tak seperti yang terbaca

Salah satu langkah menulis cerpen adalah menulis sebanyak-banyaknya lalu nanti edit sampai yang paling ringkas. Ambil yang paling penting dan dramatis. Kita harus pilih data yang paling mendukung. Lalu yang agak mendukung. Yang tidak mendukung harus dibuang. Itulah prioritas. Tidak hanya cerpen. Novel, puisi, skenario pun begitu. Contohnya novel da vinci code dulu draftnya 1000 halaman. Setelah diedit jadi 500 halaman. Novel “perang dan damai” leo tolstoy telah diedit lima kali. Tidak ada karya terbaik yang ditulis. Maksudnya tidak ada karya terbaik yang muncul dari penulisan pertama. Mereka pasti sudah melewati pengeditan beberapa kali.

Kata-kata yang seharusnya mendukungku di atas malah menjatuhkanku.sekarang aku jadi merasa nggak bisa lagi menulis. Aku juga gak bisa membaca dan menikmati tulisan. Ketika aku membaca tulisan fiksi. Aku jadi merasa tulisan2 itu seperti gunung es. Tulisan yang terlihat itu hanya permukaannya saja sedangkan isi yang sebenarnya jauh lebih besar dan dalam tak terlihat. Bagaimana menulisnya, editannya, perancangan, risetnya dll gak terlihat. Termasuk kenyataannya, pemikiran, pengetahuan, keyakinan dan kepribadian tokohnya. Semua itu tersembunyi. Padahal semua itu menentukan reaksi dan aksi si tokoh. Tapi semua itu tenggelam ke dalam bawah tulisan.

Kasus tulisan yang tak terlihat ini juga membuatku bingung. Aku bingung dengan apa yang akan aku tulis. Sebab aku harus menulis 1000 kata untuk menghasillkan kata-kata yang lebih bagus. Bisa jadi hasilnya 500 kata, 200, 100 atau malah 50 ke bawah untuk memebuat karya yang benar-benar bagus. Aku jadi bingung menulisnya gimana. Aku merasa bukan itu yang sebenarnya penulis itu tulis tapi hasil akhirnya buku bagus. Cerpen atau novel yang superbagus. Nah, bagaimana menulisnya?

Tulisan yang tercetak di buku-buku itu bukan tulisan pertama. Tulisan2 itu sudah melewati editan, perubahan, pengembangan, pengeditan yang berulang kali untuk menghasilkan karya akhir yang benar-benar bagus. editan mereka benar-benar banyak, dan bertahap. aku harus melakukan seperti itu.

berkat itu aku jadi yakin editan itu boleh. kita berhak mengubah karya kita kalau menurut kita tulisan kita kurang bagus. kita bisa mengubahnya jadi yang lebih baik.

oleh karena itu dalam tahap menulis, ada tahap inkubasi dan editing. setelah menulis banyak jangan langsung dikirim, tapi didiamkan dulu. biasanya di saat awal kita merasa tulisan kita begitu sempurna sehingga tidak teliti. kalau mau meneliti dan mengedit kita jadi eman. oleh karena itu tulisan-tulisan kita perlu kita tinggalkan sejenak. sehari sampai seminggu cukup. kemudian saat perasaan sudah dingin kita bisa edit tulisan kita jadi lebih baik.

tulisan terbaik tak pernah ditulis. maksudnya tak pernah ditulis seketika, tapi melalui proses editing yang panjang.

dengan begitu jangan khawatir jika tulisan kamu buruk. kamu bisa perbaiki, ubah, kurangi, tambahi hingga jadi hasiolnya lebih baik. oleh karena teruslah bersemangat menulis. teruslah berkarya!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *