kado untuk penulis – versi 2

“pagi …”sapa Wika sambil melangkah menuju meja makan.
Dengan seragam putih biru ia segera bergabung dengan seluruh keluarganya yang terdiri dari ayah, ibu, satu kakak cowok dan dua adik cowok cewek. Mereka pun sarapan bersama. Menunya nasi, sayur bening, tahu dan tempe. Sederhana tapi nikmat. Dengan lahapnya mereka menikmati rizki pagi itu.

“Yah, hari ini aku ulang tahun lo. Boleh nggak aku minta sesuatu?”tanya Wika.
“minta apa?”tanya Pak Irwan.
“paling novel teenlit atau aksesoris cewek.”celetuk Jefri.
“Emang nggak boleh?”Wika mendelik pada kakaknya.
“minta hadiah yang berguna dong! Beli yang penting!”
“terserah aku. Aku yang pingin kok.”
“Sudah! Sudah! Jangan bertengkar!”lerai Pak Irwan. “Wika, Ayah sudah punya rencana hadiah buat kamu.”
“hadiah, yah? Apa itu?”tanya wika penasaran.
“rahasia. Tunggu nanti! Setelah ayah pulang kerja baru ayah kasih.”
“bener yah?”
Pak Irwan mengangguk tersenyum.
Wika jadi deg-degan dengan rahasia itu. Hadiah apa ya yang bakalan dikasih? Buku, kalung, baju, bando, jaket, sepatu, cincin, anting-anting, CD JKT48 favoritnya? Di sekolah dia terus memikirkannya. Di teras, kelas, kantin cewek itu terus merenung. Apa ya hadiahnya?
Bel belum selesai bernyanyi cewek kelas 8E itu sudah melesat keluar kelas. Tubuh langsingnya setengah berlari memanggul tas biru menuju tempat parkir sepeda SMP Aryapati. Di sana sepeda mini pink sudah menunggu. Dia pun meraih setangnya menuntun keluar.
“Duluan ya?”sapanya pada teman-teman. Mereka membalas dengan senyum.
Wika segera mengayuh sepedanya ke rumah. Cewek 14 tahun itu mengayuh sekuat tenaga melintasi jalan raya kota patria ke utara sejauh 1,5 kilometer tempat rumahnya berada. Dalam waktu 10 menit cewek itu pun tiba di Jl. Natsir No. 8, kediamannya.
“Assalamu alaikum.”salamnya. Ia pun masuk rumah.
“wa alaikum salam.”balas Bu Karunia Indah.
Wika menyalami ibunya lalu masuk kamar. Di sana ia ganti baju lalu sholat dan makan. Setelah itu ia menunggu ayahnya sambil nonton TV.
Ayah Wika bernama Pak Irwan. Beliau adalah guru TI di SMA Satria. Beliau mengajar setiap hari dari pagi sampai siang. Biasanya pukul dua beliau selesai mengajar. Wika pulang pukul satu siang. Jadi harus nunggu satu jam. Tak lama kalau disambi nonton TV. Wika terus menunggu sambil penasaran apa sih hadiah kejutan itu?
“Assalamu alaikum.” Salam Pak Irwan.
“ Wa alaikum salam.” Jawab Bu Indah dan Wika. Cewek itu segera menemui ayahnya.
“ Ayah, apa hadiahnya?”
“anak ayah penasaran sekali ya?” goda Pak Irwan.
“iya dong. Jadi gak sabar nih.”
“oke. Buka alamat ini di netbookmu.” Pak Irwan mengeluarkan sesobek kertas kecil.
“apa ini?”
“buka aja!”
Wika ke kamar tempat netbooknya berada. Dia menyalakannya dan membuka browser. Netbooknya otomatis terkoneksi internet sebab sudah ada modem wifi di rumah. Cewek itu mengetikkan alamatnya dan menekan enter.
Halaman web terbuka. Di sana terpampang sebuah tulisan. Wika membacanya. Ternyata isinya surat ucapan ulang tahun. Cuma ini.
“gimana?” tanya Pak Irwan muncul di pintu kamar.
“ maaf, yah. Bukannya nggak seneng ayah ngasih surat ini aja?” tanya Wika.
“ kamu nggak seneng?”
“makasih ayah udah ngucapin ulang tahun dan ngasih hadiah buat Wika berupa surat ini.”kata Wika hambar. Dia ingat masih banyak orangtua yang tidak memperhatikan hari ulang tahun anaknya dan ikut merayakannya, apalagi ngasih kado.
“ayah nggak Cuma ngasih surat itu, tapi situs itu juga. Blog itu.” Kata Pak Irwan.
“iya. Itu blog. Blog adalah situs pribadi yang bisa dipakai buat diary online. Kamu bisa nulis apa saja terserah kamu.”
“tunggu, tunggu, tunggu! Apa maksudnya?” Wika masih nggak dong.
“ayah ngasih kamu situs pribadi, Wika. Situs itu bisa kamu pakai sendiri. Kamu isi dengan apapun terserah kamu.”
“contohnya gimana?”
Ayah mendekat lalu pinjam netbook sebentar. Beliau membuka tab baru dan mengetik alamat blog raditya dika, blogger terkenal itu dan blog si poconggg.
“kayak gini nih? Masak kamu nggak tahu?”
Wika melihat blog kedua blogger terkenal itu. Dia pernah baca mereka di majalah hai. Ia membaca tulisan-tulisan itu baru ngeh kalo tulisan-tulisan itu bikinan dua orang itu. Mereka bener-bener bebas nulis. Nulis cerita yang koplak, gokil dan semaunya. Dengan tambahan foto mereka jadi benar-benar lucu.
“maksud ayah, ayah ngasih situs kayak gini di mana aku nanti bisa nulis apapun yang aku mau. Aku bisa punya diary sendiri yang bisa dibaca di mana saja kapan saja?” tanya Wika.
“iya. Itu dia yang ayah maksud.” Ujar Pak Irwan.
Wika mulai membayangkannya. Situs punyanya sendiri yang bisa ia tulis apapun yang ia mau. Ia bisa menulis diary, puisi, cerita, buku-buku, foto-foto, lalu nanti ia bisa tambahi lagi seterusnya tak pernah ada habisnya. Gak seperti buku yang biasanya 38, 58 atau 78 halaman. Ini bisa panjang tak terbatas. Bisa dibaca kapan saja di mana. Nanti kalo di internet berarti bisa dibaca siapa saja dong. Nanti semua orang bisa baca tulisannya. Dia bisa berbagi pikiran dan perasannya. Siapa tahu ada yang paham dan mau bantu atau kasih komentar ke dia. Singkatnya unlimited public diary! Keren.
“ ohhh… gitu ya? Aku baru paham. Makasih ya, yah? Ajarin dong cara makenya?”
“oke.”
“ blog ini cocok buat kamu yang suka nulis. Kamu bisa latihan nulis di blog ini. Kamu punya cita-cita pingin jadi penulis kan?”
“iya dong. Makasih, ayah! Ini hadiah terbaik yang pernah aku dapatkan.” Wika memeluk ayahnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *