sebait puisi Citra

Beberapa hari menjelang ujian kenaikan kelas SMP Aryapati mengadakan seminar untuk memberikan motivasi kepada siswa-siswa dan memberikan bantuan belajar. Seminar itu berjudul  ”holistic thinking for learning”. Buat yang nggak pernah makan bangku sekolah artinya “berpikir menyeluruh untuk pembelajaran. Acara ini diadakan di aula yang terletak di bagian belakang sekolah.

Pagi jam 7 siswa-siswa sudah disuruh ke aula untuk menghadiri acara itu. Citra Khawarizmi sudah datang awal. Dia duduk di bangku kelima dari depan sisi selatan aula yang menghadap timur. Biasanya kan tempat duduk penotnon di belah jadi dua, kiri kanan. Bagian tengah untuk jalan penonton yang mau ke ke balakang atau maju ke depan. Jalan itu juga buat panitia yang mau mengawasi jalannya acara.

Citra duduk menunggu teman-temannya datang ke tempatnya. Tapi mereka belum keliatan padahal anak-anak kelas lain sudah rame. Tak ada kelas 9 karena mereka sudah lulus UNAS dan perpisahan. Sekarang tinggal kelas 7 dan 8. Anak-anak ramai duduk di sekelilingnya menempati kursi-kursi di sampingnya sampai penuh. Tak ada lagi tempat untuk mereka. Penglihatannya juga terganggu wajah-wajah tak dikenal.

Setelah penuh acara dimulai. Biasanya urutannya salam, doa pembukaan dan sambutan. Tetek bengek begitu tetep saja ada di acara manapun buat formalitas. Lalu guru memberi sambutan dengan nasehat yang itu-itu aja. Paling Cuma semangat belajar buat UKK.

Baru setelah itu acara intinya masuk. Pembicaranya adalah Dr. Kelvin Fahrenheit. Beliau dosen fisika di Inca. Inca singkatan dari Institut Cahaya. Inca adalah salah satu perguruan tinggi yang terkemuka di Kota Patria. Dr. Kelvin ini mirip tokoh Hammer di ironman 2. Bedanya Dr. Kelvin ini tenang dan santai.

“Selamat pagi, anak-anak!”

“Pagi”¦”

Dr. kelvin mulai berbicara. Beliau menyalakan slide presentasi dan menunjukkan kepiawaiannya dalam bercerita tentang IPA dan matematika karena pelajaran itu sering jadi momok yang menakutkan bagi anak-anak. Maka beliau bercerita dengan kejadian-kejadian ringan yang diambil dari kehidupan sehari-hari.

Citra berusaha memperhatikan penjelasan tentang pelajaran yang disukainya itu, tapi perasaan gelap mencekalnya. Rasanya sendirian di keramaian begini. Tak ada teman buat diajak berkomentar, bercanda yang lain. Yang ada di kedua sisinya hanya wajah-wajah tegang. Begitu juga depan dan belakangnya. Ia menoleh di tempat agak jauh dua cewek bercanda sendiri dengan asyiknya.

Cewek penemu rumus cepatlingkaran itu berbalik ke belakang. Sama sekali tak ditemukannya wajah trio Via yang selalu bersama-sama itu. Padahal kalau ada satu saja wajah ketemu, yang lain pasti bakalan ketemu. Silvia yang suka basket. Revina si putri cinta yang galau dan Wika si blogger cerpen winterwing. Tapi dicari kemana-mana tetep aja nggak keliatan.

Cewek yang pernah guru cilik itu akhirnya pake sms juga. Ia atur hp-nya biar silent baru mengirim sms.

“Wika, kamu di mana?” tanya Citra lewat sms.

Balasannya datang cepat,” Aku di dalam aula.”

“Lokasi kamu?”

“Di bagian belakang.”

“œ Kok di belakang? Ke depan dong!”

“Dua anak ini gak suka matematika. Jadi aku harus nemenin mereka di belakang.”

“Ya udah.”

Citra mendesah. Jadi aku harus sendirian nih. Garing. Gak ada yang bisa diajak ngobrol. Citra melirik di dekatnya. Sepasang cowok sama cewek malah mesra-mesraan. Di tengah aula dan seminar gini?

“Tolong dong! Someone, sini please.” Gumamnya.

Sebenernya materi Dr. Kelvin bagus. Beliau cerita ke mana-mana. Beliau bisa mengaitkan antara hal-hal yang awalnya tak berkaitan menjadi berkaitan. Misalnya beliau menerangkan rumus dasar bangun datar seperti persegi, persegi panjang, trapesium, jajar genjang itu punya satu rumus dasar. Begitu ruus dasar itu ketemu, dia bisa diotak-atik utnuk beradaptasi ke berbagai soal dan bentuk. Begitu juga bangun ruang seperti balok, kubus, prisma, tabung dan lain-lain. Beliau menjelaskan pula kaitan antara gerak lurus beraturan, gerak lurus berubah beraturan, gerak jatuh bebas, gravitasi sampai tata surya, orbit bumi sampai musim-musim juga.

“Tapi aku gak punya teman curhat di sini.” Tulisnya di notes kecilnya yang selalu dia bawa ke mana-mana. Notes itu pula yang dia pakai waktu cerita jadi guru cilik dulu.

Bosen. Kesepian. Siswi 8E itu jadi pingin pindah atau keluar aja. Dia berbalik melihat pintu keluar. Di pintu keluar yang berada di barat tengah aula ia melihat beberapa cewek ijin keluar kepada guru pengawas. Tampaknya mereka dibolehin, soalnya guru itu mengangguk. Mereka pun keluar.

“Kalo deket sih aku pingin ke sana. Sayangnya aku jauh.”

Cewek penggemar ilmuwan islam Khawarizmi itu jadi mencoret-coret di notesya. Dia menuliskan unek-uneknya semuanya di bawah poin-poin yang dia catat dari presentasi Dr. Kelvin. Dia tuliskan juga pendapat-pendapatnya dan ide-idenya. Penanya menggoreskan 4 lingkaran lalu masing-masing lingkaran mempunyai sunduk dan bercabang menjadi 2. Di bawah lingkaran ada cabang. Di ujung sunduk juga ada cabang. Jadilah lambang 4 orang bergandengan tangan.

“Rrr”¦” hp bergetar di saku Citra. Cewek itu membukanya.

“Cit, kita mau keluar. Mau ikut ga?” sms Wika.

“Kenapa keluar?”

“Kita-kita udah nggak betah lagi. Kita mau ke kelas, kantin atau tempat lain aja.”

“œHe”¦” gumam Citra dengan pengucapan e seperti punten.

“Gimana?” tanya Wika.

“Aku belum tahu.”

“Kalo mau ikut, nanti aku kasih tahu lokasinya. Soalnya kita-kita mau sembunyi dari guru pengawas lain yang suka jalan-jalan.”

Citra tak membalas. Pinginnya sih di sini biar dapat ilmu dari Dr. Kelvin tapi teman-temannya pergi. Bahkan Wika juga pergi. Kecewa banget liat sahabat yang ditungguin biar dateng, belajar bareng, pinter bareng, sukses bareng malah ninggalin kita.

“Wika, Wika. Kamu itu sebenernya pinter dan baik. Kamu juga suka menolong dan rela berkorban. Tapi kamu sampe ngorbanin ilmu “¦”

Cewek mungil itu mengalihkan kesepiannya ke depan saja. Sekarang Dr. Kelvin tengah nerangin prakteknya dari berpikir menyeluruh. Caranya dengan membuat gambar, diagram atau grafik dari konsep-konsepnya. Misalnya bangun datar dipecah menurut sudutnya menjadi segi 3,4,5,6,8 dan seterusnya. Segi  3 dipecah menurut sisinya jadi sama sisi, sama kaki, dan segitiga sembarang. Menurut sudutnya ada segitiga lancip, siku-siku dan tumpul. Segi 4 ada macam-macam lagi.

“Dosen ini biarpun ngajar fisika jago matematika juga.” Komentar cewek di sebelah Citra.

“Iya dong. Soalnya matematika sama fisika kan dekat? Apalagi ini meteri SMP, pasti lewat.” Ujar pacarnya di sebelahnya lagi.

“Nah, kalian sudah lihat contohnya. Ada contoh hubungan lain yaitu 5 kingdom dalam biologi. Setiap kingdom bisa berpencar jadi banyak filum atau divisio, class, ordo, familia, genus dan spesies.” Dr. Kelvin memberi contoh dalam biologi.

“Ketika kalian melihat gambar besar atau intinya, kalian akan bisa melihat detailnya dan menyesuaikannya untuk menghadapi soal bagaimanapun.”

“Sekarang kesempatan buat kalian. Siapa yang bisa menjelaskan hubungan antar rumus? Rumusnya apa saja terserah. Kalian bisa membuat kaitan rumus ini begini berkaitan dengan rumus lain. Yang lebih hebat lagi kalian bisa membuat rumus dasar baru yang menyatukan dan menyederhanakan rumus-rumus yang pernah diajarkan di sekolah. Ayo siapa yang bisa? Kalau bisa saya kasih hadiah. Ini buku baru judulnya “˜math is fun”™.” Tawar Dr. Kelvin.

Semua diam, saling pandang. Mereka menunduk mengingat-ingat. Ada yang mendongak mencari cecak, eh, bukan. Ada yang nole mencari ide tapi yang keliatan malah wajah guru yang garang. Ada yang garuk-garuk malah jatuhin contekan yang ngumpet di rambutnya yang kribo.

“Citra, ayo maju!” kata seseorang.

Citra menoleh ke kanan belakang agak jauh,” Kevin?”

“Kamu pasti bisa.” Dukung Kevin.

“Ntar! Aku pikir-pikir dulu.”

Citra mendongak ke langit-langit berharap ingatannya keluar dari arsip jutaan gigabyte dalam otaknya. Ia memilah-milah pelajaran matematikanya selama ini. Di sekolah, di komunitas matematika (koma), di rumah. Ada sih satu. Dia mikir-mikir dulu cara neranginnya yang singkat dan jelas.

“duk!” sebuah tangan melempar gumpalan kertas  ke kepala cewek rambut pendek itu.

“SIAPA ITU?” spontan Citra berdiri berbalik mencari si pitcher yang ngelemparin kertas.

“Ya? Yang di situ? Mau maju?” Tanya Dr. Kelvin melihat Citra berdiri.

Citra menoleh kepada Dr. Kelvin. Semua mata mengarah ke matanya lalu tepuk tangan dukungan membahana.

“Citra! Citra! Citra!” dukungan mula-mula dari Kevin, lalu Laika terus Luthfi, Tyara merembet ke teman-teman sekelasnya lalu ke seluruh ruangan.

“E”¦” puntennya keluar lagi kalo lagi gugup.

“Ayo! Ayo! Ayo!”

Mau tak mau Citra jadi maju. Sudah disoraki masak duduk lagi? Ya sudah coba aja. Siapa tahu berhasil.

Citra berjalan ke tengah lalu ke depan menuju panggung. Ia naik tangga dari sebelah kiri menemui Dr. Kelvin. cewek itu berdiri di samping sang pembicara, bintang tamu utama. Citra menerima mikropon dari panitia.

“Adik namanya siapa?” Tanya Dr. Kelvin.

“Citra.”

“Lengkapnya?”

“Citra Khawarizmi.”

“Wow! Namamu seperti ilmuwan Islam yang jenius matematika.” Puji Dr. Kelvin. untung nggak koprol.

“œDari kelas berapa?”

“8E.”jawab Citra singkat.

Tepuk tangan terdengar dari anak-anak 8E. nama mereka terangkat dengan adanya anggota kelas mereka yang terkenal. Secara naik angkot gitu loh, eh naik daun.

“Baik, apa jawaban adik?”

“Sebenernya inidari guru saya. Saya Cuma menyampaikan.”

“Nggak apa-apa.”

“Dulu guru saya mengajarkan ada prinsip yang berbunyi,”™ yang sama bertambah yang berbeda berkurang.”™”

“Tolong ditulis.”

Dr. Kelvin memerintahkan asistennya menulis di plastik transparan. Asisten itu menulis dengan spidol lalu meletakkannya di di OHP proyektor. Proyektor laptop ditutup sementara dengan kertas. Hasilnya kata-kata Citra terpampang besar di layar panggung.

“Nah, silakan jelaskan!”

“Prinsip ini adalah prinsip yang berlaku pada operas bilangan bulat. Kalau dua bilangan tandanya sama dijumlahkan. Maka hasil penjumlahan adalah jumlah dua bilangan itu. Tandanya ikut keduanya. Contoh:

4 + 6 = + ( 4 + 6) = +10

-4 – 10 = – (4 + 10) = -14.

Sekarang kalau tandanya berbeda maka hasilnya adalah pengurangan atau selisih antara dua bilangan. Tandanya ikut  bilangan yang lebih besar. Contoh:

5 + (-8) = – (8 -5) = -3. Selisih 8 dan 5 adalah 3. Tandanya ikut 8 karena 8 lebih besar daripada 5.

7 + (-4) = + (7 -4) = 3. Selisih 7 dan 4 adalah 3. Tandanya ikut 7 karena 7 lebih besar daripada 4.

Hal berlaku untuk penjumlahan. Untuk berkurangan maka ada tambahan: pengurangan dengan bilangan positif sama dengan penjumlahan dengan bilangan negatif. Pengurangan dengan bilangan negatif sama dengan penjumlahan dengan bilangan positif.

a ““ (+b) = a + (-b) dan a – (-b) = a+ b. baru masuk operasi penjumlahan.”

Citra menulis di kertas notes lalu diberikannya kepada asisten Dr. Kelvin agar ditulis. Asisten itu menuliskannya agar dapat dilihat oleh semua hadirin.

“œWah, jadi prinsip itu meringkas aturan operasi penjumlahan bilangan bulat, ya?” simpul Dr. Kelvin.

“Prinsip itu punya arti lagi.” Tambah Citra.

“Ada lagi?” Dr. Kelvin tercengang.

“Prinsip itu bisa digunakan juga untuk operasi perkalian dan pembagian.”

“Bagaimana maksudnya?”

“Dua buah bilangan kalau tandanya sama maka hasil perkalian dan pembagiannya menghasilkan tanda tambah atau positif. Sedangkan kalau tandanya berbeda menghasilkan tanda negatif atau kurang. Contohnya:

Kalau yang sama.

5 x 3 = 15

-4 x ““ 6 =24

8 : 2 = 16

-25 : -5 = 5

Kalau yang berbeda contohnya:

-4 x 3 = -12.

8 x -4 = -32.

14 : -2 = -7

-28 : 7 = -4.

Jadi prinsip itu teruji.” Terang Citra. Dia tuliskan lagi contohnya dan ia berikan kepada asisten. Asisten itu menghapus contoh pada yang penjumlahan kecuali nama prinsip itu. Setelah itu dia tulis dan dia tampilkan di layar.

“ Wah! Wah! Wah! Kamu benar-benar membuat saya kagum. Baru SMP sudah bisa membuat prinsip dan rumus dasar.” Decak Dr. Kelvin.

“Saya cuma menyampaikan, pak. Saya belum bisa membuat rumus sendiri.”

“Dia sudah bisa membuat rumus, pak!” seru seorang anak cowok. Dia bertubuh gemuk di antara penonton.

“Gilang?” Citra terkejut.

“Apa maksudnya?” Tanya Dr. Kelvin.

“Dia sudah pernah buat rumus malah di tengah ujian.” Seru Gilang.

“coba ceritakan!” kata Dr. Kelvin.

“Lain kali saja, pak.” Tolak Citra malu-malu.

“Baiklah. Kita lanjutkan lain kali.”

Mereka berdua menghadap penonton.

“Jadi hadirin sekalian, baru saja kita menjadi saksi kejeniusan seorang siswi bernama Citra Khawarizmi. Dialah generasi emas kita yang berhasil membuat karya hebat. Kalau di masa SMP saja sudah begini, apalagi di masa depan?”

“Itu semua bukan dari saya. Itu dari guru-guru.”

“Tidak masalah dari mana pengetahuanmu berasal, yang penting bagaimana kamu memanfaatkan itu semua.” Kata Dr. Kelvin.

Sorak dan tepuk tangan yang meriah untuk Citra.

“Nah, ini hadiah buat kamu. Atas keberanian, pengetahuan, kreatifitas dan kerendahan hatimu.” Dr. Kelvin memberikan hadiah berupa naskah pidato, satu set alat tulis, buku “œmath is fun” dan tas plastic.

“Terima kasih.” Citra menerima semua itu dengan malu-malu. Lalu dia berjabat tangan. Seksi dokumentasi memfoto mereka berdua. Citra bersama Dr. Kelvin. pengalaman berkesan.

Setelah itu citra turun. Dia kembali ke bangkunya diiringi tepuk tangan dan sorak-sorak semua penonton. Teman-teman sekelasnya  yang tersisa memberikan ucapan selamat. Termasuk Kevin dan gilang. Melihat mata nakal Gilang citra tahu pitcher itu.

“Alhamdulillah, indah banget. Coba saja teman-teman ada di sini “¦ pasti tambah meriah.”

Dr. Kelvin memberikan kesempatan selanjutnya untuk penonton yang lain, tapi tak ada yang mau. Semua masih takjub sama matematikawati kecil itu. Akhirnya sesi selesai acara ditutup. Semua anak keluar. Citra keluar dengan hati berbunga-bunga membawa oleh-oleh.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *