jaga jarak

dulu waktu kecil aku setiap hari dibully oleh teman2 SD. waktu pindah sekolah hal itu masih tejadi. aku tidak bisa berkelahi dan penakut. aku jadi harus menghindari anak-anak lain. aku harus menjauhi mereka. semasa SMP aku menghindari pergaulan agar tidak membuat orang lain marah dan agar tidak membuat perkelahian. aku menjauh, menyepi dan menyendiri. aku membaca buku sendiri dan pergi sendiri. hanya sedikit temanku.

lalu aku mengaji menemukan teman mengaji dan ustadz yang killer. mulut mereka penuh duri menyakitkan hatiku hingga berdarah-darah. sejak saat itu aku harus menjaga jarak dari mereka. aku gak boleh asal bicara di depan mereka atau resikonya terluka lagi. mereka pintar bicara dan menyalahkan.
film-film mengajarkan bahwa orang terdekat seringkali menjadi tokoh tak terduga dalam pertarungan final. tokoh terdekat bisa menjadi musuh terbesar. mereka bisa menusuk dari belakang dan mengkhianati. contohnya da vinci code, angels and demons, power ranger dino thunder 1 scene ada yang begitu. sayangnya aku lupa hal itu. cerita-cerita detektif juga berisi begitu. berapa banyak kasus di detective conan mengisahkan pelaku pembunuhan ternyata orang terdekat korban?
hal itu membuatku bertanya-tanya: bagaimana seandainya orang terdekatmu mengkhianatimu? bagaimana seandainya musuh terbesarmu yang tak terduga adalah orang yang paling kau percaya dan kau cintai?
karena itu aku tak bisa 100% percaya pada orang lain. aku juga tidak bisa 100% serius sebab bisa saja nanti Tuhan yang maha kuasa menakdirkanku gagal, orang lain menyabotase dll. aku jadi tidak begitu percaya. sinis? gak juga. cuma agak tidak percaya.
ada kutipan di sini yang aku bawakan dari filosof barat bernama Schopenhauer

Misalnya terdapat bayi landak yang baru lahir di musim dingin. Agar bayi landak tidak mati kedinginan, maka ibu landak harus tidur berdempetan dengannya, memberikan panas tubuh pada si bayi tersebut.

 

Tetapi landak adalah hewan berduri. Jika si ibu terlalu dekat dengan anaknya, maka sang anak akan menderita tertusuk duri. Sedangkan jika si ibu terlalu jauh, maka sang anak tidak mendapat kehangatan yang dibutuhkan.

 

Di sini si ibu landak harus berhati-hati. Niatnya berbagi kehangatan boleh jadi justru dipersepsi sebagai serangan/abuse oleh si anak.

 

 

 

—————————————————–

 

kita, umat manusia bagaikan landak di musim dingin. kita harus bersama agar tidak mati kedinginan, tapi kalau terlalu dekat kita bisa saling melukai dan menyakiti. jadi kita hanya berusaha agar cukup dekat tapi tidak sama dekat.

 

Schopenhauer mengibaratkan landak sebagai manusia. Setiap kali manusia berinteraksi dengan yang lain, maka mereka berpotensi saling menyakiti. Baik lewat kata-kata maupun perbuatan. Disadari atau tidak disadari. Disengaja atau tak disengaja. Pada akhirnya manusia jadi seperti landak yang dikisahkan: mereka ingin berdekatan, tetapi ketika berdekatan, mereka justru saling tertusuk. Oleh karena itu, daripada saling menusuk, lebih baik jika mereka berjauhan saja.

 

jadi begitulah aku sebaiknya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *