pernikahan hasyim

Ustadz Ahmad berkata,” besok Hasyim menikah. Nanti kalian harus bantu-bantu ke rumah Hasyim. Besok kalian akan tahu kayak apa pernikahan islami itu.”
“ya, ustad.” Sahut Yudi dan teman mengajinya. Perintah Ustadz harus dipatuhi selama dalam koridor syar’i. Halaqoh diakhiri.

Setelah halaqoh mereka naik sepeda motor bersama ke rumah Hasyim di Patria timur sejauh 28 kilometer. Yudi dibonceng teman ngajinya. Sepedanya gak cukup sampai sana. Sampai di sana mereka melihat sekeliing. Terop sudah dipasang.
“ ayo makan dulu.” Kata Hasyim mempersilakan.
“ ini kerja aja belum sudah makan.” Gumam Yudi. Harusnya kerja dulu.
Mereka makan nasi rawon. Setelah itu suguhannya ada macam-macam seperti kacang goreng, agar-agar, pisang rebus dan macam-macam. Mereka lalu ngobrol kesana kemari sampai nasi habis baru siap kerja.
Pertama-tama Yudi dan teman pemboncengnya, Mas Hadi mengangkat pot-pot bunga agar ditata di teras rumah Hasyim. Teman-teman mengaji yang lain juga membantu mengangkat pot-pot bunga. Setelah itu mereka memasang banner besar sebagai dekorasi. Banner itu bertuliskan pernikahan Hasyim dengan Mika, akhwat dari Inca.lalu ada keterangan orang tua masing-masing, tanggal dan tempat pernikahan. Hasyim dan Mukhlis mengangkat banner mengepaskan posisi banner. Hadi memandang dari tempat agak kejauhan untuk melihat posisinya sudah pas atau belum.
“Yud, kamu berdiri di tengah. Biar aku foto.” Instruksi Hadi.
“ kenapa harus aku? Yang lain aja yang lebih cakep.”
“ yang lain pegang banner. Ini biar dilihat udah pas atau beum.”
Jadilah Yudi difoto dengan membelakangi kamera.
Sesudah itu semua beres. Pot sudah tertata. Banner sudah terpasang. Mereka pasang tirai di sekitar halaman rumah hasyim.
“ yuk sholat.”
Mereka sholat ashar lalu pulang. Besok pertunjukannya. Yudi dibonceng hadi lagi. Jadi pingin tahu besok kayak apa akadnya, lalu kayak apa istrinya.
Besok paginya Yudi sudah berangkat duluan dengan kemeja lengan panjang. Acaranya jam 9, tapi dia harus datang jam 7  biar cepat sampai. Dia bersepeda 28 kilometer. Keringet dan bau sudah pasti. Tapi mau gimana lagi. Inilah resiko cowok miskin. Udah bersepeda bau lagi. Kapan dapat jodohnya?
Jam 8 Yudi sampai. Sound speaker besar empat buah bersusun menyanyikan lagu dangdut. Khas desa, khas manten. Apa gak ada yang lain? batin Yudi.
Di sana Mukhlis dan Hadi sudah datang. Mereka menata kursi-kursi. Yudi ikutan. Hasyim muncul memakai jas hitam kemeja koko putih berkopyah hitam.
“ keren nih. Sebentar lagi jadi suami dong. Punya istri sendiri.” Goda Yudi.
“ makanya kapan nyusul? Cepetan dong!” balas Hasyim.
“ nanti kalo udah mampu.” Sahut Yudi kalem teringat Syarifa.
“ kamu sih kapan mampunya? Kalo nunggu mampu gak berangkat-berangkat.” Celetuk hadi. Yudi mangkel dalam hati sama ikhwan satu ini.
Orang-orang mulai berdatangan. Laki-laki perempuan membawa keluarga.
“ kamu jadi penerima tamu, Yud.” Instruksi hadi. Yudi sebenarnya gak mau. Dia pingin lihat akad nanti. Hadi ini, sukanya nyuruh-nyuruh!
Terpaksa Yudi menerima. Dia keluar ke pintu halaman. Dia menyalami setiap tamu dan memberi kado kotak. Kalo gak ada tamu dia duduk. Orang-orang mulai rame. Mereka berdatangan. Tamunya memang laki-laki dan perempuan, tapi jalan masuknya beda. Tempat Yudi hanya untuk laki-laki. Dia berusaha tersenyum dan memberikan kado. Untuk wanita jalannya lewat yang lain.
Seorang bapak datang bersama anak laki-laki. Yudi seperti mengenalinya. Guru TI-nya jaman SMA. Guru itu yang mengajari pemrograman dan html dulu dengan telaten sehingga dia bisa lulus.
“ pak Irwan? Kok bisa di sini juga?”
“ ini saudara saya.”
“ hasyim saudara Bapak?”
“ ayahnya Hadi sudara ayah saya.”
“ ini anaknya semua pak? Namanya siapa?”
“ yang besar Jefri.” Jefri ersenyum menganggukkan kepala.
“ yang kecil Afif.”
“ terus Wikanya datang?”
“ datang dong. Sama Ibunya. Ya udah duluan ya?”
“ oh, iya. Ini pak kadonya.” Yudi memberikan kado kepada Pak Irwan, Jefri dan Afif.
Matahari makin tinggi. Yudi kepanasan memindahkan kursinya. Di sebelahnya bapak tua berkumis dan jenggot putih tebal merokok. Yudi membatin, apa gak tau merokok itu bikin sakit?
Dua mobil xenia datang melindas kerikil-kerikil jalanan. Satu hitam satu putih. Mereka memasuki halaman. Lalu penumpangnya keluar semua. Banyak ternyata. Laki-laki bisa ada sekitar lima. Perempuannya ada enam. Belum juga anak-anak tiga. Ada yang separuh baya, yang tiga puluhan, yang remaja cewek juga ada. Yudi cepat memotret. Cewek cantik harus cepat ditangkap sebelum ilang.
Orang-orang itu bersalaman dengan keluarga Hasyim. Mereka masuk rumah. Lebih lama lagi. Yudi menunggu. Sudah panas. Tamu-tamu juga berdatangan lebih banyak. Sebagian Yudi kenali dari Inca, Mahasiswa-mahasiswa BDM khususnya. Dulu Yudi pernah ikutan acara MBILT bareng ust. Felix siauw.
Rombongan keluarga xenia keluar. Satu hal yang mencolok terlihat. Satu muslimah berjilbab lebar baju putih diantar masuk xenia. Hasyim naik sepeda motor. Mereka keluar halaman menuju sebuah masjid. Gak tahu masjidnya di mana. Orang-orang naik motor ikut rombongan itu. Mukhlis naik sepeda motor membonceng istrinya. Hadi juga membawa istri dan anaknya.
“ aku ikut.” Seru Yudi.
“ gak ada boncengan, akhi.” Kata Mukhlis.
“ antum jaga aja.” Kata Hadi.  Ugh sebel! Diktator itu lagi.
Yudi mengambil kado dan bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa Inca itu. Mereka sebenarnya sudah alumni tapi tetap aktivis di BDM Inca. BDM adalah badan dakwah mahasiswa. Mereka pemegang LDK Inca. LDK itu lembaga dakwah kampus. Lalu didalamnya ada lagi GEMA pembebasan. “ kabar inca gimana, mas?” tanya Yudi.
“ baik. Baik.BDM juga jalan.”
Dari dulu Yudi ingin kuliah di Inca. Institut cahaya itu salah satu kampus paling keren yang pernah dia lihat dan yang paling dekat. Ada UB di Kota Cakrawala, UI, ITB, UIN. Tapi Cuma Inca yang dia inginkan. Sayang keinginannya gak tercapai dan dia harus kuliah di kampus kecil UNEKA.
Mereka ngobrol-ngobrol. Lalu rombongan tadi kembali. Orang-orang pun datang lagi termasuk Mukhlis dan Hadi. Mereka bergabung dengan kelompok laki-laki. Kelompok perempuan di dalam rumah. Muslimah putih tadi juga di sana. Kemudian mauidhotul hasanah. Pembicaranya Ustadz yang Yudi tahu adalah pengurus jamaah pengajian mereka tingkat karesidenan, jadi di atas Kota patria dan di bawah provinsi.  Beliau berbicara bisa dalam bahasa jawa lancar indonesia juga bisa.
Beberapa yang disampaikan antara lain, hubungan antara suami istri yang kuat berdasarkan ikatan aqidah, iman dan islam. Bukan hanya cinta dan kemauan. Sebab nanti bisa saja gak ingin dan gak cinta gara-gara masalah keluarga atau beda keinginan. Contohnya artis-artis banyak yang cerai karena beda maunya. Ngakunya beda prinsip. Itu artinya gak mau toleransi dan mementingkan pendirian masing-masing.
Terus doa untuk pengantin adalah barokallohu laka, barokallohu alaika wa jama’a bainakuma fi khoir. Artinya semoga alloh memberikan barokah kepada kalian dan mengumpulkan antara kalian dalam kebaikan. Kalimat yang tengah artinya sama dengan yang pertama jadi gak ditulis gak papa. Menurut suami vanessa kemarin waktu didoain kata ka bisa diganti kuma artinya untuk kalian berdua.
Setelah itu makanan dibagikan. Kenyang deh. Abis makan kue dalam kado, aqua satu gelas ditambah nasi lagi. Terus teh berseliweran. Yudi mengoper-oper teh ke sebelahnya sampai semua dapat. Setelah itu foto-foto dengan pengantin laki-laki. Para syabab berfoto. Hadi jadi fotografernya.
“ pernikahannya beda dikit sama KAMMI.” Komentar Yudi.
“ beda gimana?”
“ kemarin waktu prnikahan Vanessa laki-laki dan perempuan dipisah tapi gak ada tirai. Jadi aku masih bisa lirik akhwat-akhwat cantik di sana. Banyak juga hehehe…”
“ mungkin itu kondisional saja. Di tempat lain bisa saja ada hijabnya.” Jawab Mukhlis.
“ tunggu. Tadi gimana akadnya?” tanya Yudi.
“ antum gak ikut?” tanya Mukhlis.
“ nggak. Tadi jaga.”
“ tadi laki-laki sama perempuan dipisah. Ada satir yang tinggi buat memisahkan ikhwan dan akhwat. Hasyim tadi bersalaman sama modin  membaca akad ijab kabul. Dia sendirian. Gak ada istrinya di sebelahnya.”
“ terus istrinya di mana?”
“ di kelompok akhwat.”
“ sayang aku gak liat. Aku pingin liat beneran. Pak hadi sih nyuruh-nyuruh nungguin. Jadi gak liat.”
“ antum nanti praktek sendiri aja.” Celetuk ust. Fadli. Beliau ustad Yudi sebelum halaqoh.
“ nanti… masih lama.” Balas Yudi.
Acara selesai. Teman-teman syabab beres-beres kursi, lepas banner, balikin pot kemarin. Mereka ngobrol-ngobrol dulu. Abis itu baru Yudi pulang diantar syabab yang punya mobil ke tempat temannya tadi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *