menulis ulang sejarah

Sulistya memandangi layar blognya. Sudah setahun lebih ia menulis cerpen di sana. 96 cerpen sudah ia hasilkan. Beragam kisah sudah ia alami bersama tokoh-tokoh ceritanya. Sudah banyak kejadian ia buat dan ia atasi. Ceritanya mengandung bermacam-macam topik, tapi semua itu terhenti.
“kalian semua jelek!” keluhnya.

“sekarang aku gak bisa melanjutkan kalian lagi. Hubungan kita harus berakhir. Aku gak mau bersama kalian lagi.
” Cewek rambut pendek sebahu seperti maudy ayunda itu meninggalkan PC-nya. Ia keluar jalan-jalan menikmati pemandangan di tepi lapangan sepakbola yang mulai gelap ditinggal helios. Di pinggir lapangan ia memandangi sekitarnya lalu menatap jauh ke seberang lapangan.
“aku sudah menulis banyak. Storysea bisa menjadi blog yang kuat.tapi aku harus ninggalin dia.
” sedih.
“aku jadi harus bikin blog baru. Aku harus menulis ulang semua dari awal. Aku harus edit. Tapi gimana? Bikin blog baru atau tetep nerusin storysea? Aku sayang sama dia. Apa yang harus aku lakuin?”
Gak ada orang di sebelah Sulistya yang bisa ditanyai. Tapi ada mas Supri pamannya yang ia kenal. Mas Supri operator warnet. Mas Supri yang pasang modem sehingga dia bisa internetan di rumah walaupun Cuma pakai PC pentium 4 dengan OS XP, OS yang sebentar lagi bakal ditinggal microsoft. Cewek itu kembali ke rumah. Ia ambil sepeda mini biru aquanya.
“ke mana, Lis?” tanya ibunya.
“ke mas Supri.
”sahut Sulistya. Cewek itu mengayuh sepedanya dengan cepat. 10 menit kemudian ia tiba di warnet yang bertempat di rumah itu. Warnet mas Supri lagi buka. Sulistya segera masuk mencari operatornya. Tuh lagi menatap layar.
“mas Supri, bisa bantuin aku nggak?” tanya Sulistya.
“apa lo?”
“sebaiknya aku lanjutin nulis cerpen di Storysea nggak ya?” tanya cewek penggemar warna hijau itu.
“Storysea? Yang kumpulan cerita itu? Kita lihat dulu.
Sulistya login dengan numpang komputer mas Supri. Dia membuka stat storysea. Di sana terlihat batang-batang grafik mencapai 400 – 500.
“ trafikmu besar gitu? Jangan ditinggal terusin aja nulismu! Berharga lo situsmu itu.
” Kata Mas Supri.
“oh, gitu ya? Makasih, mas.
” Sulistya balik. Dia sudah mendapatkan dukungan. Mungkin perlu dukungan lagi,”mas aku nunut internet dulu ya? Aku bayar nanti.
“gak papa.
Sulistya mengambil tempat di komputer 6. Dia login billing dengan username S personal. Dia membuka google chrome, browser favoritnya lalu login ke wordpress. Dia memutuskan mengunjungi sahabatnya – dzazarfryan. Dia mampir ke blog cowok fotografer itu lalu numpang mengisi komentar.
“Dyazarfryan, aku butuh bantuanmu. Penting. Ini menyangkut masa depan Storysea. Tolong bantu ya? Menurutmu Storysea sebaiknya lanjut atau berhenti? Aku merasa tulisanku selama ini jelek. Jadi aku pingin ninggalin Storysea.
” Komentarnya. Enter. Sambil nunggu Sulistya membaca cerpen-cerpennya. Tapi tragisnya itu malah membuatnya merasa tulisannya salah dan jelek. Alurnya tidak begitu. Sekarang alur cerita blognya jadi kemana-mana. Saat seperti itu notifikasi wordpressnya menyala oranye. Cewek 15 tahun itu mengkliknya.
Dyazarfryan membalas,”tanyakan pada orang lain bagaimana pendapat mereka tentang ceritamu.
” Sulistya mengirim komentar lagi,”menurut Bu Siti sih bagus. Kata beberapa yang lain bagus juga. Maaf, bukannya aku mau sombong. Aku Cuma butuh dukungan aja sebab aku gak yakin sama diriku sendiri. Makasih buat supportnya. Aku akan berusaha menulis lagi.
” Reply.
“sekarang gak ada jalan mundur. Aku harus maju dengan storysea.
” Ujar Sulistya.
” Tinggal aku harus mencari ide.
” Cewek itu memandangi storysea, lalu ke dashboard melihat daftar tulisannya. 96. Sudah cukup banyak. Untuk bisa maju dia harus menyelesaikan kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Artinya dia harus mau mengedit mereka semua. Untuk itu pertama-tama dia harus mengubah mereka semua menjadi draft. Lalu mengedit semua satu persatu. Beberapa tulisan kalau buruk harus dia hapus jauh-jauh walau banyak komentar mampir di sana.
“apa aku backup dulu ya?” Ide itu cukup bagus sayangnya dia terlalu sibuk merevisi sampai lupa. Sekarang yang harus dia pikirkan adalah mengedit tulisan pertamanya. Tulisan itu dia buat setahun yang lalu. Saat itu dia semangat-semangatnya dan banyak komentar.
“maaf, sekarang kamu harus aku edit.
” Untuk itu dia perlu menata ulang ceritanya. Jelas butuh waktu lama. Sulistya segera logout biar bisa berpikir lebih jernih. Dia menemui Mas Supri. Dia bayar uangnya Cuma dua ribu lalu pulang.
“duluan, mas.
“ya.
Di rumah Sulistya berbaring menatap langit-langit memikirkan alur yang cocok dengan ceritanya. Dia sudah punya konsep dan tujuan. Tapi dia harus membuat masalah yang menghalangi agar diatasi tokoh utamanya. Apa ya? Cewek itu bergulat dengan bantal, guling. Menghadap kanan, kiri, telentang dan tengkurap. Pikirannya memutar otak mencari alur yang tepat. Makin lama makin pusing. Dia jadi nggak bisa tidur.
“pusing!” ujarnya.
”gimana sih harusnya?” Sulistya menulis lagi. Dia menulis sembarangan. Dia terus menulis sampai larut malam mendekati tengah malam. Sampai akhirnya matanya tak tahan lagi. Dia taruh buku tulisnya di meja lalu berbaring. Capeknya membawanya ke alam keheningan. Besoknya pikiran itu berlanjut lagi.
“konsepnya adalah menjelaskan apa itu blog. Ceritanya adalah seorang ayah memberi hadiah ulang tahun blog kepada anaknya. Anaknya tidak tahu. Lalu ayah itu menjelaskan. Terus apa konfliknya? Karena anak itu gak paham dia gak terima. Dia pergi meninggalkan ayahnya. Tapi ayahnya terus mengejarnya lalu menjelaskan apa itu blog, apa manfaatnya dan kenapa ayahnya memberinya hadiah itu barulah si anak cewek itu terima. Mereka akur lagi. Akhirnya damai.
”pikir Sulistya.
Dia cepat menulisnya di buku tulis. Sebelum menulis cerita penulis pemula harus membuat rancangan cerita. Dia harus membuat konsepnya dalam satu kalimat. Jadi Sulistya membuat konsepnya. Setelah itu dia tambahi konflik biar lebih menantang.
“oke. Ini dia ceritanya.
” Ujarnya. Memang dari dulu gitu. Cuma dia yang nggak tahu konfliknya. Sekarang jadinya jelas konfilknya adalah pertentangan antara kemauan ayah dan anak. Sulistya segera menulis ringkasan ceritanya. Tokoh dan tempatnya sudah jelas: di rumah. Ia lalu menulis dengan cepat. Semangatnya menggebu-gebu sampai ia bisa menghasilkan banyak. Setelah itu ia menemukan banyak ide kelanjutan ceritanya. Selanjutnya ia menemukan banyak ceritanya yang juga benar dan bagus. Mereka tak bisa dihapus. Mereka adalah perintis dari serial cerpen berjenis itu. Misalnya ada serial cerpen cinta, persahabatan, keluarga dan sebagainya. Sulistya mengedit mereka. Ia menghapus semua link yang ada di dalam cerpen-cerpen itu. Sekarang mereka semua adalah perintis. Link-link antar tulisan dihapus dulu nanti baru dipasang setelah tulisan-tulisan yang lain terbit.
“sekarang storysea punya wajah baru, isi baru dan cerita baru. Sebagian editan tapi sekarang aku yakin ini akan jadi lebih baik, lebih fokus dan terarah.
” Sekarang sulistya bisa puas melihat wajah baru blog kumpulan cerpennya, Storysea. Editing and revision is not wrong. Sekarang storysea bisa dilanjutkan. Masa depan terbuka lagi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *