaat di situ untuk aku. jadi untuk Alloh saja.

yang jadi masalah adalah aku harus hidup untuk islam. aku harus jadi orang islam khususnya pengemban dakwah. aku harus diikat dengan akhlak yang ketat. aku harus menjadi ulama begitu dan pendakwah begitu. aku jadi kayak robot dan zombie gitu. aku nggak bisa gitu. aku ingin leluasa, riles dan santai dalam menjalani hidup, bukan kaku dalam akhlak.

kemudian hidup jadi pengemban dakwah bagiku itu sama saja usil dengan urusan orang. dakwah itu amar ma’ruf nahi munkar. aku nggak bisa kayak gitu. aku takut disakiti, takut sakit hati, dicaci maki, dimusuhi. dalam pandanganku tidak ada kebahagiaan dan ketenangan dalam menjadi pengemban dakwah sebab dimusuhi banyak orang. makanya aku belum mau.

yah. gitulah. aku masih belum bisa menjadi muslim kaffah dan solih. aku masih antara ketaatan dan kebebasan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *