fashion youth part 4

Part 4

“ Citra, gimana caranya kamu dapat ide itu?” tanya Wika.

Mereka berdua jalan-jalan di alun-alun Kota Patria hari Minggu pagi. Ada banyak remaja cowok cewek yang jalan-jalan juga. Anak-anak dan orang dewasa pun berkumpul untuk rekreasi. Ada juga yang senam aerobik. Kedua remaja cewek itu jalan-jalan aja.

“ Sama kayak kata Silverina kemarin. Aku liat-liat ada yang kurang. Aku coba tambahin, lalu jadi.” Jawab Citra.

“ Kalo desain tas sama kaosmu itu ceritanya gimana?”

penulis cerpen winterwing itu masih saja heran gimana cewek yang matematika melulu itu bisa dapat ide fashion youth, padahal si matematika itu nggak datang dan liat. dia sendiri yang liat malah belum ketemu.

“ Yang kaos itu awalnya aku mikir kenapa kaos-kaos itu tulisannya sama gambarnya sama terus. Apa nggak bisa diganti-ganti kayak status atau wallpaper di komputer, hp gitu? Dari situ aku coba-coba bikin gimana caranya biar tulisan dan gambar di kaos bisa diganti sesuka kita.

Kalo yang tas itu aku temuin pas kita di distro. Di sana aku liat kebanyakan warnanya item. Gak ada warna lain. Aku berandai-andai gimana senadainya kalo warnanya sekali-kali berwarna kuning?

Aku pernah liat tas talinya kuning dan ada tulisannya “police line. Do not across.” Gimana kalo tali kuning itu diganti meteran kuning yang biasa dipake tukang bangunan? Hihihi …” matematikawati itu ketawa sendiri. Tak ayal Wika pun ikut ketawa.

“ Terus selama ini aku sering ngitung dan bikin coretan pake kertas buram, tapi gimanapun pinternya kertas buram bakalan habis. Nah aku jadi bertanya-tanya gimana caranya biar nggak abis-abis.”

“ Kamu mikirin sebanyak itu?” Wika shock.” Dan gabungin semua jadi satu. Wow T-O-P begete. Terus yang busur?”

“ Hiasan aja.” Celetuk Citra. Nih anak bisa becanda juga.

Mereka ngelanjutin jalan muterin jalur pejalan kaki dari paving yang mengelilingi alun-alun.

“ Menurutmu bisa nggak nanti aku nemuin ide desain yang kreatif kayak kamu?” tanya Wika.

“ Bisa. Bisa. Kamu itu kreatif kok. Kamu kan bisa bikin banyak cerpen dan selama ini kamu bisa ngasilin cerita yang nggak pacaran dan tema cinta mulu padahal kebanyakan cerita remaja itu pacaran dan cinta terus. Itu berarti kamu kreatif. Kamu pasti bisa.”

“ Makasih. Kamu punya kata-kata mutiara lagi?”

“ Peduli dengan orang lain. Rasakan dengan hatimu. Kamu bakalan bisa nemuin apa yang kurang dan kamu bisa ngelakuin sesuatu dengan itu. Itu bakalan bikin kamu lebih kreatif.”

“ Makasih banyak buat wise word-nya. Ya udah aku duluan ya? Mau kerja.”

“ Oke.”

Jalan-jalan minggu itu berakhir dengan perpisahan yang manis. Senengnya dapet hikmah dari cewek cilik itu. Ternyata cewek pendiam itu kalo diuprek-uprek bisa ngeluarin kata-kata yang dalam, pemikiran dan kata-kata yang panjang.

Blogger winterwing itu lalu pulang ke rumah. Hanya sekitar 3 kilometer dari alun-alun. Dia memarkir sepedanya di garasi lalu masuk rumah. Ia masuk ruang tengah dan memperhatikan sekeliling. Mas Jefri lagi nonton TV bareng Afif dan Metrika. Ibu lagi masak di dapur. Ayah belum pulang dari bersepedanya. Cewek itu naik tangga ke lantai dua lewat tangga di antara kamar ortu dan dapur. Melewati kamar Afif dan Metrika dia mendapati halaman yang rata tanpa atap. Kain-kain jemuran berkibar-kibar ditiup angin.

Dia raba-raba kain itu. Sudah kering. Segera dia ambili yang kering dan bawa ke bawah.

“ Bu, baju-bajunya yang kering aku seterika, ya?”

Ibunya menoleh lalu menyahut,”Ya.”

Wika meletakkan pakaian-pakaiannya di karpet ruang tengah di depan TV. Dia ambil seterika dan colokkan. Dia beberkan alas kain baru menyeterika.

“ Iyu…t. tumben rajin nyeterika baju orang lain. Ada apa nih?” goda Jefri.

“ Gak kenapa-napa.”

“Masak? Pasti ada apa-apa nih.”

“ Mau tau aja.”

“ Mbak, boleh titip seterikain dong?” pinta Metrika.

“ Boleh.”

Metrika ambil bajunya dan bawain ke tempat mbaknya. Baju-bajunya pink, putih, biru, hitam. Wika seterikain dulua soalnya lebih kecil dan lebih gampang. Baru dia seterika punya ibunya. Sambil nyeterika dia perhatiin motif-motifnya. Ada yang hitam bulat-bulat kuning, batik, oranye, merah, coklat.

Setelah semua selesain dia beresin. Dia pun nonton TV. Nonton FTV SCTV tetep wajib buat inpirasi cerpen dan blognya. Selain itu nanti bisa belajar alur, konflik, deksripsi, dialog dan lain-lain. FTV pagi biasanya tayang jam 10.00 sampai jam 12.00. habis itu makan siang. Sholat bentar baru fly.  Bukan tidur tapi main ke rumah Revina.

Di rumah Revina udah ngumpul Silvia dan Citra. Dengan tambahan dua anak itu dan tuan rumah, The Crews jadi komplit. Mereka pun jadi ngerumpiin macam-macam. Dari cowok di kelas, pelajaran yang susah, ulangan, PR lalu membahas artis. Wika langsung semangat membahas idolanya: 48 family. Mulai dari AKB48, JKT48, HKT48. Idolanya Haruka, cewek dari jepang itu. Suaranya lucu sih.

“ Rev, anterin jahitan ke tetangga?” kata Bu Sinta.

“ Sebentar, Ma. Lagi males nih.”

“ Sebentar aja. Ke tetangga dekat itu lo. Cuma di ujung gang.”

“ Panas, ma! Nanti sore alo.” Alo sama dengan aja.

Wika melihat itu segera bertindak,” biar saya aja, Bu.”

“ Nggak usah, nak! Jangan repot-repot. Ibu Cuma butuh bantuan Revina ini sebentar.” Kata Bu Sinta.

“ Rev, kamu ini apa nggak malu? Malah temenmu yang bantuin ini.”

“ Jangan, ka! Mestinya aku yang nganter tapi aku mau nanti biar agak adem. Sekarang panas-panasnya.”

“ Nggak papa, kok. Sekalian aku pingin jalan-jalan.”

Akhirnya Bu Sinta mau. Dia menyerahkan tiga stel pakaian dibungkus plastik supaya dianter Wika. Beliau menunjukkan arah-arahnya. Revina makein topi baseball-nya dulu ke kepala Wika.

“ Biar cantikmu nggak turun. Ntar pulang-pulang jadi item aku gak kenal.”

“ Apaan sih kau?”

Blogger itu lalu jalan ke rumah yang dimaksud. Jaraknya sekitar sepuluh rumah. Sambil jalan dia liat-liat rumah dan orang. Dia tiba juga di rumah itu. Rumah itu punya pagar besi pembatas halaman.

“ Assalamu alaikum.” Panggilnya. Gak ada yang keluar.

“ Assalamu alaikum.” Panggilnya ulang, tapi gak ada yang keluar juga. Dia ulangi untuk ketiga kalinya.

Panasnya! Cewek itu jongkok di bawah pagar. Matahari condong di utara. Dia bisa berteduh di bawah bayang-bayang pagar dan rumah itu.

“ Tetep tungguin apa balik, ya? Panas dan kayaknya gak ada orang gini. Tapi kalo pulang kayak gini malu-maluin ntar.”

Seorang nenek penjual jamu terlihat berjalan ke arah Wika. Nenek itu pakai kemben, kebaya hitam bermotif bunga mawar dan jarit batik coklat. Dia bercaping memanggul bakul berisi botol-botol jamu. Dia lewat dan melihat Wika.

“ Jamu, nduk?”

“ Ndak, mbah.”

“ Cari siapa?”

“ Ini, mbah. Yang punya rumah. Mau nganter jahitan.”

“ Oo.. tunggu sebentar.”

Nenek itu membuka pagar sendiri dan masuk ke teras rumah. Dia mengetuk pintu kaca dan berteriak manggil-manggil.

“ Sri! Sri! Ada yang mencari lo!”

Setelah panggilan yang bisa didengar satu RT itu barulah yang punya rumah keluar. Dia ibu berbaju daster coklat. Dia keluar bersama putrinya yang SMA. Putrinya masih pakai seragam SMA. Bu Sri dan nenek berbicara sebentar. Bu Sri melihat Wika memanggil.

“ Sini, nak!” panggilnya.

Wika masuk menemuinya.

“ Ada apa, nak?”

“ Ini, Bu. Saya mau mengantar jahitan dari Bu Sinta.”

“ Kamu anak mana? Setahu saya anaknya Bu Sinta itu Revina.”

“ Saya temannya Revina.”

“ Oh.”

“ Ini, Bu bajunya.” Wika menyerahkan bajunya. Bu Sri menerimanya.

“ Hesti, ambilin dompet di kamar!”

“ Ya, bentar.” Cewek SMA itu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian ia keluar membawa dompet hitam persegi panjang.

“ Ini, ya? Titipin buat Bu Sinta.”

“ Baik, Bu. Permisi.”

Wika pulang meninggalkan rumah Bu Sri balik ke rumah Revina. Sempat lucu juga ditolongin mbah itu. Dia ternyata kalo berteriak kenceng. Lalu dia sempat inget cewek SMA itu. Namanya Hesti. Sekolahnya SMA Satria dari badgenya. Badgenya hijau. Seragam SMA-nya biru. Warna favoritnya biru. Kelak ingin nerusin ke SMA Satria aja ah!

“ Eh, tunggu! Rok biru tadi itu bagus. Gimana kalo digabung dengan jarit mbah tadi?”

Pikirannya jadi melayang membayangkan penggabungan itu. Rok SMA ditambah jarit akan jadi rok SMA yang cara pakainya ditempel mengelilingi perut ke bawah. Nanti ditambahi tempat untuk ikat pinggang. Biar gak diintip cowok, lilitan itu lebih dari 360 derajat. Jadi dilipat beberapa kali. Pasti lucu. Kayak dadar gulung. Hihihi … nanti rok itu agak longgar terus selutut aja deh.

“ Inspired! Itu dia!”

Cewek itu berlari ke rumah Revina dengan senangnya.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *